Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 195


__ADS_3

Nancy sempat menatap mata anak buah Si Tua Leo yang mengawasi mereka ketika berpura-pura berhubungan intim tadi. Ia sebenarnya sangat marah dan ingin menampar wajah Aditya, tapi misi mereka sangat berbahaya jika terbongkar.


Nancy pun berkata dengan tajam pada Aditya begitu anak buah Si Tua Leo tersebut tak lagi terlihat di kejauhan: “Begitu Profesor Joe kita temukan, gue bikin perhitungan sama loe!”


“Oh ya?” balas Aditya yang, tentu saja, merasa canggung.


“Akan kita lihat seberapa tangguh loe kalau bertarung melawan cewek!”


“Untuk apa?” tanya Aditya sambil membetulkan posisi celananya.


Sungguh, lelaki itu sendiri bahkan merasa malu atas apa yang terjadi barusan, tapi mau bagaimana lagi? Ia terpaksa daripada penyamaran Nancy terbongkar.


“Untuk apa yang barusan terjadi, Bodoh! Kau bisa menciumku saja dan nggak perlu berakting seperti tadi!” tukas Nancy dengan kesal.


Gadis itu menyingkir dari cahaya remang untuk menutupi tubuhnya karena bajunya dirobek Aditya.


Nancy berjalan menjauh dari lorong gelap itu, tapi Aditya berlari menyusulnya dan berkata, “Kalau kita berciuman, mereka justru curiga!”


“Itu sih bisa-bisanya loe aja!”


“Enggaklah. Coba bayangin aja bagaimana bisa aku cuma mencium seorang cewek pelayan yang gak kukenal? Di tempat ini? Di negara orang dalam status sebagai buron internasional dan anak buah baru kelompok organisasi pembunuh? Yang benar saja!”


Nancy diam mengamati tampang Aditya yang belum selesai bicara. Sepertinya apa yang lelaki ini katakan ada benarnya juga.


“Kecuali kamu mau mereka pikir kita sudah lama kenal dan ada sesuatu yang tidak boleh mereka lewatkan tentangku! Tadi kita sudah cukup baik. Semoga saja si Tua Leo yang melihatmu menaruh ponsel di saku celanaku tidak curiga. Mereka cuma akan tahu kalau Aditya yang baru saja lolos dari penjara sedang butuh melampiaskan nafsu.”


“Oke, oke! Gue paham!” kata Nancy.


Mereka lalu berpisah setelah Nancy menjelaskan peran Rudi lebih lanjut dalam misi mereka. Rudi akan lebih banyak bergerak diam-diam, menghubungi Aditya jika ada info baru atau apa pun itu.


“Ponsel itu harus benar-benar loe jaga, ya!” kata Nancy dengan tegas.


“Pasti!”

__ADS_1


Setelah merapikan baju, Aditya kembali ke kerumunan pesta. Ia pikir Si Tua Leo atau teman-temannya sesama pemimpin Aliansi Ular Kobra akan mengatakan suatu hal tentang Nancy, tapi tidak. Mereka tidak bicara selain tertawa-tawa di pesta malam itu.


Esoknya Aditya bangun di kamar yang disediakan untuknya di rumah Garry Lee. Ia sempat berpikir sebelum menutup matanya dini hari tadi kalau mereka mungkin tahu siapa dirinya dan tahu-tahu pagi itu mengurungnya entah di mana setelah memberinya obat bius.


Ternyata ketakutannya itu salah.


“Bangun tidur di tempat yang sama. Pertanda Si Tua Leo dan yang lain gak curiga.” Begitulah yang Aditya pikirkan.


Ia mandi dan membersihkan diri dari jejak perbuatannya semalam bersama Nancy. Mereka cuma berpura-pura, tapi itu memberi dampak. Ia mimpi basah semalam.


Begitu meninggalkan kamar, Si Tua Leo dan Garry Lee menyambutnya seperti tak ada sesuatu yang mencurigakan saja. Semua berjalan normal. Mereka sarapan di pinggir kolam renang dengan belasan cewek yang siap melayani apa pun permintaan mereka.


“Gue pikir selera loe paling enggak seperti mereka-mereka inilah,” kata Si Tua Leo pada Aditya selagi menunjuk para cewek yang terlihat seperti sekumpulan model kelas atas. “Tapi ternyata loe lebih doyan pada pelayan.”


“Yah, gimana lagi, Tuan Leo? Saya seleranya sama perempuan itu,” kata Aditya berpura-pura malu.


