Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 15


__ADS_3

Ellena menghembuskan nafas dalam saat dia berada di depan cermin pagi ini. Sepertinya gosip tentang dia pasti sudah tersebar, entah itu kabar baik atau kabar buruk karena dari tadi ponsel Ellena tidak berhenti berbunyi. Ellena sampai harus mengaktifkan mode senyap untuk pesan dari grup chat kantornya.


Ellena malas untuk membuka grup chat tersebut, apa lagi kalau nanti beritanya hanya tentang dia yang datang ke pesta Sean tadi malam. Setelah kejadian di kantin itu, dia selalu menjadi banyak sorotan orang dan mungkin saat ini hal itu terulang kembali.


“Ell, jangan lupa besok parenting day’s ya,” ucap Siska saat Ellena keluar dari kamar.


“Iya, Bu. Ellena inget kok. Jagoan Mama besok mau main sama Mama ya,” ucap Ellena sambil memeluk jagoan kecilnya yang sedang sibuk dengan camilannya.


“Mama ... geli. Ga mau, Nathan geli,” ucap bocah itu sambil terkekeh kegelian karena jari-jari lentik sang mama mengelitikinya.


“Nathan besok harus menang ya. Kan katanya ada lomba ya?”


“Iya ... Nathan besok mau ikut lomba tangkap ikan juga.”


“Emang berani tangkap ikan?”


“Berani donk. Kan Nathan anak Mama yang kuat,” ucap Nathan sambil menekuk lengannya seperti seorang binaraga.


Ellena mengacak gemas rambut sang putra. Dia sangat bangga bisa memiliki Nathan yang selalu menjadi pelipur laranya. Dia juga tidak lupa mencubit manja pipi gembul sang putra.


“Ell, nanti Ibu habis anter Nathan sekolah mau ke supermarket besar di deket sekolah Nathan. Kamu mau pesen apa?” tanya Siska sambil melipat baju yang akan di setrika.


“Pesen apa ya? Ga ada, Bu. Emang Ibu mau beli apa kok ke supermarket itu? Emang yang Ibu cari ga ada ya di supermarket dekat rumah kita?”


“Ibu mau cari baju remang buat Nathan. Yang kemaren kayanya udah kekecilan. Mau cari yang lucu kalo bisa yang model baju gitu.”


“Oh cari itu. Ya udah cari aja, Bu. Tapi uangnya masih ada ga?”


“Masih. Mau sekalian isi toko. Kan di deket situ ada toko grosiran juga.”


“Atur aja, Bu. Ellena pergi ya, Bu.”


Ellena segera berpamitan pada Ibu dan putranya. Dia harus segera berangkat kerja agar dia tidak terlambat. Sekaligus bersiap dengan banyaknya respon tentang kehadirannya di pesta semalam.


“Duuh ... ini neeh Cinderella Pak Sean,” goda Arina.

__ADS_1


“Apaan sih? Ga usah nyebelin deh,” sungut Ellena kesal dengan sambutan Arina.


“Eeh emang bener kan. Cantik banget tau ga baju kamu semalam. Pinter ya Pak Sean pilihin baju?”


“Kok kamu tau?” tanya Ellena kaget.


“Tau donk. Kan ada yang kirim foto cantik kamu. Aduh Ell, coba tiap hari kamu dandan kaya gitu. Pasti banyak kumbang yang dateng ke temen aku ini,” puji Arina.


“Dih! Malesin.”


Bukan hanya Arina yang kepo tentang pesta Sean semalam. Tapi beberapa temannya juga ikut bertanya ingin tahu bagaimana dan seperti apa rasanya diundang ke pesta eksklusif para pimpinan. Tentu saja Ellena tidak banyak bercerita hal penting yang terjadi di sana. Dia tidak ingin menjadi seorang biang gosip.


Sesampainya di kantor, Ellena melihat mobil Sean parkir di depan lobi kantor. Mobil yang dia naiki itu turun di pintu samping lobi kantor. Saat turun Ellena melihat sejenak ke arah mobil sedan mewah hitam itu.


‘Sean jam segini sudah datang? Rajin amat dia?' tanya Ellena dalam hati.


Sesaat kemudian bayangan tentang kecupan di keningnya semalam melintas begitu saja di pikirannya. Dia sedikit tersipu malu mengingat itu tapi beberapa saat kemudian dia segera menggelengkan kepalanya. Dia ingin menyadarkan dirinya kalau itu salah.


“Ngelamun aja pagi-pagi. Ayo buruan masuk,” ucap Arina sambil menepuk lengan Ellena.


