Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 150


__ADS_3

Javier dengan cepat mengayunkan golok untuk menebas Aditya, namun dengan lihai Aditya berhasil mengelak ke samping. Tak sampai di situ Javier terus menerus menyerang tapi semua serangannya tetap bisa dihindari oleh Aditya. karena frustasi akhirnya Javier menyerang secara membabi buta.


“Apa cuma sampai di situ saja kemampuanmu?” ledek Aditya.


“Cih, jangan sombong lu!” bentak Javier.


“Membosankan,” ucap Aditya sambil menahan lengan Javier.


“Aku kira kemampuanmu lebih hebat dari si penembak jitu itu,” ujar Aditya, Javier tampak terkejut mendengarnya.


“Di mana dia?”


“Dia sudah memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri,” jawab Aditya sambil menghantam lengan Javier hingga dia meringis kesakitan.


Tanpa diduga ternyata anak buah Javier sudah berhenti menangis, dia menyerang Aditya dari belakang dengan pisau. Namun refleks Aditya lebih cepat, dia mengeluarkan belati andalannya untuk menangkis pisau lawan. Terlihat wajah Javier berubah pucat. Aditya tanpa ragu menghajar mereka berdua hingga babak belur di tanah.


“Ampunn,” rengek anak buah Javier.


“Gue ngaku kalah,” ucap Javier pasrah.


“Gue nggak mungkin menang melawan orang hebat seperti dia,” pikir Javier sambil terus menatap belati Aditya.


“Gue nggak mungkin bisa makan lagi kalau terus melawannya,” batin anak buah Javier sambil memegangi perutnya.


Sebenarnya Aditya ingin menyiksa mereka agar mau mengatakan siapa dalang yang telah memerintahkannya. Tapi dia sadar kalau Frita juga melihat kejadian di sana. Dia tidak mau membunuh orang sekalipun itu penjahat di depan mata Frita. Toh penjahatnya juga sudah meminta ampun.


Aditya menghela nafas untuk menenangkan dirinya. Dia kemudian berjalan ke mobil. Setelah pintunya terbuka tampak Frita sedang berderai airmata. Aditya membuka ikatan tali di tubuhnya lalu perlahan membuka lakban yang ada di mulut Frita. Aditya menatap tajam sang Rembulan seolah ingin mengatakan kalau sekarang dia sudah selamat.


Tanpa berkata sedikitpun, Frita langsung memeluk Aditya erat sambil terisak menangis. Dua penjahat yang menyaksikan itu hanya bisa diam seribu bahasa dengan perasaan iri. Aditya sendiri tidak menyangka jika Frita akan memeluknya. Perlahan tangannya juga mendekap Frita dengan lembut.


“Tidak usah sedih seperti itu, sekarang kamu sudah bebas. Ibumu juga baik-baik saja,” bisik Aditya lembut.


“Maafkan aku Dit.. maafkan aku..” ucap Frita sambil terus menangis.


“Kenapa lu ikut menangis!” bentak Javier pelan kepada anak buahnya.

__ADS_1


“Gue terharu bos,” jawab anak buah Javier sambil menyeka air matanya.


Jika tidak terdengar suara dering ponsel mungkin Frita akan terus memeluk Aditya hingga dia tenang. Aditya melepaskan dekapannya sambil melangkah mendekati Javier yang sedang ketakutan menatap layar ponselnya.


“Siapa?” tanya Aditya, tanpa menunggu jawaban dia segera merebut ponsel Javier.


“Privat Number?” gumam Aditya sambil menerima panggilan telepon.


“Javier, sampai kapan lagi lu buat gue menunggu!” bentak seorang pria dengan suara yang disamarkan.


Tubuh Aditya bergetar, nafasnya mulai terasa sesak. Walaupun suara orang itu disamarkan tapi gaya bicara dan logat perkataannya begitu familiar di telinga Aditya. suara itu mengingatkannya dengan kejadian pahit beberapa tahun yang lalu. Bayangan ketiga temannya kembali terbayang dalam ingatannya.


“Javier! Kalau lu nggak bisa cepat datang kemari maka bayaran lu bakalan gue hapus!” ancam pria itu.


“Lama tidak mendengar suaramu, Ketua,” ucap Aditya setelah sekian lama mengumpulkan tenaganya untuk berbicara.


“Lu?” tanya pria itu dengan nada kaget.


“Hahaha.. Hahaha.. Belati Maut. Jadi begitu rupanya, pantas saja semua orang yang ku utus selama ini selalu tewas dan gagal melaksanakan tugasnya. Jadi di balik Rembulan Kota Bandung ada seorang mantan tentara khusus ya. Hahaha.. menarik,” kata pria itu dengan begitu senang.


