Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 129


__ADS_3

Ketika sampai di rumah sakit para polisi langsung menemui beberapa pasien korban kejahatan di restoran untuk mencari informasi berguna sekaligus melihat keadaan mereka. Sementara Aditya malah pura-pura pergi ke toilet untuk mencari tempat yang sepi. Dia kemudian menghubungi Dark.


“Bagaimana, apa rencana kita selama ini berhasil kamu jalankan?” tanya Aditya.


“Santai saja lah beres kok. Cuma sekarang aku kehilangan kontak dengan mereka,” jawab Dark sambil tertawa.


“Lalu apa yang kamu dapatkan?”


“Terakhir mereka bilang ingin ke rumah sakit untuk mengobati luka-luka temannya.”


“Baguslah, aku ingin kamu mengirimkan file rekaman pentingnya kepadaku sisanya kamu hapus saja.”


“Lah sayang banget, padahal pas adegan berkelahinya aku bisa jadiin backsound musik EDM loh.”


“Jangan buat yang macam-macam deh langsung hapus saja. Btw terimakasih ya sudah mau membantuku lagi.”


“Hahaha oke. Nggak masalah lagian aku juga berhutang budi kepadamu, kalau perlu bantuan lagi jangan sungkan bilang saja.”


“Iya, terimakasih banyak.”


Aditya mengakhiri panggilannya. Tak lama kemudian ada kiriman file rekaman dari Dark. Aditya kemudian mendengarkannya dengan seksama. Setelah mendengarkannya dia hanya tersenyum, lalu dia menghubungi Putra dengan ponselnya.


Flashback…


“Dompetnya jatuh,” jawab Aditya sambil menunjuk dompet pria itu di lantai.


Pria itu termenung sejenak sambil meraba saku celananya. Pria itu mengambil dompet dari lantai dan berterimakasih kepada Aditya lalu pergi. Aditya hanya menatapnya tajam lalu pergi menuju gedung keamanan. Dia kemudian mencari tempat sepi untuk menghubungi Dark.


“Ada apa lagi nih?” sapa Dark sambil terdengar menguap.


“Baru bangun tidur jam segini?”


“Iyalah kan siang-siang begini waktunya tidur.”


“Dasar nocturnal.”


“Btw ada apa nih? Kalau nggak penting aku tutup saja mau tidur lagi.”


“Aku barusan bertemu dengan orang misterius Dark.”


“Misterius bagaimana? Bisa melayang? Bisa menghilang? Duh kalau di video, upload ke youtube bisa kaya mendadak kita,” ucap Dark dengan antusias.

__ADS_1


“Bukan misterius begitu, dia cuma karyawan baru.”


“Lah terus apa misteriusnya?”


“Dia membawa pisau, langkah kakinya begitu ringan. Kemungkinan dia mau mencoba mencelakaiku tapi gagal.”


“Jadi, dia pembunuh bayaran?”


“Kemungkinan besar, karena itu aku minta tolong kepadamu Dark.”


“Apa yang bisa kubantu?”


“Aku ingin kamu terus menyadap ponselku ini, jika terjadi sesuatu kepadaku aku akan menggunakan alat penyadap micro kepada orang yang mengincarku itu aku ingin kamu merekam semua pembicarannya. Jika aku tidak kenapa napa kamu bisa mengirimkan rekaman itu kepada Putra. Kamu baru bisa berhenti menyadapku setelah aku bilang terima kasih nanti.”


“Hei hei jangan berlagak seperti orang yang mau mati deh, ngeri tahu.”


“Hahaha ini cuma jaga-jaga saja Dark, aku khawatir ini semua rencana salah satu geng besar atau bahkan ulah Black Mafia sendiri.”


“Baiklah, aku akan membantumu sebisaku.”


“Oke, aku juga akan menghubungi Putra. Aku ingin meminta pistol dan alat penyadap micro darinya,” ucap Aditya lalu mengakhiri panggilan itu dan menghubungi Putra. Sesuai rencananya.


Flashback Selesai…


“Bos baik-baik saja kan?” sapa Putra dengan nada cemas.


“Aku baik-baik saja Put. Kelihatannya kita tidak perlu melanjutkan rencana kita selanjutnya,” jawab Aditya.


“Memangnya kenapa bos? Padahal semua anak buahku sudah siap bergerak.”


“Aku sudah mendengarkan percakapan mereka sejak melarikan diri dari restoran. Aku yakin mereka tidak akan berani muncul lagi di kota Bandung. Aku yakin mereka akan langsung melarikan diri. Aku penasaran apa yang kamu ketahui tentang mereka? Aku yakin kamu sudah mendengar semuanya dari Dark.”


