
“Bagaimana Garry Lee, Uncle Gun?” tanya Aditya begitu ruangan menjadi hening untuk beberapa saat.
“Dia gak bakal bisa berbuat apa-apa,” kata Gunawan. Lalu lelaki tua itu berdiri dan mengambil handphone-nya dari saku jas dan menelepon entah siapa.
“Ya! Ya, benar. Pastikan saja itu sudah beres, Goblok! Ya. Pokoknya malam ini loe sudah harus lapor!” katanya dengan suara lantang saat menelepon.
Aditya dan Nancy hanya bisa saling berpandangan. Mereka belum juga tahu sampai di mana Rudi saat ini? Apakah ia berhasil menyusup laboratorium untuk menyamar jadi salah satu pekerja Gunawan? Atau, bagaimana?
Ketika itulah seorang anak buah Gunawan mengetuk pintu.
“Ya, masuk!” kata Uncle Gun.
“Tuan, ada masalah di sini,” kata anak buahnya yang bersenjata dan terlihat cukup tegang.
“Apa?”
“Seorang penyusup. Tapi, kami sudah menangkap dan mengikatnya di gudang.” Si anak buah menunjuk ke luar gedung di mana keramaian kini mulai terdengar di telinga Aditya dan Nancy.
“Bangsat! Itu pasti menantu Jack Lesmana yang loe ceritain tadi, Nak,” kata Uncle Gun menoleh pada Aditya.
Aditya hanya mengangguk, sekalipun pikirannya terasa kacau.
Dia dan Nancy tahu itu pasti Rudi dan kini rekan mereka tersebut nyawanya sedang dalam bahaya!
Gunawan keluar diikuti oleh Aditya dan Nancy. Mereka melihat di tanah lapang di depan gedung ruang bersantai itu dipenuhi anak buah Gunawan yang kini terlihat sangat banyak. Tadi saat mereka datang kemari bersama Garry, warga sini terlihat tak sebanyak ini sebab mereka tersebar di banyak tempat.
Aditya memandang Nancy dan berbisik, “Berapa menurutmu?”
“Dua ratusan?” tebak wanita itu.
“Lebih dari itu menurutku.”
“Tiga ratus orang?”
“Sepertinya begitu.” Aditya melihat Gunawan melangkah menuruni anak tangga ke tanah lapang, dan orang-orang bersenjata yang tunduk padanya memberinya jalan untuk ke gudang.
“Bagaimana ini?” tanya Nancy tak sabaran.
“Urus Profesor Joe. Biar soal Rudi, aku yang tangani.”
“Loe jangan sampai mati,” bisik Nancy begitu Aditya akan meninggalkannya untuk menyusul Uncle Gun ke gudang tempat di mana Rudi disekap.
“Nah, siapa kini yang memintaku agar nggak mati? Bukannya malam itu kau ingin menghabisiku setelah adegan **** palsu itu?”
“Sudahlah, berhenti bercanda!”
__ADS_1
“Bersiaplah. Kemungkinan akan terjadi adu tembak dan kejar-kejaran,” kata Aditya.
“Adu tembak dengan jumlah lawan sebanyak itu?”
“Kukira kali ini kita hanya akan adu tembak dengan kecerdasan melawan mereka,” balas Aditya.
Nancy membiarkan Aditya pergi dan ia sendiri diam-diam menyelinap ke arah lain, menuju laboratorium tempat di mana Profesor Joe tadi terakhir terlihat. Semoga saja dia tak berpindah ke lokasi atau bangunan lain, harapnya dalam hati.
Di lab, beberapa saat sebelumnya.
Profesor Joe mendadak merasa pusing. Pandangannya berkunang-kunang. Ia tidak bisa membedakan warna di sekitarnya. Ia bahkan tak bisa melangkahkan kaki sebab tiap persendiannya terasa lemas. Profesor itu ambruk di lantai lab, membuat orang-orang di situ panik.
“Profesor Joe?! Apa yang terjadi?” teriak seorang pekerja lab.
“Hei, cepat telepon ambulans!” kata orang lainnya yang menuding telepon di ruang makan lab.
“Panggil Uncle Gun saja!” sahut yang lain.
“Gak ada waktu telepon ambulans!”
“Ada apa ini?”
“Entahlah, dia tiba-tiba pingsan!”
Suara-suara itu meluncur keluar dari bibir para pekerja lab dan asisten dadakan Joe Mulyono yang bekerja dengannya di bawah todongan senjata para anak buah Gunawan. Tepat pada saat yang sama, Nancy masuk ke tempat itu dan bergabung bersama kerumunan itu.
Nancy pun berkata, “Ayo kita antar sendiri ke rumah sakit!”
“Ya, mari kita bawa dia ke mobilku,” kata seorang pegawai lab.
Mereka mengangkat tubuh profesor itu ke sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Nancy ikut bersama tiga pekerja lain, masuk ke mobil. Salah satu asisten Profesor Joe pergi melaporkan soal keadaan Joe kepada Gunawan yang saat itu sudah berada di gudang.
