
Aditya, Pandu dan Frita akhirnya sampai di kediaman mereka. Tampak Clarissa sedang menunggu mereka dengan cemas. Saat melihat kakaknya pulang dengan ayahnya dia segera menyambut mereka dengan tangisan. Frita memeluk erat adik kesayangannya itu.
“Kak ceritain dong bagaimana kakak sampai diculik dan berhasil diselamatkan oleh kak Aditya,” pinta Clarissa.
“Kamu ini kebiasaan ya, Ris. Kakakmu pasti lelah sekarang lagipula ini kan sudah larut malam, besok saja deh ceritanya ya,” kata Pandu.
“Nggak apa-apa kok ya, lagipula besok mungkin aku akan sibuk di kantor polisi untuk membuat sketsa wajah para penculik yang kabur,” jawab Frita.
Frita kemudian menceritakan semua kejadiannya dari awal sampai akhirnya Aditya datang menyelamatkannya, Clarissa terlihat begitu antusias mendengarkan cerita kakaknya itu. Aditya sendiri memilih untuk pergi ke kamarnya. Setelah selesai bercerita Frita dan Clarissa pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
“Dit,” sapa Pandu di pintu kamar Aditya yang terbuka.
“Ada apa pak?”
“Aku ingin berbicara sebentar denganmu, itu juga kalau kamu bersedia.”
“Tidak masalah, lagipula saya juga ingin mengatakan sesuatu,” jawab Aditya sambil pergi mengikuti Pandu ke ruang tamu.
“Sebelumnya aku benar-benar berterima kasih karena kamu lagi-lagi berhasil menyelamatkan nyawa putriku. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membalasnya,” tutur Pandu dengan tulus.
“Tidak apa-apa pak. Saya tidak pernah mempermasalahkan hal itu.”
“Tapi aku benar-benar malu Dit, padahal keluargaku sudah memperlakukanmu dengan buruk terutama mantan istriku, tapi kamu masih mau menyelamatkan Frita. Aku benar-benar minta maaf.”
“Sebaiknya pak Pandu tidak perlu mempermasalahkan hal seperti itu. Lagipula bu Gina kan sudah mantan istri bapak. Jadi dia tidak ada hubungannya dengan pak Pandu sekeluarga.”
“Terimakasih Dit. Mungkin ini permintaan yang egois tapi aku ingin kamu tetap tinggal di rumah ini dan melindungi Frita. Terserah kamu ingin menganggapku tidak tahu diri atau bagaimanapun, tapi keputusanku tidak akan pernah berubah. Bagiku hanya kamu pria yang pantas untuk mendampingi Frita seumur hidupnya,” kata Pandu sambil menunduk.
“Sudah pak jangan terlalu berlebihan seperti itu,” kata Aditya sambil mencegah Pandu tertunduk memohon di depannya.
“Aku sangat menyayangi Frita, karena itu aku harap kamu bisa menganggap semua kelakuan buruk Gina tidak pernah terjadi. Aku mau kamu tetap jadi tunangan putriku.”
“Hemh. Sebagai manusia biasa saya tentu tidak akan melupakan kejadian pahit itu begitu saja. Tapi sebagai ucapan terima kasih saya kepada bapak sekeluarga mungkin saya masih bisa tinggal di sini seperti biasa. Saya mungkin bisa mengurungkan niat saya untuk pergi dari rumah ini,” jawab Aditya pelan sambil menghela nafas.
__ADS_1
“Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak Dit.”
“Sama-sama pak. Saya juga ingin mengatakan kalau mulai saat ini kemungkinan besar Frita akan lebih aman.”
“Lebih aman?”
“Ya, sekarang dalang di balik penculikan Frita selama ini sudah saya ketahui, walaupun memang identitas aslinya sendiri masih belum saya ketahui. Tapi dia juga sudah tahu identitas saya sebagai pengawal Frita. Jadi mulai saat ini kelihatannya mereka akan merubah rencana mereka.”
“Kalau sudah tahu kenapa tidak kita beritahu polisi saja untuk membantu menyelidiki identitas aslinya?”
“Masalahnya dia bukan orang sembarangan yang bisa dilawan polisi begitu saja. Jika kita salah jalan dan menyudutkannya dengan polisi maka mereka bisa bertindak lebih nekat lagi. Tidak menutup kemungkinan mereka malah akan menghabisi setiap orang yang dekat dengan saya dan Frita. Jadi untuk saat ini sebaiknya jangan melibatkan polisi dulu.”
“Lalu untuk saat ini apa yang harus kita lakukan?”
“Saya akan mencoba semampu saya untuk mengetahui identitas aslinya, kalau sudah dapat maka polisi akan bisa langsung menangkapnya, hal itu akan membuat kita selamat. Tapi saya yakin mereka juga akan membuat rencana yang lebih berbahaya lagi mulai saat ini,” kata Aditya dengan serius.
