Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 108


__ADS_3

Aditya hanya terdiam saja. Jaja kemudian melangkah keluar bersama anak buahnya, kepergiannya diiringi sorakan oleh geng Merak. Pesta malam itupun di mulai. Semua orang terlihat senang saat itu. Hanya Goni yang terlihat murung duduk di kursi. Ketika Aditya menatapnya dia terlihat begitu kesal.


“Sebaiknya kita pulang sekarang Sher,” ajak Aditya, dia tidak mau jika Sherly nantinya jadi pelampias kekesalan Goni.


“Eh, kenapa Dit?”


“Sekarang urusanku di sini sudah selesai, lagipula orang berbahayanya sudah pergi. Sebaiknya kita juga segera pulang. Besok kan masih haru bekerja lagi.”


“Iya ya perasaan ini malam minggu. Ayo.”


“Sudah mau pergi ke mana bos?” tanya Adrian.


“Oh, aku mau pulang Drian, maaf aku tidak bisa menunggu sampai Arfa kembali.”


“Nggak apa-apa bos, aku yakin dia sudah senang ketika bos menyelamatkannya tadi.”


“Baiklah, sampai jumpa.”


Aditya buru-buru mengajak Sherly menuju mobil lalu mereka pergi meninggalkan restoran itu. Ratna di restoran terus mencari keberadaan Aditya, Adrian memberitahunya jika Aditya baru saja pulang bersama Sherly. Dengan kesal Ratna segera keluar bermaksud untuk mengejar Aditya.


“Dit ada mobil mewah ngikutin kita,” ucap Sherly dengan wajah cemas.


“Kelihatannya dia cuma orang iseng yang mencari lawan balap saja Sher,” jawab Aditya sambil tersenyum. Dia sebenarnya tahu jika itu adalah mobil milik Ratna.


“Lah, emang ada orang kayak begitu?”


“Ada atuh Sher, kalau begini terpaksa kita layanin sebentar. Eratkan sabuk pengamanmu Sher.”


Sherly menuruti perintah Aditya. Mobilnya terasa melaju semakin kencang di jalanan kota Bandung. Ratna yang melihat hal itu malah tersenyum senang, dia juga memacu mobilnya dalam kecepatan tinggi untuk mengejar mobil Sherly.


Kedua mobil it uterus meliuk liuk di jalanan ramai. Awalnya Sherly sangat ketakutan tapi akhirnya dia bisa membiasakan diri. Kemahiran Aditya membuatnya semakin kagum saja. Aditya terus mengecoh Ratna, namun dia masih tetap bisa mengikutinya.


“Ngomong-ngomong kenapa kamu tadi malah ikut ke dalam duel Dit? Kalau kamu kenapa-napa gimana?”


“Siapa orang yang bisa diam saja ketika melihat kawannya akan dibunuh di depan matanya sendiri, karena itulah secara spontan aku masuk untuk menyelamatkannya.”


“Tapi kenapa kamu malah mengalah sama wanita centil itu?” tanya Sherly sambil cemberut.


“Aku cuma tidak suka menghajar wanita saja kok.”


Mobil Ratna terlihat mulai bisa mendekati mobil mereka berdua. Aditya terus berusaha memcu mobilnya dalam kecepatan tinggi namun Ratna masih bisa terus membuntutinya di belakang.


“Mobil itu masih mengikuti kita Dit.”


“Iya Sher, tapi kemampuan mengemudinya memang sangat luar biasa,” puji Aditya.

__ADS_1


“Kita mesti gimana dong?”


“Jangan khawatir, bukan orang jahat kok,” jawab Aditya sambil mengemudikan mobilnya pelan lalu berhenti di tepi jalan yang luas.


Sherly terlihat heran karena Aditya malah turun. Mobil mewah di belakangnya juga berhenti, Ratna kemudian keluar dari dalam mobil. Sherly terkejut melihatnya. Dia juga kemudian ikut keluar dari dalam mobil.


“Kemampuan menyetirmu selalu membuatku kagum, Ratna.”


“Kamu juga Dit, malam-malam begini malah ngajak balapan.”


“Aku selalu penasaran ingin balapan lagi melawanmu.”


“Padahal bilang saja, aku siap kok mengalahkanmu.”


“Haha, kamu percaya diri sekali,” ujar Aditya sambil tersenyum.


“Lalu ada apa kamu mengikutiku?” tanya Aditya.


“Iya kenapa kamu mengikuti kami?” timpal Sherly dengan penuh kekesalan.


“Eh kok kamu sama wanita ini Dit?”


“Oh, ak-“


“Dih aku nanya Aditya kok kamu yang jawab.”


“Memangnya kenapa? Aku kan teman Es Em A nya,” jawab Sherly dengan mengeja kata SMA.


Ratna terlihat kesal karena Sherly terus membahas masalah siapa yang paling lama mengenal Aditya. Mereka terus bercekcok, masing-masing tidak ada yang ingin mengalah. Aditya hanya menarik nafas sambil geleng-geleng kepalanya.


