Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 102


__ADS_3

“Aku akui keberuntunganmu cukup bagus dalam poker, Aditya. Tapi sayangnya bagian menariknya baru dimulai,” ucap Jaja sambil mendekati Aditya.


“Sayang sekali lu dengan sombong menolak semua uang itu, padahal mungkin itu uang terakhirmu yang akan diterima sebagai perwakilan dari geng Gagak,” tambah Jaja.


“Apa maksudmu? Aku sengaja menolaknya karena uang kalian tidak akan berguna bagiku.”


“Maksudku bisa saja kalian semua kehilangan semua wilayah kalian di sini, aku menantang kalian! Bima, Goni! Geng kita akan berduel mempertaruhkan wilayah kita masing-masing!” tantang Jaja.


“Permainan anak kecil, aku tidak tertarik,” jawab Bima.


“Aku tidak akan ikut campur masalah ini,” kata Aditya.


“Ternyata kalian semua yang ada di sini hanyalah kumpulan pengecut!” teriak Gerald.


“Jaga omongan lu!” bentak Viktor.


“Lalu kenapa tidak terima saja tantangannya?” tanya Edgard.


“Ketua, izinkan aku merobek mulut mereka itu!” pinta Viktor.


“Baiklah,” jawab Bima, sebenarnya dia tidak ingin melibatkan anak buahnya ke dalam duel berbahaya seperti itu. Tapi dia juga tidak mau jika mereka menjadi bahan olokan semua orang.


“Sebagai tuan rumah tentu aku akan ikut,” kata Goni sambil duduk.


Jaja terlihat menyeringai puas. Kelihatannya semuanya akan sesuai dengan yang direncanakan. Aditya mulai was-was, dia tahu seberapa bengisnya geng Serigala. Mereka tidak akan segan segan membunuh lawannya dalam berduel. Aditya menatap Egi, Arfa dan Adrian yang terlihat bersemangat.


“Akan aku jelaskan aturan mainnya. Setiap perwakilan geng yang maju akan mempertaruhkan sebuah wilayah milik gengnya. Jika si A kalah oleh si B maka wilayah yang dipertaruhkan si A jadi milik si B, jika si B kalah oleh si C maka wilayah milik si A tadi akan jadi milik si C ditambah wilayah milik si B. orang yang kalah tidak boleh maju lagi dalam duel,” jelas Jaja.


“Itu artinya orang yang berhasil bertahan sampai akhir adalah pemenangnya serta memiliki semua wilayah yang dipertaruhkan yang lainnya,” gumam Adrian.


“Lalu siapa saja yang akan maju?” tanya Egi.


“Siapa saja boleh asalkan bukan orang yang sudah kalah,” jawab Jaja.


“Aku ada keperluan setelah dari sini, jadi sebaiknya kita batasi orangnya,” ujar Bima.


“Kalau begitu setiap geng hanya boleh mengirimkan tiga orang saja sebagai perwakilannya, bagaimana?” usul Goni.

__ADS_1


“Aku setuju, tapi aku harap duel ini tidak memicu timbulnya peperangan diantara ketiga geng,” ucap Bima sambil menatap tajam Jaja yang tertawa.


“Kelihatannya mentalmu ikut menua pak tua,” ledek Jaja.


“Aku hanya memastikan saja, karena jika terjadi peperangan, tuan rumahlah yang diuntungkan di sini,” jelas Bima sambil menatap tajam Goni.


“Hahaha, kalian berdua jangan begitu, aku juga tidak bodoh. Aku yakin kalian berdua sudah menyiapkan pasukan yang akan langsung mengepung tempat ini jika terjadi sesuatu dengan kalian.”


Kata-kata Goni memang benar, baik Jaja maupun Bima mereka sudah menyiapkan semua anak buahnya jika malam ini peperangan antar tiga geng terjadi. Suasana di restoran itu terasa menjadi semakin tegang. Bagaimanapun jika ketiga geng itu berperang maka akan jatuh korban banyak diantara mereka, bahkan pemerintah pusat akan menerapkan situasi darurat di kota Bandung.


“Aku rasa saat ini tidak ada orang segegabah itu diantara kita. Hal itu hanya akan merugikan semua orang. Pihak kepolisian dan sebagainya juga pasti akan mengambil keuntungan dari peperangan itu,” ujar Jaja sambil tertawa.


Suasana di sana mulai terasa tenang kembali. Kemudian mereka semua menyingkirkan benda-benda di ruangan itu untuk membuat Arena duel. Semua orang yang ada di sana berdiri mengelilingi arena duel yang telah dibuat. Hanya terlihat beberapa orang saja yang masih duduk santai termasuk Sherly dan Aditya.


“Dit, kenapa jadi seperti ini?” tanya Sherly. Baginya suasana seperti ini pasti terasa sangat mengerikan.


