Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 253


__ADS_3

Seisi ruangan terdiam. Ada entah berapa mayat tergeletak di situ. Aditya tak sempat menghitung. Tapi ia tahu Larry dan Toro tak selamat. Kepala kedua sahabat Rai Siluman itu hancur ditembak.


“Ayo, kita pergi,” kata Aditya.


“Kau gagal menyelamatkan anakku, padahal kami sudah mendapatkan dokumen itu!” teriak Rai Siluman.


Di sampingnya ada sesosok gadis muda cantik, berumur sekitar 19 tahun, yang juga terlihat kacau dan berpakaian setengah telanjang. Anak Rai rupanya juga menjadi salah satu korban pelecehan seksual oleh kelompok mafia Harimau Gunung.


“Teman-temanku juga terluka. Teo bahkan sekarat kehabisan darah. Kalian tidak mendapat informasi yang tepat soal gadis-gadis yang diculik Harimau Gunung, jadi kami salah menolong tadi!” bantah Nancy coba menengahi Rai yang ingin meninju Aditya.


Aditya bilang, “Kita enggak ada waktu. Semua sudah mendapat apa yang kita mau. Turut berduka atas kedua temanmu, tapi kita harus pergi, Rai!”


“Teman-teman, belasan mobil sedang menuju kemari! Kalian harus cepatan kabur!” kata Baskara dari alat komunikasi.


Rai Siluman tak lagi bicara dan menggendong anak gadisnya sambil berlari. Vivian yang sedikit terluka di keningnya bisa berlari di belakangnya, begitupun Burhan yang terlihat hanya terluka di lengan kanannya. Mereka berlima pergi meninggalkan markas pusat mafia itu.


Tiba di kaki bukit, mobil sudah menunggu.


“Di mana mobil kami?” tanya Burhan pada Linda di bangku tengah.


“Dibawa pergi gadis-gadis itu. Kami tak bisa melarangnya. Mereka ingin datang ke kantor polisi tanpa mau menunggu kita,” kata Linda.


“Baiklah, kita terpaksa berdesak-desakan!” tukas Burhan yang segera masuk ke kursi kemudi.


Untunglah mobil SUV itu tidak terlalu sempit untuk mereka bersembilan. Entah apa jadinya nasib jasad Toro dan Larry. Rai, Burhan, dan Vivian harus merelakan kedua teman dekat mereka itu.


Lagi pula, kini mereka dikejar belasan mobil orang-orang Harimau Gunung yang marah!


“Kejar mereka! Ledakkan mobilnya kalau perlu!” teriak seorang yang sepertinya salah satu orang kepercayaan Harimau Gunung.


Sebuah mobil yang berada di barisan depan itu memunculkan seseorang dengan senjata bazooka.

__ADS_1


“Mereka jelas lebih marah dari ini jika tahu sang harimau sudah mati di tanganku,” kata Aditya sambil menyiapkan satu unit Locus (senjata untuk penembak jitu), dan bergeser ke kursi paling belakang, bersama Nancy dan Rai.


Rai mengambil sepucuk pistol, sementara Nancy memungut sebuah RPD, senjata yang menurutnya paling efektif dalam situasi kejar-kejaran begini.


Ya, kini mobil mereka diburu oleh belasan mobil anggota mafia itu. Tak ada jalan lain. Burhan yang menyetir mobil memilih memasuki pinggiran kota Tokyo. Tembakan pertama terdengar, meninggalkan lubang di belakang SUV yang mereka tumpangi.


“Yeah, kalian mau adu tembak? Oke,” gerutu Aditya. Ia sudah siap dengan senjata tembak jarak jauh itu. Dengan sigap Aditya memecahkan kaca belakang SUV itu dan segera membidik sang pembawa bazooka sampai mati.


“Kalian tiarap!” katanya pada teman-teman yang tidak ikut memegang senjata.


Dua tembakan berikutnya, Aditya berhasil menggasak dua orang lagi. Di belakang terdengar ledakan dahsyat karena dua mobil terdepan yang sopirnya ditembak mati oleh Aditya, menabrak sebuah pom bensin.


“Bagus,” kata Nancy. Gadis itu mengeluarkan separuh tubuhnya lewat jendela, dan menyerbu mobil-mobil lain yang terus mengejar mereka. Sementara Rai mencoba terus membidik roda mobil-mobil itu.


