
Sean menatap tajam pada Luna. Dia tidak suka anak dan juga calon istrinya dihina oleh Luna begitu saja di depannya. Mood Sean langsung rusak saat ini, dia segera berdiri untuk segera meninggalkan Luna. Sean tidak ingin lagi ada di tempat ini.
“Jangan lagi menghina Ellena dan anaknya! Aku ga mau denger!” ucap Sean kesal.
“Kenapa? Emang apa bagusnya mereka. Mereka ga sama kaya kita Sean.”
“Sudah!! Kamu bener-bener bikin mood aku rusak. Aku pergi dulu!” ucap Sean tegas sambil menahan emosinya.
“Sean! Sean! Kamu mau ke mana?” teriak Luna karena Sean sudah melangkah pergi.
“Bukan urusan kamu!”
Sean segera pergi meninggalkan kamar Luna. Dia tidak ingin lagi mengurusi wanita yang selalu membuatnya kesal itu. Kalau bukan karena sang mama yang terus saja memaksa dia membantu Luna, sudah dari dulu Luna dia tinggalkan.
Luna masih menatap ke arah pintu keluar kamarnya sampai Sean menghilang. Dia merasa sangat kesal saat ini pada Sean yang sangat tampak membela Ellena meskipun tidak secara terang-terangan.
Sean segera berpamitan pada Maya saat dia berpapasan dengan wanita paruh baya itu di lantai dasar. Sean sedang tidak mood untuk meneruskan pembicaraan dengan Luna karena wanita itu terus saja memancing emosinya.
“Sean, makasih ya kamu masih mau ke sini pagi ini,” ucap Maya yang mengantar Sean ke teras rumah.
“Ga papa, Tante. Tapi saya mohon agar Luna kembali intens meneruskan konsultasinya. Jangan terlalu mengharapkan Sean, Tan. Sean juga punya kehidupan sendiri dan sibuk sejak pindah ke sini. Sean harap, Tante bisa mengerti,” pinta Sean sebelum masuk ke dalam mobilnya.
“Iya Sean, Tante akan membujuk Luna untuk segera melakukan lagi terapinya.”
Sean segera masuk ke dalam mobilnya yang pintunya sudah dibukakan oleh Mathias. Mobil itu segera meluncur ke kantor tempat Sean bekerja dan akan menemui pujaan hatinya. Untuk mengembalikan mood-nya yang sempat rusak, Sean melihat foto Nathan dan juga Ellena yang menjadi penghuni penting ponselnya.
Melihat foto dan video lucu Nathan yang dikirimkan Ellena padanya pagi ini ternyata mampu membuat mood-nya sedikit membaik. Sean sudah mulai tersenyum melihat orang kesayangannya itu bahagi.
***
Sementara itu di rumah Ellena, wanita itu tampak sedang memasak nasi goreng untuk sarapan dengan sangat senang hati. Hatinya masih hangat setelah kejadian tadi malam. Kejadian yang sangat membuatnya tersanjung sebagai seorang wanita.
Siska yang sedang menemani putrinya memasak itu juga sedang menikmati wajah sang putri dengan keheranan. Dia melihat Ellena tidak seperti biasanya pagi ini. Wajahnya selalu tersenyum sendiri bahkan terkadang bersemu merah juga. Siska curiga telah terjadi sesuatu yang baik tadi malam pada putrinya.
__ADS_1
“Ell, kamu kenapa?” tanya Siska.
“Hmm ... kenapa, Bu?” tanya Ellena balik.
“Kamu itu kenapa?”
“Ellena ga papa kok, Bu. Emang Ellena kenapa?” tanya Ellena balik.
“Kamu senyum-senyum sendiri itu kenapa?” tanya Siska.
“Eeh ini ... ga papa kok. Nanti kalo Ellena sedih, Ibu nanya kenapa sedih. Sekarang Ellena seneng juga ditanya, kenapa kok seneng. Bingung kan jadinya,” ucap Ellena sambil mengangkat penggorengan dari atas kompor.
“Ya kamu kelebihan senengnya. Jadi kan Ibu kepo banget. Ini pasti ada hubungannya sama kamu pulang tengah malam semalam kan? Kamu pergi sama siapa trus kamu juga ke mana itu?”
