
“Mereka?” gumam Brian dengan panik, dia kemudian pergi menuju Viktor dan Verdi.
“Mau apa mereka kemari,” gumam Aditya sambil menatap empat orang yang datang ke rumah sakit itu.
“Vik, Ver! Kita turun ke bawah segera,” ajak Brian.
“Kenapa?”
“Ada para pengganggu datang kemari,” ucap Brian dengan wajah serius.
“Mereka tidak mungkin datang ke sini hanya untuk menjenguk saja, terlebih sejak kapan mereka berdua terlihat akrab seperti itu,” gumam Aditya.
Semua anggota geng Merak berbaris menghadang empat orang yang barusan datang. Jaja bersama Gerald sedangkan Goni bersama Vendi. Gerald dan Vendi maju ke depan dan menyuruh anggota geng Merak menyingkir. Namun mereka masih tetap berdiri menghadang empat orang itu. Hal itu membuat Gerald dan Vendi sangat marah hingga membentak anggota geng Merak.
“Kalian benar-benar membuatku muak!” bentak Gerald.
“Kelihatannya kalian benar-benar cari masalah,” ujar Vendi sambil menyingkirkan bajunya.
“Jangan takut!” teriak seorang anggota geng Merak.
“Jangan biarkan mereka masuk!” teriak yang lainnya sambil maju menyerang Gerald dan Vendi.
Perkelahian tidak bisa dihindari antara puluhan orang anggota geng Merak melawan Gerald dan Vendi. Namun keunggulan jumlah mereka terlihat tidak berarti. Jaja dan Goni hanya berdiri santai sambil melihat para anak buahnya berkelahi. Gerald dan Vendi sama sekali tidak mendapat serangan yang berarti.
Mereka berdua dengan tangkas bisa menangkis dan menghindari setiap serangan dari geng Merak dengan mudah. Jaja terlihat mulai gusar saat itu dan menyuruh Gerald agar jangan membuang-buang waktu dengan mereka. Mendengar hal itu Gerald mulai serius menyerang lawannya dengan beringas.
Beberapa orang mulai berjatuhan tersungkur. Vendi juga tidak mau kalah, dengan cepat dia ikut membalas serangan. Gerald sambil tertawa terus menghajar semua lawannya. Ketika mereka berdua sedang mengamuk tiba-tiba dua orang melompat menghadang serangan mereka. Viktor menghadang serangan Gerald sedangkan Verdi menahan serangan Vendi.
“Apa mau kalian datang kemari?” tanya Brian sambil menatap tajam Jaja dan Goni.
“Hahaha lu sudah bertingkah seperti seorang Ketua saja Brian, apa mungkin lu yang akan menjadi ketua geng Merak selanjutnya?” tanya Jaja sambil tertawa.
“Jangan mencoba memecah belah kami! Ketua kami masih hidup!” bentak Brian dengan penuh amarah.
“Lambat laun dia akan mati juga pada akhirnya,” ujar Goni.
“Jangan menghina ketua!” bentak Viktor mencoba untuk mendekati Goni namun Gerald menghadangnya.
“Asal kalian tahu, kami datang kemari bukan untuk memulai perang dengan kalian. Aku datang kemari karena mendengar ketua kalian masuk rumah sakit,” kata Jaja.
__ADS_1
“Kami bermaksud baik hendak menjenguk ketua kalian. Tapi kenapa kalian bersikap kami seolah ingin berkelahi?” tanya Goni.
“Kedatangan kalian selalu menyebabkan masalah, kami hanya bertindak waspada saja untuk melakukan pencegahan,” jawab Brian.
“Seharusnya kalian melihat jumlah kami terlebih dahulu,” ujar Vendi.
“Kami menerima itikad baik kalian, hanya saja kami tidak akan mengizinkan kalian masuk ke dalam ruangan ketua,” ucap Brian.
“Itu sudah cukup walaupun memang membuatku sedikit kecewa,” kata Jaja.
Jaja, Gerald, Goni dan Vendi pergi mengikuti langkah kaki Brian, Verdi dan Viktor pergi menuju ruangan Bima di rawat. Aditya segera masuk ke dalam ruangan Bima dan menghampiri Ratna.
“Ada apa Dit?” tanya Ratna.”
“Ada Jaja dan Goni datang kemari, aku ingin mereka tidak tahu kalau aku ada di sini,” ujar Aditya.
“Apa yang harus kita lakukan? Jika mereka mengamuk di sini akan sangat berbahaya,” ujar Ratna dengan wajah cemas.
