Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 315


__ADS_3

n di PelukanSerangan Terakhir


Serangan Terakhir


Aditya dan teman-teman telah sampai di tempat yang dimaksud. Rako mengajak mereka sembunyi di sebuah bedeng tua. Bangunan utama di sekitar situ adalah sebuah gudang besar. Konon katanya bekas gudang obat-obatan.


“Di bawahnya ada bunker yang sangat luas. Di sanalah kami sering merayakan hari penting keluarga di bawah perintah Setiawan Budi,” jelas Rako sambil menunjuk jauh ke depan.


Bangunan utama itu berjarak sekitar lima puluh meter dari tempat di mana kini Rako, Aditya, dan Rinda bersembunyi.


“Jalur masuk yang aman selain yang kita ambil tadi mana?” tanya Aditya.


Rinda tadi terpaksa melintasi jalan setengah basah, yang rupanya bukanlah jalan sebenarnya, melainkan bekas selokan yang diuruk dengan pasir dan batu kerikil seadanya.


“Teman-teman loe bisa lewat sana,” jawab Rako sambil menunjuk ke sisi lain, tepat di seberang gudang obat bekas itu. Ada sebuah jalan kecil diapit barisan pepohonan. Di sanalah nanti Skuad Malam bisa masuk ke kawasan ini.


***


Setengah jam mereka menunggu dalam cemas.


Akhirnya Skuad Malam datang juga.


“Kalian di mana?” tanya Aditya lewat telepon.


“Sudah di jalur yang tadi kamu bilang, Bang,” jawab Teo.


Mendadak suara telepon Teo terdengar kemerosok. Ternyata seseorang merebut ponselnya. Dan orang itu adalah Nancy.


“Halo, Dit? Apa kabar?”


Aditya senang mendengar suara Nancy. Artinya kini Skuad Malam datang dalam formasi lengkap seperti dulu sebelum dibubarkan.


“Hai, kabar baik. Kamu ke mana saja?” jawab Aditya sambil memberi isyarat pada Rinda dan Rako agar maju mengendap-endap ke gudang obat tersebut. Langkah kaki Aditya dan Rinda sangatlah taktis. Tak seperti Rako yang belum terbiasa menjalankan ‘operasi’ macam ini. Ia agak tertinggal di belakang.


“Hati-hati. Hestu bisa saja pasang jebakan,” kata Rako. Ia hafal tabiat Hestu yang licik.


“Ini sudah hati-hati kali,” kata Rinda sambil tertawa.


Nancy di seberang telepon bilang, “Ada urusan sebentar di luar sana. Dan sekarang tampaknya kita berurusan lagi. Semoga kali ini kita kembali menang.”


“Ya, jelas kita akan menang,” tukas Aditya yakin.


Ternyata jalan masuk ke bunker yang dimaksud cukup mudah dijangkau. Tidak ada jebakan seperti yang Rako cemaskan. Skuad Malam bergabung bersama kelompok Aditya tak lama setelah telepon Teo ditutup.


“Ini senjata yang kami bawa. Tak terlalu banyak,” kata Charlie menyodorkan tas golf pada Aditya.


Aditya cuma mengambil pistol dan meletakkannya di sabuknya. “Cukup ini saja. Lawan kita kali ini tak terlalu banyak.”

__ADS_1


***


Hestu dan Deddy akhirnya tiba di lokasi tak lama setelah pergi dari rumah perawat itu. Tepat di waktu yang sama, rombongan saudara kandung Nino juga datang di area terbengkalai itu.


Niko langsung menyerang Hestu dengan kalimat kasar, “Anjing macam kau masih saja berurusan dengan adik gue? Lihat sekarang akibatnya!”


Hestu dengan tenang menjawab, “Sebentar lagi loe bisa balasin dendam mendiang Nino, Bung. Lagian ini pacar Aditya gue bawa.”


Frita tampak berbaring tak sadarkan diri di dalam gerobak semen. Sengaja ditaruh di situ oleh Deddy karena ia tak kuat menggotong lagi.


“Biar kutembak saja sekarang perempuan ini,” kata Niko sambil mengarahkan senjata ke kepala Frita.


“Loe kenapa sih? Paham seni sedikit dong! Nanti saja kita bunuh dia setelah Aditya datang,” kata Hestu agak sebal.


