
“Tidak ada cowok lain?” ucap Ellena sambil melihat ke arah ibunya.
Ellena kaget dengan tanggapan yang diberikan oleh ibunya saat ini. Dia yang ingin sekali mendapatkan dukungan dari orang terdekatnya saat ini tapi malah ibunya memberikan respon seperti itu.
Sorot mata Ellena dan Siska bertemu. Mereka berdua seolah mengatakan apa yang ada di hati mereka lewat sorot mata itu.
“Emang kenapa sama Sean, Bu? Apa yang salah dari dia?” tanya Ellena meminta penjelasan.
“Sean? Oh ... namanya Sean ya. Dia yang ajak kamu pergi semalam ya?” tanya Siska balik.
“Ga usah alihin pembicaraan, Bu. Kasih alasan ke Ellena kenapa Ellena ga boleh deket sama Sean.”
Siska mematikan mesin mixernya lalu menyandarkan punggungnya di sofa yang ada di belakangnya. Dia ingin sedikit bicara serius pada putrinya yang sedang ingin mengenal seorang pria di hidupnya.
“Ell, bukan Ibu ga mau dan ga suka kamu deket sama cowok. Terutama Sean itu. Ibu cuma rada sedikit khawatir soal kamu nantinya,” jawab Siska mencoba untuk memjelaskan.
“Khawatir soal apa, Bu?”
“Soal kamu dan Sean. Ell, kamu bilang sendiri kan ke Ibu kalo Sean itu orang yang ga bisa kamu jangkau. Posisinya adalah orang yang paling tinggi di kantor kamu. Status sosialnya pasti juga jauh beda sama kita. Apa mungkin Sean bakalan bisa terima kamu apa adanya?”
“Sean terima kok, Bu. Dia bahkan ngajak Ellena segera nikah dan besarkan Nathan bareng-bareng.”
“Nikah? Ibu seneng denger niatannya yang bagus itu. Emang kalian berdua ini udah ga dalam masa pacaran main-main. Tapi ... gimana sama keluarganya? Apa mereka bisa menerima menantu dari golongan yang tidak sederajat sama anaknya? Apa itu ga jadi masalah, Ell?”
Ellena terdiam, dia sangat mengerti apa yang sedang dikhawatirkan oleh ibunya saat ini. Rasa khawatir yang mungkin dirasakan oleh para orang tua di luaran sana juga saat menghadapi permasalahan yang sama.
Ellena memang belum memikirkan soal itu. Meskipun tadi dia sudah bertemu secara tidak langsung dengan mama Sean, tapi sepertinya apa yang disampaikan oleh Siska tadi layak untuk dipertimbangkan. Saat bertemu dengan mama Sean tadi, Ellena pun tidak mampu mengatakan kalau dia teman wanita putranya.
“Kalo masalah itu ... Ellena juga ga tau, Bu. Sean baru meminta Ellena untuk jadi pasangannya semalam. Jadi kami belum memikirkan tentang hal ini,” ucap Ellena lemah.
“Ga papa, Ibu ngerti kok, Ell. Ini adalah hal baru yang sedikit terlambat untuk kamu rasakan. Kamu jangan jadikan ini sebagai kesan kalo Ibu ga setuju dengan hubungan kamu sama Sean. Yang terpenting buat Ibu, orang yang deket sama kamu itu harus bisa terima kamu dan Nathan. Kamu sama Nathan itu satu paket. Jangan cuma mau sama mamanya karena masih cantik tapi sama anaknya ga mau,” pesan Siska pada Ellena.
__ADS_1
“Sean ga gitu kok, Bu. Sean bahkan pengen banget kenal sama Nathan. Kan ini anak dia juga. Lagian Nathan kan juga ganteng ya nak,” ucap Ellena sambil mengecupi kepala putranya yang sedang tiduran santai di pelukannya sambil melihat siaran kartun di TV.
“Bagus itu. Kenalkan pelan-pelan. Itu juga hak Nathan dan Sean.”
“Iya, Bu. Nanti Ellena akan bilang pada Sean kalo dia boleh main. Nathan pasti juga ingin kaya temennya yang lain. Punya sosok Papa yang membuat dia bangga,” ucap Ellena sambil mengacak lembut rambut anaknya.
Ellena senang hari ini. Rasanya beban hidupnya selama 7 tahun ini akan segera berakhir. Dia rasanya akan mulai bisa sedikit bernafas lega, karena dia tidak akan sendirian membesarkan Nathan. Rasa lelah itu bisa dia bagi dengan Sean yang juga ayah kandung dari Nathan.
