Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 137


__ADS_3

“Siapa yang kamu maksud?”


“Aditya Laksmana, orang yang berpotensi merepotkan kita suatu saat nanti,” jawab ayah Fred.


“Begitu, tapi bagaimana bisa dia ada di pestamu?”


“Entahlah, tapi yang jelas dia ada di hadapanku saat ini. Apa aku harus menghabisinya di sini?”


“Jangan gegabah, terlalu ceroboh jika kamu melakukannya di depan banyak orang. Terlebih aku dengar temanmu yang datang ke sana juga seorang tentara.”


“Mengerikan, ternyata anda juga tahu hal itu. Ya memang benar ayah Diaz adalah seorang tentara, tapi dia tidak akan merepotkan. Yang pasti merepotkan adalah empat temannya yang dia undang juga ke pesta ini.”


“Kalau begitu kamu jangan mengambil resiko. Biarkan saja dia untuk saat ini, karena di tempat seperti itu tanpa rencana yang matang hanya akan meninggalkan bukti yang banyak, identitas kita sebagai Black Mafia juga akan terancam, jika hal itu terjadi aku juga terpaksa harus menyingkirkanmu.”


“Baik Ketua, saya hanya ingin menyampaikan hal itu saja.”


“Ya, sekarang kalian nikmati saja pestanya. Karena untuk menyingkirkan orang sepertinya dibutuhkan rencana yang sangat matang. Dia tidak akan mendapat julukan Belati Maut jika mudah untuk dihancurkan.”


“Baik Ketua, saya mengerti,” ucap ayah Fred sambil mengakhiri panggilan. Dia kemudian kembali bergabung dengan istri dan rekan bisnisnya.


“Bagaimana Mas? Apa kita harus menyingkirkannya sekarang?” tanya ibu Fred.


“Ketua melarang kita, biarkan saja dia untuk saat ini. Terlebih beliau khawatir akan banyak barang bukti dan saksi mata jika kita melakukannya di sini,” jawab Ayah Fred.


Aditya termenung menatap lautan. Setidaknya dengan begitu hatinya bisa sedikit lebih tenang. Semua momen yang melibatkan dirinya dan Frita kembali terbayang. Saat ini yang bisa dia lakukan hanyalah menghela nafas dalam sambil memegang benda yang ada di saku bajunya.


“Sekarang aku paham kenapa dulu kamu lebih memilih bersama Kaila hingga akhir, Frans,” gumam Aditya pelan.


“Kamu ini hobi banget melamun ya,” kata Ratna yang datang sambil membawa dua gelas minuman.


“Aku hanya sedikit menikmati suasana yang tenang di tengah lautan seperti ini,” jawab Aditya sambil menerima gelas minuman yang diberikan Ratna.


“Bagaimana keadaan kakekmu?”


“Dia baik-baik saja Dit. Tapi mungkin dia akan lebih senang jika kamu mampir ke rumah.”


“Maaf, akhir-akhir ini aku sedikit sibuk, jadi belum sempat untuk berkunjung lagi ke sana.”


Aditya terus menatap Ratna yang sedang menikmati minuman, jujur saja dia mengagumi kecantikannya. Bahkan semua mata orang yang ada di sana menatap iri ke arah mereka berdua. Terdengar ada beberapa orang yang berbisik bisik membicarakan penampilan Aditya.

__ADS_1


“Wah kamu kok malah di tempat seperti ini sih?” tanya Fred yang datang bersama beberapa teman-temannya.


“Kami sedang menikmati indahnya lautan,” jawab Ratna.


“Ayolah, kita naik ke atas sana yuk. Di sana bisa lebih bebas lagi menikmati pemandangannya, Cuma kita berdua saja,” bujuk Fred.


“Nggak lah Fred terimakasih, aku senang di sini. Lagipula tetap saja yang dilihat dari atas sana juga lautan yang sama,” tolak Ratna sambil tersenyum.


“Lagian tuh pengemis kok kamu terima di sini Fred?”


“Iya, yang ada makanan kita jadi tercemar,” ledek beberapa teman Fred sambil menunjuk Aditya.


“Jangan salahin gue dong. Itu bawaannya Diaz. Gue juga nggak ngerti kenapa dia bawa orang kayak begitu kemari,” jawab Fred. Ratna mulai merasa kesal dengan pembicaraan mereka. Sedangkan Aditya hanya terdiam saja tidak menanggapi.


“Mungkin Diaz sengaja bawa dia kemari biar jadi OB.”


“Lah mana bisa, OB di sini saja semuanya rapi-rapi dia mah masih nggak pantes dijadiin OB juga.”


“Jadi apaan dong?”


“Jadi kain pelnya OB.”