Hanya saja, ketika mereka masuk ke keramaian Kota Tokyo, situasi menjadi cukup sulit. Mobil mereka oleng karena salah satu ban berhasil ditembak oleh musuh.


Burhan sesaat tak bisa mengendalikan setir hingga mobilnya menyerempet sebuah barikade dan hampir mencelakai beberapa orang pejalan kaki.


“Sial! Jangan sampai kita membunuh orang-orang tak bersalah ini!” gerutu Charlie.


“Tidak akan! Kau belum tahu seberapa mahir aku dalam menyetir!” kata Burhan.


Memang benar. Meski tadi sempat oleng, kini Burhan mulai menguasai kendaraan. Justru mobil-mobil para mafia itu banyak yang terhenti, entah menabrak bangunan atau tiang, atau bahkan tercebur ke selokan yang sesekali terlihat di pinggir jalan.


Kini tersisa tiga mobil di belakang. Nancy berhasil menembak mati salah satu sopir, sementara Aditya menggasak dua lagi penembak jitu yang memunculkan diri di atap kendaraan mereka.


Sebuah mobil yang tersisa sepertinya tak membawa senjata apa-apa. Itu bukanlah mobil sembarangan. Sebuah mobil sport yang sejak awal berada paling belakang dalam barisan para pengejar.


“Sepertinya itu orang kepercayaan sang mafia. Semacam orang penting,” kata Rai.


Aditya mencoba menembak sopirnya yang wajahnya terhalang pekatnya kaca mobil, tapi gagal.

__ADS_1


“Mobil anti-peluru!” gumamnya.


Aditya segera membidik bannya. Mobil sport itu kini oleng, menabrak sebuah tiang, dan berakhir sudahlah pengejaran malam itu. Kekacauan di pinggiran kota Tokyo segera memancing datangnya polisi.


Suara sirene di kejauhan membuat Rai dan kawan-kawan pencuri ulungnya panik.


“Cepat, Burhan! Kita harus segera kabur!” kata Rai.


Burhan mengangguk, meminta yang lain tenang. Aditya dan Nancy kembali duduk di posisi seharusnya, meletakkan senjata mereka di bawah kaki.


Aditya bilang, “Kita cari mobil lain, lalu pergi ke hotel.”


“Maksudmu, kita curi mobil lain?”


“Kalian pencuri ulung, bukan? Ya, terpaksa kita lakukan itu. Bukankah kalian tak mau polisi Jepang meringkus kalian?” kata Aditya.


“Kau ini tahu saja!” tukas Rai kesal.


“Kubaca info tentangmu, Rai, yang sudah mencolong sejumlah benda berharga di museum nasional Jepang beberapa tahun yang lalu. Sekarang mereka sedang memburu kelompok kalian. Mereka selalu gagal, tapi apa boleh buat? Sekarang mereka bisa saja sukses kalau kita tidak segera kabur!”


Burhan berhenti di sebuah tanah kosong yang cukup gelap. Mereka keluar sambil memapah Teo, Linda, serta anak Rai yang terluka. Berjalan beriringan dengan tenang ke sebuah parkiran mini market yang tampak sepi di pojok jalan.


“Ada juga kendaraan macam ini! Sungguh sebuah penghinaan,” gerutu Burhan.


“Yeah, kalian biasa mencuri barang-barang yang jauh lebih mahal,” ujar Charlie dengan sinis.


Mereka akhirnya kabur dari situ dengan menumpang mobil boks berisi daging babi dan kotak-kotak es. Entah apa yang terlihat di luar sana. Hanya Burhan dan Aditya saja yang duduk di bangku depan. Semuanya bersembunyi di dalam boks mobil.


Sekira setengah jam kemudian mereka sampai di kawasan dekat hotel. Burhan pun memarkir mobil daging itu di tempat yang aman, agar tak membuat curiga. Semuanya segera turun dan berpencar, masuk ke hotel bergantian agar tak terlihat aneh.


Mereka harus bergegas mempersiapkan kepulangan ke Bandung jika tak mau para polisi Jepang maupun anak buah Harimau Gunung yang tersisa memburu mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2