Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 165


__ADS_3

Esok harinya setelah menghadiri acara pemakaman dua anak buah Putra yang tewas, Aditya segera mempersiapkan diri untuk menghadapi salah satu anggota elit Black Mafia yang identitasnya sudah diketahui. Satu unit mobil dan sebuah pistol dia pinjam dari Putra. Dia kemudian pamit menuju lokasi yang diberikan anak buah Putra yang tengah mengawasi target.


“Berhati-hatilah bos, kalau ada apa-apa segera hubungi kami,” ucap Putra.


“Tenang saja, aku pasti akan mengabari kalian jika terjadi sesuatu,” jawab Aditya sambil menepuk pundak Putra.


“Ya, aku hanya akan menerima kabar baik saja.”


“Lagipula aku tidak mau mengabarkan kabar buruk kepadamu.”


Aditya kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju lokasi. Dalam perjalanan dia terus merenungkan berbagai kemungkinan yang nanti akan terjadi saat dia bertemu dengan musuh yang tidak pernah disangka itu.


Aditya sampai di sebuah stadium sepakbola. Dia kemudian menyelinap masuk ke dalam dengan menggunakan topi dan kacamata laiknya orang kaya. Menurut laporan anak buah Putra ini adalah lokasi favorit salah satu anggota elit pasar gelap. Dia terus berkeliling mencari orang itu ke berbagai ruangan.


Aditya kemudian pergi menuju tribun penonton karena semua ruangan sudah dia periksa. Ketika keluar tampak beberapa anak kecil sedang berlatih sepakbola di lapangan yang sangat luas, tidak ada seorangpun penonton di kursi karena memang hari ini tidak ada jadwal pertandingan tim besar. Di tribun penonton seberang Aditya, ada seorang pria bertopi hitam sedang duduk di kursi sambil menikmati cerutu ditemani tiga orang pria sangar.


“Kalian bisa meninggalkanku sebentar,” ujar pria itu dengan tatapan tajam menatap Aditya yang sedang berdiri menatapnya di tribun seberang.


“Eh? Kenapa bos? Bagaimana kalau komplotan tikus yang kemarin kita habisi datang ke sini?” tanya seorang pria di sampingnya.


“Kalian meragukan kemampuanku? Lagipula menurut firasatku saat ini aku akan baik-baik saja,” jawab pria itu dengan tenang.


“Baiklah kami akan menunggu di kursi paling atas.”


“Kalian tunggu aku di mobil saja, aku tak lama juga akan menyusul kalian,” perintah pria itu.


“Baiklah kalau begitu bos,” ucap pria sangar itu. Dia kemudian pergi bersama dua orang pria sangar lainnya.


Aditya hanya berdiri sambil terus memperhatikan gerak-gerik targetnya. Melihat dia sudah tinggal sendirian saja Aditya segera berjalan menuju tribun penonton di seberangnya berdiri. Tak berapa lama kemudian dia sudah sampai ke tempat pria bertopi hitam itu. Mungkin jarak mereka hanya terpaut satu meter saja.


“Lama tidak berjumpa,” sapa Aditya sambil duduk di kursi.

__ADS_1


“Lama tidak berjumpa, aku tidak menyangka jika kita secara kebetulan bertemu kembali di sini,” ucap pria itu.


“Kebetulan ya, sebenarnya aku merasa malu ketika melihatmu di sini. Dulu waktu kita bertemu aku bersikukuh tidak akan ikut balapan. tapi pada akhirnya aku ikut juga, benar-benar memalukan,” kata Aditya sambil tertawa kecil.


“Aku rasa kemenangan di balapan sebesar itu seharusnya tidak membuatmu malu, Belati Maut,” ucap pria itu.


“Sudah kuduga sejak dulu kamu memang mengenalku, Dewa Judinya Bandung. atau aku harus memanggilmu Hans Julisno?”


“Begitu ya, jadi dua tikus yang dihabisi Albert kemarin adalah anak buahmu.”


“Bukan, aku hanya menyewa mereka. Hemh.. jika memang sejak dulu kamu mengetahui siapa diriku kenapa kamu tidak memberitahukan hal itu kepada Ketuamu atau menghabisiku saat itu juga?”


“Untuk apa? Kematianmu tidak akan menguntungkan bagiku. Kamu sendiri kenapa tidak segera membunuhku sejak tadi? Aku yakin dalam jarak seperti tadi saja kamu bisa membunuhku dengan satu serangan. Tapi mengejutkan karena kamu memilih untuk datang kemari.”


“Aku rasa menghabisimu tidak akan semudah itu, lagipula aku sendiri ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.”


