
“Kamu pikir wanita itu barang?” tanya Aditya dengan tatapan tajamnya.
“Huh, jangan munafik deh. Gue yakin lu suka kan sama calon istri gue?” tanya Diaz.
“Memangnya kalau gue suka sama dia? Merasa tersaingi?” ledek Aditya.
“Cih, kalian denger nggak? Eh lu pikir lu siapa hah? Ada satu milyar orang kayak lu di dunia ini pun gue nggak bakalan merasa tersaingi. Memangnya lu bisa apa?” punya apa?” balas Diaz sambil mendorong tubuh Aditya, namun tenaga Diaz bahkan tidak mampu menggerakan tubuh Aditya yang begitu kokoh.
“Kalau nggak bakalan ngerasa tersaingi terus kenapa lu ganggu kami tadi?” tanya Ratna.
“Denger ya nona manis, gue itu nggak suka saja kalau ada gelandangan yang ngeliatin calon istri gue terus. Gimana kalau nanti istri gue trauma?”
“Kalau memang nggak takut tersaingi kenapa tidak menyuruhnya berdansa saja dengan calon istrimu itu?” tantang Ratna.
Semua orang di sana mulai berbisik bisik membenarkan perkataan Ratna barusan. Aditya juga menatapnya dengan heran tapi Ratna malah mengedipkan matanya seolah kode untuk memberi Aditya kesempatan supaya mau berusaha mendapatkan Frita kembali.
Diaz mulai khawatir. Dia sendiri menatap Frita yang sedang berdiri di samping Gina. Diaz sendiri masih ragu dan takut kalau Frita malah bisa di dapatkan oleh Aditya. dengan cepat dia mencari cara agar Aditya tidak bisa berdansa dengan wanita idamannya.
“Kenapa berpikir lama? Apa kamu takut?” ledek Ratna.
“Hmmh, siapa yang bakal takut? Gue cuma berpikir bagaimanapun juga dia tetap nggak akan pantas berdansa dengan calon istri gue. Level mereka terlalu jauh masa orang urakan kayak begitu berdansa dengan calon istri gue yang kayak bidadari. Enak di dia nggak enak di calon istri gue dong,” jawab Diaz mencoba untuk membuat alasan. Ratna terdiam mendengarnya, hal itu membuat Diaz semakin senang.
“Bener nggak semuanya?” teriak Diaz.
“Benert!”
“Setuju! Harusnya minimal kekayaannya setara dengan pasangannya berdansa,” kata beberapa orang tamu.
“Orang kayak di amah mana mungkin kekayaannya bisa setara dengan calon istri gue. Mau bekerja seribu tahun juga nggak bakalan cukup buat beli cincin berlian seperti ini,” kata Diaz sambil menunjuk perhiasan yang ada di dalam kotak kaca.
“Kalau saja lu bisa beli cincin semahal ini baru lu bisa berdansa sama calon istri gue!” tambah Diaz sambil tertawa puas.
Aditya menatap Frita yang hanya bisa terdiam disamping ibunya. Ratna sedikit berpikir mencari cara untuk membungkam mulut sombong Diaz yang semakin menggila menghina Aditya. dengan perlahan Aditya maju hendak menghampiri Frita tapi Diaz menghadangnya.
__ADS_1
“Lu nggak denger apa? Kalau lu bisa beliin calon istri gue cincin berlian yang lebih mahal dari yang gue beli ini, baru lu bisa berdansa dengannya” tegas Diaz.
“Aku memang tidak punya uang sebanyak itu saat ini. Tapi kalau perhiasan aku bisa memberikannya saat ini,” jawab Aditya dengan tenang.
“Hahaha para hadirin dengar? Katanya dia punya perhiasan yang bisa diberikan kepada calon istriku. Kira-kira apa ya? Batu akik apa gelang jerami?” ledek Diaz disambut tawa para tamu yang hadir.
“Seperti apa perhiasannya? Batu akik atau apa?” tanya Diaz.
Aditya hanya menghela nafas dalam. Sebenarnya ini adalah upaya terakhirnya untuk mendapatkan Frita. Sebelum dia pergi ke pesta ini dia sengaja mampir ke sebuah bank untuk membawa barang berharga dari brankas yang disewanya.
Perlahan Aditya mengeluarkan sebuah kotak dari saku bajunya. Dia kemudian membuka tutup kotak itu hingga isinya terlihat. Sebuah kalung berlian berbentuk hati nan indah tersimpan rapi di dalamnya. Semua orang di sana mulai mencoba mendekat untuk melihat lebih jelas kalung itu.
“Lihat ini dia perhiasan murahan yang dia maksud! Hahaha kalung mainan seperti ini mana mungkin bisa menyaingi cincin berlianku!” tegas Diaz sambil merebut kalung itu dan memamerkannya kepada semua orang.
“Apa itu asli?”
“Indah banget, apa emang itu mainan?”
“Mustahil, bagaimana mungkin dia memilikinya!”
