Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 158


__ADS_3

Aditya akhirnya sampai di kantor perusahaan Glow & Shine co. di sana tampak Frita sedang menunggunya di luar dengan raut wajah cemas. Aditya kemudian menghampirinya sambil tersenyum.


“Kamu lama banget Dit,” kata Frita.


“Iya maaf, tadi agak jauh soalnya. Terus di mana Pak Arya?”


“Ih kalau mau makan di luar lain kali ajak aku dong, bosen tahu makan di sini terus,” kata Frita sambil berjalan diikuti Aditya.


“Iya lain kali aku akan ajak juga.”


“Kalau nanti malam gimana?”


“Makan malam di luar?”


“Iya, mau nggak?”


“Duh kalau nanti malam sih kayaknya nggak bisa, aku sudah janji mau menjenguk kakeknya Ratna.”


“Kakek wanita yang tadi?” tanya Frita sambil cemberut.


“Iya, katanya dia masuk rumah sakit. Aku nanti rencananya sepulang kerja mau langsung ke sana.”


“Terus aku pulang sama siapa?”


“Nanti aku suruh Dani untuk mengantarmu pulang,” jawab Aditya sambil tersenyum melihat tingkah bos sekaligus tunangannya itu. Mereka berdua kemudian sampai di sebuah ruangan. Di sana hanya ada Arya sendirian.


“Saya tinggalin ya,” kata Frita sambil melangkah keluar.


“Oke,” jawab Arya.


“Iya Mbak,” sahut Aditya.


Aditya duduk di hadapan Arya dengan tenang. Tatapan tajam Arya seolah tidak berpengaruh sedikitpun kepadanya. Sebelum berbicara Arya meminum teh di gelas yang ada di meja. Aditya sendiri terus diam seolah menunggu pertanyaan dari Arya.

__ADS_1


“Jika kamu setengang itu kemungkinan besar kamu sudah tahu kenapa aku datang ke sini menemuimu,” ucap Arya membuka perbincangan. Aditya malah tertawa kecil.


“Pak Arya ini aneh, bagaimana mungkin saya bisa tahu maksud kedatangan anda kemari, memangnya saya esper,” jawab Aditya.


“Kamu mungkin tidak cocok jika di sebut esper. Emm mungkin lebih cocok dipanggil Belati Maut,” kata Arya sambil tersenyum. Tampak jari Aditya sedikit bergerak karena terkejut.


“Apa yang anda maksud?”


“Ah kelihatannya aku harus bercerita panjang lebar,” ujar Arya sambil menghela nafas.


“Aditya Laksmana, walaupun pindahan tapi pada akhirnya menjadi lulusan terbaik sekolah militer. Kemampuannya di semua bidang berada di atas rata-rata. Tak lama menjadi tentara dia sukses dipilih menjadi bagian dari tentara khusus angkatan darat di usianya yang masih muda. Semua misi yang diberikan kepadanya selalu sukses dilaksanakan dengan baik,” tutur Arya.


“Dia sering mengikuti latihan gabungan dengan tentara dari berbagai Negara, hampir semua petinggi militer di dunia yang pernah melihat ketangkasannya selalu kagum kepadanya. Berbagai prestasi berhasil dia raih baik di dalam maupun di luar negeri. Salah satunya penghargaan dari militer inggris karena berhasil menyelamatkan salah satu bangsawan mereka,” tambah Arya tapi Aditya tetap diam tidak menanggapi.


“Setelah beberapa kali dia naik pangkat akhirnya dia dan tiga orang tentara berprestasi lainnya digabungkan dalam satu unit khusus di bawah komando pasukan khusus angkatan darat. Entah apa misi yang sering kalian terima tapi aku dengar desas desus kalau itu adalah unit pembunuh. Lagi-lagi kalian selalu berhasil melaksanakan misi secara sempurna,” kata Arya.


“Aku tidak tahu Aditya mana yang kamu maksud,” ucap Aditya sambil tertawa kecil.


“Sayangnya beberapa tahun yang lalu aku dengar kalian gagal dalam menyelesaikan suatu misi rahasia. Bahkan ketiga temanmu gugur dalam misi itu, setelah kejadian itu kamu naik pangkat namun malah memutuskan untuk pensiun. Walau begitu kisah empat orang hebat itu selalu menjadi legenda di tentara khusus angkatan darat,” jelas Arya.


“Sebenarnya siapa Aditya yang kamu maksud?”


“Entahlah, aku hanya mendengar informasi itu dari seseorang yang aku kenal.”


“Lalu apa maksud pak Arya mendongengkan hal itu kepada saya? Apa cuma itu tujuan anda datang kemari?”


