Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 2


__ADS_3

“Mama ... mama hari ini nanti pulang malam ga?” celoteh bocah kecil di kaki Ellena.


“Ga tau sayank. Emang kenapa? Nathan mau dibawain apa?”


“Ga mau minta apa-apa. Nathan cuma mau berfoto bersama mama.”


“Foto?” tanya Ellena aneh sambil melihat bocah di sebelahnya.


“Iya ... kata bu guru, Nathan harus mengumpulkan tugas foto bersama Mama. Mama ga lupa sama tugas membuat origami kan?”


“Ya ampun iya Mama lupa,” Ellena berjongkok mensejajarkan dirinya dengan putra kecilnya, “Ok, kalo gitu nanti malam kita foto-foto yang banyak. Mama beliin es krim juga nanti ya.”


“Yeaayy!! Nathan mau rasa coklat dan vanila.”


“Siap, Bos. Tapi inget, nanti di sekolah ga boleh nakal dan nyusahin Anma ya.”


“Ga kok. Nathan anak baik dan anak pintar kata Bu guru.”


“Gitu donk. Itu namanya jagoan Mama. Tos dulu donk.”


Ellena tersenyum bangga kepada putra semata wayangnya yang kini sudah mulai bersekolah di kindergarten. Dia sangat bersyukur karena memiliki Nathan yang sama sekali tidak pernah menyusahkan dia sejak dalam kandungan. Nathan tidak pernah rewel yang terlalu berlebihan yang membuat dia kerepotan.


Nathan adalah buah hati Ellena dan juga Sean. Setelah malam itu Elena hamil, tapi dia sama sekali tidak ingin menuntut pertanggungjawaban dari Sean karena pemuda itu tidak bersalah atas hal ini. Ellena malam itu sudah menjual dirinya dan dia sudah harus terima resikonya.


Setelah menebus ibunya di rumah sakit, Ellena meninggalkan kota itu. Daripada dia harus membayar hutang kepada para rentenir, lebih baik sisa uang itu dia belikan rumah sederhana di pinggiran kota dan membuka sebuah toko kecil untuk usaha ibunya. Ellena ingin membuka lembaran baru dengan lingkungan yang baru.


“Ell, jangan lupa ada mother’s day akhir pekan nanti di sekolah Nathan,” ucap Siska, ibu Ellena.


“Iya, Bu. Semoga ga ada jadwal tambahan nanti di akhir pekan. Udah lama banget ga ke sekolah Nathan. Maafin Ellena ya, Bu. Ellena nyushin Ibu mulu.”


“Kamu ini ngomong apa sih. Udah yang penting kamu kerja dan jangan sampe kamu lupa sama anak kamu ya.”


“Iya, Bu. Ellena berangkat dulu, takut ketinggalan,” ucap Ellena sambil mengecup pipi sang ibu.


Setelah berpamitan kepada ibunya, Ellena segera mendatangi sang putra yang sedang asyik menonton siaran kartun di televisi. Dia segera menghujani pipi gembul Nathan dengan banyak kecupan hangat darinya. Pelukan tidak akan lupa juga untuk dia berikan untuk sang putra tercinta.

__ADS_1


Nathan selalu tertawa kegirangan saat mamanya melakukan hal itu kepadanya. Dia bergerak-gerak kegelian karena tangan Ellena juga menggelitiki pinggang bocah kecil itu. Nathan memang sangat menggemaskan dan selalu dirindukan oleh Ellena.


Setiap pagi Ellena akan berangkat ke kantor dengan menaiki mobil jemputan yang disediakan oleh perusahaan. Dia hanya perlu berjalan sedikit keluar gang rumahnya lalu menunggu di halte terdekat. Di sana sudah ada beberapa teman Ellena yang bekerja di perusahaan yang sama.


“Tumben rada telat,” sapa Arina sahabat Ellena yang sudah lebih dulu di halte.


“Belum telat kok, tuh ... jemputan aja belum nyampe,” jawab Ellena asal sambil duduk di sebelah Arina.


“Eeh ... udah denger gosip tentang presdir baru yang bakal dateng hari ini ga?” ucap Arina sambil sedikit bergeser lebih dekat dengan Ellena.


“Hmm ... katanya cakep ya? Aku cuma denger itu aja sih,” jawab Ellena santai.


“Iya ... katanya gantengnya itu selangit. Trus lagi dia katanya playboy,” ucap Arina sedikit berbisik di kalimat akhir.


“Ganteng selangit itu kaya apa sih? Aku baru liat orang ganteng itu sekali doank. Itu juga cuma bentar,” tanya Ellena ingin tahu.


