Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 284


__ADS_3

Sebelum mereka berpisah, Guru Tanpa Nama memberikan beberapa pesan untuk sang murid.


“Dit, kulihat kau sekarang mengalami banyak kemunduran. Sejak kau menikah, ini yang terjadi padamu. Kau bahkan kesulitan mengalahkan tiga orang tadi,” bisik Guru Tanpa Nama yang berjalan ke mobilnya, di dekat motel busuk itu.


Aditya berjalan di sisinya.


Aditya berkata, “Aku sedang mencoba menjadi sosok yang berbeda. Bukankah itu sudah Guru dengar?”


“Ya, benar. Tapi satu persoalan ini belum selesai. Kau jangan melemah dulu. Kau harus mau membunuh siapa pun lawanmu sampai keadaan benar-benar aman,” kata Guru Tanpa Nama.


Lalu, Amy Aurora tampak memberi isyarat pada Guru Tanpa Nama. Sebuah isyarat yang segera membuat lelaki tua itu teringat sesuatu.


“Oh, ya. Kau pasti belum dengar seseorang yang bernama Hestu, kan?”


“Siapa itu?” tanya Aditya.


“Pengawal pribadi Setiawan Budi. Bukan pengawal pribadi biasa. Kadang dia yang turun sendiri membabat habis musuh tuannya. Kau perlu hati-hati dengannya. Aku tidak bisa menemukan di mana dia. Bahkan wajah Hestu sendiri pun aku belum tahu pasti.”


“Kok bisa pengawal pribadi seistimewa itu?”


“Hestu buronan kelas internasional. Sejak beberapa tahun lalu dia lolos dari penjara rahasia di Jepang. Kabur kemari dan mendapat perlindungan dari Setiawan Budi. Kalau kita berhasil menangkapnya, atau membunuhnya, akan ada hadiah besar,” jelas Amy.


“Hadiah? Memangnya siapa yang memberikan hadiah untuk kepala si Hestu itu?” tanya Aditya.


“Keluarga para korban yang sudah mati di tangannya. Ada ratusan kepala keluarga yang kini membentuk grup temu, yang melakukan doa bersama tiap tahun demi para keluarga mereka yang mati di tangan Hestu. Mereka bukan orang sembarangan juga. Mereka konglomerat yang bersedia membayar berapa pun asal Hestu diadili,” sambung Guru Tanpa Nama.


“Hebat juga orang itu, untuk ukuran pengawal pribadi,” kata Aditya. “Tapi sekarang kepalaku pun juga dihargai mahal oleh keluarga Setiawan Budi setelah kematian Reza, Hendy, dan Herman!”


“Mereka tak bisa menuduhmu begitu saja lagian. Kan mereka juga punya musuh di mana-mana. Kamu tenang saja, Dit,” kata Amy lalu memeluk Aditya sebelum mereka pamit.


Aditya masuk kembali ke mobil Frita. Dan disambut oleh rententan kalimat sarat kecemasan.

__ADS_1


“Apa lagi yang mesti kita hadapi, Mas? Sudah kubilang sebaiknya kita kabur saja ke Eropa sampai keadaan aman!” kata Frita.


“Tidak bakal aman sebelum mereka semua mati. Benar kata guruku barusan tadi. Ini tak akan berhenti sampai mereka semua mati,” tukas Aditya dengan suara yang agak pelan.


“Tapi kamu sudah berjanji untuk tak lagi kembali ke kehidupan yang seperti itu,” sahut Frita sambil menangis. Clarissa tak bisa berkata-kata dan hanya memeluk sang kakak saja.


“Aku pun juga tak ingin begitu.”


Mereka berlalu dari sana, lalu Aditya terpikir memang benar Frita harus menjaga diri di tempat yang aman, bersama keluarganya. Sementara ia tak perlu begitu. Ia harus menyelesaikan ini.


Aditya berkata, “Kalian bisa ke Eropa atau tempat aman lain, selagi aku selesaikan semua ini. Kalau bukan karena koneksi Setiawan Budi dengan para politikus busuk dan para pebisnis hebat di negeri ini, kita tak perlu repot begini!”


“Baiklah. Kalau menurutmu itu yang terbaik, Mas,” kata Frita.


