Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 56


__ADS_3

“Peran kami di tugas ini seperti apa Mbak?” tanya Dani.


“Kalian hanya perlu memastikan keamananku. Sebenarnya aku tidak butuh pengawal. Hanya saja perusahaan menyuruhku untuk ditemani oleh bagian keamanan,” jawab Sherly sok kuat.


Sherly, Dani dan Aditya menuju kantor Unesia Corp menggunakan mobil yang biasa Aditya bawa.


Sherly duduk di depan bersama Aditya yang menyetir sedangkan Dani duduk di belakang. Frita sedikit kaget karena Sherly memilih untuk duduk bersama Aditya. Mobil kemudian melaju.


“Bukankah selama ini Unesia dan Glow & Shine berhubungan baik sampai pak Erik saja melamar bu Frita, lalu kenapa harus melibatkan keamanan?”


“Aku juga tidak mengerti kenapa, tapi yang jelas saat ini hubungan kedua perusahaan sangatlah buruk. Karena itulah untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi maka perusahaan melibatkan bagian keamanan,” jelas Sherly.


Dani hanya mengangguk paham. Sedangkan sejak tadi Aditya tidak menanggapi sedikitpun, dia hanya fokus menatap jalanan. Sherly tampak beberapa kali melirik Aditya. Jalanan pagi ini cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Beberapa titik kemacetan tidak bisa dihindari. Satu jam lebih mereka baru bisa sampai ke kantor Unesia Corp.


“Ada yang bisa saya bantu Mbak?” tanya Resepesionis ketika Sherly masuk ke dalam gedung bersama Aditya dan Dani.


“Saya ingin bertemu dengan Presdir Jaya,” jawab Sherly.


“Maaf sekali Mbak. Hari ini semua jadwal pak Presdir dibatalkan. Soalnya tadi malam beliau beserta bu Presdir berangkat ke luar negeri.”


“Kok bisa begitu? Saya kan sudah membuat janji dengannya!” ucap Sherly sedikit kesal.


“Maaf sekali Mbak. Kalau boleh tahu Mbak dari mana ya?”


“Saya Sherly Embunsari dan Glow & Shine Co.”


“Mohon tunggu sebentar Mbak, Pak. saya akan menghubungi pak Erik dulu.”


Mereka bertigga duduk di sofa. Resepsionis terlihat menghubungi seseorang sebentar. Kemudian resepsionis berkata agar Sherly mau menunggu. Resepsionis bilang dia akan pergi ke ruangan Erik sebentar.


Di ruangannya Erik tampak sedang membelai gaun pengantin yang telah dia beli untuk Frita. Dia kaget ketika mendapat telepon dari resepsionis bahwa ada orang dari perusahaan Frita yang ingin bertemu dengannya. Dia memerintahkan resepsionis itu untuk datang ke ruangannya.


“Selamat pagi pak,” sapa Resepsionis.


“Pagi. Siapa tamu dari Glow & Shine yang ingin bertemu dengan saya?” tanya Erik.

__ADS_1


“Namanya Sherly Embunsari pak.”


“Sherly? Aku belum pernah mendengarnya. Lalu siapa lagi?”


“Ada dua orang pria bersamanya,” jawab Resepsionis sambil menceritakan ciri-ciri mereka berdua.


Erik terkejut ketika ada seorang pria yang ciri-cirinya cukup familiar, dia adalah Aditya. Erik tidak akan pernah lupa saat Aditya mengganggu acara lamarannya, dia juga masih ingat bagaimana Aditya membuatnya di bawa kerumah sakit ketika hendak memberikannya pelajaran.


Emosinya kembali meluap. Dia berniat akan menghabisi Aditya kembali seolah hidupnya tidak akan tenang jika Aditya masih hidup. Dia kemudian menyuruh Resepsionis untuk memberitahukan bahwa dia tidak ada di kantor karena pergi ke sebuah Villa di luar kota.


“Kalau mereka bertanya alamat Villanya bagaimana pak?”


“Kamu tunjukan saja alamat ini,” jawab Erik sambil menulis alamat di secarik kertas.


“Tapi usahakan memberitahu mereka nanti saja pukul sepuluh siang, aku sekarang akan pergi ke Villa itu. urusan di kantor akan aku percayakan kepada wakil Direktur. Sebisa mungkin kamu buat mereka di sini menunggu sampai pukul sepuluh siang.” jelas Erik.


“Baik pak.”


Resepsionis itu kembali ke tempatnya. Erik segera mengenakan pakaian yang rapi, dia juga menelepon beberapa anak buah kepercayaannya supaya mempersiapkan kejutan untuk Aditya di Villa miliknya. Erik kemudian pergi menuju Villa lewat pintu keluar lain di gedung itu.


“Maaf Mbak, saat ini para pimpinan sedang rapat penting hingga tidak bisa di ganggu. Silahkan untuk menunggu sebentar lagi,” jawab resepsionis.


