Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 52


__ADS_3

Aditya hanya geleng-geleng kepala. Kertas itu dia buang ke tempat sampah. Kelihatannya Frita memang sudah merencanakan ini semua. Dia emang bener-bener niat ngerjain Aditya.


Hari ini kelihatannya dia akan menghadapi banyak masalah yang dibuat oleh Frita. Dengan kesal dia mengemudikan mobilnya menuju kantor Glow & Shine Co. Setelah absensi dia segera berlari menuju kantor bagian keamanan untuk latihan fisik.


“Dari mana saja kamu?” tanya Heni, kepala bagian keamanan. Heni bertolak pinggang di depan pintu masuk seolah memang sengaja menunggu kedatangan Aditya.


Secepat apapun Aditya mengemudikan mobilnya tetap saja terlambat datang ke kantor sekitar tiga puluh menitan. Kelihatannya Frita memang sudah memperhitungkan waktunya dengan tepat.


“Saya tadi ada keperluan sama Bu direktur sebentar Bu,” jawab Aditya.


“Jangan membual. Aku tadi mendapat telepon langsung dari bu direktur kalau kamu terlambat mengantarnya sampe dia harus naik taxi online,” bantah Heni.


“Kenapa? Tidak bisa menjawab ya?” tanya Heni sambil tersenyum puas.


Saat ini Aditya tidak bisa membantah tuduhan Heni karena memang Frita sudah merencanakan semuanya dengan sangat matang. Heni kemudian menyuruh Aditya bergabung dengan sopir lainnya yang sedang berlari mengelilingi lapangan.


“Perhatian untuk semuanya. Kalian bisa melanjutkan berlatih beladiri di ruangan. Untuk Aditya sebagai hukuman karena terlambat tiga puluh menit maka kamu harus berlari lagi selama tiga puluh menit!” perintah Heni.


“Rasain!”


“Emang Enak!”


“Makanya kalo mau kerja mandi dulu!” terdengar sopir yang lain menertawakannya.


“Kalau kamu berhenti sebelum tiga puluh menit maka hukumannya akan ditambah lagi tiga puluh menit,” jelas Heni kembali.


Aditya tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah dari Heni. Dalam hatinya dia bertekad akan membalas kejahilan Frita hari ini. Selama tiga puluh menit dia berlari mengelilingi lapangan. Heni berada di sana mengawasi Aditya agar tidak berhenti berlari.


Di dalam ruangannya Frita tersenyum sendirian. Dia merasa senang karena berhasil menjahili Aditya. Walau begitu dia merasa ada suatu hal yang membuatnya bingung. Entah kenapa ketika tadi Aditya memegangnya seolah rasanya begitu familiar di ingatannya. Rani yang masuk ke dalam ruangan membuat lamunannya buyar.


“Ada apa Ran?” tanya Frita.


“Cie kelihatannya hari ini Mbak lagi seneng ya. Ini Mbak ada berkas dari bagian keuangan,” jawab Rani sambil menyerahkan berkas di tangannya.


“Ya lumayan senang sih. berkas apaan nih?” tanya Frita sambil menerima berkas, perlahan dia membacanya.


“Ini beneran Ran?” tanya Frita tampak kaget.

__ADS_1


“Iya Mbak, saya juga nggak nyangka sih. kemungkinan ayah Erik dari Unesia Corp ikut campur tangan dalam masalah ini,” jawab Rani.


“Ini sih masalah serius Ran. Kelihatannya bagian keamanan harus ikut menangani masalah ini. Lalu siapa yang akan mewakili bagian keuangan dalam masalah ini?”


“Sherly Mbak. Sebentar lagi dia mungkin sampai ke sini.”


“Begitu ya. Sebaiknya kamu segera memberitahukan masalah ini kepada bu Heni.”


“Baik Mbak.”


Rani pergi menuju gedung bagian keamanan. Frita menghela nafas dalam, dia tidak menyangka jika acara lamaran Erik yang gagal membuat Unesia Corp mulai membuat masalah dengan Glow & Shine Co. Erik mungkin bisa dengan mudah dibujuk, tapi ayah Erik yang bernama Jaya Sebastian bukanlah orang yang bisa dengan mudah dihadapi. Dia benar-benar tipe orang yang pendendam.


Aditya yang sedang berlari di lapangan sekilas melihat Rani datang menemui Heni. Setelah berbincang sebentar, Heni pergi meninggalkan tempat itu. melihat Aditya yang sedang berlari sendirian mengundang rasa penasaran dari Rani.