“Kamu jangan khawatir, jika terjadi keributan di sini kita akan segera pergi,” hibur Aditya.


“Gue maju duluan, ayo diantara kedua kumpulan sampah, siapa yang berani maju menghadapiku!” tantang Gilang sambil bertolak pinggang di arena.


“Gue!” teriak Viktor sambil masuk ke dalam Arena.


“Sebelum lu tumbang di sini, gue ingin tahu nama lu,” ucap Viktor.


“Gue Gilang.”


“Gue Viktor, sebaiknya lu ingat nama gue baik-baik.”


“Hahaha, gue nggak perlu ngingat nama orang-orang di luar geng Serigala. Nama pak tua itu saja gue nggak peduli,” jawab Gilang sambil menunjuk Bima.


“Keparat!” teriak Viktor sambil maju menyerang Gilang.


Perkelahian diantara keduanya dimulai. Viktor dengan beringas terus menyerang Gilang. Dalam beberapa kesempatan dia berhasil membuat Gilang terpojok. Namun Gilang dengan gesit terus menjaga jarak dari Viktor.


“Menurutmu siapa yang akan menang?” tanya Ratna tiba-tiba duduk di samping Aditya, Sherly terlihat kesal.


“Aku rasa dalam segi kekuatan Viktor lebih unggul. Tapi, orang itu bisa berbahaya jika sudah mendapatkan celah dan kesempatan,” jawab Aditya.

__ADS_1


“Kamu pernah bertarung dengan orang itu?”


“Pernah, tapi kelihatannya dia tidak mengingatku sama sekali.”


Viktor terus menyerang namun Gilang terus menjaga jarak darinya. Viktor terlihat sangat kesal karena lawannya tidak berani beradu tinju dengannya. Perkelahian mereka lebih mirip seperti kejar-kejaran daripada disebut duel.


“Omongan saja selangit! Kalau berani sini!” ledek Viktor.


“Hahaha, bilang saja lu nggak bisa nyerang gue. Dasar lamban!” balas Gilang.


“Dasar pengecut!” kata Viktor sambil melesat dengan tinju kanannya.


Gilang segera mengelak ke bawah, namun ketika akan menjaga jarak kakinya sudah disapu oleh Viktor hingga terkapar, Viktor segera menghujamkan kakinya namun Gilang berguling lalu bangkit, tinju Viktor berhasil mengenai bahu Gilang hingga terpental. Viktor tidak menyianyiakan hal itu, dia segera menghajar Gilang.


Viktor melompat kebelakang, tangannya berdarah. Semua orang kaget melihatnya. Viktor terus menuduh Gilang menggunakan senjata tajam untuk melawannya tapi Gilang kemudian membuka baju dan memperlihatkan celananya, tidak satupun jarum ditemukan Viktor yang terluka mulai kewalahan menahan serangan dari Gilang.


“Kenapa bisa begitu?” gumam Sherly.


“Mustahil! Pasti dia menggunakan senjata tadi,” gerutu Ratna terlihat begitu geram.


“Dia memang menggunakan silet,” jawab Aditya. Sherly dan Ratna spontan melihat kearahnya.


“Silet yang digunakannya sengaja di selipkan di jahitan di bajunya, jadi ketika tidak dibongkar jahitannya maka silet itu tidak akan ditemukan. Dia kelihatannya sudah sering berlatih untuk berbuat curang seperti itu,” jelas Aditya.


“Bagaimana kamu tahu?”


“Aku sekilas melihat kilauan silet itu ketika dia menggunakannya, aku yakin dia juga sudah melemparnya jauh agar tidak menjadi barang bukti.”


“Pengecut!” gerutu Ratna. Geng Serigala mulai bersorak menyemangati Gilang.


Gilang terus menyerang Viktor hingga terkapar di lantai. Gilang mengangkat tangannya dengan bangga karena berhasil menumbangkan Viktor, geng Merak mulai mencemoohnya. Viktor tergeletak tak berdaya menahan sakit di tubuhnya terutama di tangannya yang terus mengeluarkan darah.


“Tamat riwayat lu!” teriak Gilang sambil menghujamkan kakinya ke dada Viktor namun ditahan oleh kaki Bima. Semua orang di sana terkejut bukan main karena gerakan Bima bergitu cepat.


“Lu juga sudah bosan hidup ya pak tua!” bentak Gilang sambil melayangkan tinjunya.


Bima dengan cepat mengelak, satu pukulannya berhasil mengenai perut Gilang hingga muntah darah. Ketika dia hendak menyerang lagi tinjunya kini sudah di tangkis oleh Jaja. Kecepatan mereka berdua memang diluar dugaan.

__ADS_1


“Apa yang lu lakuin Bima!” bentak Jaja sambil menatap tajam Bima. Aditya bangkit melihat hal itu.


BERSAMBUNG…


__ADS_2