Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 166


__ADS_3

Pertandingan catur babak kedua kembali dimulai. Kini Aditya yang memegang bidak putih sedangkan Hans yang memegang bidak hitam sedang menunggu giliran. Permainan babak kedua ini tidak banyak berubah, Hans masih bergerak dengan permainan cepatnya sedangkan Aditya tetap berusaha tenang agar tidak terbawa permainan Hans.


“Berapa kalipun aku melihatnya tetap saja kecepatan berpikirmu membuatku kagum,” puji Aditya sambil menjalankan bidaknya, namun Hans juga langsung menjalankan bidaknya setelah Aditya, pergerakannya seolah tanpa jeda.


“Sudah aku bilang sejak tadi, aku hanya mengandalkan firasatku saja. Apa yang harus aku gerakan ke mana langkahnya semua itu muncul begitu saja dalam pikiranku,” jawab Hans sambil menatap Aditya yang sedang berpikir.


“Tapi aku dengar dulu kamu gagal di tingkat nasional setelah mengalahkan Pandu di tingkat provinsi. Kenapa sampai begitu?” tanya Aditya sambil menggerakan bidaknya, Hans yang hendak menggerakan bidaknya tiba-tiba terdiam mendengar pernyataan Aditya.


“Kamu mengenal Pandu?” tanya Hans, rasa kagetnya tersirat jelas di raut wajahnya.


“Hahaha aku heran apa kalian hanya menyelidiki target kalian saja tanpa melihat informasi keluarganya?” tanya Aditya sambil tertawa.


“Apa maksudmu?”


“Aku yakin kamu pasti tahu Frita Larasati yang selama ini menjadi target kejahatanmu dan rekan-rekanmu. Dia adalah putri dari Pandu Saputra yang pernah menghadapimu dahulu,” jawab Aditya. Hans terdiam merenung.


“Kamu jangan mencoba mempengaruhiku, walaupun mungkin tapi bisa saja hanya namanya saja yang sama,” bantah Hans sambil menjalankan bidaknya.


“Kalau bukan lalu kenapa aku tahu pertandingan itu?” tanya Aditya tersenyum sambil menjalankan bidaknya.


“Begitu ya, aku paham sekarang. Benar-benar kebetulan yang tak terduga,” ujar Hans sambil tertawa kecil.


“Lalu kenapa kamu bisa kalah di pertandingan tingkat nasional itu? Padahal Pandu juga bilang kalau kemampuanmu sangat hebat waktu itu?”


“Waktu itu aku seharusnya tidak kalah, hanya saja aku mendapat kecurangan dari panitia.”


“Kecurangan?”


“Ya, wasit terus mengganggu konsentrasiku bahkan ada beberapa aturan yang tak jelas dia buat. Namun saat itu aku tidak berani melawan karena sadar aku bukanlah siapa-siapa sedangkan lawanku saat itu adalah anak pejabat ternama di Negara ini,” jelas Hans. Dari raut wajahnya saja tersirat jelas kekesalan yang dia rasakan.


Aditya sekarang mulai memahami seperti apa musuhnya yang satu ini. Dia juga mulai sedikit paham kenapa orang sehebat dia malah terjun ke dalam dunia kelam seperti itu. Pada akhirnya babak kedua dan ketiga pertandingan catur itu dimenangkan oleh Aditya.


“Kamu memang hebat,” puji Hans sambil tertawa.


“Mungkin jika konsentrasimu tidak terganggu oleh perbincangan kita mungkin saja aku yang akan kalah tadi. Apa kamu juga akan menganggapnya sebagai kecurangan?”


“Tidak, aku hanya menganggapnya sebagai keberuntungan semata.”

__ADS_1


“Aku harap kamu mau menepati janjimu.”


“Tentu saja, lalu apa pertanyaan yang harus aku jawab?”


“Aku ingin tahu apa rencana yang akan kalian ambil setelah tahu kalau aku adalah orang yang melindungi target utama kalian.”


“Kami sudah pernah membahas rencananya. Hanya saja langkahnya kami tidak tahu karena komandonya ada di tangan Ketua. Yang aku tahu adalah Ketua akan meminta geng Serigala ikut membantunya, selain itu aku tidak tahu lagi.”


“Lalu pertanyaan kedua. Siapa sebenarnya identitas Ketua Black Mafia?”


“Hahaha kamu benar-benar menyia-nyiakan dua kesempatanmu itu dengan menanyakan hal yang tidak penting,” ujar Hans sambil tertawa.


“Bagiku itu sangatlah penting.”


“Jawaban pertanyaan kedua adalah aku tidak tahu.”


