
Vivi datang dengan napas tersengal-sengal. Aditya berusaha untuk menyuruhnya tenang dulu sebelum berbicara. Tampak wajahnya begitu cemas. Ratna menanyakan siapa Vivi kepada Aditya. dia hanya menjawab jika Vivi adalah temannya saat balapan tadi sebelum bertemu dengan Ratna.
“Sudah tenang Vi?” tanya Aditya. setelah Vivi meminum air yang diberikan Clarissa.
“Sudah Wir,” Jawab Vivi karena Aditya memang mengaku sebagai Wira kepada Vivi.
“Wir?” gumam Clarissa heran.
“Lalu ada apa kamu terburu-buru begitu datang kemari?” tanya Aditya dengan cepat sebelum Clarissa mengungkapkan keheranannya.
“Itu, aku dengar tadi ada yang mau ngabisin kalian, sebaiknya pergi dari sini,” jawab Vivi dengan wajah cemas.
“Ngabisin? Memangnya kami makanan apa,” ujar Ratna sambil tertawa kecil.
“Serius! Tadi aku denger sendiri kata-kata orangnya,” kata Vivi dengan serius.
“Siapa yang bilang seperti itu Vi?” tanya Aditya.
“Ada di sana tadi. Kelihatannya dia orang hebat gitu, soalnya dipanggil Bos.”
“Bos?”
“Iya, pokoknya kalian dalam bahaya! Sebaiknya cepat pergi dari sini.”
Aditya mulai menangkap maksud dari perkataan Vivi. Dia pikir penyelenggara balapanlah yang ingin menghabisinya. Walaupun alasan yang lebih jelasnya belum dia ketahui secara pasti. tapi perkataan Vivi kelihatannya sangat masuk akal. Dengan cepat Aditya menyuruh Clarissa dan Arnold masuk ke dalam mobil. Dia juga menyerahkan ponsel Arnold dan earphone miliknya.
Ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil tampak puluhan orang sudah datang mendekat sambil mengepung mereka dari berbagai penjuru. Jika mereka memaksa untuk maju dengan mobil pun percuma saja, karena orang-orang itu juga membawa tongkat kayu, besi dan semacamnya. Mereka pasti akan menggunakannya untuk menjegal mobil yang mereka kemudikan.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Vivi dengan waspada.
“Sepertinya mau tidak mau kita harus berhadapan dengan mereka,” jawab Ratna sambil tersenyum.
“Di mana teman priamu tadi?” tanya Aditya.
“Dia kusuruh pulang duluan,” jawab Ratna.
“Kelihatannya kita kalah jumlah,” gumam Aditya.
__ADS_1
“Aku sudah lama tidak merasakan situasi seperti ini,” ujar Ratna sambil tertawa.
Mereka bertiga tampak waspada, sedangkan Clarissa dan Arnold berada dalam mobil dengan wajah pucat. Mereka tidak menyangka jika akan berada dalam situasi seperti itu. Bagaimanapun, melihat puluhan orang sangar sambil membawa kayu, besi dan yang lainnya benar-benar membuat nyali mereka menciut. Aditya pikir mungkin saja Clarissa mulai merasa menyesal karena terlibat dalam balapan itu.
Seorang pria dengan membawa tongkat besi maju dari barisan orang yang mengepung mereka itu. Dari penampilannya bisa dipastikan kalau pria itu adalah Bos dari puluhan orang sangar yang ada di sana. Sambil tersenyum nakal mata pria itu menatap Ratna. Dengan santai dia berjalan mendekati Ratna.
“Wah. Sayang sekali jika wanita secantik dirimu terlibat dalam masalah seperti ini. Bagaimana kalau kamu ikut denganku? Aku jamin kamu akan aman, malah kamu akan bersenang senang,” kata pria itu sambil mengelus pipi Ratna.
“Sayang sekali, aku bukan wanita murahan yang akan ikut begitu saja,” jawab Ratna.
“Oh. Sayang sekali, sebenarnya kami tidak perlu persetujuanmu. Kami bisa membawamu dengan paksa,” jawab si pria sambil memutari Ratna.
“Kalau kalian bubar dari sini, aku mungkin akan mempertimbangkan permintaanmu,” kata Ratna sambil tersenyum menatap Aditya.
Aditya pikir mungkin saja Ratna sudah memiliki rencana sendiri agar bisa lolos dari situasi berbahaya seperti ini. Bagaimanapun, menghadapi puluhan orang bukanlah hal yang mudah. Tapi jika saja Ratna dan Vivi bisa membantu menghadapi mereka maka kemungkinan ceritanya akan berbeda.
“Aku sebenarnya ingin menuruti keinginanmu, tapi sayangnya aku harus menolak. Untuk apa kami harus menurutimu jika dengan mudah kami bisa membawamu?” tanya si pria sambil tertawa.
“Sayang sekali, berarti aku tidak punya pilihan lain,” kata Ratna. Dengan cepat dia menghantam leher si pria dan mematahkan lengannya. Pria itu terkapar di tanah tak sadarkan diri.
“Bukan begitu?” tanya Ratna kepada Aditya sambil tersenyum, tongkat besi pria itu sudah ada di tangannya.
“Kelihatannya kamu benar,” jawab Aditya sambil tersenyum lega. Ternyata Ratna bisa diandalkan juga.