***


Deddy Prakoso, ayah kandungnya Hendy, berjalan tergesa-gesa masuk ke markas Setiawan Budi, sebuah rumah mewah yang berdiri di tanah luas di kawasan Tangerang. Lelaki berperut buncit itu terlihat marah.


Dari sanalah Setiawan Budi selama ini mengontrol pergerakan uang dan anak buahnya. Ia sudah jarang terjun ke lapangan tapi selalu mendapat laporan sepanjang waktu. Dan selalu menjadi otak dari seluruh operasi.


Deddy Prakoso bukan sosok yang menonjol di keluarga itu. Ia malah kerap dicap sebagai benalu, karena hanya numpang kekayaan dan ketenaran saja. Deddy tak pernah sukses berbisnis sekalipun sering mendapat pinjaman modal dari keluarganya. Kini ia mentok berjuang di satu bidang bisnis yang tak terlalu membuat namanya dikenal.


Deddy marah besar sambil melempar edisi koran terbaru hari itu.


“Siapa yang membuat mati anakku?!” geramnya.


Setiawan Budi sudah tahu berita kematian Hendy dan Herman tentu saja. Jadi dia diam saja.


“Mas, tolong selesaikan ini! Dari awal saya sudah bilang kalau Hendy tidak perlu mengikuti rencana pernikahan dengan anak perempuan Pandu itu!” lanjut Deddy. “Tapi kalian terus memaksa!”


Setiawan Budi berdiri dan mencoba menenangkan Deddy dengan meremas bahunya dan memberinya isyarat untuk duduk.

__ADS_1


“Mau kopi atau teh? Atau yang lain?” tanya Setiawan Budi santai, lalu memanggil pelayan untuk mendekat.


“Mas! Anak saya mati! Saya mau kalian bertindak sekarang juga!” kata Deddy tak sabaran.


“Sudahlah, loe tenang saja,” tukas Setiawan Budi. “Semua sudah ada dalam kendali. Tinggal menunggu waktu saja.”


“Apanya?” sahut Deddy kesal.


“Bukan cuma anak loe saja yang mati. Reza juga mati. Herman, anak sohib karib loe, juga mati. Rama sekarang bahkan harus jalan terpincang-pincang setelah kejadian hari itu. Tapi semua sudah ada dalam kendali.”


Deddy kini terlihat takut karena Setiawan Budi tak henti menatap matanya. Biasa itu pertanda sang pimpinan ingin menghabisi seseorang. Namun tentu Deddy tak bakal dibunuh oleh sepupunya sendiri.


Deddy akhirnya hanya bisa menggerutu pergi. Berharap semoga kematian anaknya segera terbalaskan.


Setiawan Budi mencegahnya pergi. “Datang tidak sopan. Pergi juga tidak sopan. Duduk dulu di sini, Ded!” bentaknya.


Deddy terlihat seperti kerbau bodoh, patuh dan berbalik badan, lalu menuruti apa yang Setiawan Budi minta.


“Kali ini loe juga harus beraksi. Loe jangan diam saja. Sejak kapan loe memberi kontribusi untuk keluarga ini? Sejak kapan, he?” kata Setiawan Budi mengintimidasi.


Deddy kesulitan menjawab, karena memang ia tak pernah memberi kontribusi apa pun, kecuali meminta uang dan bantuan dan sesekali meminta keluarganya membunuh orang yang dia benci. Memang Deddy dan Hendy selama ini hanyalah benalu.


“Loe bisa, kan?” tanya Setiawan Budi.


“Bisa apa, Mas?”


“Bisa balas dendam anak loe sendiri? Sekalian ini tes apakah loe layak masuk ke keluarga kita,” terang Setiawan Budi tanpa kompromi.


Deddy Prakoso hanya bisa menunduk pasrah, tak mungkin menolak perintah sang pimpinan. Ia pun mendapatkan foto Aditya. Foto seseorang yang kemungkinan besar ada di balik kematian Hendy.


“Kalau loe bisa bunuh ini orang, loe bakal dapat lebih dari apa yang loe butuhkan di keluarga ini,” kata Setiawan Budi, dan ia menganggap itu sebagai janji.

__ADS_1


Meski tentu saja, Deddy tak pernah mampu mewujudkan itu.


Bersambung....


__ADS_2