Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 79


__ADS_3

Sherly terlihat begitu cantik dengan pakaian kasual yang membalutnya. Mata semua pria di restoran itu sesekali mencuri pandang ke arah Sherly. Aditya kemudian duduk di kursi yang ada di hadapan Sherly.


“Kamu benar-benar menawan Sher,” puji Aditya.


“Kamu nggak berubah ya Dit, seharusnya kamu hati-hati kalau memuji orang,” jawab Sherly dengan tersipu.


“Kenapa harus hati-hati segala sih, apa salahnya dengan memuji orang. Aku malah merasa jika seseorang mendapatkan pujian maka mereka akan lebih semangat lagi menjalani hidup ini.”


“Iya iya, kamu sendiri kenapa rambutmu seperti baru bangun tidur begitu? Apa itu style baru?” sindir Sherly sambil tertawa kecil.


“Oh, aku suka saja seperti ini. Dengan begini orang akan lebih berani untuk mengungkapkan cara pandang mereka kepadaku. Aku tidak susah-susah deh cari orang yang benar-benar baik.”


“Ngeles saja. Btw terimakasih ya untuk waktu itu. Aku benar-benar senang bisa bertemu denganmu lagi, aku juga senang karena waktu itu aku memilihmu untuk ikut bersama Dani. Jika tidak aku mungkin-“


“Sudahlah Sher, aku sudah sangat senang karena kamu baik-baik saja.”


“Tapi-“


“Hei Sher, jadi ini cowok yang sedang kamu tunggu?” sapa seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri. Pria itu terus menatap Aditya. Dia kemudian duduk di kursi samping Sherly.


“Iya Dan, ini teman SMA ku dulu, namanya Aditya. Dit ini teman kuliahku Dadan, dia anak yang punya restoran terkenal ini,” kenal Sherly.


Dadan dan Aditya bersalaman. Dadan terus mengajak Sherly mengobrol seolah tidak menghiraukan yang ada di sana. Sherly terlihat sudah merasa terganggu karena Dadan terus mengajaknya mengobrol tanpa henti. Aditya hanya diam sambil menikmati makanan dan minuman yang ada di meja.


“Sudah lama sekali aku nggak lihat kamu jalan-jalan lagi Sher,” ujar Dadan.


“Aku kebetulan sudah mulai males jalan-jalan kayak begitu, mendingan aku tabung uangnya,”


“Loh saying banget, padahal cewek secantik kamu itu harusnya dimanja. Diajak jalan-jalan shopping. Harusnya kamu segera cari cowo yang mapan deh Sher biar bisa menikmati hidup lagi.”


“Bagiku uang itu tidak bisa selalu digunakan sebagai parameter kebahagiaan seseorang.”


“Tapi uang bisa membeli kebahagiaan loh Sher, untuk bertahan hidup saja kita memerlukan uang. Karena itulah manusia dituntut untuk bekerja.”


“Seingatku dulu manusia bahkan tidak menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka lebih sering menggunakan sistem barter,” sela Aditya.


“Eh tahu darimana? Bisa saja itu hoax. Atau jangan-jangan kamu sudah tua ya sejaman dengan masa saat manusia masih hidup di goa?” ledek Dadan. Dia merasa tidak senang ketika Aditya menyela pembicaraannya.

__ADS_1


“Kamu kok gitu Dan?” tanya Sherly dengan wajah kesal karena merasa Aditya telah dihina.”


“Emang apa istimewanya sih dia Sher? Kalau aku mengajakmu makan malam berdua selalu saja kamu tolak, giliran dengan orang ini, Ah! Kelihatannya kamu kena guna-guna dia deh Sher.”


“Dan! Aku menghormatimu karena saat ini aku ada di restoran ayahmu, tolong jangan sampai aku membentakmu,” ucap Sherly dengan nada marah.


Dadan memilih untuk pergi dengan perasaan kesal, dia tidak menyangka Sherly akan membela Aditya sampai seperti itu. Dia semakin curiga kalau Sherly benar-benar sudah kena guna-guna Aditya. Tapi dia tidak ingin jika Sherly sampai membencinya.


“Maafin temanku ya Dit,” ucap Sherly dengan tulus.


“Tidak apa-apa, sudah kubilang kan aku itu sekarang lebih mudah untuk menemukan orang yang benar-benar baik,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Aku jadi nggak enak.”


“Jangan diambil hati Sher, aku sendiri nggak masalah dia berkata apapun. Tapi jujur aku menyukai konsep restoran ini, semua detail yang ada di sini tidak telihat sia-sia.”


