
Aditya membawa mobil itu seperti sedang dikejar maut saja.
Ia pikir mungkin Clarissa juga berurusan dengan maut yang berbahaya.
Mobil mengebut dengan kecepatan tinggi, tapi jalan yang dilalui berbelok-belok. Ia sesekali harus mengurangi kecepatan, membuat capaian drift yang sulit dibayangkan akan mudah dilakukan oleh sang sopir pribadi Shelly D.
“Mas hebat! Belajar di mana, Mas?” tanya sopir itu kagum.
“Entah, saya lupa, Pak!” jawab Aditya sambil terus berkonsentrasi pada kemudi dan gasnya.
Mereka melihat di kejauhan, ada kerumunan orang dan beberapa mobil sport yang terparkir rapi. Itu jelas bukan balap liar biasa dan tampaknya Shelly D tahu siapa sosok Vanessa ini.
“Memangnya si Vanessa ini seburuk apa sih?” tanya Aditya sambil mengurangi laju mobilnya.
Kini mereka hanya tinggal beberapa ratus meter saja dari lokasi. Terlihat banyak orang sedang bersorak-sorak di sana. Suaranya bahkan kedengaran sampai dari sini.
“Vanessa Yan, cewek paling arogan sekota Bandung. Selebgram dengan banyak followers gila. Baru-baru ini tenar setelah dia memacari sepupu Rama Subandi,” jawab Shelly D dengan kecut.
“Sepupu Rama Subandi? Dia pacarnya sepupu Rama Subandi yang ditangkap oleh polisi itu?” tanya Aditya.
“Ya.”
Aditya berpikir ini gawat. Mungkin saja Vanessa dan pacarnya tahu kaitan Clarissa dan sosok di balik terjeblosnya kedua sepupu dan mungkin teman-teman dekatnya itu ke penjara. Aditya mulai merasa kehidupan normal yang ia rindukan menjauh sekali lagi.
“Siapa nama pacarnya itu?” tanya Aditya dengan tenang.
“Reza Bastomi. Anak konglomerat juga. Bapaknya enggak ikut politik, tapi banyak yang tahu mereka bukan orang-orang jujur,” jelas Shelly D lalu membuka pintu sebab mobil sudah berhenti.
Aditya turun dan berjalan bersama Shelly D memasuki kerumunan manusia di situ. Aditya lupa masih memakai jas pengantin, jadi ia berbalik ke mobil dan menitipkan jas itu pada sang sopir.
“Tenang, Mas. Biar saya jaga agar enggak kusut jasnya,” kata sopir Shelly D itu.
“Terima kasih ya, Pak.”
Aditya berusaha kembali ke kerumunan dan mencoba mencari Shelly D, tetapi tak ketemu. Ia justru mendengar teriakan yang semakin menggila dari para penonton, “Ayo, buka! Buka! Buka!”
__ADS_1
Beberapa penonton mencoba merekam adegan itu dengan kamera hand phone.
Aditya penasaran apa yang mereka maksud dengan ‘buka’ dan siapa yang disoraki ini?
Shelly D terlihat berjongkok di tengah kerumunan, melindungi dua gadis muda yang diserang secara verbal oleh para penonton balap liar.
Sosok Vanessa terlihat berdiri tenang sambil tersenyum sinis pada dua gadis malang itu. Aditya segera tahu sorakan itu ditujukan untuk Clarissa dan teman mabuknya tadi. Dan mereka bersorak karena Clarissa sudah kalah taruhan balap dengan Vanessa.
“Ayo, buka baju kalian! Cepat! Keburu menjamur nih orang-orang!” jerit salah satu penonton.
Aditya dengan kesal merangsek maju, menatap Vanessa yang ternyata saat itu ada di samping Reza.
Cowok itu memang terlihat sama arogannya seperti Rama Subandi. Akan tetapi Reza tampak lebih dingin dan sangat mungkin bisa bertindak lebih sadis jika diperlukan demi meraih tujuan-tujuannya.
“Berhenti kalian!” teriak Aditya. Ia melihat seorang penonton mengarahkan kamera ke wajahnya. Aditya dengan gesit meraih hand phone orang itu dan membantingnya ke tanah.
“Apa-apaan ini?!” kata si pemilik hand phone. Ia menyerang Aditya dengan tinju, tapi justru pingsan dengan tinjuan Aditya.