“Jadi di balik semua insiden selama ini ternyata semua itu perbuatan lu! Keparat!” bentak Aditya dengan penuh emosi.


“Hahaha.. kelihatannya gue tidak akan semudah itu mendapatkan formula milik Glow & Shine apalagi mendapatkan wanita cantik seperti Frita. Sayang sekali padahal gue selama ini selalu membayangkan bisa bermain dengannya.”


“Kalau lu emang berani, tunjukkan diri lu!” bentak Aditya.


“Hahaha.. apa kejadian beberapa tahun yang lalu telah membuat lu gila? Mana mungkin gue bisa nunjukin diri di telepon.”


“Pengecut!”


“Hahaha.. kelihatannya lu sendiri yang pengecut Laksmana.. bagaimana kabar kuburan ketiga teman lu? Apa mereka sehat-sehat saja di sana? Oh iya gue denger yang dua itu malah ingin menikah dalam waktu dekat. Hahaha apa pernikahan mereka berdua lancar?”


“Keparat! Lu pasti akan mati di tangan gue!” bentak Aditya. walaupun dia terlihat marah tapi entah kenapa airmatanya malah mengalir ketika teringat kejadian pahit beberapa tahun yang lalu. Kesedihan yang tersirat dari wajah Aditya bisa Frita rasakan saat menatapnya.


“Hahaha.. jangan bermimpi Laksmana. Sayang sekali waktu itu lu bisa kabur, seperti seorang pecundang.. Hahaha.”

__ADS_1


“Tunggu saja waktunya! Sekarang lu bisa menikmati hidup lu yang sebentar itu!”


“Laksmana, Laksmana. Lu sekarang sudah memilih untuk menantang maut lu sendiri. Hahaha atau mungkin lu sudah kangen dengan mereka bertiga?”


“Bajingan!” bentak Aditya sambil melempar ponsel Javier hingga hancur berkeping-keping.


Javier dan anak buahnya semakin pucat melihat Aditya yang sangat marah itu. Perlahan Aditya menghela nafas untuk mengatur nafasnya yang terengah engah karena emosi. Dia juga memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya. Tangan kanannya menghunuskan belati ke arah Javier.


“Kalian sebaiknya segera pergi dari sini! Bilang kepada orang yang memerintah kalian agar jangan pernah mengganggu wanita ini lagi!” tegas Aditya.


“Tapi kami tidak bisa mencegahnya.”


“Tidak masalah, yang penting kalian bilang saja apa yang aku katakan kepadanya.”


“Ba baik.”


“Pergi!” bentak Aditya.


Kedua penjahat itu segera menuju mobil terbirit birit. Mereka kemudian pergi meninggalkan Aditya dan Frita. Setelah mereka berdua pergi Aditya segera duduk sambil menghela nafas. Dia sebenarnya sudah mengira jika hanya ada kemungkinan terkait dalang penculikan Frita selama ini. Jika bukan salah satu dari tiga Ketua geng besar maka dia pastilah kelompok elit pasar gelap, Black Mafia.


“Mulai sekarang pasti mereka akan merubah rencananya, benar-benar merepotkan,” gumam Aditya.


“Kenapa kamu membiarkan mereka pergi Dit?” tanya Frita sambil duduk di sebelah Aditya.


“Tidak masalah, aku hanya mencoba menggertak dalang di balik semua ini. Aku pikir dengan begitu mereka tidak akan datang lagi untuk menyakitimu.”


“Tapi kenapa kita tidak tanya saja siapa dalangnya, lalu laporkan dia ke polisi.”


“Tidak semudah itu, tadi saja di telepon suaranya di samarkan. Aku yakin bahkan anak buahnya sendiri tidak tahu siapa sebenarnya yang memerintah mereka.”


“Kok bisa begitu?”


“Ya, itulah kenapa dunia kejahatan itu kadang disebut dunia gelap. Karena kenyataannya memang banyak sistem dan hal-hal yang rumit di sana.”


Tak berapa lama kemudian terdengar beberapa mobil datang ke tempat itu. Dari kejauhan terlihat Pandu, Gina, Jimmy dan Arya diiringi belasan polisi bersenjata lengkap datang menghampiri. Dari kejauhan saja Arya terlihat sudah mengernyitkan keningnya saat melihat sosok Aditya yang terlihat berbeda dari biasanya.

__ADS_1


“Pakaian tentara?” gumam Arya pelan.


BERSAMBUNG…


__ADS_2