“Ayah Dadan itu emang hebat Dit, aku dengar dia sendiri yang membuat rancangan gedung restoran ini. Semua fasilitasnya juga lengkap dari mulai café, game center bahkan ada lantai dansa loh di lantai tiga.”


“Wah, pantes saja banyak orang elit juga yang datang kemari. Orang yang hebat.”


“Aku juga heran kok bisa-bisanya Dadan bersikap seperti itu. Padahal sikap ayahnya sendiri sangat baik.”


“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, memangnya kamu bisa dansa Dit?”


“Eh kamu nggak tahu ya, gini-gini juga aku pernah jadi juara mannequin challenge di tingkat komplek loh,” ujar Aditya sambil tertawa.


“Lah semua orang juga bisa kali Dit kalo jadi mannequin doang mah,” jawab Sherly sambil tertawa.


Dadan yang sedang berdiri di dekat meja kasir terus memperhatikan mereka berdua. Dia semakin kesal ketika Aditya mampu membuat pujaan hatinya tertawa senang seperti itu. Aditya dan Sherly bangkit lalu menghampiri kasir untuk membayar makanan.


“Tolong bill meja 18 mas,” pinta Sherly.


“Totalnya lima ratus juta,” jawab Dadan yang tiba-tiba menghampiri mereka.


“Apa?” tanya Aditya dengan wajah terkejut, begitupula dengan Sherly.


“Yang bener Dan?” tanya Sherly karena tidak percaya.

__ADS_1


“Iyalah, makanya kalau diajak makan sama pria kayak dia jangan langsung mau saja. Lu juga kalau mau nggak punya uang sebanyak itu jangan sok sokan ngajak cewe ke restoran terkenal deh,” ledek Dadan.


“Ini aku yang bayar loh Dan!” tegas Sherly.


“Nah apalagi kalo begitu Sher, kamu itu cuma dimanfaatin doang tahu sama cowo bajingan kayak begini. Atau mungkin kamu emang kena guna-guna ya.”


Pegawai kasir hanya diam saja, dia tidak mau diarahi bosnya hanya karena terlibat di pembicaraan mereka. Aditya mulai kesal, matanya menatap tajam Dadan. Melihat tatapan tajam seperti itu nyali Dadan mulai ciut namun demi wibawanya dia malah berlagak seolah menantang Aditya. Tiba-tiba seorang pria sangar lewat.


“Lu yang waktu itu kan?” tegur dia kepada Aditya. Awalnya dia bingung dan mencoba mengingat-ngingat wajah pria sangar itu.


“Oh, lu yang waktu itu bareng Ratna kan?”


“Iya bener waktu itu kita ketemu di restoran saat adik lu bikin masalah, nggak nyangka ketemu di sini. Gue udah denger kejadian itu semuanya dari bos Ratna. Kelihatannya sedang ribut di sini, ada apaan?” tanya pria itu penasaran.


“Ini gue ngerasa di tipu, masa bill pesanan gue sampai lima ratus juta,” jawab Aditya sambil tertawa.


“Waduh, memangnya apa yang lu makan? Emas? Apa uranium?”


“Gue juga heran.”


“Eh yang bener, coba mana gue lihat tagihannya. Selama gue makan di sini belum pernah tuh denger tagihan sebesar itu,” ujar pria itu sambil meminta bill kepada Dadan.


Dadan yang mengetahui siapa pria itu hanya bisa menurut sambil meminta bill kepada pegawai kasir. Ternyata setelah dilihat tagihan mereka hanya sekitar lima ratus ribu saja. Pria itu mengingatkan Dadan agar jangan macam-macam sama pelanggannya.


Aditya, Sherly dan pria itu masuk ke dalam lift bersama. Aditya pikir mungkin karena Ratna menceritakan semua kejadian ketika mereka balapan kepada pria itu sampai pria itu begitu menghormatinya sekarang.


“Sampai jumpa bro,” ucap pria itu ketika keluar di lantai dua, Aditya hanya mengangguk.


“Siapa Dit?” tanya Sherly.


“Itu temannya temanku.”


“Terus siapa Ratna?”


“Dia itu temanku, nah pria tadi itu temannya Ratna.”


“Oh,” jawab Sherly sedikit lega.

__ADS_1


Mereka keluar di lantai tiga. Tampak di sana banyak orang yang sedang berdansa, ada juga yang sedang menikmati minuman, ada juga yang sedang mengobrol. Semua dekorasi dan suasana di ruangan itu benar-benar cocok untuk orang berdansa, Aditya juga sangat mengagumi suasana ruangan itu. Beberapa pria sangar telihat berbisik bisik sambil melihat Sherly.


BERSAMBUNG…


__ADS_2