Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 86


__ADS_3

“Halo Fri? aku ke rumahmu sekarang!” ucap Jimmy sambil mengakhiri panggilannya.


“Kita mesti bagaimana Dit?” tanya Frita dengan mata berkaca kaca.


“Kita tidak punya pilihan lain. Apa kamu bisa mengumpulkan uang cash sebanyak itu sekarang juga?”


“Bisa, Cuma jaraknya cukup jauh dari sini.”


“Tidak masalah, ayo bersiap ke sana.”


“Ayah bagaimana?”


“Jangan beritahu ayahmu dan ibumu mengenai masalah ini, itu hanya akan membuat mereka panik.”


Frita segera bersiap lalu mereka pergi untuk mengambil uang cash sebagai tebusan Clarissa. Aditya kembali menunjukan kemampuan menyetirnya secara maksimal. Hanya dalam satu jam mereka sudah kembali ke rumah dengan uang lima ratus juta rupiah. Di depan rumah terlihat beberapa mobil polisi sedang bersiaga.


“Bagaimana Fri? apa penculiknya sudah menghubungimu?” tanya Jimmy.


“Sudah, aku baru menyiapkan uang tebusan yang mereka minta.”


“Bagus, di mana lokasi pertemuannya?”


“Mereka sebentar lagi akan menghubungi kembali,” sela Aditya. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian telepon rumah di sana kembali berdering. Aditya hendak mengangkatnya namun Jimmy segera merebutnya.


“Bagaimana apa uangnya sudah siap?” tanya penculik.


“Sudah siap, di mana lokasi penukarannya?”


“Lu siapa hah?!”


“Gue saudaranya Frita.”


“Saudara ya, ingat kalau gue tahu lu ngelibatin polisi nyawa anak ini bakalan melayang! Tulis lokasinya!”


Jimmy kemudian mencatat lokasi pertemuan yang diberikan penculik. Setelah itu dia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk pergi duluan ke lokasi.


“Tapi bukannya kalau begitu maka akan melanggar kesepakatannya?” tanya Frita cemas.


“Jangan takut Fri, biasanya mereka hanya menggertak saja. Aku akan mencari celah menyelamatkan Adikmu dan merebut kembali uang tebusannya.”

__ADS_1


“Aku nggak masalah sama uangnya Jim, hilangpun nggak masalah, aku cuma khawatir kalau Clarissa nanti malah kenapa napa.”


“Aku paham perasaanmu Fri, tapi kejahatan tetap harus mendapat hukuman. Penculik itu tetap harus kami tangkap,” jawab Jimmy sambil mengelus kepala Frita. Aditya sedikit kesal dengan tingkah jimmy.


“Bukan saya meragukan kepolisian, tapi saya rasa para penculik itu bukan penculik amatiran. Mereka mungkin saja tidak akan segan membunuh sanderanya. Ini bukanlah adegan di film film atau coretan cerita di komik pak. Saya harap bapak mau mempertimbangkannya kembali.”


“Terus lu mau kalau polisi diam saja biarin para penculik berkeliaran?” tanya Jimmy dengan wajah kesal.


“Bukan begitu pak-“


“Lu lagian kenapa bisa ada di sini sih? Bukannya lu Cuma sopinya Frita? Jangan terlalu ikut campur dengan masalah keluarga bosmu deh jangan manfaatin hal ini buat caper biar naik gaji. Atau jangan-jangan yang nyulik adik Frita juga temen-temen lu ya!” bentak Jimmy sambil menatap tajam Aditya.


“Sudah Jim, sebaiknya sekarang kita pergi saja. Lagipula aku yakin Aditya nggak akan melakukan hal seperti itu,” bela Frita.


Aditya hanya mengepalkan tangannya karena kesal kepada Jimmy. Mereka kemudian keluar untuk pergi ke lokasi pertukaran dengan penjahat. Jimmy mengajak Frita untuk bersama di mobilnya namun Frita lebih memilih untuk pergi ke sana dengan Aditya.


Beberapa mobil polisi beriringan berangkat menuju lokasi, Jimmy memang sengaja untuk mengerahkan banyak anak buahnya dengan persenjataan lengkap agar tidak gagal seperti saat Frita di culik.


“Gimana nih Dit polisi malah memaksa untuk ikut terlibat?”


“Jangan cemas begitu Fri, aku yakin Clarissa akan baik-baik saja kok,” hibur Aditya sambil tersenyum.


“Aku rasa selagi polisi tidak mengambil tindakan gegabah mereka tidak akan berbuat macam macam, karena sebenarnya mereka juga tidak mau buang-buang tenaga untuk menghadapi polisi.”


“Lagian kok bisa Jimmy duluan yang tahu Clarissa di culik,” gumam Frita.


