Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 312


__ADS_3

Hestu memarahi seorang anak buahnya di pojok ruangan yang jauh dari keributan.


“Goblok! Sini!” kataya sambil merebut gunting dan segera memotong ujung perban yang kini separuh membalut lukanya.


“Loe bilang Nino jangan sampai orang itu mati! Aditya harus mati di tangan gue!” kata Hestu.


“Tapi, Nino sudah mati, Tuan,” kata si anak buah.


“Apa?!”


Hestu terlihat sangat kesal. Ia dengan cepat membalut luka di kepalanya tanpa lagi peduli apa perbannya sudah erat atau belum.


Belum juga ia melangkah beberapa meter dari situ, terdengar suara tembakan tepat di lantai dansa.


Dor!


Dor!


Dor!


Butuh tiga peluru untuk membuat ambruk sesosok Atari ternyata. Rinda tampak tak panik. Tetap tenang seperti pembawaan dasarnya selama ini. Kini ia menembaki satu per satu penjaga dan anak buah Hestu yang menghajar para tamu undangan.


Dor!


Dor!


“He, bangsat! Apa-apaan ini?!” bentak Hestu marah. Ia berlari ke arah Rinda. Tapi sayang, pelurunya harus diisi ulang.


Rinda harus mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan Hestu.


Sementara itu, Benny yang bersiap bertarung dengan Aditya, kini justru bernafsu membunuh Rinda.


“Kau bunuh saudara kandungku!?” teriaknya dengan lantang.


Praktis dua sosok mengerikan itu mengarah pada Rinda, bersiap menghabisinya.


Aditya tak bisa membiarkan itu. Ia segera menarik kerah baju Benny Watanabe, lalu menghantam puncak kepalanya dengan gagang pisau lipat milik Rako.


Duak!


Hantaman itu rupanya membuat Benny sedikit keliyengan. Ia terlihat berdiri tetapi hampir ambruk. Ia sempoyongan.


Tanpa Hestu sadari, ia juga diincar dari belakang oleh Ratna. Ratna menendangnya dengan sangat keras sampai lelaki kurus itu menabrak salah satu tiang besi di lantai dansa.


“Bajingan! Loe lagi?” kata Hestu kesal. Tanpa kesulitan, ia menghajar Ratna tanpa ampun. Ia tendang perut Ratna dan menjambak rambutnya, menyeretnya ke meja bar, lalu dengan kasar menarik sebuah botol. Bersiap menghantam kepala Ratna dengan itu.


“Hentikan!” kata Aditya.


Bersamaan dengan itu, teman-teman Ratna berhasil masuk, mendorong tubuh Hestu menjauh dari wanita itu.


Hestu terjajar mundur. Ia sadar kini posisinya telah kalah. Anak buahnya tampak mati dan pingsan. Tubuh mereka bergeletakan di mana-mana. Para tamu juga kini telah pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Hestu tak punya pilihan. Ia segera melarikan diri.


Benny Watanabe jelas tak ingin berhenti. Ia berteriak, “Kau pergi ke mana, Hestu? Mereka semua harus mati!”


Tapi Hestu tak peduli.


Benny dengan amukan yang membara menyerang Aditya. Tentu saja Aditya senang hati meladeninya. Ia tak ragu menggunakan pisau lipatnya juga belati Nino sebagai dua senjata mematikan.


Benny menyerang dengan membabi buta, tapi Aditya berhasil menghindar lagi dan lagi. Dan justru Benny-lah yang terluka di sana-sini, sabetan demi sabetan dari dua senjata tajam itu pun akhirnya membuatnya ambruk tak sadarkan diri.


Aditya membangunkan Rako yang masih pingsan, “Ayo, kita cabut dari sini!”


“He? Apa?” tanya Rako yang belum terkumpul seratus persen kesadarannya.


“Ayo, cabut!” kata Aditya lagi.


Ratna dan teman-temannya juga pergi dari tempat itu.


Rinda berkata dengan nada kecewa, “Yah, cuma begini saja?”


“Kamu mau ditangkap polisi?” kata Aditya sambil berlalu.


Rinda cuma mengangkat bahu dan mengikutinya berlari.


