Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 38


__ADS_3

Garis start dan finish juga sudah di sepakati oleh mereka. Rutenya berputar hingga garis start akan kembali menjadi garis finish. Siapa yang terlebih dahulu melewati garis finish maka dialah pemenangnya.


“Bagaimna, lu sudah siap kalah Ris?” tanya Vian sambil tertawa.


“Aku sebagai perwakilan ayah Clarissa ingin memastikan beberapa hal dulu sebelum balapan dimulai,” kata Aditya.


“Apa itu?”


“Aku ingin anak yang bernama Arnold ini jangan dihajar lagi selagi kita balapan. Jika aku mengetahui dia mendapat perlakuan kasar lagi maka kesepakatan semua balapan di sini batal.”


“Oke. Gua jamin kalau dia akan aman-aman saja di sini.”


Clarissa mulai sadar bahwa dia tidak akan mampu menang ketika melihat mobil yang sedang di siapkan oleh Vian. Mobil sport dengan beberapa modifikasi yang tampak sengaja dibuat untuk balapan.


“Aku juga akan mewakili Clarissa untuk mengemudikan mobilnya di balapan ini,” kata Aditya ketika menyadari kegugupan Rissa. Vian tampak berpikir sejenak dan memperhatikan mobil yang akan dibawa oleh Aditya. dia lalu tertawa.


“Hahaha mau siapa yang menggantikan pun tidak masalah, mau kalian menyetir berdua kek, bertiga kek. Terserah kalian,” jawab Vian.


“Bagus, kalau begitu kami sudah siap,” kata Aditya sambil mengajak Rissa masuk ke mobil.


“Kak gimana ini? Kita pasti akan kalah,” ujar Clarissa tampak cemas.


“Jangan panik kayak gitu Ris, salah satu modal kemenangan balapan seperti ini adalah ketenangan,” jelas Aditya sambil mempersiapkan mobilnya.


Kedua mobil sejajar di garis start. Vian tampak terus tertawa di mobilnya dia yakin kemenangan sudah ada di tangannya. Aditya sendiri tidak memungkirinya, spesifikasi mobil mereka memang berbeda jauh. Ketika bendera berkibar dengan cepat mereka berdua menginjak pedal gas hingga mobil melaju kencang di jalanan.


Mobil yang dipakai Aditya tampak berada di belakang mobil Vian. Sambil tertawa tampak Vian tidak memacu mobilnya hingga kecepatan penuh. dia terus menghadang laju mobil Aditya hingga tidak bisa melewatinya.


“Kak kenapa nggak melaju dengan kecepatan penuh? padahal itu masih bisa,” tanya Clarissa heran karena Aditya mengurangi kecepatan mobilnya.


“Sudah kubilang. Salah satu modal balapan seperti ini adalah ketenangan,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Terus gimana kita mau menang Kak?”


“Modal kedua dalam balapan adalah kesabaran, jangan terlalu tergesa gesa. Terlebih aku yakin mobil milik anak itu dilengkapi dengan Nitrous Oxide System.”


“Apa itu?”

__ADS_1


“NOS berguna untuk mempercepat laju mobil dengan rentang waktu, hingga hasil kompresi yang ada di sistem pembakarannya habis,” jelas Aditya. Clarissa masih bingung.


“Dilihat dari mobilnya, aku yakin kecepatan luar biasa itu hanya berlangsung lima sampai sepuluh detik. Tapi itu sudah cukup untuk menjaga jarak sangat jauh dengan kita,” jelas Aditya lagi.


“Lalu gimana kita akan menang kalau begitu?”


“Modal ketiga dalam balapan adalah memanfaatkan kesempatan dan jangan sampai kehilangannya ketika celah terbuka,” jawab Aditya sambil tersenyum.


Clarissa tampak kagum dengan ketenangannya. Aditya merapikan sedikit rambutnya agar bisa melihat lebih jelas jalanan. Hal itu membuat Rissa sadar bahwa Aditya sebenarnya begitu tampan jika rambutnya dirapikan seperti itu. Perlahan Aditya mengurangi kecepatannya.


Mobil Vian masih berada di depannya. Aditya tampak tersenyum lebar melihat hal itu. Dengan cepat Aditya mengarahkan mobil ke sebelah kiri, mobil Vian hendak menghalangi, namun Aditya segera menginjak pedal gas hingga maksimal dan menyallip mobil Vian dari arah kanan.


Hal itu membuat Clarissa dan Vian kaget, mereka tidak menyangka mobil biasa seperti itu bisa menyaingi kecepatan mobil sport milik Vian. Kini giliran Aditya yang terus menghalangi laju mobil Vian agar tidak bisa menyalipnya.


“Kok bisa begitu kak? Bukannya perbandingan kecepatan mobil kita begitu jauh?” tanya Clarissa heran.


“Aku dari tadi sengaja memainkan pemikiran anak itu,” jawab Aditya.


“Maksudnya?”


“Alasan aku tidak memacu mobil hingga kecepatan maksimal adalah agar anak itu berasumsi bahwa hanya segitu kecepatan maksimal mobil kita, karena tidak mungkin ada orang balapan tidak mengerahkan kecepatan maksimal.”


