Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 208


__ADS_3

Baskara berhasil menyambungkan ke telepon milik Ular_91 atau Garry Lee. Masih terdengar nada sambung panjang untuk beberapa detik.


Tuuuttt ...


Mereka semua yang di situ bisa mendengar karena menggunakan loud speaker, dan tak lupa Baskara juga merekam percakapan itu untuk jaga-jaga saja. Komandan Malik memberikan perintah kalau cuma Aditya yang boleh bicara.


“Kalian harus diam,” katanya.


Mereka berlima mengangguk.


“Ayo, angkat bangsat!” gerutu Aditya tak sabaran sambil berjalan ke sana kemari.


“Ya? Halo, Dit?” jawab suara di seberang sana, terdengar putus-putus, tapi itu jelas suara Garry Lee. Di latar belakang ada suara obrolan dalam bahasa Korea yang tidak Aditya pahami. Lucunya, penjahat itu seperti sudah tahu ia akan ditelepon oleh Aditya.


Aditya dan teman-temannya seketika saling pandang.


Garry Lee bilang, “Halo, Dit? Apa kabar loe?”


“Loe tahu gue bakal telepon?” kata Aditya geram.


“Tahulah! Kan di sini gue lagi bersenang-senang sama cewek loe. Hahaha!” balas Garry Lee dengan santai, seakan ia belum tahu siapa Aditya. Tapi memang selama ini ia belum pernah melihat Aditya beraksi di depan matanya langsung.


“Bangsat. Apa mau loe? Katakan saja. Gadis itu gak ada urusan dengan kita,” balas Aditya.


“Oh, jelas ada, Bro! Loe kemarin sudah membunuh paman gue! Loe kabur sebelum gue bikin perhitungan! Nah, sekarang giliran gue merebut orang yang loe sayangi!”


Aditya tak bisa meninju Garry Lee, jadi ia cuma bisa mengumpat. Suara Garry Lee yang terdengar santai membuat kelima anggota Skuad Malam saling tatap satu sama lain. Hanya Nancy di antara mereka yang pernah bertemu Garry. Dan ia tahu kini Frita sedang dalam bahaya besar.


“Mana suara Frita? Gue mau dengar!” bentak Aditya.

__ADS_1


Suara Garry Lee kemudian mendaadak terdengar lebih samar. Putus-putus seakan ia berpindah ke tempat yang sinyalnya buruk. Tapi, tak lama terdengar suara rintihan yang tak begitu asing di telinag Aditya.


“Frita? Kamu di situ?” tanya Aditya cemas.


Pada waktu itu Gina Lisnia sudah kembali sadar, tapi belum sepenuhnya. Wanita itu baru saja membuka kelopak matanya ketika terdengar di telepon Frita menjawab sambil menangis, “Aditya! Itu kamu! Aku nggak ngerti kenapa orang-orang ini menculikku! Aku juga nggak tahu ada di mana ini sekarang!”


“Frita! Itu suara Frita?!” tanya Gina dengan perasaan lega sekaligus cemas. Lega, sebab tahu anaknya masih hidup. Dan tentu tak perlu ditanya kenapa ia juga jadi cemas.


Linda dan Nancy segera menghampiri Gina untuk menenangkannya. Mereka lalu membawa wanita malang itu ke ruangan sebelah agar tak mendengar lebih jauh suara Frita yang hanya akan bikin cemas.


“Sudah, Bu. Dia baik-baik saja. Kami juga akan berangkat malam ini,” bisik Linda padanya.


“Kalian harus membawanya pulang dengan selamat!” tukas Gina Lisnia dengan suara yang terdengar serak. Ia kemudian menangis tersedu-sedu.


Nancy hanya bisa memeluk dan mengelus pundak wanita tersebut.


“Nah, loe sudah dengar dia sehat-sehat saja. Gue belum apa-apain cewek ini, Dit, dan tidak akan melakukan apa pun asal loe mengikuti kemauan gue,” kata Garry Lee. Kini suara keponakan Si Tua Leo itu terdengar lebih jelas. Sepertinya ia sudah pergi ke luar ruangan di mana Frita kini disekap.


