
Ratna sudah duduk di parkiran apartemen Diana ketika Jimmy dengan buru-buru berjalan melewatinya.
“Apa kabar, Jimmy?” sapa Ratna.
“Ratna? Kenapa bisa ada di sini?” balas Jimmy terkejut.
“Loe sendiri ngapain di sini?” sahut Ratna ganti bertanya balik.
“Gue menjemput Aditya. Kami mesti ke Bandung pagi ini juga,” jawab Jimmy tak menghentikan langkah tegapnya.
Ratna diam saja, mengikuti langkah polisi itu sampai masuk ke dalam lift. Mereka tak saling bicara dan berdiri agak berjarak, sampai keduanya keluar di lantai di mana tempat tinggal Diana berada.
“Kok bisa loe menjemputnya? Memangnya ada urusan apa di Bandung?” tanya Ratna yang sebenarnya sudah tahu belaka kalau semua ini pasti tentang Frita.
“Frita sedang dalam bahaya,” tukas Jimmy pendek.
“Ya, ampun. Apa lagi sih ini? Sekalinya Aditya bisa hidup damai, kalian semua ada untuk mengacaukannya.”
Jimmy mendadak berhenti melangkah, menatap dalam-dalam mata Ratna, tapi dia tak mengucapkan apa-apa. Jimmy lanjut melangkah ke pintu Diana, dan memencet bel.
Diana menyambut Jimmy dengan heran. “Siapa ya?”
“Saya temannya Aditya. Nama saya Jimmy.” Polisi itu mengulurkan tangan untuk berkenalan.
Diana menyambutnya dengan ramah. Ia melihat Ratna sedang mengintip dari balik bahu Jimmy.
“Dia temanku yang akan mengantarku ke Frita,” sahut Aditya dari dalam. Ia bicara pada Diana.
Mereka berdua pun dipersilakan masuk.
“Kamu mau pergi?” tanya Ratna pada Aditya yang terlihat sudah rapi.
“Ya.”
Ratna tak tahu harus bilang apa. Jika ia melarang Aditya pergi, bisa saja lelaki itu malah marah padanya. Jika ia membiarkannya, ia tak tahu apakah masih ada kesempatan itu.
Jadi, Ratna memutuskan: “Aku ikut.”
“Sudah, Ratna. Aku enggak mau menyusahkanmu lagi,” kata Aditya yang setelah berpelukan sebentar dengan Diana. Ia mengangguk mantap pada Jimmy, isyarat sudah siap cabut.
“Aku berhak melakukan apa pun yang kumau,” kata Ratna datar.
“Baiklah kalau itu yang kamu mau,” tukas Aditya.
Aditya mengucapkan terima kasih pada Diana, lalu tak lupa ia meninggalkan nomor telepon untuk gadis itu. Siapa tahu kelak butuh bantuannya. Entah Aditya tak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk membalas seluruh kebaikan Diana.
__ADS_1
“Aku tak bisa berbuat apa-apa untukmu, Diana.”
“Aku malah senang membantumu, Bang,” kata novelis itu.
Mereka pun berpamitan.
Ratna membawa mobilnya sendiri, mendesak agar Aditya ikut dengannya saja. Tak ada bantahan dari Jimmy. Lagi pula Jimmy juga masih merasa malu atau tak enak soal pembicaraan tentang Sherly semalam. Jimmy lebih nyaman menyetir mobil sendirian.
Dua mobil itu pun meluncur menuju kota Bandung. Saat itu embun pagi hari belum kering. Matahari bahkan belum sepenuhnya tampak menyinari bumi.
***
Ratna entah berapa bulan tidak bertemu Aditya. Kejadian di Desa Sumber Kencana ketika samurai Takeshi Yobu menyerang mereka bukanlah pertemuan terakhir. Mereka sempat bertemu sebentar sebelum kejadian di pesta ulang tahun Ovie itu.
Waktu itu Ratna mendengar dari Aditya kalau ia tak dilibatkan pada bisnis resort di Desa Sumber Kencana. Ratna tak menyanggah atau apa. Ia mengalah saja. Ia bahkan tak berusaha menunjukkan sakit hatinya ketika Aditya menikah. Kini, ia merasa tak terima jika Aditya coba memohon maaf pada Frita. Bukankah wanita itu tak sudi menemuinya?
“Apa apa sebenarnya, Dit?” tanya Ratna.
“Frita sedang berada dalam bahaya. Keluarga Seitawan Budi tampaknya ingin dia menikahi salah satu dari mereka,” kata Aditya geram.
“Kalian belum bercerai padahal,” sahut Ratna datar.
“Ya, itu dia. Lagi pula kalaupun sudah bercerai, mereka tak seharusya menikahinya. Aku tak bisa membiarkan mereka mencelakai keluarga Frita,” kata Aditya.
Ratna diam sejenak, mencoba mencari cara, memikirkan sesuatu bagaimana agar si lelaki ini bisa memberinya kesempatan sekali lagi untuknya.
“Entahlah. Aku tidak tahu apakah bisa menikahi perempuan lain selain dia,” jawab Aditya.
Ratna terlihat kesal. “Bahkan jika perempuan lain itu diriku?” tanyanya tiba-tiba.