“Kamu sedang apa lari sendirian di sini? Bukannya yang lain sedang latihan beladiri ya di dalam?” tanya Rani.


“Itu Mbak, tadi saya terlambat datang ke sini. Karena itu saya dihukum sama bu Heni,” jawab Aditya sambil duduk.


“Oh begitu, dulu kan sudah pernah ku kasih tahu kalo bu Heni itu emang galak. Eh kamu masih ngeyel juga,” ucap Rani sambil tertawa.


“Btw Mbak tadi ngapain ngobrol sama bu Heni?”


“Ya soalnya berasa nggak enak juga Mbak kalo di tempat kerja saya panggil nama langsung.”


“Oh. Tadi bu Heni di suruh menghadap bu Direktur.”


“Memangnya ada keperluan apa ya?”


“Nanti juga kamu tahu,” jawab Rani sambil tertawa kecil.


Aditya hanya mengernyitkan dahinya tanda heran. Setiap berbicara dengan Aditya entah kenapa Rani merasa begitu nyaman dan tenang. Aditya malah berpikir jika Frita sudah merencanakan hal lain untuk menjahilinya. Kelihatannya hari ini dia benar-benar akan dibuat kesusahan.


“Kamu pinter bikin orang penasaran saja, tapi nggak heran juga sih soalnya emang setiap hari kamu memang bikin semua orang penasaran.” kata Aditya.


“Maksudnya bikin penasaran kayak gimana?” tanya Rani.


“Ya penasaran soalnya tiap hari kayaknya kamu makin cantik saja deh,” jawab Aditya sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ih kamu ini bisa saja,” kata Rani sambil tersipu.


“Serius loh, coba saja tanyain sama pak Yana, dia pasti bilang begitu malah mungkin dikasih bonus puisi lagi,” ucap Aditya sambil tertawa.


“Ih! Nggak mau lah, risih tahu Dit. Tapi sekarang dia sudah nggak terlalu agresif seperti dulu deh. Mungkin gara-gara kejadian malam itu.”


“Begitu ya, pantesan tiap ketemu sama aku dia selalu membuang muka,” gumam Aditya. Rani kemudian pamit karena mau kembali ke gedung utama.


“Ini gaun pengantin mahal untuk siapa Rik?!” tanya Jaya Sebastian dengan wajah kesal di ruangan Erik.


“Untuk Frita yah,” jawab Erik dengan wajah tanpa dosa.


“Frita?! Frita terus! Kamu punya otak nggak sih Rik? Udah jelas Frita itu nggak mau menikah sama kamu.”


“Sekarang mungkin iya yah soalnya dia juga mau fokus mengembangkan bisnisnya dulu. Aku juga memakluminya kok, sebagai calon suami yang baik aku pasti akan terus mendukung impiannya. Kalau sudah tercapai baru deh kita bahas masalah pernikahan.”


“Hadeh ni anak. Terserah dah! Malam ini ayah sama ibu mau berangkat ke luar negeri sebentar. Kamu urus perusahaan dengan baik, jangan Frita mulu yang diurusin.”


“Kok mendadak begitu yah?”


“Kontrak kerja sama dengan Supplier bahan bangunan kita di luar negeri sudah hampir selesai, karena itu ayah sama ibu pergi ke sana buat mengajukan kontrak yang baru.”


“Ah bilang saja ayah mau liburan.”


“Ya kalo masih ada waktu mungkin bisa juga. Oh iya, perusahaan Glow & Shine Co mungkin akan mengirimkan perwakilannya untuk menagih hutang ke perusahaan kita, kamu tangani mereka. Pastikan nggak ada uang sepeserpun kamu berikan!”


“Loh hutang apaan Yah?”


“Nanti juga kamu tahu. Yang penting kamu ingat perintah ayah tadi,” jelas Jaya sambil pergi dari ruangan Erik.


“Kamu yakin mas mempercayakan masalah itu sama Erik?” tanya Istrinya.


“Biarin bu, ayah juga mau ngetes sampai di mana kemampuan Erik itu menghadapi kerasnya dunia bisnis,” jawab Jaya.


Erik masih termenung di ruangannya. Dia heran sejak kapan perusahaannya memiliki hutang kepada perusahaan Frita. Setahunya perusahaan Unesia Corp bersama beberapa cabangnya selalu mendapat income yang besar, tidak mungkin sampai tidak bisa membayar hutang ke perusahaan lain.


“Apa mungkin ini semua rencana yang sengaja dibuat oleh Ayah?” gumam Erik.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2