
Brian, Viktor dan anak buahnya sudah keteteran menghadapi Edgard, Tri dan anak buahnya. Beberapa anak buahnya sudah tumbang sisanya juga sudah babak belur.
Brian kemudian memutuskan untuk mundur karena dipaksakan juga tidak akan bisa menyelesaikan semuanya. Mereka lebih memilih kehilangan suatu wilayah daripada harus kehilangan banyak anggota.
“Kenapa kita harus mundur Brian?” tanya Viktor dengan wajah kesal.
“Kita tidak perlu mementingkan ego kita saat ini! Jika kita kehilangan banyak anggota di sini maka ke depannya geng Serigala akan dengan mudah merebut wilayah kita yang lainnya!” jelas Brian.
“Tapi jika terus seperti ini juga tetap saja kita akan kehilangan banyak wilayah!” bentak Viktor.
“Ingatlah kita gagal saat ini karena rencana kita sudah diketahui oleh musuh!” balas Brian.
“Cih, padahal aku ingin sekali merobek-robek mereka berdua,” gerutu Viktor
“Kita akan membalas dendam lain kali. Saat ini kita harus mencari penghianatnya terlebih dahulu.”
Brian, Viktor serta beberapa anak buahnya beristirahat setelah berhasil meloloskan diri dari kepungan geng Serigala. Brian kemudian merenung memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi saat ini, dia kemudian teringat dengan Ratna.
“Kita harus segera pergi menuju lokasi Ratna dan Verdi saat ini,” ucap Brian.
“Kenapa?”
“Yang kita hadapi tadi di sini adalah Tri dan Edgard itu berarti di sana ada Gerald dan Gilang. Ratna dan Verdi tidak akan mungkin bisa menghadapi Gerald. Ayo! Kita harus bergegas sebelum terlambat,” ucap Brian.
“Yang terluka terutama yang cukup parah sebaiknya segera pergi menuju rumah sakit. Yang masih kuat untuk bertarung ikut kami!” perintah Viktor.
“Kita benar-benar sudah kalah telak,” gumam Brian.
***
Setelah Gerald mengacungkan tangannya, semua geng Serigala mulai mundur menuju kendaraannya. Mereka kemudian pergi meninggalkan tempat itu sambil bersorak. Geng Gagak berteriak mencemooh mereka karena malah kabur, Egi juga melarang anak buahnya mengejar mereka.
“Sebenarnya apa yang membuat bos terlibat dalam masalah seperti ini?” tanya Egi.
“Aku sudah berjanji kepada Bima untuk melindungi cucu semata wayangnya,” jawab Aditya sambil melangkah menuju mobil Ratna.
“Bos bergabung dengan geng Merak?”
“Tidak, aku hanya sedang berusaha membalas budi baik Bima selama ini.”
“Tapi bisa saja dia malah memanfaatkanmu bos.”
__ADS_1
“Jangan khawatir. Dia tidak akan melakukannya,” jawab Aditya sambil melihat keadaan Ratna.
“Kamu masih selamat Dit?” tanya Ratna sambil menggenggam tangan Aditya.
“Aku baik-baik saja Rat, kita akan pergi ke rumah sakit untuk mengobatimu,” ucap Aditya.
Namun tak berselang lama terdengar beberapa kendaraan mendekat ke sana. Ternyata Brian, Viktor dan anak buahnya sudah sampai ke lokasi mereka. Tampak Viktor mengernyitkan keningnya karena di sana ada Egi dan anak buahnya yang banyak. Mereka kemudian menghampiri Egi dan Aditya.
“Kenapa geng Gagak ada di wilayah kami?” tanya Viktor dengan nada marah.
“Gue cuma kebetulan lewat di sini,” jawb Egi dengan santai.
“Apa jangan-jangan lu yang menghajar anggota geng Merak?”
“Bukan Vik.. mereka bahkan datang membantuku yang dibawa oleh Gerald.”
“Kelihatannya benar apa yang dikatakan Ratna. Walaupun aku masih bingung kenapa dia bisa membawa anggota sebanyak ini,” timpal Brian.
“Anak buahku kebetulan melihat bos Aditya sedang mengikuti geng Serigala. Karena itu gue pikir lebih baik gue membawa anggota banyak agar bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat. Sedikitpun gue nggak pernah berniat membantu geng lu, jadi jangan salah paham dulu,” jawab Egi.
“Sebaiknya kita pergi dari sini, lama-lama gue juga bisa emosi dengan orang-orang tidak tahu terimakasih seperti mereka,” tambah Egi mengajak anak buahnya pergi.
