
“Punya adek?”
Ellena terpaku setelah dia mendengar apa yang dikatakan oleh Sean itu. Dia tidak percaya pemuda yang sedang bersamanya itu bisa mengatakan itu dengan entengnya.
'Nathan pengen adek baru? Emang pernah dia bilang itu? Kayanya ga mungkin deh,' gumam Ellena dalam hati.
Ellena masih menatap Sean dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Dia masih tidak mengerti kenapa Sean berani mengatakan itu, padahal mereka baru saja memulai suatu hubungan.
Saat Ellena masih terpana dengan kata kejutan itu, Sean justru malah asyik menikmati sarapan yang disiapkan Ellena untuk dirinya. Dia tidak peduli dengan apa yang sedang dilakukan Ellena saat ini.
“Heeyy ... sarapan buruan. Kamu mau kerja apa ga neeh di sini? Jangan bikin perusahaan aku rugi gara-gara kamu ga kerja. Malah melamun,” ucap Sean sambil menoleh ke Ellena yang ada di sampingnya.
“Ya kamu yang bikin aku kaget kok. Lagian yang bikin aku ga kerja kan kamu juga. Aku udah mau balik ke ruangan eh ... malah di cegah,” ucap Ellena sambil memulai makan.
“Ya sebenernya ga papa sih kalo kamu di sini terus. Aku malah suka. Siapa tau kita bisa beneran bikin adek buat Nathan,” goda Sean lagi.
“Sean ih!” Ellena memukul lengan Sean sedikit keras.
“Aduh! Apaan sih ... ada orang makan juga.”
“Ya kamunya ngomong gitu terus, kamu bikin aku takut tau ga?”
“Takut? Kita udah pernah lakuin ini, Ell. Ngapain takut sih. Lagian kan kita juga mau nikah,” ucap Sean berusaha meyakinkan Ellena.
“Ga mau ah. Aku ga mau hamil.”
“Hamil?” ucap Sean sambil melihat ke arah Ellena lagi, “Emang jaminan gitu sekali langsung jadi?”
“Ya itu buktinya aku langsung hamil Nathan. Itu kan kita lakukan cuma sekali doang.”
“Sekali apanya. Kita lakukan malam itu sampe 3 kali, Ell. Kamu sangat memabukkan, aku sampe pengen terus,” ucap Sean sambil melihat ke arah tubuh Ellena yang pernah dia jelajahi itu.
“Sean ih!!!” Ellena memukuli lengan Sean karena tidak suka dengan godaan Sean.
Sean tertawa terbahak-bahak melihat apa yang dilakukan oleh Ellena saat ini. Dia sangat menikmati suasana ini yang seperti mendongkrak tenaganya untuk semakin bersemangat pagi ini. Menemui Ellena pagi hari membuat semangat Sean untuk bekerja naik pesat.
Sean sudah menyelesaikan sarapan paginya. Nasi goreng yang kemarin gagal dia makan kini sudah tandas masuk semua di perut Sean. Dia merasa senang karena masakan Ellena memang benar-benar enak.
“Kok di bungkus lagi? Kenapa ga dihabisin?” tanya Sean saat melihat Ellena membungkus lagi makanan yang tidak dia habislan itu.
“Udah kenyang aku. Ntar di makan lagi pas makan siang,” jawab Ellena sambil menutup kotak makannya.
__ADS_1
“Nasi goreng ga enak kalo di makan siang. Sini aku abisin.”
Sean segera menarik kotak makan milik Ellena dan segera membukanya lagi. Tangannya segera meraih sendok yang masih tergeletak begitu saja.
“Itu tadi sendok aku, Sean,” ucap Ellena saat melihat Sean memasukkan makanan ke mulutnya dengan sendok yang tadi dia pakai.
Sean menoleh ke Ellena, “Emangnya kalo sendok kamu ga boleh dipake ya?”
“Ya kan bekas mulut aku. Siapa tau kamu jijik nanti.”
“Jijik?”
Sean melihat ke arah Ellena sambil menautkan kedua alis tebalnya itu. Dia melihat Ellena dengan pandangan aneh setelah mendengar apa yang dikatakan wanitanya tadi.
Muuaah
Sean segera meraup bibir Ellena singkat dan mencecapnya sebentar. Ellena sampai sedikit terlunjak kaget saat dia merasakan bibir Sean membuai bibirnya yang memakai lipstik berwarna pink itu.
“Ih kamu ini. Makan ya makan aja, ga usah pake yang lain donk,” ucap Ellena sambil manyun.
“Ya habisnya masa iya aku jijik pake sendok bekas kamu makan. Ya udah langsung ke mulut kamu aja,” jawab Sean yang segera melanjutkan makannya.
“Tapi kamu suka kan?”