Semua orang yang mendengar hinaan mereka tertawa, Ratna semakin kesal dan menatap heran Aditya yang tidak bereaksi sama sekali. Bukannya tidak tersinggung tapi Aditya saat ini lebih memilih diam. Dia tidak mau membuat keributan di kapal itu, karena dia datang ke sana atas undangan Gina. Dia tidak mau sampai membuat malu keluarga Frita karena ulahnya.


“Memangnya kenapa Fred?”


“Ya masa dia dibiarin saja sudah makan enak dan naik kapal gratis. Setidaknya kita harus menghargai bakatnya sebagai pemulung,” jawab Fred sambil tertawa.


“Hahaha masa pemulung disuruh stand up. Harusnya tuh suruh dia buat ngadain seminar cara memulung yang baik di kapal ini,” timpal teman Fred. Mereka semua kembali tertawa. Ratna sudah tidak tahan lagi, tangannya mengepal kuat.


“Apa maksud kalian menghinanya?!” bentak Ratna.


“Loh kok kamu bela orang kayak begitu sih Rat? Wanita secantik kamu nggak bagus loh dekat-dekat sama pemulung,” jawab Fred.


“Pemulung?! Inget ya Fred akku datang ke sini karena menghargai undanganmu. Kenapa sih kamu nggak bisa balik menghargai dia?”


“Harganya paling lima puluh perak Rat,” jawab teman Fred.


“Loh kok kamu minta aku buat hargai dia sih Rat? Sejak awal aku emang nggak bakalan mengundang orang kayak dia.”

__ADS_1


“Dia itu pacarku!” tegas Ratna.


Semua orang yang ada di sana sangat terkejut mendengarnya. Bahkan Aditya sendiri kaget sambil menatap Ratna. Fred terlihat kesal bercampur marah mendengarnya. Dia lalu turun dari meja dan mendekati Ratna.


“Pengemis kayak gini kamu jadiin pacar? Nggak mungkin! Semua orang di sini juga nggak akan ada yang percaya,” teriak Fred.


“Benar!” teriak teman-teman Fred.


“Terserah kalian mau percaya atau tidak, yang jelas dia itu memang pacarku!” tegas Ratna.


“Cih, mana pantas orang seperti dia jadi pacarmu Rat. Lihatlah dirimu kamu itu cantik, anggun dan lembut. Tidak pantas jika kamu bersanding dengan pengemis seperti dia!”


“Pantas dan tidaknya itu aku yang nentuin! Aku lebih baik memiliki pacar seperti dia daripada harus dengan orang sombong, belagu sepertimu!”


“Kalau begitu biar semua yang ada di sini yang menentukan siapa yang lebih pantas memilikimu!” teriak Fred sambil membuka jas miliknya.


Aditya kembali mengalihkan pandangannya ke laut. Dia tidak mau menanggapi perkataan Fred. Tiba-tiba sebuah tinju melayang dan mengenai bahunya. Satu tendangan juga mendarat di tubuhnya, Aditya tersungkur di lantai kapal. Aditya mencoba untuk bangkit kembali tapi Fred kembali menendang tubuhnya.


“Dit? Hentikan Fred!” teriak Ratna.


“Kamu lihat saja siapa yang lebih jantan untuk menjadi pasanganmu!” tegas Fred sambil terus menghajar Aditya yang tidak melawan.


“Hajar terus Fred!”


“Buang saja kelaut biar dia dimakan hiu!”


“Lah hiu mana mau makan pengemis seperti dia, orang dia makannya saja makanan sisa orang lain dari tong sampah,” ledek beberapa teman Fred sambil tertawa puas melihat Aditya terus terusan di hajar.


Ratna sendiri hanya diam dia bukan tidak mau membantu Aditya, tapi dia sendiri tahu kalau melawan mereka saja Aditya tidak perlu bantuan. Dia pikir mungkin Aditya punya alasan sendiri kenapa tidak melawan.


“Apa orang itu memang berbahaya?” gumam ayah Fred yang melihat dari kejauhan.


“Entah, apa mungkin kita salah orang? Padahal dari fotonya kelihatan mirip,” timpal ibu Fred.


“Ada apaan nih?” tanya ayah Diaz.


‘Oh nggak apa-apa,” jawab ayah Fred sambil mengajak mereka kembali ke dalam. Dia tidak mau Frita dan keluarganya melihat sopir mereka sedang dihajar.


Fred semakin beringas menghajar Aditya yang tidak memberikan perlawanan, dia merasa jika Aditya adalah orang yang lemah. Walau Aditya sudah menerima serangan dari Fred secara terus menerus namun tidak ada luka memar atau darah keluar dari tubuhnya, bahkan meringis kesakitan pun tidak.

__ADS_1


Ketika Fred hendak melayangkan tinjunya ke wajah Aditya tiba-tiba saja seseorang menahan lengannya. Dalam sekejap bahkan Fred terbanting ke lantai sambil meringis kesakitan, semua orang terkejut melihat empat orang pria kekar yang sedang berdiri di dekat Aditya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2