Aditya tersadar sesuatu, “Clarissa dan Shelly D?”


“Tenang. Mereka sudah aman,” kata Rinda.


“Entahlah. Mereka sudah dewasa, kan?” kata Rinda.


Aditya cuma bisa menepuk jidat jengkel.


Tak ada pilihan selain kabur secepatnya memang.


Aditya melihat mobil Clarissa sudah tak ada. Artinya dia sudah pergi. Dia pun ikut mobil Rinda.


“Dit, ikut denganku saja,” kata Ratna.


Aditya cuma menggeleng. “Tapi terima kasih atas bantuannya,” katanya.


Ratna memahami itu. Ia cuma bisa mengangguk.


***


“Sekarang mamaku jelas ada dalam bahaya!” kata Shelly D.


Aditya sengaja mampir ke rumahnya yang tidak jauh dari rumah Frita itu. Dia kini menangis dalam pelukan Clarissa.


“Malam ini juga kita jemput dia,” kata Aditya menenangkan. Ia dirawat oleh Rinda. Luka di perutnya ternyata tak terlalu parah.


“Harus dibawa ke rumah sakit. Kalau enggak, bisa infeksi ini,” kata Rinda.

__ADS_1


“Masih ada waktu? Kita butuh menolong ibu Shelly D dulu,” tukas Aditya.


“Tapi jelas kita terlambat!” ujar Shelly D putus asa.


“Anak buah Hestu sudah mati semua. Dia kini sendirian, Shelly. Kamu tenang saja,” sahut Aditya, meski ia sendiri tak yakin apakah Brenda masih bisa diselamatkan.


“Ya sudah. Ayo, berangkat,” kata Rinda.


Mereka segera meluncur ke markas Hestu. Tempat itu kini terlihat gelap gulita. Tak ada lampu satu pun yang menyala.


“Hestu jelas sudah ada di sini. Dan dia menunggu kita,” kata Aditya.


“Ya, kamu jangan khawatir. Aku bawa ini kok, Bang,” ujar Rinda sambil mengeluarkan sebuah kacamata night vision.


“Hanya itu?”


“Hanya ini. Kamu atau aku yang masuk?” tanya Rinda.


“Aku saja,” jawab Aditya.


“Hati-hati, Kak,” kata Clarissa.


Mendadak ponsel Aditya berbunyi. Itu dari Frita. Ia serahkan pada Rinda.


“Bilang padanya aku sedang menemani Guru pergi ke bukit. Dan ponsel ini enggak kubawa,” kata Aditya.


“Ha? Bukit? Bukit apaan?” tanya Rinda.


“Sudah, bilang saja begitu. Biar Frita tak curiga!”


Aditya segera berlalu, masuk ke markas Hestu yang bagaikan sarang hantu itu. Tak lagi seterang dulu. Ia melihat beberapa wanita penghibur berlarian pergi dari samping rumah itu. Sepertinya Hestu sudah menyadari kehadirannya di sini.


“Jadi rumah ini benar-benar kosong dan hanya ada kita berdua?” bisik Aditya. “Oke kalau itu yang kau mau, Hestu. Mari bertarung selayaknya laki-laki sejati!”


Namun Aditya tak bisa menemukan di mana Hestu. Ia menelusuri seluruh sudut dari rumah besar itu. Tak juga ia temukan di mana musuhnya itu.


Aditya mengira mungkin ini jebakan. Ia jadi jauh lebih waspada. Namun ketika ia tiba di dapur, ia merasa menginjak sesuatu yang licin. Sepatu pantofelnya yang tadi ia pakai untuk pergi ke pesta dansa, hampir membuatnya terpeleset.


“Apa ini?”


Aditya melangkah maju beberapa meter, dan menemukan sesosok tubuh berbaring dengan posisi tubuh melingkar seperti udang. Tubuh yang tentu saja ia kenali sebagai Brenda Sukma.


Ternyata Hestu barusan kemari untuk menghabisi wanita ini.


Entah sekarang ke mana bajingan itu melarikan diri ...


“Frita!”


Aditya segera pergi dari tempat itu, berlari sekuat tenaga kembali ke mobil untuk mengejar waktu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2