“apa?”


“Selama aku ikut bergabung dengan Black Mafia aku belum pernah melihat wajah dari Ketua, bahkan suara aslinya pun belum pernah aku dengar. Bahkan aku sangat yakin anggota lainnya juga sama sepertiku.”


“Apa kamu serius?”


“Sebenarnya apa alasanmu masuk ke dalam organisasi itu?”


“Sayang sekali, itu adalah pertanyaan ketiga jadi aku tidak akan menjawabnya, aku akan segera pergi,” ucap Hans sambil bangkit.


“Menurutku cara pandangmu dengan visi Black Mafia itu sangatlah jauh, tapi kenapa kamu ingin masuk organisasi itu?” tanya Aditya sambil berdiri.


“Lu jangan bersikap keterlaluan! Jangan pernah anggap gue sekutu lu, Aditya1” bentak Hans sambil menodongkan pistol ke dahi Aditya.


”Lain kali jika bertemu lagi, kemungkinan besar akulah yang akan menghabisimu!” ucap Hans sambil melangkah pergi meninggalkan Aditya.


Aditya hanya terdiam sambil melihat sang dewa judinya bandung pergi. Tak lama kemudian ponselnya berdering. Ternyata Putra yang meneleponnya. Aditya berjalan keluar dari stadium sambil menerima panggilan Putra.


“Ada apa Put?”


“Bos baik-baik saja? Apa si Hans itu berhasil kabur?”

__ADS_1


“Dia memang aku biarkan pergi Put,” jawab Aditya kini dia sudah keluar dari stadium dan sedang berjalan di pinggiran toko.


“Loh kenapa begitu Bos? Kalau dia memberitahukan masalah ini kepada yang lainnya bisa-bisa kita dalam bahaya.”


“Kamu tenang saja, aku yakin hal itu tidak akan pernah terjadi.”


“Jangan gegabah bos, mungkin dia hanya berpura-pura menyerah saja lalu menusuk dari belakang.”


“Jangan khawatir, masalah dia serahkan saja kepadaku aku rasa dia berbeda dengan yang lainnya. Lalu kenapa kamu tiba-tiba meneleponku?” tanya Aditya sambil berhenti di depan sebuah restoran. Pandangannya tertuju kepada lima orang yang sedang makan di dalam.


“Aku dengar geng Merak dan geng Serigala sedang bersitegang saat ini. Malah menurut anak buahkua mereka sedang berebut wilayah.”


“Berebut wilayah?”


“Ya, hanya saja menurutku itu lebih tepat disebut perang daripada hanya tawuran biasa saja. Bahkan semua para petinggi masing-masing geng ikut turun ke lokasi untuk memimpin anak buahnya.”


“Apa? Jadi hari ini mereka juga sedang berperang?”


“Ya, geng Merak bahkan mengerahkan banyak anggotanya untuk mempertahankan wilayah. Saat ini yang aku dengar geng Serigala sudah berhasil merebut kembali tiga wilayah yang dahulu menjadi milik mereka,” jelas Putra.


“Apa peperangan itu terpusat di satu lokasi atau berbeda?”


“Berbeda bos, geng Serigala sedang menyerang empat wilayah saat ini. masing-masing dari mereka dipimpin oleh satu petinggi. Geng Merak juga melakukan hal yang sama untuk melayani mereka.”


Mata Aditya terbelalak, dia tidak terkejut dengan penjelasan Putra. Hanya saja dia menyadari sesuatu ketika melihat pelayan restoran datang menghampiri sambil membawa makanan untuk lima orang yang sedang duduk di meja. Tubuhnya bergetar lalu segera berlari untuk mencari taksi.


“Ada apa bos? Kelihatannya tiba-tiba berlari begitu.”


“Aku akan segera menuju lokasi tempat mereka berperang. Segera kirimkan lokasinya sekarang juga termasuk lokasi para petinggi setiap geng itu,” perintah Aditya. dia kemudian masuk ke dalam mobil dengan wajah pucat.


“Baik bos akan aku kirimkan sekarang.”


“Tolong secepatnya Put, kalau tidak masalahnya akan semakin rumit,” ucap Aditya sambil mengakhiri panggilan. Tak lama kemudian Putra mengirimkan detailnya melalui WA.


“Sudah kuduga, kalau begini Ratna benar-benar dalam bahaya,” gumam Aditya saat melihat pesan dari Putra. Wajahnya semakin terlihat cemas saja.


“Kenapa aku baru kepikiran sekarang?! Sejak awal memang mereka sudah mengincarnya!” gerutu Aditya sambil mengusap wajahnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2