Entah dia harus merasa senang atau bagaimana, yang jelas jika tidak dihentikan sampai pagi pun mereka tidak akan berhenti. Tapi di lain sisi dia benar-benar merasa bahagia. Karena saat hatinya mulai goyah tadi, teriakan mereka seolah membawa semangat hidupnya kembali.


“Sudah-sudah, kalau dilihat orang nggak enak loh masa dua wanita cantik bertengkar di jalanan,” bujuk Aditya. Akhirnya mereka mulai tenang.


“Lalu kenapa kamu mengikutiku?”


“Aku setiap bertemu kamu selalu lupa minta nomor telepon. Takutnya nanti ada perlu,” ucap Ratna malu-malu.


“Hemh, teman macam apa yang bahkan tidak punya nomor ponsel temannya sendiri,” sindir Sherly.


“Ya mau gimana lagi kalau lupa!” jawab Ratna.


“Masa teman lupa sama temannya.”


“Ih, kamu ini ngajak ribut terus ya!”

__ADS_1


Aditya kembali menghela nafas. Dia kemudian membujuk mereka berdua lagi untuk tenang. Kemudian dia bertukar nomor telepon dengan Ratna. Setelah itu Aditya dan Sherly masuk kembali ke dalam mobil, Sherly terus memperlihatkan kedekatannya dengan Aditya agar Ratna iri kepadanya. Ratna terlihat kesal, dia bahkan terus menggerutu setelah Aditya pergi meninggalkannya.


“Kamu jangan terlalu dekat sama wanita centil seperti itu Dit,” ucap Sherly sambil cemberut.


“Lo kenapa memangnya?”


“Kalau dia wanita nakal bagaimana?”


“Kamu ini ada-ada saja Sher, dia wanita baik-baik kok.”


“Mungkin dia masih berusaha terlihat baik di depanmu.”


“Nggak lah, dia tidak mungkin seperti itu,” jawab Aditya dengan tertawa kecil.


Sherly malah tambah cemberut mendengar Aditya terus membela Ratna. Sepanjang perjalanan Sherly terus diam. Aditya semakin bingung, setelah beberapa kali dia menggodanya barulah Sherly kembali ceria seperti biasanya. Mereka berdua akhirnya sampai di rumah Sherly.


“Mampir dulu yuk Dit,” ajak Sherly.


“Nggak usah Sher, lain kali saja lagipula ini sudah malam, aku langsung pulang saja.”


“Aku anterin ya.”


“Eh, nggak usah Sher, nanti aku khawatir kalau kamu pulang sendirian, bisa-bisa aku nggak bisa tidur,” ujar Sherly tersipu. Ojek online pesanan Aditya akhirnya sampai di sana.


“Ih kamu ini, kalau begitu hati-hati di jalan ya, jangan lupa istirahat biar mata kamu cepat sembuh.”


“Iya Sher, terimakasih banyak.”


Sherly melambaikan tangannya mengantar kepergian Aditya. Dengan gembira dia masuk ke dalam rumahnya. Aditya merasa jika tukang ojek pesanannya terlalu pelan, dia kemudian bergantian mengemudikan motor tukang ojek itu agar cepat sampai di rumah Frita. Sepanjang jalan tukang ojek itu terlihat gemetar ketakutan karena Aditya mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi.


Dia akhirnya sampai di rumah Frita. Tukang ojek itu terlihat lemas ketika turun. Setelah dibayar dia segera pergi dengan sangat pelan. Aditya kemudian berjalan ke rumah. Ternyata pintunya tidak dikunci sama sekali.


“Frita teledor amat sih, kalau ada maling masuk gimana coba,” gumam Aditya sambil masuk ke dalam rumah.


“Loh, dia kok tidur di sofa sih.”


“Kalau masuk angin gimana coba. Apa dia terus menungguku pulang ya. Merepotkan saja,” ucap Aditya sambil tersenyum.


Frita terlihat sedang tidur pulas di sofa tanpa pakai selimut. Aditya dengan lembut membawa Frita di pangkuan, menuju kamar tunangannya itu. Perlahan dia meletakan Frita di kasurnya. Aditya juga menyelimutinya. Beberapa detik Aditya terus menatap wajah cantik Frita yang sedang tertidur. Setelah merapikan rambut Frita, Aditya segera keluar dari kamar lalu mematikan lampu.


Setelah Aditya keluar dari kamarnya perlahan Frita membuka matanya, dia kemudian senyum-senyum sendiri. Ketika mendengar Aditya datang tadi dia sengaja pura-pura sudah tertidur di sofa untuk mengetahui reaksi Aditya. Sebenarnya hatinya sangat berdebar senang ketika berada di pangkuan Aditya. Dia awalnya mengira jika Aditya hanya akan menyelimutinya saja, tapi ternyata yang terjadi malah diluar dugaannya.


“Aditya, Aditya,” gumam Frita sambil tersenyum.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2