Semua orang mulai bergaduh, semuanya tampak terpana dengan keindahan kalung dengan berlian berbentuk hati yang Aditya bawa. Diantara mereka terlihat ada yang heran dan tidak percaya bahwa itu asli, diantaranya juga ada orang yang takjub dan tidak percaya kalau kalung itu hanya mainan saja.
“Jangan tergoda dengan keindahannya, aku yakin ini hanyalah material yang dibuat sedemikian rupa hingga mirip dengan berlian,” kata Diaz.
“Kalau begitu, apa anda bisa membiarkan saya mengecek keaslian perhiasan itu?” tanya Dr. Robert.
“Sebaiknya anda tidak perlu membuang waktu untuk memeriksa perhiasan yang sudah jelas palsu ini,” cegah Diaz.
“Tidak, jujur saya tertarik dengan keindahannya. Saya sendiri sangat tertarik untuk memeriksa keasliannya,” kata Dr. Robert sambil datang menghampiri.
Diaz kemudian menyerahkan kalung itu kepada Dr. Robert untuk diperiksa. Beberapa kali terlihat Dr. Robert begitu takjub sampai geleng-geleng kepala. Ratna dan Frita sendiri terlihat terpana dengan keindahan kalung yang dibawa oleh Aditya itu. Dr. Robert sambil tersenyum kemudian menyerahkan kalung itu kepada Aditya.
“Itu jelas-jelas mainan kan Dr. Robert?” tanya Diaz sambil tertawa.
__ADS_1
“Ini perhiasan asli,” jawab Dr. Robert. Semua orang yang mendengar semakin gaduh dan berbisik bisik.
“Hahaha kalaupun asli harganya belum tentu menyaingi cincin berlian yang aku beli,” ledek Diaz.
“Harganya sangat mahal, bisa sampai ratusan milyar bahkan trilyunan rupiah atau malah lebih,” jawab Dr. Robert. Lagi-lagi pernyataannya membuat suasana di sana semakin gaduh.
“Kenapa bisa? Itu kan cuma kalung biasa!” tegas Diaz tidak terima.
“Apa kalian ada yang tahu apa nama perhiasan yang dimiliki oleh anak muda ini?” tanya Dr. Robert kepada para tamu. Ada yang menjawab tahu ada yang tidak.
“Anak muda apa kamu sendiri tahu apa nama kalung yang kamu bawa itu?” tanya Dr. Robert sambil berbalik menatap Aditya.
“Yang saya tahu, namanya adalah Unbreakable Heart,” jawab Aditya.
Mendadak semua orang terdiam, bahkan Diaz dan Gina terlihat pucat saat mendengarnya. Semua orang kaya setidaknya pasti pernah mendengar nama kalung legendaris itu. Kalung itu sangat berharga dan hanya ada satu di dunia ini. Sebuah mahakarya dari abad ke-16 masehi. Mereka tidak menyangka jika di abad ini kalung itu dimiliki oleh Aditya.
Ratna dan Frita ikut terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka jika Aditya memiliki perhiasan yang sangat berharga itu. Dr. Robert hanya tersenyum sambil mendekati Aditya dan menepuk pundaknya.
“Kamu benar-benar beruntung. Namanya memang benar Unbreakable Heart sebuah kalung luar biasa yang pernah ada di muka bumi, terdiri dari tiga buah permata Alexandrite 12,5 karat, Blue Diamond 3 karat dan bagian tengahnya adalah red diamond 8,5 karat. Totalnya 24 karat. Kalung ini hanya ada satu-satunya di dunia,” papar Dr. Robert.
“Pasti itu palsu!” bantah Diaz.
“Jika memang ada yang tidak percaya silahkan datangkan lagi ahli perhiasan yang terkenal jujur kemari!” tantang Dr. Robert.
“Kalau memang itu asli pasti itu adalah hasil curian!” tuduh Diaz.
“Tidak! Beberapa tahun yang lalu aku pernah mendengar wawancara pemilik kalung itu sebelumnya, dia adalah seorang pengusaha kaya raya yang berasal dari Inggris. Dalam wawancara itu dia bilang telah menyerahkan perhiasan paling berharga miliknya ini kepada seorang pemuda yang telah menyelamatkan nyawa keluarganya yang berasal dari Indonesia,” jawab Dr. Robert.
“Kami juga pernah mendengarnya!”
“Benar, aku yakin dia tidak mencurinya!” teriak beberapa tamu, mayoritas mereka menyetujui perkataan Dr. Robert.
“Seperti yang kalian dengar dan lihat, anak muda ini berhasil menjawab tantangan nak Diaz. Sebagai seorang lelaki sejati dia harus menepati janjinya dan membiarkan anak muda ini berdansa dengan calon istrinya,” teriak Dr. Robert. Semua orang juga ikut bersorak, sedangkan Diaz hanya diam saja menanggung rasa malu.
__ADS_1
Aditya tersenyum sambil melangkah mendekati Frita. Hati keduanya terasa begitu berdebar saat ini. Tanpa sadar Frita sendiri maju menyambut kedatangan pria yang beberapa kali telah menyelamatkan nyawanya itu sambil tersenyum.
BERSAMBUNG…