“Apa?”


“Anggap saja aku wasit, aku tidak akan berpihak kepada siapapun. Karena itu hanya akan merusak keindahan sebuah pertandingan.”


“Tapi keberadaanmu di Black Mafia sendiri sudah menunjukan kalau kamu lebih berpihak kepada mereka.”


“Ada kalanya keputusan yang wasit buat terlihat seolah menguntungkan satu pihak padahal dia memang sudah seharusnya membuat keputusan seperti itu. Aku memang belum lama bergabung dengan Black Mafia tapi aku tahu seperti apa sepak terjangmu selama ini hingga ditakuti oleh rekan-rekanku. Karena itulah menurutku pertandingan kalian cukup menarik juga.”


“Aku rasa jika kamu membunuhku di sini, kamu mungkin akan mendapat respek dan keuntungan yang besar dari teman-temanmu. Tapi tidak kusangka kamu malah memerintahkan para tikus itu untuk pergi dari sini.”


“Kamu jangan salah paham, aku melakukannya karena untuk menghabisimu aku sendiri sudah cukup walaupun memang kekuatanku sudah tidak seprima waktu muda dulu. Hanya saja aku ingin melihat sendiri akhir pertandingan kalian nanti.”


“Kamu cukup percaya diri ternyata. Kalau memang kamu bisa membuat keputusan yang seolah terlihat menguntungkan pihak lawanku itu berarti kamu juga bisa membuat keputusan yang seolah menguntungkan bagiku.”


“Hahaha itu tergantung alasannya, karena setiap keputusan dan tindakan yang aku ambil selalu memiliki alasan yang jelas.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau alasannya karena kamu kalah dalam sebuah taruhan,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Ho. Asal kamu tahu selama ini aku tidak pernah kalah bertaruh.”


“Baguslah berarti kita memiliki kemampuan yang seimbang dalam pertaruhan. Aku datang ke sini ingin menantangmu bertaruh balapan jika aku menang kamu harus mau menjawab beberapa pertanyaanku.”


“Menarik, tapi menurut firasatku hari ini aku akan kalah jika bertaruh balapan. bagaimana kalau kita ganti taruhannya dengan yang lebih menantang,” kata pria berjuluk dewa judinya bandung itu.


“Apa?”


“Kita akan bermain catur tiga babak. Jika kamu memangkan ketiganya maka aku akan menjawab tiga pertanyanmu apapun itu. Jika kalah maka kamu harus melakukan tiga perintahku, bagaimana?” tantang Hans.


“Catur memang cocok untuk pertandingan satu lawan satu seperti ini,” jawab Aditya.


“Baguslah, semangatku itu mengingatkanku kepada seseorang. Kita akan bermain di sini,” ucap Hans sambil mengeluarkan Ipad miliknya lalu membuka permainan catur. Mereka kemudian duduk berhadapan dengan ipad tergeletak di kursi yang menengahi mereka.


Mereka berdua kemudian mulai menjalankan bidak masing-masing. Aditya sangat terkejut karena ternyata kemampuan Hans sangat luar biasa dalam main catur. Selama ini dia tidak pernah merasa terpojok dalam main catur. Walau begitu dia berusaha untuk tetap tenang dan fokus. Pada akhirnya babak pertama berakhir dengan seri.


“Tidak kusangka kamu bisa membuatnya menjadi seri, padahal tadi kamu sudah begitu terpojok,” puji Hans.


“Aku lebih terkejut melihat permainanmu itu. Kamu memang pantas mendapat gelar dewa judinya bandung. Pergerakanmu seolah tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu,” balas Aditya.


“Aku hanya mengikuti firasatku saja. Kecerdasanmu mengingatkanku kepada seseorang yang pernah aku lawan waktu SMA dulu. Dia benar-benar tangguh, hanya saja dia terbawa permainanku yang cepat hingga akhirnya dia kalah. Padahal kalau tenang sepertimu mungkin ceritanya akan berbeda.”


“Kelihatannya orang itu cukup membuatmu terkesan.”


“Ya, semangatnya, kecerdasannya dia hampir sempurna andaikan tidak terbawa permainan cepatku, aku sampai saat ini tidak akan pernah melupakan namanya. Pandu Saputra dia benar-benar pria yang cerdas,” puji Hans sambil bersiap untuk pertandingan kedua. Aditya tersentak kaget, pantas saja dia merasa pernah mendengar kalimat yang sama waktu itu dari Pandu.


“Takdir memang tidak bisa ditebak,” ucap Aditya sambil tersenyum.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2