“Tunggu sebentar, aku akan ikut dengan kalian menemui Ketua,” kata Aditya.
“Brian, Viktor. Aku titip Ratna dengan kalian, sebaiknya cepat bawa dia ke rumah sakit aku khawatir dia kenapa-napa setelah menerima serangan Verdi tadi,” ucap Aditya sambil memegang Ratna yang masih meringis kesakitan.
“Verdi?” tanya Brian.
“Ya, aku memang tidak tahu pasti seperti apa rencana kalian. Aku hanya tahu kalau rencana itu gagal karena Verdi membocorkannya kepada geng Serigala. Aku juga sangat yakin dia yang meracuni ketua kalian,” jawab Aditya.
“Bagaimana bisa?” tanya Brian sambil menceritakan kronologi saat makan bersama Bima semuanya sesuai dengan yang Bima ceritakan kepada Aditya sebelumnya, dia yakin kalau Verdi tidak punya kesempatan untuk melakukannya.
“Ya, awalnya aku juga tidak yakin kalau Verdi bisa melakukannya di situasi itu. Tapi setelah aku pikirkan lagi ternyata dia memang bisa melakukannya.”
“Bagaimana caranya?”
“Waktu itu Verdi adalah orang yang membawa lima gelas berisi air putihnya kan?”
“Ya, tapi gelasnya sama persis isinya juga sama air putih semua, yang menyodorkan air kepada Ketua juga Ratna,” jawab Brian.
“Bagaimana posisi duduk waktu itu?”
__ADS_1
“Aku bersama Verdi duduk di sisi kiri Ketua, lalu Brian dan Ratna duduk di sisi kanan Ketua. Sedangkan Ketua duduk sendirian,” jawab Viktor.
“Lalu posisi gelasnya di nampan seperti apa?” tanya Aditya. Brian tersentak kaget dia baru sadar kalau posisi gelas di nampan juga mencurigakan.
“Jadi begitu ya,” ucap Brian.
“Apa maksudnya?” tanya Viktor bingung.
“Dia juga memposisikan gelas dalam nampan bukan dalam posisi yang sama, melainkan sesuai dengan posisi duduk kita Vik, dua gelas di sisi kiri nampan melambangkan posisi duduk kamu dan dia. Dua gelas lagi di sisi aku dan Ratna. Lalu satu gelas terpisah dari yang lainnya berada di sisi Ketua,” jawab Brian.
“Lalu apa yang salah dengan hal itu?”
“Dia memanfaatkan trik psikologi sederhana. Melihat posisi gelas seperti itu seolah menunjukan siapa yang seharusnya memiliki gelas itu sendiri. Karena itulah tanpa sadar Ratna juga menyodorkan satu gelas yang sesuai dengan posisi Bima kepadanya,” jelas Aditya.
“Kamu benar, aku bahkan juga mengambil gelas yang paling dekat denganku, Ratna juga begitu, karena pada dasarnya kita memang akan melakukannya terkecuali bentuk gelas dan isinya berbeda. Cih! Dia benar-benar cerdik juga,” gerutu Brian.
“Jadi begitu. Lalu sekarang dia di mana?” tanya Viktor.
“Dia sudah tewas,” jawab Aditya sambil menunjuk mayat Verdi.
“Sebaiknya sekarang kalian segera pergi ke rumah sakit,” perintah Aditya.
“Kamu sebaiknya segera obati luka-lukamu Rat, nanti aku juga akan segera menemuimu di rumah sakit,” bisik Aditya pelan.
“Jangan lama-lama Dit,” ujar Ratna. Aditya hanya mengangguk sambil tersenyum.
Viktor segera mengemudikan mobil Ratna. Brian dan anak buahnya juga pergi meninggalkan lokasi itu. Aditya kemudian ikut bersama Egi menuju restoran tempat pertemuan geng Gagak.
“Kenapa bos ingin ikut ke sana?” tanya Egi.
“Aku hanya khawatir dengan kalian, terlebih beberapa hari yang lalu aku mendengar kalian dihukum.”
“Ya kami memang dilarang untuk berhubungan lagi denganmu bos, tapi aku bisa membuat alasan sendiri terkait kejadian hari ini.”
“Kamu jangan meremehkan Ketua, dia adalah orang yang licik. Biarkan aku yang berbicara dengannya nanti, kamu hanya perlu mengikuti arahanku saja.”
“Baiklah,” jawab Egi.
“Aku juga sekalian ingin memastikan satu hal darinya,” batin Aditya sambil mengepalkan tangan.
BERSAMBUNG…
__ADS_1