Triing
Sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel Ellena. Dia segera melihat ponselnya yang ada di atas meja. Ada sebuah nama yang membuat senyum di bibirnya mengembang saat melihat layar ponselnya yang menyala itu.
“Duh, yang punya pacar tuh gitu ya kalo terima telpon,” ledek Siska sambil berjalan ke dapur membawa adonan kuenya.
“Apaan sih, Bu. Mau tau aja urusan anak muda,” jawab Ellena sambil tersipu.
Ellena segera membawa ponselnya itu ke kamar. Dia masih malu untuk menerima panggilan dari Sean di depan semua orang. Oleh sebab itu, Ellena memilih untuk menerima telepon Sean di kamar sambil mengawasi Nathan dari dalam sana.
“Kamu lagi apa, Ell? Ganggu ga?” tanya Sean.
“Aku cuma lagi santai aja kok sambil nemenin Nathan nonton TV. Emang kenapa?”
“Ga papa. Aku cuma kangen aja sama kamu. Oh ya, aku barusan kirim pizza ke rumah. Semoga Nathan suka.”
“Eeh itu makanan kesukaan dia. Ayam goreng juga di suka banget. Paling favorit,” ucap Ellena menceritakan kesukaan Nathan.
“Bagus itu. Sama kaya aku. Oh ya Ell, karena sekarang aku udah tau kalo Nathan anak aku, boleh kan kalo aku ikut tanggung jawab sama biaya hidup Nathan?”
“Biaya hidup Nathan? Maksud kamu apa?” tanya Ellena tidak mengerti.
Ada sedikit rasa tidak nyaman di hati Ellena saat ini. Ellena masih sering merasa kalau Sean mendekatinya hanya demi Nathan. Dia takut kalau nanti suatu saat Sean akan mengambil Nathan darinya. Apa lagi sekarang Sean menawarkan diri untuk membantu membiayai putranya itu.
__ADS_1
“Ya aku kan Papanya, jadi aku yang tanggung jawab sama biaya sekolah dan beberapa biaya hidup Nathan yang lain juga. Ya kalo boleh sih, biaya hidup Mamanya juga aku tanggung sekalian. Kan calon istri aku,” ucap Sean sambil terkekeh.
“Tapi aku masih sanggup bayarin sekolah Nathan dengan gaji aku yang sekarang. Aku masih bisa kok.”
“Ellena sayang, jangan punya pikiran kalo aku bakalan ambil Nathan tanpa kamu. Hilangkan pikiran itu. Aku akan merangkul kalian berdua. Aku mau kamu sedikit bersantai saat ini. Nikmati hidup kamu, jangan mikir soal biaya hidup. Biar aku aja sekarang yang tanggung. Punggung kamu perlu istirahat,” ucap Sean yang tahu kekhawatiran Ellena.
“Kamu beneran ga akan ambil Nathan dari aku?”
“Kalo aku ambil Nathan ya sepaket sama Mamanya donk. Mamanya cantik, sayang banget kalo dianggurin,” jawab Sean sambil terkekeh.
“Dasar kamu ya.”
Sean kemudian menanyakan pada Ellena bagaimana keadaan kantor setelah mereka keluar bersama tadi. Sean takut kalau ada yang menyakiti Ellena di kantor tanpa sepengetahuan dia.
Ruangan Sean yang ada di lantai paling atas tidak memungkinkan dia untuk mendengar apa yang terjadi di lantai bawah. Dia lebih fokus pada pekerjaan saja saat ini. Tapi dia senang mendengarkan kabar dari Ellena kalau sampai saat ini Ellena masih tidak terlalu terganggu dengan gosip yang ada.
Ting tong ting tong
Terdengar suara bel di depan rumah Ellena. Sepertinya ada tamu yang datang malam ini atau mungkin tukang pizza seperti yang dikatakan Sean tadi.
“Udah dulu ya, pizzanya dateng,” ucap Ellena.
“Iya ... makan yang banyak ya. Jangan diabisin sendiri, kasih Nathan juga,” ucap Sean sambil tertawa.
“Dih, nyebelin.”
Sambungan telepon itu pun terputus. Ellena segera berjalan cepat ke arah depan rumahnya untuk melihat siapa yang datang. Dengan penuh semangat Ellena membuka pintu rumahnya untuk menerima tamunya yang datang.
“Lho kok ...,” ucap Ellena tertegun saat tahu siapa yang datang.
Bersambung....
__ADS_1