Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 118


__ADS_3

“Ternyata kemampuan mencopet lu lumayan juga,” sindir Aditya.


“Hahaha, ini salah lu sendiri, dengan sombongnya lu merasa sudah menang hingga tanpa sadar memperlihatkan pistol milik lu sendiri,” jawab Rama.


“Hahaha, memang benar gue sudah merasa menang tadi. Lalu sekarang mau apa?” tantang Aditya.


“Sekarang lu mau gue kirim ke alam baka!” jawab Rama sambil menarik pelatuk pistol.


Rama terkejut karena ternyata peluru pistol itu sudah habis. Aditya memanfaatkan kesempatan itu untuk menghantam kaki Rama hingga oleng, dengan cepat dua pukulan berhasil Aditya daratkan di tubuh Rama, tangannya juga berhasil merebut stun gun yang dipegang oleh lawannya.


“Hahaha, itu salah lu sendiri, dengan sombongnya lu merasa sudah menang hingga tanpa sadar membiarkan stun gun milik lu sendiri diambil oleh lawan,” ledek Aditya dengan mengatakan kata-kata Rama kepadanya tadi.


“Bajingan!” gerutu Rama sambil memegang perutnya yang terasa sakit setelah terkena tinju Aditya.


“Checkmate!” ucap Aditya sambil menodongkan stun gun di kepala Rama.


“Keparat!” ujar Rama hendak bangkit, namun stun gun itu mengenai bahunya.


Rama berteriak karena terkena listrik dari stun gun. Aditya sengaja tidak membiarkan Rama pingsan karena ingin mengorek informasi darinya. Rama hanya terkulai lemas sambil menjerit jerit ketika disiksa oleh Aditya.


“Gue ingin lu bicara sejujurnya apa yang ada di dalam mobil box itu!” perintah Aditya.”


“Aaargh.. oke gue akan bilang. Isinya cuma barang eletronik illegal,” jawab Rama sambil terengah engah.


“Jangan bohong! Apa perlu gue kuliti lu biar bicara!” ancam Aditya sambil memperlihatkan pisau belati dari dalam bajunya.


“Aaargh.. oke, oke.. isinya.. narkoba..”


“Narkoba milik siapa! Milik geng lu?!”


“Bukan.. kami cuma mengawal saja. Narkoba itu.. milik.. Black Mafia.”


“Ho, jadi milik para orang-orang elit pasar gelap ya, jadi pistol yang kalian bawa juga berasal dari mereka?”


“Iya.”


“Lalu kenapa narkoba itu ada dalam mobil box perusahaan Glow & Shine?”


“Itu..”


“Jawab!”


“Aaargh.. iya gue jawab.. gue jawab.. ada orang dalam perusahaan yang bersedia bekerjasama menyelundupkannya bersama bahan baku yang akan dibawa ke perusahaan.”


“Siapa!”


“Namanya.. Frita.”


“Keparat!”

__ADS_1


“Aaarggh.. ampuun..”


“Lu jangan bohong! Atau gue congkel mata lu! Ceritakan yang sebenarnya! Jangan coba-coba bodohi gue!” bentak Aditya. Dia benar-benar kesal karena Rama malah mencoba memfitnah Frita.


“Ampuun.. namanya William, William Janaka..”


“Katakan sudah berapa kali si William melakukan penyelundupan?!”


“Nggak tahu, gue baru pertamakali ini mengawal penyelundupannya.”


“Katakan saja yang lu tahu bangsat!”


“Arrgh! Gue denger dia sudah sering melakukan penyelundupan bersama seorang rekannya yang bernama Yana. Cuma kali ini dia menyelundupkan narkoba dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya.”


“Satu hal lagi, lu tahu siapa orang yang termasuk ke dalam jajaran elit pasar gelap?”


“Nggak tahu, kalau masalah itu cuma orang-orang terntentu saja yang tahu.”


“Oke, kalau begitu selamat malam!” ucap Aditya sambil menghajar Rama hingga tidak sadarkan diri.


Aditya kemudian menggeledah Rama lalu mengambil ponselnya. Dia mencoba mencari petunjuk dan bukti lain di dalam ponsel, namun tidak menemukan informasi yang berguna sedikitpun. Aditya kemudian pergi ke tempat mobil box untuk melihat isinya. Di dalam ketiga mobil itu ditemukan bahan baku untuk peralatan kosmetik.


Namun dalam satu mobil terdapat beberapa tong yang berisi berbagai jenis narkoba dalam jumlah besar. Dia hanya geleng-geleng kepala tak menyangka sedikitpun jika William ternyata sejak dulu sudah jadi Bandar narkoba. Aditya kemudian menelepon polisi menggunakan ponsel Rama.


“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?” sapa polisi.