“Aku rasa, teman Clarissa yang melihat Clarissa di culik segera menghubungi kantor polisi, karena itulah polisi bisa tahu kalau adikmu memang diculik setelah mendapat laporan dan data dari temannya Clarissa.”


“Aduh aku jadi khawatir banget.”


“Tenang saja, asal kamu tahu adikmu itu lebih kuat darimu loh,” hibur Aditya.


“Ya iyalah, dia memang agak sedikit tomboy.”


Mereka semua akhirnya sampai ke lokasi pertemuan. Sebuah gubuk terpencil di atas bukit. Jimmy sejak awal menyuruh anak buahnya agar mematikan sirine mobil dan lampunya untuk mengelabui penculik. Dia juga memerintahkan agar anak buahnya mengepung gubuk itu dari berbagai tempat, jika ada kesempatan mereka harus langsung bergerak.


Aditya, Frita dan Jimmy mendekati gubuk itu. Terlihat Clarissa sedang meronta-ronta karena tangan dan kakinya diikat oleh tali. Tujuh orang pria berada di samping Clarissa. Seorang diantaranya tampak membawa pistol.


“Ternyata memang benar kalau kakak gadis ini adalah rembulannya kota Bandung. Hahah kelihatannya lain kali kita juga harus menculik kakaknya,” ujar Penculik paling tengah disambung tawa beberapa penculik lainnya.

__ADS_1


“Sebaiknya jangan banyak omong, segera serahkan anak itu!” bentak Jimmy dengan penuh percaya diri.


Tiba-tiba suara tembakan terdengar, Frita menjerit. Jimmy terlihat kaget, sedangkan Aditya malah semakin kesal kepada Jimmy. Dia merasa kalau Arya lebih bisa diandalkan dalam masalah seperti ini.


“Jangan berlagak lu! Gue tahu kalau kalian membawa polisi kemari! Dasar keparat!.”


“Polisi darimana?” tanya Jimmy dengan gelisah.


“Hahaha jangan pikir lu semua bisa bodohin gue! Gue dengar sendiri tadi banyak suara mobil yang datang, bisa dipastikan lebih dari empat. Tapi yang datang kemari cuma tiga orang saja. Gue yakin pasti polisi sudah mengepung tempat ini! Ternyata lu semua emang nggak sayang kepada nyawa anak ini,” jawab penculik sambil tertawa.


“Awalnya gue cuma mau uang itu dan menyerahkan gadis ini kembali, tapi karena lu semua ngehubungin polisi. Gue nggak bisa semudah itu nyerahin anak ini karena polisi pasti akan menyergap,” tambah penculik.


“Cih!” gerutu Jimmy.


“Lalu apa yang kalian inginkan sekarang?” tanya Aditya dengan tenang. Frita tampak sudah begitu khawatir, bahkan matanya kembali berkaca kaca, dia menyesal karena sudah membiarkan Jimmy terlibat masalah ini. Sekarang nyawa adiknya malah semakin dalam bahaya.


“Gue mau ada seseorang nyerahin uangnya kesini. Tapi gue baru akan nyerahin anak ini jika situasinya benar-benar sudah aman bagi gue,” jelas penculik.


“Memangnya nggak ada jalan lain?”


“Kalau lu semua mau anak ini, seseorang dari lu semua harus jadi penggantinya sebagai sandera. Kalau kami sudah aman mungkin saja dia akan kami lepaskan. Tapi jika polisi terus bergerak maka kami tidak akan segan segan menghabisinya!”


Jimmy dan Frita saling pandang, mereka mencoba berpikir pilihan mana ynag harus mereka ambil.


“Biarkan aku yang menggantikan Clarissa,” tawar Frita.


“Jangan Fri! mereka malah akan senang kalau begitu,” cegah Jimmy.


“Biarkan aku saja,” ujar Aditya sambil membawa koper berisi uang tebusan.


“Dit,,”


“Sudahlah, aku mungkin masih punya harapan di bebaskan. Aku juga nggak akan semudah itu mati kok,” jawab Aditya sambil tersenyum.


“Tapi Dit-“


“Sudahlah. Sampaikan permintaan maafku kepada pak Pandu nanti, kamu juga jangan murung terus, setidaknya jangan terlalu fokus pada kerjaan. Sesekali kamu juga harus pergi refreshing,” ucap Aditya sambil melangkah pergi.


Tanpa sadar airmata Frita mulai keluar membasahi pipinya. Hatinya terasa begitu sakit dan perih mendengar kata-kata Aditya. Dengan santai Aditya memberikan koper berisi uang tebusan kepada penculik. Selagi penculik memeriksa keaslian uangnya Aditya tersenyum kepada Clarissa.

__ADS_1


BERSAMBUNG…


__ADS_2