
Rangkaian peristiwa ubi beracun itu berada di puncaknya ketika Deri bersama tiga warga yang tak percaya Pak Salim sengaja berbuat curang, gagal menemukan ubi yang dibuang ke sawah oleh Dirga.
“Kita tidak bisa membedakan petak sawah satu sama lain,” kata Deri.
“Ya, kalau benar ceritamu, pasti sawah itu sudah keracunan. Ini sudah hampir mau subuh,” kata salah satu warga.
Mereka memang sangat membenci Dirga. Itulah kenapa bersedia membantu Pak Salim.
“Yang perlu kalian lakukan sekarang satu, bersaksi Pak Salim tidak bersalah,” kata Deri setelah mereka menyerah mencari ubi-ubi itu.
“Kami sih mau saja. Tapi, kita tidak ada bukti. Dirga benar-benar licik.”
Deri hanya bisa membatin. Benar juga, tidak ada bukti.
Yang bisa disyukuri Diana saat itu adalah waktu yang terulur bagi Dirga. Rupanya ia tidak juga kembali membawa kertas yang dimaksud. Memang konyol, Dirga harus ke kantor desa untuk sekadar mencetak kertas perjanjian baru karena ia kehabisan tinta di printer-nya sendiri.
Hanya saja, kantor desa sudah tutup sejak sore sebelumnya.
Kondisi itu membuat Diana agak bisa berpikir, mencoba mencari cara mengulur waktu, apalagi Deri yang pulang dari sawah subuh itu berkata, “Aditya sudah dalam perjalanan kemari. Sore nanti mungkin sudah di sini.”
Sepanjang hari itu benar-benar melelahkan bagi Diana. Ia harus membawa Paman Salim pergi menumpang mobil yang disewa oleh Deri di dekat kantor kecamatan demi menghindari Dirga. Tak tahu apa lagi cara terbaik selain itu. Kabarnya Pak Lurah sudah tahu perihal Dirga ini dan enggan turun tangan.
Deri bilang, “Biar kujaga rumah Pak Salim.”
Diana pergi bersama Paman Salim dengan diiringi tatapan sebagian warga yang tak mau tahu dan percaya hasutan Dirga.
“Mereka kini semua membenciku,” kata Paman Salim sedih.
“Tidak juga, Pak. Buktinya ada warga yang membantu Deri semalam. Dan saya pun tahu warga lain yang diam itu sebenarnya tak percaya semua ini ulah Pak Salim. Dirga hanya menunggu waktu saja kena karmanya.”
Paman Salim tak menanggapi perkataan Diana itu dan hanya bisa menunduk diam.
Ketika Dirga kembali ke rumah Paman Salim, ia marah besar sebab hanya bertemu dengan Deri. Dengan tenang, Deri berkata, “Duduk saja dulu di sini, kita ngobrol sambil ngopi.”
“Gue gak sudi!” kata Dirga. Ia tahu rencananya benar-benar sudah berantakan. Ini demi sekadar memiliki Diana. Dan ia kini terjebak oleh situasi yang rumit. Diana tak akan mungkin mau menjadi miliknya, dan Pak Salim juga entah kabur ke mana.
Akhirnya Dirga mengajak dua temannya cabut lagi entah ke mana.
***
__ADS_1
Siang itu, seorang warga yang memeriksa sawahnya terheran-heran. Tanaman padi yang ia tanam terlihat layu dan menghitam. Ia menemukan sejumlah ubi busuk yang baunya tak sedap di situ.
“Siapa meracuni sawahku?! Ini pasti ulah Pak Salim!”
Warga kembali ribut sepanjang siang. Sebagian membela Pak Salim. Sebagian lagi percaya Dirga-lah pelakunya. Perdebatan itu berhenti setelah Pak Salim kembali dengan Diana sore itu.
Mereka bilang, “Harus ada yang membuktikan siapa yang salah di sini!”
“Obat-obat itu ada di lemari Pak Salim. Jelas dialah pelakunya tanpa harus bukti segala!”
Entah berapa banyak warga berdebat, akhirnya mereka malah saling adu jotos. Apa yang dikatakan Dirga benar. Warga sini bodoh dan mudah dihasut. Bukti obat kimia di lemari Pak Salim padahal bisa saja rekayasa orang lain. Mereka mudah saja menelan itu sebagai fakta.
“Sudah, sudah, saya mengakui saya bersalah! Saya teledor!” kata Paman Salim yang membuat Diana dan Deri terpana.
Para warga ada yang bersorak, ada yang kecewa. Tapi mereka sejujurnya saja jauh di lubuk hati tak percaya Pak Salim yang jujur dan lugu itu berbuat licik sampai secara tak sengaja meracuni sawah di desa mereka.
