Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 51


__ADS_3

“Sean!!!”


Ellena berteriak dan dia segera memukuli Sean yang sedang tidur nyenyak di sampingnya. Dia segera mencari pakaiannya yang tadi dilemparkan Sean ke sembarang arah.


Sean yang kaget dengan beberapa pukulan Ellena dan teriakan Ellena yang memekakkan telinga itu kini menggeliat dan memaksa membuka matanya. Dia melihat ke arah Ellena yang sedang sibuk mencari bajunya di bawah tempat tidur.


“Kamu ini ngapain sih. Berisik aja pagi-pagi,” tanya Sean yang masih mengantuk.


“Sean ... ini udah jam 8 pagi, dan aku belum pulang ke rumah. Aduuh ... pasti ibu nyariin aku ini. Trus lagi aku bisa telat ke kantor ini nanti. Ayoo ... aku mau pulang sekarang,” ucap Ellena sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Sean yang masih polos itu.


“Eeh ... kok di tarik sih. Mau liat lagi kamu?” ucap Sean sambil menarik selimut tipis yang masih tertinggal.


“Sean ih! Becanda aja. Bikin malu tau ga. Buruan mandi trus anterin aku pulang. Aku mau ke kantor, bisa telat aku. Eeh mending mandi di rumah aja kali ya??”


“Ga usah mandi. Kamu ga usah masuk kerja. Kamu di sini aja nemenin aku kerja,” jawab Sean sambil meraih ponselnya yang bergetar karena ada panggilan telepon.


“Ga masuk kantor? Sean aku lagi masa promosi, ga bisa ga masuk,” ucap Ellena yang melihat wajah tegang Sean saat menerima telepon.


“Kok dia berubah gitu ya, terima telepon dari siapa sih?” tanya Ellena yang mengintip dari pintu kamar mandi.


Sean tampak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Mathias dengan sangat seksama. Raut wajahnya kini sudah berubah mengetat dan bibirnya bergerak ke kanan dan ke kiri.


“Siapkan baju untuk Ellena kerja dan semua perlengkapannya. Kita antar Ellena dulu,” ucap Sean.


“Baik, Bos. Akan segera saya lakukan,” jawab Mathias.


Ellena yang sedang ada di kamar mandi masih mempertanyakan siapa yang menghubungi Sean pagi ini. Perubahan raut wajahnya yang sangat drastis membuat Ellena sangat penasaran. Padahal tadi Ellena masih melihat Sean bermalas-malasan saat menjawab apa yang dia katakan.


“Siapa sih yang telpon? Masa Luna lagi. Apa dia bikin masalah baru? Kasian Sean, karena dekat sama aku, dia jadi banyak masalah. Tapi semoga Sean bisa atasi semuanya,” gumam Ellena di bawah guyuran air hangat.


Setelah mandi secepat mungkin, Ellena pun keluar dengan menggunakan kimono handuk. Dia hendak mengeringkan dulu rambutnya yang masih basah di depan wastafel di depan kamar mandi.


Saat dia sedang sibuk mengeringkan rambutnya, Sean datang juga ke kamar mandi. Tangan Sean langsung melingkar di pinggang Ellena dan meletakkan dagunya di pundak wanita tercintanya itu.


“Bentar lagi Mathias dateng bawa baju buat kita. Kamu akan aku anter ke kantor lalu aku mau pergi bentar ya. Kita ketemu lagi jam makan siang,” ucap Sean yang diakhiri dengan sebuah kecupan di pipi Ellena.


“Kamu mau ke mana?” tanya Ellena sambil melihat Sean dari pantulan kaca.

__ADS_1


“Ada yang harus aku kerjakan pagi ini. Biasalah, CEO kan sibuk,” jawab Sean sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


“Tapi ga sama cewek kan?” tanya Ellena dengan nada cemburu.


“Cewek donk. Mana mau aku ketemu ga sama cewek,” jawab Sean dari dalam kamar mandi.


“Tapi udah tua kan?”


“Hmmm ... lebih tua dari aku sih. Cuma dia masih cantik kok.”


“Sean ih!! Kamu ga boleh gitu,” ucap Ellena kesal.


“Emang kenapa? Kan kita belum pacaran. Kamu bilang kamu ga mau pacaran sama aku kalo aku ga nembak kamu kan,” ucap Sean sambil terkekeh di bawah guyuran shower.


“Tau ah!! Kamu nyebelin!!”


Sambil manyun, Ellena melanjutkan mengeringkan rambutnya. Dia kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Sean padanya tentang kegiatannya pagi ini. Ellena sampai menghentak-hentakkan kakinya melepaskan kesal pada Sean.