“Keparat lu wanita busuk!” teriak seorang pria.
“Ris, Nold. Kalian sembunyi di bawah! Jangan sampai kalian melihat keluar! Jika kalian menengok sedikit saja kepala kalian bisa melayang!” perintah Aditya.
Mendengar perintah Aditya yang menyeramkan seperti itu, Clarissa dan Arnold tidak punya pilihan lain selain menurutinya. Padahal Aditya sengaja menakut nakuti mereka seperti itu agar mereka tidak mengetahui kemampuannya. Terlebih keributan kali ini kemungkinan akan terlihat terlalu keras untuk anak seumuran mereka. Vivi menghunuskan pisaunya. Sedangkan Ratna tersenyum menantang. Aditya memasang kuda-kuda dengan tangan kosong.
Beberapa pria tampak maju menyerang bersamaan. Namun dengan cepat mereka semua menjerit karena berhasil dihajar oleh mereka bertiga. Orang-orang itu mulai sadar kalau mereka bertiga memang tidak bisa dianggap remeh. Dua orang menyerang Vivi namun dengan lincahnya Vivi memainkan pisaunya dan berhasil menyayat bagian tubuh mereka. Melihat hal itu Aditya pikir orang-orang itu lebih lemah dari teman-teman Vivi.
Kemungkinan besar mereka hanyalah preman biasa yang direkrut untuk ikut berpartisippasi dalam menyelenggarakan balapan. Tiga pria maju menyerang Aditya sambil mengayunkan balok kayu dan besi. Namun dengan mudahnya Aditya menghindar dan menghantam leher mereka. Aditya kini memegang tongkat besi di tangan kirinya dan tongkat kayu di tangan kanannya.
“Ternyata kamu cukup hebat juga Mr. 63,” ujar Ratna sambil tersenyum.
“Aku yang lebih kaget ketika melihat kemampuanmu. Sebenarnya siapa dirimu?” tanya Aditya.
__ADS_1
“Aku hanya pembalap terkenal yang kebetulan bisa beladiri,” jawab Ratna.
“Begitu ya. Vi. Aku percayakan mereka berdua kepadamu!” teriak Aditya.
“Apa maksudmu?” tanya Vivi.
“Kami berdua akan maju sedikit untuk menarik perhatian mereka. Aku yakin kebanyakan dari mereka akan mengincar kami. Karena itu aku serahkan sisanya di sini kepadamu,” kata Aditya. dia punya rencana untuk membawa keributan menjauh dari tempat Clarissa dan Arnold.
“Baiklah,” jawab Vivi.
Aditya dan Ratna maju untuk memancing para orang sangar itu untuk menjauh dari sana. Tujuan Aditya tidak lain agar setidaknya Clarissa dan Arnold sedikit aman. Jika bisa malah Aditya berharap mereka untuk pergi menjauh sambil meminta bantuan. Karena jelas mereka berdua saja tidak akan mampu menghadapi orang sebanyak itu.
Semua orang sangar itu kebanyakan mengikuti langkah Aditya dan Ratna. Aditya hanya tersenyum karena tampaknya rencananya akan berjalan dengan baik. beberapa orang maju serentak menerjang ke arah Aditya sambil mengayunkan senjata mereka mengarah ke kepala. Namun Aditya mengelak kebawah dan menghantam kaki mereka dengan besi dan kayu.
Dua orang maju hendak menangkap Ratna. Tampaknya mereka semua masih terobsesi untuk menangkap Ratna hidup hidup. Paras cantik dan tubuhnya yang hot memang mampu menggoda setiap pria yang melihatnya. Ratna hanya tersenyum sambil mengayunkan tongkat besinya hingga beberapa orang terluka di kepalanya. Ratna kembali mundur. Punggung Aditya dan Ratna saling bersentuhan.
“Jadi wanita cantik ternyata enak juga ya,” seloroh Aditya.
“Kamu memangnya mau jadi wanita?” tanya Ratna sambil tertawa kecil.
“Tapi bagaimanapun, situasi kita saat ini laiknya pemeran utama dalam film action,” kata Aditya.
“Mungkin yang kurang hanya kamera saja,” timpal Ratna.
“Tapi jika memang pemeran wanitanya secantik dirimu kelihatannya aku rela jadi pemeran utama prianya walau tidak dibayar.”
“Dasar pria gila. Di situasi berbahaya seperti ini sempat-sempatnya berkata seperti itu,” kata Ratna sambil tertawa.
“Jangan sok santai seperti itu ya!” teriak seorang pria yang iri melihat Aditya berdampingan dengan Ratna.
“Kelihatannya ada yang cemburu,” ujar Aditya sambil maju menghajar pria itu.
Ratna mulai kagum dengan kemampuan beladiri Aditya. begitu juga dengan Aditya, dia tidak menyangka wanita secantik Ratna bisa berkelahi seperti itu. Beberapa orang maju lagi untuk menangkap Ratna.
Namun lagi-lagi mereka harus tersungkur dengan mudah setelah menerima serangan dari Ratna. Sedangkan Aditya tampak kesusahan karena kali ini dia harus menghadapi banyak orang sekaligus.
BERSAMBUNG…
__ADS_1