Pak Lurah pun segera turun tangan dan meminta Paman Salim bertanggung jawab.
“Aku sudah buatkan surat perjanjiannya, Pa,” kata Dirga pada ayahnya.
“Oke,” sahut Pak Lurah yang terkenal licin dan licik itu. “Sekarang kalian semua bubar. Urusan ini tidak perlu kita bawa ke kantor polisi. Ada surat perjanjian untuk Pak Salim. Kalian lihat? Oke, sekarang kalian bubar!” kata Pak Lurah.
Dirga mengacungkan surat itu tinggi-tinggi.
Pak Bambang hanya bisa bilang, “Sabar, Pak Salim.”
Di perjanjian itu, Paman Salim diminta menyerahkan sebagian tanahnya pada desa sebagai ganti rugi atas tindakan keteledorannya, dan ia dilarang berjualan ubi lagi seperti biasa. Itu terdengar sangat merugikan bagi Paman Salim. Tapi demi warga yang hidup tenang lagi, ia rela saja melakukan.
“Pak Salim tak perlu begini. Bapak enggak salah!” kata Diana sambil menangis.
Paman Salim hanya bisa memegangi pulpen dan kertas itu tanpa bisa berkata-kata.
“Ayo, cepat tanda tangani! Buruan! Sebelum Bapak saya serahin ke polisi!” seru Dirga dengan kasar pada Paman Salim.
Saat itulah Aditya datang.
***
Bandi dan Pirlo menyerang Aditya. Kali ini mereka jauh lebih siap. Aditya sendiri justru kurang siap, karena dia juga memegang koper. Tapi koper itu segera dihantamkan ke kepala Bandi sampai pemuda itu tersungkur.
__ADS_1
Pirlo mendorong Aditya sampai terjatuh ke halaman teras. Aditya balas menonjok bibir Pirlo sampai ia mengaduh kesakitan
“Sudah, hentikan!” teriak Paman Salim. “Hentikan, Dit!”
“Ini tidak bisa dibiarkan, Paman. Mereka sudah berbuat curang!” kata Aditya.
Selama perjalanan dengan helikopter, Deri tidak henti mengabari Aditya soal racun dan fitnah pada pamannya itu. Jadi, Aditya tahu sedikit banyak.
Sayangnya, Pak Lurah dan Dirga belum tahu Aditya menyimpan informasi yang bisa dibilang berbahaya bagi kehidupan ayah dan anak itu. Sebuah informasi yang bisa menjungkalkan mereka ke lubang kenistaan. Boleh jadi mereka akan menanggung malu dan kebencian seumur hidup di desa ini jika itu terungkap.
Aditya bilang, “Coba Pak Lurah biarkan anak Anda terus begini. Nanti Anda akan menyesal.”
“Lho, kamu mengancam saya? Kamu ini siapa? Saya tidak kenal kamu!”
“Saya keponakan Paman Salim. Anda-lah yang orang asing di sini. Bagaimana bisa Anda jadi lurah di desa ini kalau bukan dengan cara curang?” balas Aditya.
Pak Lurah terlihat geram. “Jadi kamu mau bermain-main dengan saya, ya?”
“Silakan saja kalau Anda berani.”
Melihat ayahnya diperlakukan tidak sopan, Dirga bangkit dan menyerang Aditya. Tapi tentu saja ia kalah jauh dari segi kemampuan tarung. Ia segera jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
“Tolong, Nak Adit. Hentikan saja keributan ini. Kita tidak perlu begini,” kata Pak Bambang yang terlihat cemas.
“Tenang saja, Pak RT. Borok Pak Lurah kita ini memang harusnya dibongkar sejak lama, kok.”
Aditya melirik Pak Lurah dengan sinis dan mengambil telepon. Lalu ia menatap ke arah Pak Lurah. “Sebaiknya Anda jangan pergi jauh-jauh, paling tidak sampai besok siang.”
“Kenapa memang?!” sahut Pak Lurah dengan jengkel.
“Sudahlah, Anda tunggu saja.”
Pak Lurah segera beranjak dari situ, tak peduli Dirga masih berbaring tak sadarkan diri.
Bandi dan Pirlo-lah yang membawa Dirga pergi dari situ.
“Memangnya kenapa dengan Pak Lurah?” tanya Diana penasaran.
“Ini semua akan menjadi kejutan bagi kalian,” kata Aditya pendek, lalu menelepon entah siapa.
__ADS_1
Seisi ruangan benar-benar dibuat penasaran setengah mati oleh perbuatan Aditya.
Bersambung....