Dua orang sahabat itu pun segera masuk ke dalam kantor. Seperti biasa Ellena dan Arina menyapa teman mereka di meja resepsionis meski hanya dengan lambaian tangan. Mereka harus segera menuju ke arah lift yang pasti akan diserbu oleh orang yang ada di lobi.


Saat Ellena akan menuju ke arah lift, dia melihat ada Sean dan Mathias baru saja keluar dari lift pimpinan. Mereka langsung disambut dengan sapaan hormat dari banyak pegawai yang berdiri di sana.


Ellena tidak memedulikannya. Dia ingin tetap berjalan seperti biasanya. Dia tidak ingin terkesan luluh hanya karena sebuah kecupan di kening tadi malam.


“Selamat pagi, Pak,” sapa Ellena dan Arina bersamaan saat Sean sudah ada di dekat mereka.


“Mathias, berkas meeting pagi di kantor pusat sudah siap semua?” tanya Sean pada Mathias yang berjalan di belakangnya.


“Sudah ada di file semua, Pak,” jawab Mathias.


Sean melewati Ellena begitu saja. Bahkan tidak ada lirikan sama sekali. Dia seolah tidak mengenal sosok Ellena yang ada di sampingnya. Sean terus melaju menuju ke mobilnya di depan lobi.


Ellena yang merasa heran dengan perubahan sikap Sean sampai mengikuti arah langkah Sean dengan pandangannya. Dia tidak menyangka Sean akan begitu cuek pada dirinya seperti saat wanita itu hadir di pesta.

__ADS_1


Ellena sampai melihat ke sekitar apakah wanita itu ada. Tapi tentu saja, Luna tidak ada di sana. Dan posisi Sean semakin menjauh dari Ellena saat ini.


‘Dia emang orang aneh ya. Sebentar baik, sebentar marah-marah, sebentar larang-larang. Trus tadi malam, tindakan ga sopannya itu. Dasar orang aneh,’ gerutu Ellena dalam hati menahan kesal.


Tapi hal berbeda terjadi pada Sean. Dia sengaja menunggu Ellena datang ke kantor untuk sekedar memberi tahu dia kalau dia tidak di kantor hari ini, dan tadi adalah caranya menyampaikan. Dia melangkah meninggalkan Ellena dengan senyum menghiasi bibirnya.


“Dia kan Ellena yang kemarin jadi bintang tamu di pesta Pak Sean ya?”


“Iya ... tapi kok sekarang dia dilupakan ya.”


“Yang namanya Cinderella ya gitu. Habis waktu pesta kan balik lagi jadi upik abu. Ga menarik.”


Kata-kata sindirian terdengar dari bibir orang-orang yang ada di depan pintu lift. Sindiran untuk Ellena tentang pesta semalam yang sudah dia antisipasi sebelumnya. Ellena berusaha tidak ambil pusing dengan kejadian ini.


Tapi ini bukan hanya sesaat. Bahkan di ruang kerjanya dan di kantin saat makan siang, Ellena masih mendengarkan cibiran dari para pegawai lain. Arina yang juga mendengar soal hal itu menjadi kasian pada sahabatnya itu. Tapi Ellena berusaha untuk meyakinkan sahabatnya itu kalau dia tidak apa-apa.


Efek seorang Sean Wijaya di hidup Ellena memang sangat besar. Dia yang selama ini hanya dikenal sebagai pekerja yang rajin, ki ni juga di kenal sebagai penggoda. Penggoda atasannya untuk naik jabatan. Fitnah yang sangat menyakitkan dan tidak menghargai Ellena.


***


Ellena pulang kantor sedikit lebih malam. Dia tidak bisa berkonsentrasi seharian karena terus saja mendengarkan kata-kata negatif dari rekan kerjanya. Kini dia hanya tinggal berjalan masuk ke dalam gang menuju ke rumahnya.


Dari kejauhan, Ellena melihat putranya sedang membeli sesuatu dari tukang makanan gerobak yang di temani oleh Anmanya. Senyum Ellena merekah saat dia melihat putranya di sana.


“Mama ... mama pulang,” teriak Nathan sambil kegirangan.


“Gantengnya Mama, masih mau jajan ya?” tanya Ellena sambil mempercepat langkahnya.


“Ellena punya anak? Anak siapa itu?” ucap pemuda yang berjalan perlahan di belakang Ellena.


Ellena segera memeluk putranya seolah dia ingin mendapatkan energi lagi dari sang kesayangan. Nathan bahkan mengecupi pipi dan kening mamanya beberapa kali.


“Ellena!” panggil seseorang dari arah belakang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2