“Aduuh ... cerita ga ya? Ibu emang tukang kepo,” ucap Ellena saat dia menyajikan nasi goreng yang sudah berpindah di atas piring itu ke meja makan.
“Ell, Ibu masih nunggu lho,” ucap Siska sedikit keras agar putrinya itu dengar.
“Nanti aja, Bu. Biar ini jadi rahasia dulu. Nanti pasti Ellena cerita.”
‘Nanti Sean bakalan baik lagi ga ya sama aku? Ato semalam emang bagian dari trik dia aja buat mainin aku lagi? Pagi ini aja dia langsung ilang setelah dia dapet foto Nathan. Eh ... tunggu dulu!!’ ucap batin Ellena pagi ini.
Ellena kemudian melihat ke arah Nathan yang sedang duduk santai sambil melihat siaran kartun di TV sambil mengunyah makanan. Ellena jadi teringat tentang keinginan Sean untuk mengambil Nathan dari tangannya. Tentu saja itu adalah hal yang sangat tidak dia inginkan dan pasti akan dia pertahankan.
“Sean ga akan bisa ambil Nathan dari aku. Hmm ... tapi apa benar dengan tawarannya yang kedua itu. Apa dia beneran mau nikahin aku? Ya meskipun itu hanya demi Nathan punya orang tua lengkap,” gumam Ellena pelan sambil melihat putranya itu.
“Mama ... mau mamam lagi,” ucap Nathan sambil menepuk tangan Ellena.
“Eeh iya ... maap ya ganteng. Mama jadi lupa, sini buka mulutnya dulu,” ucap Ellena yang segera menyuapkan nasi goreng lagi untuk putranya.
Setelah selesai menyuapi Nathan, seperti biasa Ellena akan segera bersiap untuk berangkat ke kantor. Dia harus segera berangkat ke kantor lebih pagi karena pagi ini akan ada rapat bersama para atasannya. Ellena yang sedang dalam masa promosi mulai dilibatkan dalam rapat bersama mereka.
Ellena tiba di kantor saat beberapa pegawai masih ada yang bersantai di lobi kantor. Jam kantor masih sekitar 30 menit lagi baru akan dimulai, jadi masih ada beberapa pegawai yang memilih mengobrol bersama teman-temannya di lobi.
__ADS_1
“Cinderella kok tetep berangkat pagi ya? Kirain bakalan dapat surat sakti dari bos.”
“Aku pikir juga gitu. Taunya ... tetep jadi upik abu.”
“Iya bener. Eh tapi ada berita yang lebih panas dari itu.”
“Apaan?”
“Iya ... apaan?”
Suara-suara yang selalu ramai di belakang Ellena tetap saja terdengar. Suara yang mengejek Ellena karena datang ke pesta Sean beberapa waktu yang lalu. Namun Ellena berusaha untuk tidak memedulikan semuanya. Dia tetap seperti Ellena yang dulu saat bekerja.
Tapi Ellena juga jadi penasaran dengan gosip baru yang ada di kantor ini. Gosip yang sepertinya lebih tenar dari pada gosip tentang Cinderella yang baru saja mencuat itu. Ellena berharap gosip tentang dirinya itu bisa segera teralihkan.
“Apaan sih gosipnya? Jangan bikin makin penasaran donk.”
“Iya beneer ... kita makin semangat kerja tau ga kalo ada gosip kaya begini.”
“Tau ga ... katanya di kantor kita ini ada pelakor!” ucap si biang gosip itu.
“Haah!! Seriusan? Jangan asal kamu.”
“Beneran ... tapi nanti deh aku kasih tau siapa pelakornya. Seru pokoknya.”
“Duh ... jangan bikin penasaran napa sih, siapa pelakornya?”
“Jangan sekarang, gosipnya masih tipis-tipis. Nanti aja kalo udah makin santer beritanya. Tapi pastinya ga akan lama lagi bakalan pecah.”
“Duuh ... bikin penasaran aja kan jadinya.”
Rania yang sedang ada di samping Ellena saat sedang ada di dalam lift itu pun segera menyenggol bahu sahabatnya itu dengan bahunya. Dia seolah ingin memberikan kode pada sahabatnya itu tentang apa yang dibicarakan orang di belakang mereka berdua.
“Ell, siapa pelakornya? Bukan kamu kan?” tanya Rania sambil berbisik.
__ADS_1
Bersambung....