“Saya hanya ingin mengingatkan satu hal kepada pak Pandu. Jika sesuatu yang buruk terjadi kepada saya, saya ingin pak Pandu sekeluarga pergi dari kota Bandung. Saya juga ingin bapak dan Frita meninggalkan perusahaan Glow & Shine co. dengan begitu bapak sekeluarga akan selamat,” jelas Aditya.
“Itu hanyalah solusi terakhir yang ingin saya sampaikan. Karena bagaimanapun penelitian formula baru tidak akan bisa kita hentikan, terlebih para pemegang saham sendiri sudah tahu sebesar apa keuntungan yang mereka dapatkan jika formula baru itu sukses disempurnakan. Jalan satu-satunya agar selamat adalah meninggalkan perusahaan.”
“Aku paham, aku juga akan menuruti saranmu itu walaupun aku tidak berharap hal itu terjadi.”
“Saya mengerti, saya juga mengharapkan hal yang sama. Tapi sehati-hati apapun saya, sekuat apapun saya, tetap saja saya hanya manusia biasa. Bisa saja hal buruk terjadi kepada saya.”
“Aku malah menyesal dulu memintamu melindungi putriku, aku tidak tahu jika pada akhirnya kamu harus berurusan dengan marabahaya sebesar itu. Maafkan aku.”
“Tidak perlu disesali pak, mungkin ini memang sudah takdir hidup saya untuk menuntaskan apa yang harus saya tuntaskan sejak dulu,” jawab Aditya sambil mengepalkan tangannya. Saat ini tekadnya sudah bulat untuk menyelesaikan misi terakhirnya dahulu.
***
Arya mengemudikan mobil menuju kediamannya. Sudah tidak sabar rasanya ingin menemui istrinya di rumah. Sepanjang perjalanan dia terus memikirkan kasus yang terjadi hari ini di hutan pinus. Keterlibatan Aditya terus membuatnya penasaran dirinya. Kemudian dia memutuskan untuk berhenti dan menelepon seseorang.
“Ada apa Ar, bukankah kamu sedang sibuk? Aku dengar saat ini polisi sedang sibuk mengurusi kasus di hutan pinus yang menewaskan banyak orang?” sapa seorang pria yang ditelepon oleh Arya.
__ADS_1
“Anda memang benar tapi kasus itu akan kembali di selidiki besok. Saya juga ingin meminta bantuan anda terkait kasus yang sedang polisi selidiki saat ini.”
“Bantuan?”
“Ya, kelihatannya kasus ini bukan sembarangan. Aku menduga kalau organisasi yang sedang kita selidiki saat ini juga ikut campur di dalamnya.”
“Apa? Maksudmu Black Mafia?”
“Ya, karena kejadian di hutan pinus itu sangat rapi dan tidak meninggalkan bukti ataupun petunjuk terkait kejadian yang sebenarnya terjadi. Terlebih banyak kejanggalan juga di TKP.”
“Begitu, aku dengar ada dua saksi mata yang berada di lokasi? Harusnya mereka berdua mengetahui sesuatu.”
“Memang benar ada dua saksi mata, satu korban penculikan dan satunya lagi sopir pribadi korban yang ingin menyelamatkannya. Petunjuk yang bisa polisi dapatkan dari mereka sejauh ini hanyalah plat nomor mobil dan besok mereka akan diminta menceritakan ciri-ciri pelaku untuk dibuat sketsa wajahnya.”
“Benar-benar rumit. Lalu bantuan apa yang bisa aku berikan?”
“Saya ingin anda menyelidiki salah satu saksi mata yang ada di lokasi.”
“Apa? Kenapa malah harus menyelidiki saksi mata?”
“Bagi saya pria itu terlalu aneh. Dirinya seolah penuh misteri, karena itu aku ingin anda menyelidiki latar belakang dan segala hal terkait dirinya. Maaf jika hal itu malah merepotkan anda.”
“Tidak masalah karena aku tahu kesibukanmu sebagai polisi sekaligus petinggi geng Serigala. Tapi aku jadi penasaran apa kamu berpikir kalau saksi mata yang kamu maksud itu merupakan salah satu orang elit Black Mafia?”
“Ada kemungkinan, tapi saya lebih berharap kalau dia bukan bagian dari mereka. Karena akan semakin merepotkan kita saja. Saya akan kirimkan beberapa data tentang dirinya, sekali lagi saya minta maaf jika malah merepotkan anda.”
“Tidak masalah Ar. Tunggu saja kabar selanjutnya dariku.”
“Terima Kasih,” ucap Arya sambil mengakhiri panggilan. Dia kemudian mengirimkan beberapa data tentang Aditya ke email orang yang barusan dia telepon.
“Siapa sebenarnya dirimu, Aditya?” gumam Arya sambil melanjutkan perjalanannya kembali.
BERSAMBUNG…
__ADS_1