“Siapa mau kuhajar begini? Kalian berhenti!” ancam Aditya.
Reza berdiri diam saja di sana, mengamatinya saja, tak bertanya Aditya siapa atau kenapa sok pahlawan pada Clarissa.
“Kenapa mereka harus telanjang? Kalian sinting, ya?!” bentak Aditya. Tak ada yang berani menjawab.
Vanessa maju dan berkata, “Dia kalah taruhan dengan gue. Mau apa loe?”
“Apa enggak ada taruhan lainnya?” balas Aditya kesal.
“Oh, enggak dong! Gue pikir telanjang adalah bayaran yang pas untuk yang kalah. Terutama dia! Cewek sok pinter dan sok gaul di kampus!” tukas Vanessa Yan sinis.
Clarissa terlihat menangis tersedu-sedu, dipeluk oleh Shelly D yang cuma bisa kesal tanpa berani berkata-kata pada Vanessa. Shelly D jelas tak mau membuat perkara dengan keluarga besar Rama Subandi. Keberadaan Reza di situ memaksanya bungkam.
“Kalian enggak perlu memaksanya telanjang! Ayo, balapan saja denganku! Taruhan diganti dengan yang lebih elegan. Berani?” tantang Aditya pada Vanessa.
Semua penonton bersorak, “Huu! Payah!”
__ADS_1
“Kutu kupret!”
“Anjing buluk!”
Aditya tak peduli ledekan apa pun itu yang ketika itu ia dengar.
“Oh, yang balapan pacar gue kok. Gimana sayang?” tanya Vanessa pada pacarnya, yang cuma bisa tertawa.
“Loe itu siapa sih? Sok-sokan jadi pahlawan. Ikut campur urusan kita di sini. Loe mendingan minggat aja deh,” ledek Reza Bastomi.
Aditya sudah akan menghajar Reza. Ia bisa saja membuat lelaki songong itu tidak sadarkan diri. Tapi Aditya teringat janjinya pada Frita. Dan lagi pula ia pergi ke sini untuk menolong Clarissa. Bukan untuk membuat masalah yang baru lagi.
“Gue kakak Clarissa. Ayo, kita balapan. Kalau jantan, loe enggak harus memaksa cewek telanjang di depan banyak orang!” tantang Aditya sekali lagi.
Reza terlihat tersenyum sinis, tapi ia tampak juga berpikir. Dia dan Vanessa saling berbisik, membuat para penonton balap liar itu kecewa berat sekaligus penasaran balap kali ini taruhannya apa?
“Oke, oke! Kalau itu mau loe. Gue setuju cewek-cewek manis itu enggak perlu telanjang di sini. Tapi siapa pun yang nanti kalah, antara loe atau gue, dialah yang harus telanjang! Loe berani?!” sembur Reza dengan sombongnya.
“Siapa takut?!” tukas Aditya mantap.
Aditya memang sama sekali tak takut. Ia merasa bisa mengatasi balapan ini. Ia tak tahu betapa sebenarnya Reza bukan pembalap kacangan. Reza sudah terbiasa berlatih di sirkuit balap di Itali sejak ia belia. Ia bahkan beberapa kali menjuarai lomba balap, sekalipun bukan kelas profesional, di luar negeri sana.
Reza bilang, “Loe boleh pinjam satu di antara mobil pribadi gue yang terparkir di situ.”
“Baiklah kalau itu yang loe mau,” jawab Aditya.
Aditya lantas berjalan ke mobil-mobil sport yang terparkir rapi di tepi kerumunan, membuat orang-orang itu terpaksa memberinya jalan sambil menggerutu. Shelly D tak tahan dan mengikutinya.
“Dit, kamu nggak harus begini!” bisik Shelly D pada Aditya.
“Aku harus melakukannya. Aku tak mau lagi berbuat kekerasan. Aku hanya bisa menolong adik iparku itu dengan cara ini,” jawab Aditya.
Shelly D hanya bisa berdoa semoga Aditya menang agar ia tak perlu dipermalukan. Melihat pembelaan Aditya, Clarissa hanya bisa menangis. Merasa sakit hati sekaligus senang. Antara luka dan nikmat. Ia jelas tak bisa memiliki Aditya sebagai kekasih, tapi ia kini bisa menerima itu.
Clarissa juga hanya bisa berdoa, “Semoga kamu menang, Kak!”
__ADS_1
Bersambung...