“Udah tidur bareng, tapi masih aja bilang kaya gitu. Sean nyebelin!!” gerutu Ellena sambil sedikit berteriak agar Sean dengar.


Mathias datang dengan membawa baju untuk Ellena dan Sean. Kini pemuda itu sedang menunggu atasannya di lobi hotel dan menyiapkan mobil. Ellena dan Sean kini sedang berpakaian dan bersiap untuk ke kantor.


“Iya!” jawab Ellena ketus.


Sean melihat ke arah Ellena, “Masih ngambek ya?” tanya Sean sambil melihat mimik wajah kekasihnya.


“Enggak kok. Siapa juga yang ngambek,” ucap Ellena sambil mengambil tas make up yang dibawa oleh Mathias tadi.


“Kalo ga ngambek tuh ga kaya gitu.”


“Ya emang enggak,” jawab Ellena sambil melangkah ke wastafel untuk berdandan.


Tangan Sean segera menarik tangan Ellena yang akan pergi dari sampingnya. Dia menarik sedikit kuat agar Ellena segera terlempar masuk ke dalam pelukannya. Sekarang Ellena sudah ada di dalam pelukannya dan Sean mengunci pergerakan Ellena.


“Muka kaya gini masih bilang ga ngambek?” tanya Sean sambil menatap wajah mungil yang ada di depannya.


“Emang enggak kok,” elak Ellena sambil membuang muka.

__ADS_1


“Aku lucuti lagi ya sekarang. Biar kita ga pergi ke mana-mana sekarang.”


“Ehh jangan!!” jawab Ellena panik.


“Makanya ... jangan pasang muka kaya gitu dong. Kan aku ga suka liatnya,” protes Sean.


“Ya abisnya kamu ngeselin kok,” jawab Ellena sambil memanyunkan bibirnya.


“Ya ampun ... dibecandain juga. Ngapain juga aku nyari yang lain. Udah ga minat lagi, sayang. Aku cuma mau bahagiain kamu sama Nathan. Trus satu lagi, konsentrasi buat bikin adiknya Nathan.”


“Ih kamu ... dasar genit,” ucap Ellena sambil tersipu.


“Gitu donk cantik. Kalo suaminya mau kerja itu kasih senyum, jangan manyun. Kaya orang ga dikasih duit aja. Eh iya ... Mathias udah pesen dua kamar buat weekend nanti. Kamu jadi ya nginep sini dulu, biar rumah kamu di renov dikit,” ucap Sean memberi informasi.


“Kok dua kamar sih? Kan satu aja cukup.”


“Yee ... emang ntar aku tidur ama ibu kamu juga. Kok lucu banget.”


“Emang kamu mau tidur sini juga?”


“Iya lah. Kan mau buat adeknya Nathan.”


Ellena melihat ke arah Sean sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka kalau Sean terlalu berniat tentang hal ini. Tapi ini membuat dia sedikit senang karena sepertinya Sean benar-benar serius menjalin hubungan dengan dia.


Sean mengantar Ellena ke kantor. Kali ini Ellena tidak mau diturunkan di depan lobi untuk menghindari mata nakal tukang gosip. Ellena memilih untuk diturunkan di basemen kantor saja, sehingga dia bisa langsung naik ke ruangan kerjanya.


Setelah berpamitan pada Sean, Ellena segera keluar dari mobil milik Sean itu. Setelah memastikan Ellena sudah masuk ke dalam lift, mobil Sean segera meninggalkan area parkir.


“Kapan Papa dateng?” tanya Sean.


“Sepertinya tadi malam, Bos. Saya juga baru dikasih tau tadi pagi karena ponsel Bos tidak bisa dihubungi katanya,” jawab Mathias di balik kemudi.


“Iya ... semalam aku silent, jadi aku ga tau kalo ada telpon. Ayo kita ke sana. Pasti kita sudah ditunggu.”


Mobil meluncur cepat ke rumah utama keluarga Wijaya. Sean bertanya-tanya dalam hatinya, apa yang membuat papanya mempercepat kedatangannya dari Amerika. Apa ini karena mamanya mengadu tentang apa yang dia lakukan di sini.


Mobil yang dinaiki Sean berhenti di depan rumah mewah itu. Sean segera turun dan masuk ke dalam rumah. Dia segera melangkah menuju ke ruang tengah yang biasanya dijadikan keluarganya berkumpul.

__ADS_1


“Pulang juga kamu ternyata setelah bikin malu!!” sebuah sambutan terdengar di telinga Sean dari orang yang dia lihat pertama kali saat masuk rumah.


Bersambung....


__ADS_2