“Tawuran?”


“Iya pak cepat datang kesini soalnya mereka menggunakan senjata api.”


“Baik, bapak sebaiknya putar arah saja menjauh dari mereka.”


“Iya pak,” jawab Aditya lalu mengakhiri panggilannya. Aditya kemudian menghancurkan ponsel Rama lalu pergi dari tempat itu menggunakan mobilnya. Dia kembali menghubungi teman hackernya selagi mengemudi.


“Sudah beres?”


“Sudah Dark, tolong kamu nonaktifkan semua alat pelacaknya, aku takut polisi nanti curiga.”


“Kamu menghubungi polisi?”


“Ya, soalnya masalah ini ada hubungannya dengan seseorang yang sudah mendekam di penjara.”


“Oke akan segera kunonaktifkan.”


“Satu hal lagi Dark, aku akan mengirimkan beberapa informasi lain yang di dapat oleh Putra. Aku juga akan mengirimkan rekaman interogasiku kepadamu. Nanti kamu buang bagian ketika aku berbicara. Setelah semuanya siap kamu kirimkan semua itu kepada polisi.”


“Bereslah.”


“Terimakasih atas bantuanmu kali ini.”

__ADS_1


“Hahaha tidak masalah, yang penting ketika nanti kita bertemu kamu harus mentraktirku makan.”


“Hahaha aku pasti akan mengingatnya,” jawab Aditya sambil mengakhiri panggilan.


“Aku tidak melihat Arya dalam rombongan ini, mungkin saja dia ikut rombongan yang satunya lagi. Kelihatannya aku harus sedikit memperhitungkan kemampuannya,” gumam Aditya sambil mengemudikan mobil, menuju lokasi pertemuannya dengan Putra.


***


Di rombongan lain Arya sedang bertugas mengawal di barisan belakang bersama beberapa anggota geng Serigala lainnya. Mereka terlihat cukup akrab. Namun tak lama kemudian rombongan itu berhenti di tepi Jalan. Seorang pria yang bertugas memimpin rombongan memerintahkan semuanya untuk berkumpul.


“Ada apa bos?”


“Kok tiba-tiba berhenti bos?” beberapa orang mulai bertanya tanya.


“Aku kehilangan kontak dengan rombongan lain yang dipimpin oleh Rama.”


“Kenapa bisa?”


“Mungkin mereka sedang berada di lokasi yang tidak terjangkau sinyal.”


“Tidak, kami sudah mempertimbangkan berbagai aspek sebelum memilih kedua rute ini. Pertimbangan sinyal juga termasuk, karena itu tidak mungkin mereka mengubah rute secara tiba-tiba.”


“Mereka kan kuat-kuat, jumlah mereka juga banyak, lalu apa yang perlu dikhawatirkan bos?” tanya Arya.


“Iya bos bener kata Tri. Lagian kan ada bos Rama di sana,” ujar anggota geng Serigala yang lain membenarkan pendapat Arya yang mengaku sebagai Tri.


“Aku khawatir ada geng lain yang mencoba mengganggu pekerjaan kita ini, aku ingin kita berpisah jadi dua kelompok. Satu kelompok akan pergi bersamaku menyusul rombongan Rama, sedangkan satu kelompok lagi teruskan mengawal mobil box.”


Arya terkejut mendengar hal itu, pimpinan rombongan kemudian membagi mereka ke dalam dua kelompok. Arya sendiri tergabung ke dalam kelompok yang tetap mengawal perjalanan mobil box. Setelah terbagi menjadi dua, mereka kembali melanjutkan perjalanannya.


“Cih, kelihatannya analisisku salah,” gerutu Arya sambil kembali masuk ke dalam mobilnya. Dia kemudian menghubungi seseorang dengan ponselnya.


“Bagaimana perkembangan situasinya? Apa kita sudah bisa bertindak sekarang?” tanya seorang pria di telepon.


“Maaf, kelihatannya dugaan kita salah. Sebaiknya kita batalkan misi malam ini,” jawab Arya.


“Apa? Kenapa harus dibatalkan?”


“Rombongan ini tidak membawa barang yang kita curigai. Aku yakin barangnya ada di rombongan yang satu lagi.”


“Hahaha kelihatannya kita benar-benar dipermainkan lagi. Baiklah mungkin lebih baik kita batalkan saja misi kali ini.”


“Mereka benar-benar licin!” gerutu Arya.


“Ya, kalau mereka memang lemah mungkin sejak dulu identitas mereka sudah terungkap atau malah mungkin sudah masuk ke penjara. Kamu sendiri harus berhati-hati Ar, jangan sampai nyawamu melayang percuma.”


“Tentu saja, aku tidak mau perjuanganku sejauh ini sia-sia saja. Ketua.”


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2