“Jangan khawatir. Gue sudah suruh orang cari pelayan itu.”


Aditya terkejut mendengar perkataan Si Tua Leo. Tapi dia diam.


Aditya mengucap terima kasih berkali-kali, sambil merasa lega. Betapa bodohnya si Tua Leo yang gampang dikibuli ini, begitulah pikirnya.


Garry Lee cuma tersenyum melihat percakapan itu. Lalu Si Tua Leo berkata, “Nah, mulai sekarang loe resmi bekerja ke gue. Maksudnya, mulai hari ini kita bekerja.”


“Siapa yang harus saya bunuh?” tanya Aditya dengan cemas.


“Hahaha! Kali ini gue gak butuh membunuh siapa-siapa. Loe nanti ikut gue sajalah biar tahu,” ujar Si Tua Leo melambai pada salah satu wanita penghibur yang bermain air di tepi kolam. Wanita itu segera jatuh ke pangkuan Si Tua Leo dan Aditya merasa jijik melihat itu.


Pagi itu mereka pergi ke rumah orang bernama Gunawan Mahdi, pebisnis narkoba yang malang melintang di Asia Pasifik. Gunawan Mahdi bukan nama yang sebenarnya. Itulah kata Si Tua Leo. Aditya tak mendengar lebih dari itu.


Mereka tiba di tempat tujuan setelah melalui perjalanan mobil selama sejam. Si Tua Leo tampak akrab dengan Gunawan, yang terlihat tua dan buncit. Mereka berpelukan dan Si Tua Leo berkata, “Gue bawain apa yang dulu gue janjiin sama loe!”


“Apa itu?”

__ADS_1


“Pembunuh bayaran terbaik yang pernah gue temui!”


Aditya diperkenalkan pada Gunawan Mahdi, yang meminta dipanggil Uncle Gun saja, meski umurnya sudah hampir mencapai 80 tahun. Dengan perut buncit, panggilan seperti itu, dan bisnis kotornya, Uncle Gun adalah sosok lain yang mungkin bisa memberi informasi soal Profesor Joe.


Aditya tidak menyangka perjalanannya akan sejauh ini. Si Tua Leo menggiringnya ke orang-orang yang bekerja sama dengan Aliansi Ular Kobra dan itu akan bagus untuk kelangsungan misinya.


“Tapi aku belum tahu gimana memulai bicara soal Joe Mulyono tanpa membikin mereka curiga,” batin Aditya resah.


Aditya juga belum tahu pasti hubungan antara Si Tua Leo dan Gunawan ini selain sebagai partner dalam bisnis narkotika.


“Tampaknya mereka berdua akrab. Seperti kakak dan adik,” pikir Aditya penasaran.


“Apa benar loe membunuh sehebat itu, Nak?” tanya Gunawan setelah dia dengar kisah perkelahian Aditya di penjara sampai aksinya menghabisi para pembunuh si Tua Leo waktu itu.


“Saya membunuh bahkan tanpa berpikir,” kata Aditya.


“Hahaha. Bagus, bagus, itulah yang kubutuhkan. Karena loe sudah kerja di Leo, loe akan dibutuhkan juga di tempat sekutunya. Nah, kali ini gue yang butuh bantuan loe.”


“Saya siap bekerja kapan pun.”


“Tidak hari inilah. Biar kami bicara soal bisnis dulu,” kata Si Tua Leo.


Sisa hari itu hanya dijalani Aditya dengan duduk dan mengamati keadaaan rumah Uncle Gun. Ia mendapatkan info betapa besar jaringan narkoba yang terkait Aliansi Ular Kobra dari para pembantu dan pekerja pribadi Gunawan.


Ketika mereka kembali ke tempat Garry Lee, Si Tua Leo bilang, “Pelayan loe yang seksi sudah menunggu di kamar loe. Bersenang-senanglah. Besok temani gue pergi ke lokasi rahasia.”


“Alina?”


“Ya.”


“Baik, Tuan,” jawab Aditya mantap. Sambil memikirkan apa yang ada di pikiran Nancy saat ini? Wanita itu diharuskan menyamar sebagai imigran gelap yang melayani anak buah Leo, melayani Aditya, yang sempat dia remehkan di awal perkenalan!


Aditya penasaran apakah Nancy masih semarah seperti kemarin malam? Apa juga yang terjadi pada mereka ke depan? Bagaimanapun, Nancy cantik. Aditya menyadari itu. Tapi, ia malah berharap Nancy bertukar tempat dengan Amy yang sampai saat itu belum menghubunginya kembali.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2