
Subuh itu di halaman belakang mansion Garry Lee. Amy Aurora terlihat menunggu dengan kesal. Ia datang tak sendiri, melainkan bersama Rudi. Itu kaki bukit dekat kebun buah di mana tumbuhan liar membuat betis gatal-gatal. Namun, ia tak bisa lewat pintu masuk normal, kecuali jika mau tertangkap basah.
Aditya terlihat terburu-buru menyusulnya, “Ya? Katakan sesuatu.”
“Tak kusangka ini mudah saja. Profesor Joe sudah kutemukan. Dia memang terlibat dengan Aliansi Ular Kobra, tapi kamu tahu mereka mengancamnya, bukan?”
“Jadi profesor itu terpaksa membantu riset narkotik jenis baru untuk mereka?”
“Benar,” kata Rudi.
“Coba tebak di mana dia sekarang berada?” Amy wajahnya sulit menyembunyikan rasa gembira
“Di mana?”
“Tempat Gunawan Mahdi! Ya, Aliansi Ular Kobra sebenarnya tak sebesar itu kalau dibandingkan dengan Gunawan Mahdi. Ia bahkan mengontrol keempat pimpinan yang kamu temui.”
“Termasuk si Tua Leo?”
“Ya.”
Aditya menatap Amy Aurora dalam-dalam. Gadis itu tersipu malu atas sikap Aditya barusan. Lalu lelaki itu bilang, “Terima kasih, ya.”
“Hei, gak perlu begitu. Kamu sudah kenal aku dan kita sama-sama tahu apa yang akan kulakukan, meski kamu gak meminta bantuan.”
Gadis itu seperti teringat akan sesuatu, lalu memungut botol kecil dari dalam tasnya. “Berikan ini pada Profesor Joe, tapi usahakan jangan sampai ketahuan.”
“Apa ini?”
“Racun yang bisa membuat Profesor pingsan.”
Aditya terlihat heran.
Rudi bilang, “Kami sudah membuat rencana saat mengobrol kemarin. Sudahlah, loe pastiin racun ini dihirup profesor.”
“Oke, semoga rencana kalian bagus,” ujar Aditya.
“Tentu bagus,” sela Amy Aurora. “Sebagai orang yang mulai dipercaya oleh Si Tua Leo dan Gunawan Mahdi, kamu bisa memanfaatkan penyakit profesor itu. Kamu bisa membajak mobil yang akan mengantar si profesor yang keracunan ke rumah sakit dan membawanya kabur ke Indonesia.”
“Kedengaran mudah kalau cuma ngomong,” celetuk Aditya.
“Tapi tak ada cara lain.”
“Kamu benar. Tak ada cara lain.”
__ADS_1
Rudi mengawasi sekitar dan berkata, “Kita cabut secepatnya, Amy.”
“Ya?”
“Penjaga Garry Lee sedang menuju kemari.”
Aditya memeluk Amy sebelum gadis itu menjauh. Ia juga berkata pada Rudi untuk bersiap akan segala kemungkinan hari ini. Bisa saja rencana mereka berhasil, tapi tidak ada salahnya jaga-jaga.
“Gue bakal membuntuti kalian kok,” kata Rudi.
“Bagaimana kamu, Amy?” tanya Aditya.
“Kamu lihat saja nanti.”
Mereka berdua menghilang di balik kegelapan. Aditya segera menyalakan rokok agar penjaga yang saat ini menuju padanya tak curiga. Ia mengaku sulit tidur di tempat sebagus ini. Jadi terpaksa merokok di tempat sepi.
“Dasar kampungan,” batin penjaga itu.
Saat menemukan si lelaki berkumis dan berkacamata setebal kelingking, Aditya yakin dialah sang profesor. Waktu itu lelaki berjas laboratorium itu berada di bilik ruang yang cukup gelap.
Ketika Uncle Gun berjalan bersamanya ke bangunan itu, beberapa orang berjas lab melangkah keluar dengan diikuti oleh si lelaki berkumis.
Begitu si lelaki berkumis berada di tempat yang lebih terang, Aditya tahu dialah Joe Mulyono, profesor yang harus mereka selamatkan dalam misi ini.
Uncle Gun jelas tak tahu pikiran Aditya dan masih geram dengan keadaan bisnisnya. Ia meminta Aditya melakukan atau mengatakan sesuatu untuk membuktikan dia bukan mata-mata.
“Oh, ya? Coba jelaskan!” kata Gunawan.
“Di penjara Tuan Leo punya banyak musuh dan dia harus memulai pertemanan jika tidak mau dijegal. Nah, salah satu dari mereka akan kemari untuk memeras Anda,” kata Aditya sambil mengamati sang profesor yang berjalan ke sana kemari, memberi arahan pada para asistennya di dekat laboratorium itu.
Sepertinya profesor itu tak punya pilihan lain selain menuruti perintah orang-orang jahat ini untuk meriset obat terlarang jenis baru.
“Hahaha! Loe pikir gue sebodoh itu? Bagaimana mungkin polisi dari Indonesia bisa sampai kemari hanya untuk memeras gue? Apa yang dia perbuat sampai bisnis kami terganggu?”
“Dia bukan sembarangan orang. Polisi itu menantu dan teman Jack Lesmana,” kata Aditya dengan mantap.