“Katakan saja!”


“Kembalikan Profesor Joe! Ya, itu yang gue minta. Bawa lagi dia kemari dan loe bisa bawa cewek ini pulang!” jawab Garry Lee


“Tapi, loe gak bisa asal ngomong ....”


Belum selesai Aditya berucap, Garry Lee memotong, “Dua hari, Dit! Gue beri waktu loe dua hari saja!”


Seakan tidak mau diajak bicara lagi, Garry Lee segera memutus sambungan telepon.


Aditya sangat geram dan menendang kursi kayu yang ada di dekatnya sampai kursi itu terpental mengenai pintu kulkas. Teo pemilik kulkas itu. Ia sengaja menaruhnya di sini, di markas mereka, agar bisa selalu menyimpan camilan kesukaannya. Biasanya Teo marah kalau ada yang kasar pada kulkasnya, tapi kini Teo tak berani protes.

__ADS_1


“Sudah kuduga bakal mengarah ke Profesor Joe. Garry Lee tampaknya sudah kena omongan Gunawan Mahdi tentangmu dan Nancy. Dan kini dia mencoba merebut harga diri Aliansi Ular Kobra sekaligus Serigala Hitam dari kita.”


“Memangnya siapa pemimpin Serigala Hitam?” tanya Charlie.


“Siapa lagi kalau bukan si Gunawan Mahdi itu,” ujar Aditya dengan kesal. Ia masih tak habis pikir pembicaraannya harus terhenti sebelum ia menegaskan sesuatu pada Garry Lee itu.


“Ya, kupikir memang itulah organisasi yang Gunawan miliki. Lebih besar dari Ular Kobra dan berada di atasnya sebagai pemimpin sekaligus dalang,” kata Nancy yang kembali bergabung lagi bersama mereka setelah meninggalkan Gina di ruangan sebelah bersama Linda.


“Maksudnya?” tanya Baskara.


“Yah, Gunawan Mahdi mengontrol empat pimpinan Ular Kobra, itulah yang sudah kita tahu dari misi sebelumnya. Tapi tentang Serigala Hitam ini sesuatu yang baru. Aku juga percaya Gunawan berada di balik organisasi ini,” sahut Komandan Malik.


“Ya selama ini Gunawan tak pernah menyebut-nyebut nama pabrik narkotikanya atau paling enggak kelompok yang dia pimpin,” kata Nancy.


Nancy segera teringat ia sempat melihat simbol serigala aneh pada pakaian salah satu pegawai laboratorium tempat di mana ia membawa kabur Profesor Joe. Waktu dia melihat Baskara melacak simbol itu dua hari lalu, ia merasa sempat melihat simbol yang sama tapi lupa di mana.


“Aku pernah melihat simbol itu ternyata. Di lab tempat Profesor itu pingsan akibat racun dari Amy Aurora,” kata Nancy. “Agaknya simbol yang tercetak di pakaian salah satu petugas lab itu luntur. Makanya terlihat agak beda dengan pin besi itu.”


Mereka terdiam untuk beberapa saat. Kemudian Komandan Malik memberi arahan terakhir sebelum pasukannya berangkat. Sebuah helikopter sudah menanti sejak tadi di lapangan parkir.


Tak lama, Skuad Malam dan termasuk Aditya sudah berada dalam lorong menuju ruang ganti. Pada tangan masing-masing mereka memegang koper berisi dokumen dan pakaian sehari-hari untuk orang biasa. Ingat, mereka harus berdandan seperti warga biasa!


Aditya tak bisa berpikir jernih selama mengenakan pakaian samarannya itu. Amat cemas memikirkan Frita.


Dia menatap cermin dan berkata pada dirinya sendiri, “Akhirnya kita bertemu lagi, Frita, tapi tak kusangka bakal dengan cara macam ini.”


Aditya pergi meninggalkan bilik ganti dan memastikan alamat dari Malik tersimpan baik di saku bajunya. Alamat seseorang yang bisa mereka datangi di Korea nanti. Sosok yang menyediakan senjata dan peralatan lain untuk menyerbu Garry Lee.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2