Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 149


__ADS_3

Sniper berjalan membawa senjatanya di punggungnya. Namun tiba-tiba sebuah pisau melesat ke arahnya tapi dengan lincah Sniper melompat untuk menghindari pisau itu. Aditya melesat di meninju si Sniper hingga tersungkur.


“Bagaimana mungkin?” gumam si Sniper sambil bangkit.


“Kenapa lu masih hidup?” tanya si Sniper sambil tangannya bergerak mengambil sesuatu.


“Itu bukan urusan lu!” jawab Aditya sambil menyerang. Si Sniper ternyata mengambil pisau dari tasnya.


“Kalau begitu lu bakalan mati di tangan gue!” ucap si Sniper sambil maju menyambut Aditya dengan pisaunya.


Pertarungan sengit tidak bisa dihindari. Mereka berdua saling serang satu sama lain. Beberapa kali si Sniper berhasil dihantam oleh Aditya. merasa tasnya hanya menjadi beban saja si Sniper menanggalkan tasnya lalu kembali menyerang Aditya. kini pertarungan mereka lebih seimbang.


Satu pukulan Aditya berhasil menghantam tangan si Sniper hingga pisaunya terpental. Kini mereka bertarung menggunakan tangan kosong. Melihat kekuatan si Sniper membuat Aditya sadar kalau dia pastinya bukanlah orang sembarangan. Kemampuannya setara dengan para petinggi geng besar. Tapi baru kali ini dia melihatnya.


Sniper melancarkan serangan tinjunya namun berhasil ditahan oleh Aditya. sambil memegang tangan lawannya Aditya melayangkan lututnya untuk menghantam perut. Namun lawannya dengan cepat mengelak ke samping, tapi serangan kedua Aditya tidak bisa dia hindari hingga tersungkur. Aditya tidak membuang kesempatan, dengan cepat dia menghajar lawannya hingga babak belur.


“Katakan kepadaku siapa yang menyuruh kalian!” bentak Aditya saat lawannya sudah terkapar tidak berdaya di tanah.


“Kamu pikir aku akan buka mulut?”


“Lebih baik lu buka mulut daripada harus disiksa!” ancam Aditya sambil menginjak lengan musuhnya hingga meringis kesakitan.


“Katakan!” bentak Aditya lagi.


“Kenapa lu nggak segera habisi gue saja? Wanita yang mau lu selamatin kemungkinan sedang di siksa oleh Javier,” ancam pria itu sambil tertawa.


“Kalian kira aku ini orang bodoh? Aku tahu kalian tidak akan berani menyiksa wanita itu. Karena sejak pertama kali kalian menculiknya sudah jelas kalian ingin wanita itu dalam keadaan hidup.”


“Apa? Hahaha jadi lu yang selama ini menggagalkan rencana Ketua?”


“Katakan siapa Ketua yang lu maksud?! Apa dia ketua geng besar, atau ketua Black Mafia?” tanya Aditya. pria itu terlihat terkejut karena Aditya mengetahui kelompok elit pasar gelap.

__ADS_1


“Begitu ya, jika lu tahu masalah itu. Artinya lu bukanlah orang sembarangan.”


“Gue nggak butuh pujian lu, cepat katakan siapa Ketua lu!” bentak Aditya sambil menginjak tangan pria itu lebih keras.


Pria itu tidak menjawab sama sekali. Tanpa Aditya sadari tangan musuhnya itu sudah memegang pistol. Dengan cepat pria itu menodongkan pistolnya ke wajah Aditya namun secara refleks Aditya melompat ke samping hingga berhasil menghindari tembakan lawannya.


“Lu benar-benar mengagumkan. Kelihatannya tidak ada pilihan lain,” ujar pria itu sambil tersenyum.


“Sial, tidak kusangka dia masih menyembunyikan senjata api di tubuhnya!” gerutu Aditya sambil bersembunyi di balik pohon.


“Gue cuma mau mengingatkan lu! Sebaiknya lu menyingkir dari jalan Ketua. Lu nggak tahu seperti apa dia kalau sudah benar-benar marah,” kata si penjahat sambil menodongkan pistolnya sendiri ke kepalanya.


“Dia mau bunuh diri?” gumam Aditya terkejut.


“Gue memang nggak bisa ngehabisin lu. Tapi gue nggak mau di siksa oleh Ketua!” ucap penjahat itu sambil menarik pelatuk pistolnya.


