
Aditya beserta keluarga Pandu keluar dari ruangan bersama Jimmy dan Arya. Diaz dan keluarganya langsung menghampiri mereka. Terlihat kekesalan di wajah Diaz. Tampaknya dia sangat yakin kalau dalang kejadian kali ini adalah sang rival yang juga menginginkan Frita.
“Terbukti kan kalau dia pelakunya,” kata Diaz.
“Sebenarnya apa sih masalahmu dengan dia?” malah Jimmy yang balik bertanya.
“Lihat saja penampilannya sudah kayak berandalan begitu, pasti yang menghadang kami juga para anak buahnya!”
“Anda sebaiknya hati-hati ya, bisa jadi tuduhan tanpa bukti yang anda tujukan kepada dia itu malah menjerat anda ke penjara,” tegas Jimmy. Akhirnya Diaz terdiam.
“Untuk hari ini kami rasa keterangan dari kalian semua sudah cukup. Silahkan jika memang sudah ingin pulang. Kami harap kerjasamanya jika nanti tiba-tiba kami datang ke kediaman kalian untuk keterangan selanjutnya,” tutur Jimmy. Keluarga PAndu dan keluarga Diaz mengangguk. Kedua keluarga itu kemudian pergi dari kantor polisi.
“Jim, sebaiknya kamu terus waspada,” kata Arya.
“Memangnya kenapa Ar?”
“Entahlah tapi orang yang bernama Aditya itu juga cukup misterius.”
“Hahaha kamu ini terlalu berlebihan Ar. Apa kamu mengira dia yang sudah membunuh puluhan penjahat itu?”
“Ya, sebenarnya aku memang berpikir ke sana.”
“Hahaha mustahil Ar mustahil. Sehebat apapun seorang mantan tentara tapi kalau seorang diri mah mustahil menghabisi puluhan penjahat bersenjata lengkap seperti itu. Aku rasa lebih masuk akal keterangan yang dia berikan kepada kita.”
“Tapi Jim.”
“Kamu sebaiknya jangan terlalu kecapean Ar. Kamu harus banyak istirahat di rumah. Terlebih aku dengar istrimu sedang mengandung anak pertamamu,” ucap Jimmy sambil menepuk pundak teman karibnya itu.
“Kamu benar juga, mungkin sebaiknya aku segera pulang malam ini,” jawab Arya sambil bersiap hendak pulang.
Sementara itu keluarga Pandu dan keluarga Diaz berjalan menuju mobil mereka. Tampak Diaz terus menggerutu karena mobilnya yang dibawa Aditya menjadi kotor oleh tanah di hutan. Gina sendiri berinisiatif untuk menghampiri keluarga Diaz.
“Cih! Mobil dua juta dolarku!” gerutu Diaz sambil memandang mobilnya.
“Maaf pak Argawijaya,” sapa Gina.
“Ada apa bu?”
“Bisa tidak malam ini sebelum pulang kita berkumpul dulu di restoran untuk membicarakan sesuatu.”
__ADS_1
“Sesuatu?”
“Ya, ini terkait hubungan kedua anak kita.”
“Baiklah bu kami akan ikut.”
“Terimakasih.”
Kedua keluarga itu kemudian pergi dengan mobilnya menuju sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana mereka segera memesan tempat dan makanan. Diaz sangat kesal ketika melihat Frita malah duduk di kursi yang berada di samping Aditya, dia tambah jengkel ketika melihat keakraban mereka berdua.
“Heh lu! Lu harus ganti mobil gue satu juta dolar!” bentak Diaz sambil menunjuk Aditya.
“Maksudnya?” tanya Aditya.
“Mobilku jadi kotor! Lu harus ganti satu juta dolar!”
“Lah kotor doang tinggal di cuci juga bersih lagi.”
“Eh belagu juga nih orang. Kalau lu nggak punya uang ya minta maaflah!”
“Sudah Diaz, lagipula aku yang pertama membawa mobil itu,” sela Gina karena merasa jengkel dengan sikap Diaz. Akhirnya Diaz terdiam sambil menatap tajam Aditya.
“Ini soal pernikahan anak kita pak Arga. Saya mohon maaf sebelumnya.”
“Kenapa minta maaf bu?”
“Saya rasa pernikahannya harus kita batalkan,” jawab Gina. Keluarga Diaz tampak sangat terkejut.
“Apa?!”
“Kenapa begitu bu?”
“Ya setelah saya pikir kelihatannya Frita memang membutuhkan orang yang lebih peduli kepadanya dan bisa melindunginya.”