Aditya menoleh dan menatap Ratna dengan perasaan bersalah. Ia tak mungkin dan tak bisa mengubah keputusannya. Ia sudah memilih Frita. Namun, ia tak tahu jika saja kelak di masa depan, Ratna akan menjadi miliknya. Ia tak pernah tahu itu.
Jadi, Aditya tak menjawab dan memilih bungkam.
Begitu sampai di Bandung, tujuan pertama mereka rumah Pandu Saputra. Di situlah kata Jimmy kini Frita berada.
Frita memang ada di kamarnya. Ia tidak masuk kerja sejak kemarin karena tak enak badan. Bukan benar-benar sakit, tetapi lebih karena shock atas teror-teror dari keluarga Rama padanya setelah penolakan Pandu waktu itu.
Pandu hanya berkata, “Aku tak tahu harus bicara pada siapa. Bahkan Gina sendiri tidak bisa membantu banyak. Dia malah pergi entah ke mana, meninggalkanku di sini berdua saja dengan Frita.”
Aditya tentu tak lupa meminta maaf atas insiden di pesta ulang tahun Ovie itu. Dia merasa sangat berdosa karena melukai hati Frita. Namun di sini Jimmy menjelaskan jika semua itu salah paham.
“Mungkin masa lalu Aditya tak seperti yang Anda harapkan, Pak Pandu. Tapi bukan dia yang menghamili Sherly. Saya bisa pastikan itu,” kata Jimmy.
Ratna yang sejak awal cuma diam, hanya bisa mendengus pendek.
__ADS_1
Akhirnya Frita bisa dibujuk untuk bertemu. Namun ia hanya sudi bicara dengan sang polisi. Jimmy mungkin pernah begitu tertarik ingin memiliki Frita, tapi kini semua itu sudah berlalu. Ia bisa berdamai dengan keadaan asmaranya sendiri. Karena itulah ia bertekad membantu Aditya.
“Semua itu bohong. Malah foto-foto yang kamu lihat itu hanyalah rekayasa Ovie dan keluarga Setiawan Budi. Terutama Rama. Dia memang sudah lama dendam pada Aditya,” jelas Jimmy di depan Frita.
Saat itu Aditya dan Ratna sedang berada di ruang tamu bersama Pandu. Frita duduk berdua di dapur bersama Jimmy.
“Lalu, dengan siapa Sherly hamil?” tanya Frita meminta jawaban. Ia terlihat cukup lega setelah mendengar beberapa penjelasan soal wanita-wanita di masa lalu Aditya yang ada dalam foto. Kini ia penasaran bagaimana bisa Sherly menuduh suaminya telah menghamilinya?
“Kamu tahu sendiri Sherly begitu mencintai Aditya dulu. Tapi itu sudah berlalu. Aku dan Sherly berpacaran. Itu anak kami berdua, Frita,” jawab Jimmy.
“Kamu tidak berbohong dengan semua kesaksianmu ini, kan?” tukas Frita yang tak tahu lagi harus berkata apa.
“Demi Tuhan. Itu anak kami berdua. Aku sudah berjanji akan menikahi Sherly saat itu,” ujar Jimmy sambil menggenggam tangan Frita.
Untuk membuat Frita percaya sepenuhnya, Jimmy sampai menghubungi Sherly via video call. Kedua wanita itu saling menangis dan meminta maaf.
Frita kemudian menghapus air matanya. Ia sangat lega, meski sedikit sakit hati dan cemburu atas petualangan **** Aditya di masa lalu. Ia jelas sangat marah pada Aditya soal itu, tapi Aditya tak mengkhianati pernikahan mereka.
Aditya pergi ke dapur bersamaan dengan selesainya kesaksian Jimmy. Ia mendekat dan dengan canggung mencoba meraih tangan Frita. Frita tetap terlihat membeku, meski ia sudah bisa menerima lagi suaminya.
Tak butuh waktu lama sampai mereka berdua berpelukan dan saling menangis.
Jimmy pelan-pelan mundur meninggalkan mereka berdua saja di dapur. Ia tentunya merasa terluka juga atas perbuatan Sherly yang ‘menggoda’ Aditya di malam yang sepi itu, tapi bagaimanapun ia telanjur mencintai Sherly dan berjanji akan membangun hidup yang baru dengan wanita itu.
Ratna terlihat berdiri tertegun di lorong menuju dapur. Hatinya jelas terluka. Dan ia tahu ia tak akan mungkin bisa memiliki Aditya.
Lagi pula, ia kini merasa konyol.
“Ah, kenapa juga aku masih berharap! Aditya orang yang keras kepala! Sampai kapan pun ia nggak akan pernah bisa denganku!” batinnya. Lalu ia mengikuti Jimmy ke depan.
***
“Aku enggak tahu kenapa Ovie bisa sampai setega ini,” tangis Frita.
“Sudahlah. Kita berdoa moga semua ini cepat berlalu! Yang terpenting adalah apa kamu bisa memaafkanku?” kata Aditya pada Frita.
Wanita itu menangis sambil menganggukkan kepala.
Mendadak Pandu menghambur ke dapur.
“Mereka datang lagi. Frita, kamu cepat pergi dari halaman belakang,” kata Pandu sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Frita. Pandu sudah menyiapkan mobil dekat jalan di sisi belakang rumahnya untuk situasi ini.
“Siapa yang datang?” tanya Aditya.
“Rama dan puluhan anak buahnya!”
__ADS_1
Bersambung....