Seketika tubuhnya ambruk bersimbah darah. Aditya hanya menggerutu karena dia lagi-lagi gagal mendapatkan informasi terkait dalang kejahatan ini. Perlahan dia mendekati mayat si Sniper untuk mencari beberapa petunjuk terkait orang yang dia panggil dengan sebutan Ketua.


“Cih! Jadi tadi itu adalah dua peluru terakhirnya ya. Dasar orang bodoh,” umpat Aditya sambil melempar pistol kosong ke tanah.


“Dia sengaja menyisakan dua peluru untuk menghabisiku dalam satu tembakan. Sisanya hanya untuk bunuh diri jika rencananya gagal. Sebenarnya seperti apa orang yang menjadi dalang kejadian ini. Kenapa mereka terlihat begitu takut kepadanya,” batin ADitya sambil berjalan menuju bangunan tempat Frita berada.


***


Frita yang masih menangis dipaksa berdiri oleh anak buah Javier. Frita kemudian dimasukkan ke dalam mobil. Sementara Javier dan anak buahnya masih berdiri di luar menunggu kedatangan rekan mereka yang bertugas sebagai penembak jitu. Tiba-tiba saja bayangan Aditya terlihat oleh Javier.


“Dia masih hidup?” gumam Javier sambil menembak pohon tempat Aditya bersembunyi.


“Kenapa bos?” tanya anak buahnya Javier.


“Musuh kita masih hidup!” jawab Javier sambil waspada.

__ADS_1


“Mustahil, jangan nakut-nakutin lah bos. Mungkin itu hantunya,” kata anak buah Javier sambil mendekati bosnya.


“Lu bener-bener pengecut ya!” bentak Javier.


Aditya memanfaatkan momen itu untuk melempar dua pisaunya. Dengan tepat pisau itu mengenai pistol Javier hingga terlempar, pisau satunya lagi mengenai kaki anak buah Javier hingga dia menjerit keras. Pistolnya dia lempar sendiri. Tangannya segera memegang pisau yang menancap di kakinya sambil menangis.


Javier terlihat sangat kesal melihat anak buahnya yang tidak berguna itu. Dengan cepat dia menarik pisau yang menancap di kaki anak buahnya hingga membuat darah keluar dari luka yang ditinggalkan. Jeritan anak buah Javier terdengar semakin keras hingga mengagetkan Frita yang tengah bersedih.


“Berisik juga anak buah lu ya,” ujar Aditya.


“Cih, dia memang tidak berguna,” ujar Javier dengan waspada.


“Kenapa kita tidak berdamai saja? Aku dari tadi sudah lelah menghajar para anak buahmu,” ucap Aditya sambil menghela nafas dalam.


“Kenapa? Apa lu takut hah? Kelihatannya lu cuma hebat dalam menggunakan pistol dan pisau saja,” ejek Javier.


“Ya bisa dibilang begitu, tapi kelihatannya lu juga cuma besar mulut doang,” balas Aditya.


Javier kemudian maju menyerang Aditya dengan tangan kosong. Dari gerakannya saja Aditya tahu kalau Javier sangat ahli dalam beladiri khas Thailand, muay thai. Aditya maju menghadapinya dengan seni beladiri pencak silat.


Pertarungan keduanya begitu sengit dengan iringan tangis anak buah Javier. Gerakan mereka benar-benar lincah dan gesit. Keduanya saling jual beli serangan sembari menunjukan kemahiran mereka dalam menggunakan seni beladiri. Tapi tetap saja kemahiran Javier masih belum mampu mengimbangi kemampuan Aditya yang sudah terlatih selama ini.


Dalam hitungan menit sudah terlihat jelas kalau Javier mulai kewalahan menghadapi Aditya. staminanya juga sudah terkuras banyak. Dia benar-benar tidak menyangka jika kemampuan Aditya juga hebat dalam bertarung menggunakan tangan kosong. Javier mundur untuk mengambil golok yang dibawa oleh anak buahnya.


“Gue akui kemampuan lu cukup hebat,” kata Javier sambil memainkan golok di tangannya.


“Kelihatannya penjahat seperti kalian memang tidak bisa diajak bertarung secara sportif,” ledek Aditya.


“Hahaha kalau gue sportif tidak mungkin dipanggil penjahat!”


“Menarik, kita lihat sejauh mana kemampuan lu mainin golok itu,” tantang Aditya.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2