“Karena dia tahu kecepatan kita tidak mungkin menandingi kecepatan mobilnya, dengan santai dia meremehkan kita dengan ikut menyesuaikan kecepatannya agar bisa berada di depan kita sambil menghadang mobil kita, terlebih dia percaya diri dengan sistem NOS yang ada di mobilnya,” jelas Aditya.


“jadi ketika aku menurunkan kecepatan lagi secara perlahan, dia juga tidak menyadarinya karena berusaha mengimbangi kecepatan mobil kita. Karena itu dengan segera ketika ada celah aku memacu mobil dengan kecepatan maksimal hingga bisa menyalipnya,” tambah Aditya.


Clarissa tampak berbinar binar kagum dengan cara berpikir Aditya. dia tidak menyangka sejak balapan dimulai Aditya sudah menyiapkan rencana sehebat itu. Tampak Vian kesulitan untuk menyalip mobil Aditya karena terus ditutup celahnya.


“Yang perlu kita khawatirkan sekarang adalah sistem NOS yang belum dia pakai. Kita harus memaksa dia menggunakannya,” ujar Aditya.


“Bagaimana caranya?”


“Aku akan membuat sedikit celah. Aku yakin saat melihatnya maka dia akan langsung menggunakan NOS yang ada dalam mobilnya. Saat itulah mobil kita akan tepat berada di depan mobilnya.”


“Nanti mobilnya malah menabrak mobil kita dong?”


“Dalam jarak sedekat ini, kerusakan yang ditimbulkan oleh benturan sangatlah kecil. Kita hanya perlu mempertahankan keseimbangan mobil kita agar tidak berbelok selama benturan terjadi,” jelas Aditya.

__ADS_1


Aditya kemudian menjalankan rencananya. Benar saja ketika ada celah terlihat di hadapannya, dengan cepat Vian mengaktifkan sistem NOS mobilnya. Dengan cepat juga mobil Aditya sudah ada di depan mobilnya.


Vian kaget, namun dia tidak mungkin membatalkan NOS yang sudah mulai bekerja, mobil Vian menabrak mobil Aditya seolah mendorongnya. Akselerasi kecepatan mobil Vian meningkat drastis.


Namun mobilnya terus mendorong mobil Aditya. dari kejauhan sudah tampak orang-orang bersorak karena sudah mendekati garis start awal tadi. Itu artinya garis finish sudah ada di depan mata. Vian tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena jika mengemudikan mobilnya ke samping dalam kecepatan seperti itu hanya akan membuatnya celaka.


Mobil Aditya yang di dorong mobil Vian akhirnya sampai melewati garis finish terlebih dahulu. Clarissa keluar dari mobil sambil bersorak senang mengikuti sorakan penonton. Aditya keluar sambil tersenyum.


“Sialan!” teriak Vian sambil keluar dari mobil.


“Selamat Ris!” teriak Arnold. karena gembira, dia memaksakan untuk berteriak.


“Gila! Mustahil mobil kayak gitu menang melawan mobil sport!” ujar beberapa penonton.


“Kalau ada rekaman balapannya kayak Moto GP, pasti bakalan seru,” ujar yang lainnya.


“Ah tu anak saja yang nggak bisa menyetir mobil. Masa mobil balap kayak gitu kalah.”


Aditya hanya tersenyum melihat kejadian itu. Dirinya seakan bernostalgia dengan masa mudanya dahulu. Clarissa tampak terus menerus berteriak sambil mengolok olok Vian. Beberapa orang tampak mengucapkan selamat kepada Rissa. Arnold tampak begitu gembira melihat sahabatnya menang.


Dengan Santai Aditya menghampiri Vian yang sedang menggerutu sambil menendang nendang mobilnya. Aditya menjulurkan tangan mengajak bersalaman. Dengan terpaksa Vian menyalami Aditya.


“Jika saja kamu tadi tidak meremehkan kami, tentu hasilnya tidak akan seperti ini,” kata Aditya.


“Lain kali gua pasti menang!” jawab Vian dengan tatapan tajam.


“Ya. Tapi kesempatan kedua itu jarang ditemukan di dunia ini,” jawab Aditya sambil menghampiri Clarissa.


“Terimakasih banyak kak,” ucap Clarissa sambil memeluknya.


“Sama-sama, aku juga senang karena kamu bisa menyelamatkan temanmu dan mobilnya,” jawab Aditya.


“Lain kali, kamu jangan sampai terpancing provokasi seperti itu, oleh siapapun orangnya,” kata Aditya menasehati Arnold. Dia sudah bisa menebak kejadian sebenarnya.


“Iya kak. Aku benar-benar menyesal,” jawab Arnold.


Clarissa mengacung ngacungkan tangan Aditya ke angkasa saking senangnya. Vian menyerahkan kunci mobil milik Arnold kepada Rissa. Dia kemudian bertanya siapa sebenarnya Aditya. tampak beberapa orang juga penasaran ingin tahu.

__ADS_1


Dengan bangga Clarissa menjawab kalau Aditya adalah tunangan kakaknya. Beberapa orang tampak berdecak kagum. Aditya sendiri hanya tersenyum mendengar beberapa orang memujinya. Dia pikir entah Rissa memang tahu atau dia hanya mengaku ngaku saja. yang jelas, pengakuan itu membuatnya senang.


BERSAMBUNG…


__ADS_2