“Sudah aku duga kalau kamu tidak akan mengaku semudah itu, belati maut. Aku sendiri cukup penasaran dengan alasan berhentinya dirimu dari militer, aku juga penasaran dengan misi terakhir yang malah merenggut nyawa ketiga temanmu yang hebat itu. Tapi aku tahu kalau kamu tidak akan menjawab semua pertanyaanku itu.”


“Saya semakin bingung dengan pembicaraan ini. Apa bapak datang ke sini hanya untuk bolos saja?”


“Tidak, aku datang ke sini hanya untuk mengatakan satu hal kepadamu.”


“Tadi itu lebih dari satu hall oh pak.”

__ADS_1


“Bukan itu, yang tadi kalau memang tidak mau di akui anggap saja sebagai intermezzo. Yang ingin aku katakan adalah. Aku tidak tahu di pihak mana dirimu berada saat ini, aku tidak tahu di sisi gelap ataukah di sisi terang kamu berdiri. Yang jelas jika kamu menghalangi tugas kepolisian, kamu akan menyesal! Belati maut,” jelas Arya sambil tersenyum.


“Aku tidak tahu siapa yang sedang anda ancam saat ini.”


“Sudahlah aku mulai bosan dengan tanggapanmu itu,” jawab Arya sambil berdiri hendak pergi.


“Kelihatannya pak Tri lumayan sibuk juga,” ucap Aditya sambil tertawa kecil. Arya sangat terkejut mendengarnya.hingga langkahnya terhenti.


“Ah saya lupa, nama anda kan Arya. Ah tapi tidak masalah siapa tahu orang yang bernama Tri itu akan mendengar dongengku sebentar.”


“Tri, seorang polisi yang sangat berdedikasi tinggi. Sejak muda jiwa keadilannya sudah terlihat jelas, dia terus berjuang untuk menjadi polisi yang hebat. Pada akhirnya dia bisa mencapainya. Tri menjadi seorang polisi yang sangat hebat dan menjadi spesialis dalam penyelidikan. Dengan kemampuannya dia bisa meraih banyak sekali penghargaan dalam negeri maupun di luar negeri,” kata Aditya sambil berdiri.


“Sayangnya aku mendengar desas desus kalau dia malah bergabung dengan geng Serigala. Karena kemampuannya hebat dia kemudian dipercaya menjadi salah satu petinggi di sana. Tapi aku kira dia tidak murni sekedar ikut dengan geng besar itu. Aku yakin dia punya profesi sampingan sebagai intel, walau aku tidak tahu apa tujuan dan targetnya,” tambah Aditya.


“Seingatku di kepolisian tidak ada orang seperti itu,” bantah Arya tanpa menoleh.


“Aku tidak peduli. Jika pak Arya tahu siapa orangnya tolong sampaikan pesan saya ini. Ekhem.. saya tidak tahu di posisi mana anda berdiri, saya juga tidak tahu anda masih memihak sisi terang atau sudah berpihak ke sisi gelap. Yang jelas jika dia mencoba untuk mencampuri urusan orang lain seenaknya maka dia akan menyesal,” ucap Aditya dengan tegas.


“Pasti akan aku sampaikan,” jawab Arya sambil menatap tajam Aditya. tatapan tajam mereka bertemu seolah sedang mengukur batas kemampuan masing-masing. Arya perlahan pergi keluar meninggalkan ruangan itu. Aditya sendiri kemudian menelepon Putra.


“Bagaimana bos? Apa informasinya cukup?” tanya putra.


“Sudah cukup, terimakasih banyak Put.”


“Menurut bos, dia berada di pihak siapa?”


“Masih belum jelas, karena itu kita juga harus mewaspadainya. Terlebih dia ikut membantu geng Serigala mengumpulkan orang-orang untuk menculik Frita waktu itu. Aku yakin dia juga sangat terkejut melihat semua orang yang dia kumpulkan tewas di hutan pinus.”


“Aku mengerti, terlebih Black Mafia selalu membuat kejutan tidak terduga sebelumnya. Apa aku perlu mengutus orang untuk mengawasi aktivitasnya?”


“Tidak perlu, lagipula saat ini aku masih percaya kepadanya, aku rasa dia tidak akan semudah itu jatuh ke sisi gelap. Terlebih latar belakangnya hampir sama denganku.”


“Aku mengerti.”

__ADS_1


Aditya mengakhiri panggilannya. Dia kemudian menghela nafas dalam. Dia tidak menyangka Arya bisa dengan mudah mendapatkan informasi sedetail itu terkait dirinya. Dia menjadi penasaran kepada identitas orang yang sudah memberikan Arya semua informasi itu.


BERSAMBUNG…


__ADS_2