Gunawan Mahdi terkejut. Sudah diketahui publik Jack Lesmana dulu seorang pebisnis narkotika ulung di Thailand dan Indonesia. Ia tertangkap tak lama sebelum Si Tua Leo tertangkap. Ular Kobra sejak lama bersaing dengan si Jack itu. Bagaimana mungkin Leo Kurniawan bekerjasama dengan musuh mereka sendiri?
Gunawan berkata, “Leo benar melakukan itu?”
“Silakan tanya padanya, Uncle Gun. Semua tahu Jack Lesmana-lah yang paling akrab dengannya di penjara sebelum orang itu mati karena diabetes. Nah, si menantu lalu datang untuk mengeruk informasi dari Tuan Leo tentang bisnis kalian.”
Aditya diam-diam bersyukur karena mendengar informasi ini dari Komandan Malik waktu itu. Jack Lesmana memang sedikit banyak membantu Si Tua Leo dalam penjara, tetapi kisah soal “menantu Jack” itu hanyalah karangan Aditya saja. Ia berani bertaruh jika Leo Kurniawan pasti akan gugup jika ditanya soal Jack Lesmana.
__ADS_1
“Baiklah,” kata Gunawan yang terlihat termakan ucapan Aditya.
Sebelum mereka pergi menemui Leo, Aditya bertanya-tanya tentang para pekerja laboratorium tersebut. Gunawan Mahdi cuma melambaikan tangan tanda tidak terlalu berminat.
“Mereka lamban!” katanya. “Terutama si Kumis kelabu itu, yang sejak awal seperti tidak berada di dunia nyata! Kalau bukan karena dia ahli Biologi ternama yang berguna buat bisnis, sudah kutembak dari kemarin-kemarin,” kata Gunawan.
“Ahli biologi terlihat sekonyol itu?” tanya Aditya sengaja memancing sesuatu.
“Ya. Coba lihat. Hei, Joe, kemarilah!”
Profesor itu menoleh ke arah Uncle Gun dan berjalan menunduk seperti bocah kecil korban perundungan di sekolah.
“Ya, Uncle Gun?”
“Loe kerja yang bener, ya! Jangan sampai pembunuh baru gue ini membuat kepala loe jebol!”
Profesor Joe menangis ketakutan mendengar itu. Aditya iba juga melihat orang ini. Ia sepertinya trauma berat atas penculikan yang menimpanya. Tapi, kesempatan itu juga ia pakai untuk menaburkan serbuk racun dari Amy ke lengan baju sang profesor.
Perlu diketahui, Joe Mulyono mengidap penyakit rhinitis, yang membuatnya suka menyeka hidung dengan lengan baju. Racun itu pasti akan bekerja tak lama lagi.
Gunawan tak menyadari aksi Aditya menabur racun tersebut, karena Aditya cukup cerdas untuk berpura-pura mengusik si profesor sampai lelaki berkumis kelabu itu lari kembali ke dalam lab.
“Hei, mau ke mana Pak Joe?” tanya Aditya dengan keras, tapi Gunawan menyuruh dia untuk berhenti menggoda si profesor karena urusan Leo harus segera dibereskan.
Si Tua Leo tampak gelisah begitu Aditya dan Gunawan memasuki ruang bersantai di pusat bisnis rahasia mereka ini. Garry Lee tidak terlihat di tempat, karena sudah pergi entah oleh urusan apa.
“Jadi, begini, Leo,” kata Gunawan memecah keheningan. “Apa yang bisa loe bilang soal Jack Lesmana?”
Si Tua Leo tak menyangka mendengar itu. Benar saja, ia terlihat gugup dan tak bisa menjelaskan apa-apa pada Gunawan. Jack Lesmana telah mendapat imbalan informasi darinya selama di penjara dan itu membuat Gunawan marah besar. Di sisi lain, Si Tua Leo tak tahu bagaimana mungkin Aditya tahu soal itu?
“Bangsat kau, Anak muda.” Cuma itu yang terucap dari bibir Si Tua Leo.
Aditya dan Nancy diam-diam tertawa dalam hati, sebab mereka tahu Jack Lesmana mati membawa informasi dari Leo. Jack Lesmana bahkan tak punya menantu karena anak gadisnya yang semata wayang tak ingin menikah.
Kini, sikap Si Tua Leo tak perlu membuat Gunawan mencari tahu soal si menantu fiktif itu. Ia segera mengambil senjata dari lemari besi di dekatnya dan menyodorkannya ke Aditya.
“Seharusnya loe gak mati seperti ini, Leo,” kata Gunawan pada Leo.
Leo ternyata memegang senjata dan mencoba menembak Aditya, tapi lelaki itu tahu bagaimana cara mengelak dari peluru. Aditya menjadi jauh lebih waspada sejak obrolan di depan lab tadi.
Dan, Aditya pun menembak lelaki tua itu setelah berguling menuju ke bawah meja. Tembakannya tepat ke jidat Leo hingga dia ambruk dan tak lagi bergerak.
Gunawan duduk dengan tenang di sofa, melihat mayat rekan sekaligus saudaranya sendiri itu dengan dingin.
__ADS_1
Nancy hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya. Berharap matinya Leo tak berimbas lebih parah dan mereka bisa segera pergi dari sini dengan membawa kabur Profesor Joe!
Bersambung....