“Memangnya saya kurang apa tante? Apa jangan-jangan kalian juga sudah di ancam si brengsek ini ya!” teriak Diaz sambil menunjuk Aditya.
“Bukan begitu nak Diaz, kami rasa Frita berhak menentukan calon suaminya sendiri. Terlebih orang yang bisa melindunginya,” jawab Pandu.
“Memangnya saya kurang apa? Saya bisa melindungi Frita dengan baik!”
__ADS_1
“Jika memang bisa tidak mungkin Frita sampai berhasil diculik! Terlebih saat itu kamu malah mau-maunya direndahkan oleh para penjahat. Sebagai seorang pria kamu seolah tidak punya harga diri,” jawab Gina dengan kesal.
“Lah itu kan karena di jebak oleh si brengsek ini! Kalau dari awal sudah ada persiapan mah pasti bisa kami lindungi.”
“Memangnya ada penculik yang mau memberi aba-aba dulu?” ledek Aditya sambil tertawa kecil.
“Diam lu!” bentak Diaz.
“Tapi kami sudah persiapan untuk acara lamaran besok malam bu,” kata ibu Diaz.
“Karena itulah saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Jika bisa saya mau ganti rugi semua biayanya,” kata Gina sambil tertunduk.
“Ini pasti gara-gara lu ya! Lu nggak tahu apa gue sudah banyak ngabisin ribuan dolar untuk acara lamaran besok malam!” tegas Diaz sambil menunjuk Aditya.
“Hentikan Diaz! Sejak awal aku memang tidak ingin menikah denganmu!” bentak Frita sambil bangkit dari kursinya.
Ayah dan Ibu Diaz hanya saling memandang. Mereka kemudian menyetujui permintaan Gina, lagipula mereka memang tidak mungkin memaksakan kehendaknya. Hanya Diaz sendiri yang terlihat masih tidak terima dengan pembatalan pernikahannya itu.
“Awas lu ya!” bentak Diaz sambil menunjuk Aditya sesaat sebelum mereka pergi meninggalkan keluarga Pandu yang melanjutkan makan malamnya.
“Aku pamit dulu ya mas, Frita. Maafkan ibu karena sudah memaksamu untuk menikahi Diaz,” ucap Gina sambil menangis memeluk putrinya.
“Tidak apa-apa bu, aku nggak mungkin marah kok,” jawab Frita.
“Maaf, ibu awalnya mengira kalau itu adalah jalan terbaik untuk melindungimu tapi tidak ibu sangka ternyata tabiat Diaz sangat tidak cocok denganmu,” kata Gina lagi sambil melepaskan pelukannya. Perlahan dia mendekati Aditya yang sejak tadi memperhatikan mereka.
“Aku tidak tahu bagaimana caraku harus minta maaf padamu Dit. Aku juga tidak berpikir kamu mau memaafkanku. Yang bisa kukatakan saat ini, aku ingin mempercayakan Frita kepadamu, tolong lindungi dia seperti biasanya. Maafkan sikapku selama ini,” ucap Gina.
Aditya tidak menjawabnya sedikitpun. Mungkin sikapnya yang pendendam sejak dulu membuatnya sukar untuk mengatakan kalau dia sudah memaafkan Gina. Baginya kejadian di kapal pesiar itu terlalu sulit untuk dimaafkan.
“Baik,” jawab Aditya. hanya sebatas itu saja kata-kata yang keluar dari mulut Aditya, Gina hanya tertunduk. Dia sendiri sadar seberapa besar kesalahannya kepada Aditya.
Keluarga Pandu keluar dari restoran. Pandu menawarkan untuk mengantar Gina tapi dia lebih memilih naik taksi dengan alasan tidak mau merepotkan mereka terlebih mungkin Clarissa sudah menunggu kepulangan ayah dan kakaknya dari tadi. Mereka semua pergi menuju mobil. Tapi Aditya malah berdiri di depan pintu mobil sambil melihat ke belakang mobil Pandu.
Tak jauh dari sana mobil Diaz masih terparkir. Aditya hanya mengernyitkan keningnya saja. Tampak Diaz terus memperhatikannya dari kejauhan sambil memberikan isyarat ancaman dengan tangannya.
“Dasar maniak dolar keras kepala,” gumam Aditya sambil tersenyum. Dia kemudian mengemudikan mobil Pandu menuju kediaman mereka.
BERSAMBUNG…
__ADS_1