Niko pun bisa menahan diri. Ia datang bersama dua teman dekatnya, dua mantan pegulat profesional di Rusia yang telah pensiun dini karena terjerat kasus kriminal. Dua orang itu entah bagaimana bisa bekerja pada Niko. Niko, seperti halnya Nino, bekerja di dunia bawah tanah untuk menghabisi nyawa orang demi uang.


Mereka dengan mudah saja menggotong tubuh Frita yang ringan ke bungker itu. Deddy terlihat lega karena tak bersusah payah lagi, tapi sekaligus juga merasa takut dengan tiga sosok yang tak dia kenal itu.


Mereka menunggu sekitar sejam sampai terdengar suara pintu besi itu berderak. Itu satu-satunya jalan masuk dan keluar ke tempat ini.


Duar...!


Terdengar suara ledakan memekakkan telinga.


“Akhirnya mereka datang juga!”


***


“Gue enggak tahu lagi tempat rahasia mana yang Hestu tahu selain tempat ini. Dia tahu gudang ini tempat terbaik yang kami miliki untuk sembunyi,” ujar Rako.


“Aku yakin kita akan menemukannya di sini,” sahut Rinda.


Teo dan Charlie berdiri paling depan, mendorong pintu besi besar berlapis yang tak terkunci. Pintu itu agak berat, seperti tertahan sesuatu. Rako sempat bilang, “Hati-hati.”


Namun terlambat.


Ledakan itu mungkin tak terlalu kuat dayanya, namun cukup memekakkan telinga. Sebuah ledakan yang sekadar menghanguskan kulit saja. Dan tentunya Charlie-lah yang jadi korban. Ia menjerit kesakitan.


“Bangsat! Jebakan!”


Aditya, Rinda, dan Skuad Malam yang tak terluka segera masuk berbaris dengan senjata di tangan masing-masing.


Mendadak, lampu yang tadi menyala redup di ruang bawah tanah itu padam.


“Jangan khawatir,” kata Nancy. Ia mendahului yang lain, menyerahkan sejumlah kacamata night vision ke tangan rekan-rekannya.


Tanpa diduga, sebelum Aditya memakai kacamata itu, sesuatu yang besar dan kuat menghantam tubuhnya. Aditya berguling di lorong selebar tujuh meter itu. Skuad Malam segera memasang mata, dan menangkap sosok besar berambut gondrong. Salah satu pegulat anak buah Niko.

__ADS_1


Dor!


Dor!


Dor!


Tembak Aditya dan Nancy bersamaan.


Tak ada suara jerit kesakitan. Hanya desing peluru saja yang berisik.


Baskara yang berbadan paling lemah, berteriak karena ia terdorong oleh tubuh kuat pegulat itu. Ambruk menabrak tembok besi.


“Ah!”


Tapi Baskara mengambil kesempatan itu. Ia bilang, “Di sini!” Sambil menyalakan senter di helm khususnya--yang tadi karena kaget atas ledakan, tak segera ia nyalakan.


Aditya menembak sosok besar yang menindih Baskara itu.


Sekali tembakan.


Dor!


Tak ada lagi pergerakan.


“Bagus, kita maju, Kawan-kawan!” kata Aditya memimpin barisan.


Serangan berikutnya jauh lebih mudah dikalahkan, karena pegulat kedua tak kalah bodoh ketimbang orang pertama.


Namun, setelah pegulat kedua mati ditembak, mendadak lampu menyala lagi.


Rako berbisik, “Hati-hati! Perhatikan tembok di samping kanan-kiri kalian!”


Benar saja. Nyaris Aditya tertusuk jebakan berupa belati yang meluncur deras dari tembok. Ternyata ada panel-panel khusus di lantai tua itu, yang didesain dengan cerdas untuk memicu jebakan.


“Kita sudah seperti masuk ke piramid berisi banyak harta karun!” kata Rinda.


Akhirnya mereka tiba juga di tempat tujuan: ruang pertemuan yang besar dengan rak penuh buku, peralatan pantau, komputer, TV, bahkan hingga tempat tidur dan kulkas. Memang itu tempat yang didesain untuk perlindungan diri.


Namun ruangan itu tak berisi siapa pun.


Hanya ada sebuah kursi di tengah ruangan luas, dengan jaket Frita yang tersampir di atasnya.


“Mereka kabur!” pekik Aditya.


Rako tahu ujung ruangan itu memiliki lemari khusus, sebuah pintu rahasia menuju ke sebuah gua bawah tanah. Ke situlah mereka harus pergi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2