“Jangan khawatir, mereka tidak akan mengambil resiko membuat keributan di sini, hanya saja aku khawatir mereka punya rencana lain,” ujar Aditya.
“Maksudmu mereka punya maksud lain datang ke sini?”
“Baiklah aku percayakan kakek kepadamu,” kata Ratna.
Rombongan Jaja dan Goni sudah berada di luar ruangan untuk melihat keadaan Bima. Ratna keluar dengan wajah dingin menghampiri mereka semua. Jaja dan Goni hanya tersenyum melihat keadaan Bima yang sedang terbaring lemah, Aditya sendiri bersembunyi di tempat yang tidak tampak dari kaca.
“Dia benar-benar sudah tua,” gumam Jaja.
“Seingatku beberapa tahun yang lalu dia masih berani datang ke kediamanku untuk merebutkan sebuah wilayah,” timpal Goni sambil tertawa kecil.
“Tapi kemampuannya kemarin jelas membuatku ketakutan,” ujar Gerald.
“Kalian ternyata berani sekali membicarakan kakekku di depanku sendiri,” ujar Ratna.
“Jangan begitu manis. Kami hanya memujinya,” jawab Jaja sambil tertawa.
“Jika kalian tidak punya maksud lain lagi seharusnya kalian sudah puas saat ini,” kata Viktor.
“Sebaiknya kita memang pergi dari sini sebelum mereka mengusir kita,” ucap Goni kepada Vendi.
__ADS_1
“Baik Ketua, walau sebenarnya aku yakin bisa menghadapi mereka,” jawab Vendi sambil tersenyum meremehkan.
“Dasar anak baru!” tegas Viktor sambil menatap Vendi tajam.
“Kenapa kamu ke sini malah membawa anak baru seperti dia Gon? Kemana tiga orang terhebat di geng mu itu?” tanya Jaja.
“Aku sedang menghukum mereka karena masih berkomunikasi dengan si penghianat Aditya! karena itu aku lebih percaya dengannya saat ini,” jawab Goni sambil melangkah pergi diikuti oleh Vendi.
“Lu sendiri kenapa masih berdiri di sini?” tanya Viktor sambil menatap tajam Jaja.
“Lu sopan dikit nama sama ketua!” bentak Gerald.
“Jika kalian mau ribut sebaiknya di luar saja!” tegas Ratna dengan wajah penuh amarah.
“Aku ingin mendiskusikan sesuatu dengan kalian semua, tapi kalau kalian tidak tertarik maka jangan salahkan aku jika kalian menyesal,” ucap Jaja.
“Apa maksudmu?” tanya Brian.
“Sebaiknya kita bicarakan di luar saja sambil makan, biar aku yang membayarnya,” ujar Jaja sambil tersenyum licik.
“Jika itu hanya perbincangan murahan aku tidak akan ikut,” kata Ratna.
“Terserah, tapi kemungkinan geng kalian akan mengalami kerugian besar jika semua petinggi tidak berunding semuanya. Bukan hanya perpecahan saja yang akan kalian dapatkan nantinya,” gertak Gerald.
“Jangan coba macam-macam dengan kami!” tegas Viktor.
“Kami serius, terserah kalian ikut atau tidak kami tunggu di restoran seberang rumah sakit,” kata Gerald sambil pergi mengikuti langkah Jaja. Ratna dan ketiga petinggi geng Merak lainnya saling berpandangan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Verdi.
“Sebaiknya kita ikuti kemauan mereka, lagipula sejak awal aku sudah menduga kalau kedatangan mereka kemari bukan semata-mata untuk menjenguk ketua,” ucap Brian.
“Lalu ketua bagaimana?”
“Kita tempatkan saja beberapa anak buah kita di sini untuk menjaganya.”
Mereka semua mengangguk dan sepakat dengan usulan Brian itu sendiri, terlebih Ratna juga percaya bahwa Aditya akan menjaga keamanan kakeknya. Ratna sendiri mulai khawatir dengan apa yang akan dibicarakan oleh Jaja nantinya. Mereka kemudian pergi menuju restoran setelah dua orang anggota geng Merak berjaga di pintu ruangan Bima. Brian juga menginstruksikan mereka kalau ada hal yang mencurigakan harus segera menghubungi dirinya.
Dua orang itu mengangguk paham. Anggota geng Merak lainnya berkumpul di tempat parkir rumah sakit sambil siaga kalau nantinya terjadi hal yang tidak diharapkan. Dari kejauhan terlihat seorang pria terus memperhatikan ruangan tempat Bima di rawat sambil tersenyum licik.
__ADS_1
BERSAMBUNG…