“Ya aku memang sudah mendengar kronologisnya dari Dark termasuk nama panggilan mereka yang berdasarkan pada alphabet. Setahuku di pasar gelap memang ada organisasi pembunuh bayaran terkenal yang menggunakan alphabet sebagai sandi panggilan. Mereka menamai organisasinya dengan sebutan Dark Assassins.”


“Begitu ya, jadi semenjak mereka berhenti dari militer mereka lebih memilih menjadi seorang pembunuh bayaran,” ujar Aditya.


“Militer?”


“Benar, dari percakapan mereka saja aku sudah sangat yakin kalau mereka berasal dari tentara militer Negara kita yang entah kenapa alasannya mereka malah keluar dari militer dan memutuskan untuk menjadi bagian dari pasar gelap sebagai pembunuh bayaran.”


“Kenapa bos bisa yakin begitu? Padahal tadi Dark saja tidak mengetahui banyak hal tentang mereka.”

__ADS_1


“Mereka mengetahui pisau belati yang kugunakan.”


“Kalau masalah pisau belati dan julukanmu sebagai Belati Maut mah beberapa geng besar juga tahu.”


“Memang benar, tapi yang tahu bahwa aku adalah unit pembunuh pertama yang dibentuk pasukan khusus militer hanyalah kalangan militer saja. Bahkan kamu sendiri tentunya tidak tahu hal itu,” jelas Aditya.


“Begitu ya. Karena itu bos sangat yakin mereka tidak akan kembali berulah setelah mengetahui identitas bos sebenarnya?”


“Begitulah. Aku ucapkan terimakasih untukmu dan juga anak buahmu yang bersedia membantuku.”


“Sama-samalah bos, lagipula kami masih selalu menganggapmu sebagai bos besar geng Kujang.”


Aditya mengakhiri panggilan lalu pergi untuk menemui Jimmy dan Arya. Terlihat mereka sedang berbincang dengan Heni. Mereka sedang mendengarkan kronologis kejadian di restoran menurut versi Heni.


“Apa tidak ada percakapan yang kamu dengar saat berkelahi melawan mereka?” tanya Arya.


“Aku tidak mendengar hal penting dari mereka. Terlebih aku hanya berkonsentrasi untuk bisa mengimbangi serangan mereka walaupun pada akhirnya aku tetap saja babak belur,” jelas Heni.


“Seharusnya Aditya lebih banyak mendengar percakapan mereka daripada aku,” tambah Heni sambil menatap Aditya diikuti oleh Jimmy dan Arya.


“Aku waktu itu benar-benar cemas dan takut, jadi tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka. Jika bu Heni waktu itu tidak datang mungkin saya sudah dihabisi,” jawab Aditya merespon tatapan semua orang yang ada di sana.


“Oh iya, aku sempat mendengar mereka memanggil satu sama lain dengan huruf-huruf alphabet kalau tidak salah,” ucap Heni.


“Alphabet?” tanya Arya. Wajahnya berubah pucat dan terlihat serius.


“Ya, yang aku dengar itu D, A, C mungkin yang lainnya juga sama.”


“Kenapa Ar?” tanya Jimmy.


“Tidak, aku hanya merasa mereka bukan tidak punya alasan saling memanggil dengan alphabet seperti itu. Aku akan keluar sebentar,” jawab Arya sambil pergi keluar dari ruangan.


“Tidak mungkin jika ini ulah mereka,” gumam Arya sambil pergi mencari tempat yang sepi untuk menghubungi seseorang. Di lorong dia berpapasan dengan Frita, Pandu dan Clarissa yang tiba di rumah sakit.


“Eh Frita, om,” sapa Arya sambil bersalaman.


“Kok datang ke sini, dapat kabar dari mana?” tanya Arya.


“Oh tadi Fita bilang ada anak-anak dari bagian keamanan yang live di instagram saat mereka sudah ada di rumah sakit, di grup WA juga katanya ada yang menyebarkan kejadian pahit yang menimpa mereka. Setelah tahu permasalahannya Frita langsung mengajak saya kemari sekalian untuk mengetahui keadaan mereka,” jawab Pandu.


Arya hanya mengangguk, Frita sekeluarga segera menuju ruangan di mana Heni dirawat. Di sana Jimmy sedang berbincang dengan Heni. Jimmy tersenyum sambil menatap Frita saat masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


Aditya juga tersenyum kepada Frita tapi Frita malah terlihat kesal sambil membuang muka. Jimmy tersenyum, dia pikir ternyata hubungan Aditya memang tidak sedekat yang dia khawatirkan, buktinya sekarang Frita malah terlihat begitu kesal. Aditya sendiri hanya tersenyum puas karena rencananya berhasil.


BERSAMBUNG…


__ADS_2