“Makanya gaul donk. Itu Pak Devan kurang ganteng apa ya?” celetuk Arina sambil menyenggol bahu Ellena dengan bahunya.


“Kok ke Pak Devan sih?” ucap Ellena sambil menautkan kedua alisnya.


“Ya kan semua pada tau kalee kalo dia demen banget ama kamu.”


“Ya ga gitu juga lah. Tapi emangnya Pak Devan masih kalah ganteng ya ama standart cwo kamu?” Arina mulai kepo.


“Liat aja Nathan, kalo ada yang bisa ngalahin gantengnya Nathan, itu baru ganteng,” jawab Ellena membanggakan putra semata wayangnya.


“Eeh iya bener. Ganteng banget dia, aku penasaran Papa dia kaya gimana, cerita donk,” bujuk Arina.


“Ga usah di bahas!” jawab Ellena ketus.


Nathan memang memiliki paras yang sangat tampan. Dia banyak mengambil sisi bagus dari Sean. Hidung, rahang dan juga matanya sangat mirip dengan Sean, karena bagian itu sangat berbeda dengan yang dimiliki oleh Ellena. Hanya saja bibir Nathan serta alisnya mengikuti milik Ellena.


**


“Ellena ... berkasnya sudah siap?” tanya Silvia, ketua tim Ellena.

__ADS_1


“Sudah, Bu. Nanti saya berangkat jam berapa?”


“Kita di tunggu jam makan siang, kamu atur aja lah ya nanti kamu mau berangkat sama siapa. Saya udah take mobil kantor untuk kamu.”


“Saya berangkat sendiri?”


“Iya ... kamu bisa kan? Hari ini Bos baru kita dateng, ga enak juga kalo saya ikut kamu pergi.”


“Oh iya ... itu hari ini ya. Ya udah saya pergi sendiri aja, Bu.”


“Ok! Bawa hasil yang baik ya, Ell.”


“Siap! Kan saya closing power di sini,” ucap Ellena sambil terkekeh yang hanya di balas dengan dua jempol oleh sang atasan.


Ellena memang menjadi pegawai unggulan dan teladan di timnya. Entah kenapa dia seperti sangat mudah untuk mendapatkan kontrak kerja dengan klien. Banyak orang yang iri bahkan berpikiran negatif pada Ellena.


Sempat beredar kabar kalau Elena merayu bahkan menjual diri pada para klien untuk mendapatkan kontrak. Tapi semua tidak dipedulikan oleh Ellena dan kabar itu menghilang begitu saja. Karena kehebatan Ellena itulah, Devan jadi suka pada sosok wanita yang cantik itu.


“Ell, kamu jadi pergi?” tanya Arina yang melihat sahabatnya bersiap.


“Iya ... kirain berangkat ama Bu Silvia eh ... ternyata sendirian.”


“Kalo sendiri aja kamu mampu, ngapain perlu orang lain. Pasti kamu bakalan naik jabatan bentar lagi. Kamu itu tangan ajaib di kantor ini.”


“Kamu bisa aja, kamu juga bisa kok pasti. Aku jalan dulu ya. Jangan lupa nanti sisain makanan acara penyambutan Bos baru.”


“Oh siaaap!”


Ellena segera menuju ke lobby kantor. Dia harus menunggu mobil yang akan mengantar dia menuju ke kantor klien. Sementara menunggu, Elena mampir dulu di meja resepsionis yang ada di lobi hotel. Tampak kantor itu sangat bersiap untuk menyambut kedatangan presdir baru hari ini.


Selagi Ellena berbincang dengan dua resepsionis cantik yang juga temannya, wanita itu melihat ada dua iringan mobil mewah datang di depan lobby. Sepertinya itu adalah mobil presdir yang baru. Elena segera minggir karena dia tidak ingin mengganggu tugas resepsionis.


Ellena keluar lewat pintu kecil yang ada di samping lobby, dia ingin menunggu di tempat itu saja. Ellena melihat ke arah depan lobby utama yang kini sudah banyak petinggi perusahaan berada di sana. Mereka akan menyambut kedatangan orang penting yang sepertinya akan turun dari salah satu mobil.


Ellena sangat menantikan momen itu, dia ingin melihat siapa sosok tampan yang banyak dibicarakan temannya itu. Pintu mobil mewah terbuka. Jantung Ellena berdetak kencang, matanya terus menatap ke mobil itu yang sudah mengeluarkan penumpangnya.

__ADS_1


“Ellena!”


Bersambung....


__ADS_2