“Rapat apaan sih, mereka yang seenaknya membatalkan janji eh sekarang rapat lagi!” gerutu Sherly.


“Iya Mbak maaf. Tolong bersabar ya.”


Sherly kemudian duduk kembali. tak lama kemudian muncul pegawai yang membawa minuman dan makanan ringan untuk mereka bertiga. Aditya merasa ada yang tidak beres dengan resepsionis itu. padahal dari gerak bibirnya tadi saat menelepon jelas-jelas dia sedang berbicara dengan Erik. Namun Aditya memilih untuk diam.


Aditya dan yang lainnya dibuat menunggu sekitar dua jam hingga pukul sepuluh lebih. Sherly sudah terlihat gusar. Aditya semakin yakin kalau ini semua memang sengaja direncanakan oleh Erik dalam rangka menghambat mereka.


“Mohon maaf Mbak, ternyata pak Erik tidak ada di kantor. Beliau saat ini sedang ada di Villa pribadinya di luar kota,” jelas Resepsionis yang tiba-tiba menghampiri mereka.


“Apa?! Kok bisa sih! aneh banget, masa direktur tidak ada di tempat anak buahnya nggak ada yang tahu!” gerutu Sherly dengan wajah memerah karrena kesal.


“Maaf Mbak. Barusan pak Erik sendiri yang mengirimkan email kepada saya. Beliau bilang jika memang ingin bertemu dengannya Mbak dan bapak-bapak bisa menemuinya di alamat ini,” jelas Resepsionis sambil menunjukan secarik kertas berisi alamat.

__ADS_1


“Gimana nih Mbak?” tanya Dani.


“Kita ke sana sekarang juga.”


Aditya dan yang lainnya segera masuk ke mobil dan pergi menuju alamat yang tertera di kertas itu. kekesalan tersirat jelas di wajah cantiknya Sherly. Kelihatannya dia benar-benar marah karena merasa dikerjai oleh Unesia Corp.


“Kelihatannya mereka mengerjai kita Mbak,” ucap Aditya.


“Aku sudah menyadarinya sejak tadi. Hanya saja aku mencoba untuk positif thinking dulu,” jawab Sherly.


“Aku rasa mereka akan menyiapkan rencana lain agar bisa lolos tanpa membayar sepeserpun uang kepada kita.”


“Aku sudah bisa memprediksi setiap langkah mereka. Jangan khawatir tugas kita kali ini pasti akan sukses.”


Semua jawaban Sherly seolah ingin menunjukan kehebatannya sendiri. Sebenarnya sejak pertama melihat Sherly di gedung bagian keamanan, Aditya mengira jika dia adalah teman waktu SMA nya dulu, tapi saat melihat sikapnya sekarang dia merasa sedikit ragu. di perjalanan Dani meminta Aditya berhenti dulu dia bilang ingin ke toilet sebentar.


“Maaf nih Mbak, apa dulu kita pernah satu sekolah ya?” tanya Aditya setelah Dani pergi. Raut wajah Sherly yang semula kesal, mendadak berubah senang setelah mendengar pertanyaan Aditya.


“Aku kira kamu sudah lupa sama aku. Soalnya sejak tadi kamu diam terus,” jawab Sherly sambil menatap mata Aditya.


“Bukan begitu, aku cuma takut salah orang saja. soalnya kayak kebetulan banget gitu kita bertemu di satu perusahaan yang sama,” ucap Aditya sambil tertawa.


“Oh begitu. Aku juga sebenarnya ingin menanyakan pertanyaan yang sama, tapi ragu.”


“Ragu kenapa?”


“Ya ragu, soalnya penampilan kamu berubah drastis Dit. Padahal waktu sekolah dulu kamu rapi banget.”


“Oh ya akhir-akhir ini aku memang tidak memperhatikan penampilanku. Aku juga terkejut melihatmu. Tidak kusangka kamu sekarang makin cantik saja, padahal dulu waktu SMA perasaan nggak secantik ini.”


Sherly mendadak tersipu malu. Jika orang asing mungkin akan mengira bahwa Aditya hanya gombal saja. Tapi Sherly tahu, sejak dulu Aditya memang selalu blak-blakan tentang penampilan seseorang, dia tahu kalau Aditya tulus berkata seperti itu.


Dani yang baru datang dari toilet sedikit heran karena suasana di mobil terasa lebih cair dibandingkan tadi. Dia berpikir entah apa yang terjadi saat dia meninggalkan mereka berdua. Mereka bertiga akhirnya sampai di lokasi Villa milik Erik. Di halaman tampak Erik dan beberapa pria sangar sedang berdiri seolah menunggu kedatangan mereka.


“Selamat datang di Villa mewahku. Aku sudah menunggu kedatangan kalian semua sejak tadi,” sapa Erik dengan seringai liciknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2