Saat itu Gunawan sibuk memukuli Rudi dengan tongkat baseball yang ada dalam genggaman tangannya.
“Oh, loe menantu Jack Lesmana? Nggak nyangka orang macam loe yang dipakai keluarga Lesmana untuk mengusik bisnis gue!”
“Jack Lesmana sudah mati. Tentang siapa gue, itu bukan urusan loe,” kata Rudi yang tak tahu soal siasat Aditya mengarang cerita tentang menantu Jack Lesmana.
Aditya sejauh itu belum mencoba mencegah Gunawan. Lagi pula kekuatan pukul si lelaki tua itu tak terlalu berbahaya bagi Rudi. Ia hanya mencemaskan jumlah pasukan di sekitar mereka yang bersenjata.
Aditya lalu berkata, “Saya bisa membuat orang ini mati dengan cara-cara yang pasti Uncle Gun sukai.”
“Oh, ya? Cara apa itu?”
“Menyiksanya. Tidak di tempat yang terlalu ramai begini.”
__ADS_1
“Katakan saja apa maksud loe, Dit!”
Sebelum Aditya menjawab, asisten Profesor Joe nyelonong masuk ke dalam gudang. Ia membuat para anak buah Gunawan yang berdiri berkumpul di situ mengumpat sebab harus berdesak-desakan memberinya jalan.
Asisten itu bilang, “Profesor pingsan! Bibirnya membiru dan semua terjadi tiba-tiba. Sekarang kami harus membawanya ke rumah sakit, Tuan!”
“Sialan! Apaan lagi sih ini?!” umpat Gunawan yang terlihat semakin kesal. Lalu ia segera menyerahkan Rudi ke tangan Aditya tanpa curiga sedikit pun, karena pikirannya terlalu penuh oleh ketakutan.
“Dit, matikan saja orang ini. Siksa sesuka loe! Ada gudang bekas di tenggara sana! Biar orang-orang ini mengantar loe!” katanya.
Aditya mengangguk penuh semangat dan meninju Rudi empat kali sebagai awal, supaya mereka percaya padanya.
Tentu saja Gunawan Mahdi takut bisnisnya hancur. Ia takut para musuhnya di luar sana membuatnya dijebloskan ke penjara tingkat tinggi. Ia takut pilar-pilar yang tersisa di kerajaannya roboh. Dan Joe termasuk salah satu pilar yang harus dipertahankan oleh karena riset narkotika jenis barunya yang mendekati hasil sempurna.
“Setelah Ular Kobra yang mengacau, lalu giliran menantu Lesmana. Dan sekarang profesor itu pingsan! Apa lagi yang mesti terjadi?!” gerutu Gunawan sambil pergi ke luar gudang.
Aditya menatap datar lelaki tua itu yang pergi menghilang di balik kerumunan. Dia lalu membentak orang-orang agar membantunya membawa pergi Rudi ke gudang bekas tempat di mana ia bisa membunuhnya dengan cara-cara menyakitkan.
“Cara apa yang bakal loe pakai, he?!” tanya anak buah Gunawan yang terlihat songong.
“Bukan urusan loe,” jawab Aditya. “Sekarang bawa saja dulu dia ke gudang yang Tuan Gunawan maksud!”
“Bacot gede macam loe ini bisanya apa?” kata lelaki songong tadi.
Aditya spontan meminting lengannya hingga orang itu berteriak minta ampun. Dia bilang, “Kalian belum tahu siapa gue? Kalian belum tahu kenapa Tuan Gunawan sudi mengajak gue jalan berdua pagi ini?”
Mereka menatap ketakutan pada Aditya.
“Ya, gue barusan ngebunuh Si Tua Leo. Dan itu atas permintaan langsung Uncle Gun pada gue!” sambung Aditya dengan penuh tekanan.
Berkat kalimat itu mereka segera patuh padanya. Mereka melempar Rudi ke sebuah gerobak dan membawanya ke gudang kosong di sisi tenggara. Mereka juga patuh saja ketika Aditya menyuruh mereka meninggalkannya untuk bisa “menikmati” menyiksa si pengganggu bisnis Uncle Gun seorang diri.
“Jangan ada yang mengintip!” bentak Aditya.
“Baik, Bos!” balas mereka sambil menunduk, lalu mundur satu per satu.
“Kalian terlalu bodoh saja. Percaya pada orang asing macam gue,” batin Aditya yang diam-diam tersenyum licik.
Aditya mencari jalan kabur begitu orang-orang itu sudah cukup jauh meninggalkan gudang kosong tersebut. Sebelumnya, ia menelepon Nancy. Wanita itu ternyata bekerja dengan cepat. Lebih cepat dari dugaannya.
Di seberang sana, Nancy berkata, “Loe akan bahagia begitu tahu dengan siapa gue duduk di mobil ini.”
“Selain profesor Joe tentu?”
“Tentu saja!”
__ADS_1
Aditya tak perlu menebak-nebak. Ia tahu di mana dan dengan siapa saja Nancy saat ini berada.
Bersambung....