“Hmmm kepaksa kayanya,” jawab Ellena yang meninggalkan Sean untuk ke kamar mandi di ruang kerja Sean.
“Kepaksa? Ell, jangan buat aku melucuti baju kamu sekarang ya.”
“Ehh ... iya enggak. Ga kepaksa kok. Suka beneran, iya aku suka beneran.”
“Yakin suka beneran? Ga boong kan?”
“Enggak kok. Beneran suka sama kamu,” jawab Ellena yang sudah kembali ke sofa.
“Ok! Kalo gitu aku mau pembuktian. Malam ini kita make love di apartemenku ya?” ucap Sean sambil menaik turunkan kedua alisnya.
“Sean ih! Jangan bikin aku takut dong,” keluh Ellena memasang wajah ketakutan.
Sean tertawa lagi. Dia kini makin yakin kalau selama ini Ellena pasti tidak pernah bermain cinta. Sepertinya wanita yang dicintainya itu hanya berkonsentrasi untuk dia bekerja dan juga membahagiakan putra semata wayangnya itu.
Ellena memanyunkan bibirnya saat dia melihat Sean tertawa. Pagi ini Sean sukses membuatnya penuh kejutan tapi membahagiakan. Kini dia harus segera kembali ke ruangannya. Kebetulan Sean juga sudah selesai sarapan. Ellena memasukkan kembali kotak makan itu di dalam bekal.
__ADS_1
“Sean ... aku balik dulu ya,” ucap Ellena yang siap berdiri dari sofa.
“Kamu ga kerja dari sini aja kah?” tawar Sean.
“Mana bisa kerja kalo di sini. Yang ada malah kamu kerjain nanti. Ga mau ah!” tegas Ellena sambil berdiri dan siap pergi dari ruangan Sean.
“Kamu makin lama makin pinter ya. Eh iya ... pikirkan ulang itu soal adek baru buat Nathan. Kasian dia sendirian aja ga ada teman main,” ucap Sean sambil terkekeh.
“Sean!! Jangan bikin aku takut ketemu kamu dong,” ucap Ellena dengan wajah serius.
“Iya deh iya .... maaf ya sayang. Ga lagi deh godain kamu kaya gitu. Kamu kerja yang bener ya, kabari aku kalo ada kesulitan.”
Ellena mengangguk tanda dia mengerti. Sean memberikan sedikit kecupan di kening Ellena sebagai tanda perpisahan mereka pagi ini. Ellena melarang Sean untuk mengantarkan dia keluar dari ruangan Sean itu.
Punggung Ellena kini menghilang di balik pintu. Sean tersenyum puas dan lega karena dia sudah mendapatkan tenaga lebih yang dia dapatkan dari Ellena. Kini dia siap untuk bekerja lebih keras untuk membahagiakan Ellena dan Nathan.
Ellena melihat Nindi melihat ke arahnya saat dia keluar dari ruang kerja Sean. Tatapan mata Nindi terlihat sangat tidak bersahabat dan penuh dengan selidik. Ellena menundukkan kepalanya sedikit untuk berpamitan.
“Udah selesai nganter laporannya, Ell?” tanya Nindi tiba-tiba.
“Iya ... saya permisi dulu, Bu,” jawab Ellena sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Ellena segera berjalan menuju ke arah lift. Dia ingin segera kembali ke ruangan kerjanya agar dia bisa pulang cepat nanti. Ellena ingin membelikan putranya beberapa baju baru sesuai keinginan Sean.
“Emang kamu sekarang jualan makanan juga ya?” tanya Nindi yang tiba-tiba berdiri di samping Ellena.
“Oh enggak kok, Bu. Cuma terima pesenan tertentu aja,” jawab Ellena bingung.
“Oh pesenan tertentu. Cuma Pak Sean aja ato sama yang lain juga neeh?”
“Hmm ... baru Pak Sean aja,” jawab Ellena pelan.
“Oh ... baru Pak Sean toh. Pembeli khusus donk ya. Kalo aku yang pesen bisa ga? Kan aku satu temlat kerja sama Pak Sean.”
Ellena bingung harus menjawab apa. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia sebenarnya tidak jualan, tapi mengatakan kalau dia sengaja membuat sarapan untuk Sean, itu juga tidak mungkin. Akhirnya Ellena memilih diam dan menunggu lift datang saja.
“Ell ... bukan kamu kan yang di maksud di gosip itu?? Bukan kamu kan yang sedang berusaha untuk merebut Pak Sean dari tunangannya? Kamu ga lagi jadi pelakor kan?” tanya Nindi sambil memicingkan matanya.
“Jaga ucapan kamu Nindi!!” ucap seseorang dari arah belakang.
Bersambung....
__ADS_1