
Hari ini geng Serigala sedang berusaha merebut empat wilayah milik geng Merak. Viktor dan Brian pergi menuju arah yang berdekatan, di sana mereka akan berusaha menghadapi Edgard dan Gerald. Sedangkan Ratna berangkat bersama Verdi ke arah yang sama mereka akan berbagi tugas untuk melindungi dua wilayah yang berdekatan. Di sana mereka berdua akan menghadapi Tri dan Gilang.
“Kita berpisah di sini. Apa kamu yakin akan melawan gilang dan anak buahnya?” tanya Verdi.
“Tenang saja, aku yakin kami bisa menahannya. Terlebih jumlah anggota yang aku bawa lebih banyak dari yang lainnya. Sejauh ini aku lihat rencana Brian cukup berhasil,” jawab Ratna.
“Tapi aku khawatir kalau musuh lebih kuat dari kita, mana jarak kita dengan bang Viktor dan Brian sangat jauh,” ujar Verdi.
“Kamu jangan khawatir, aku yakin rencana Brian akan sukses. Kita pasti akan bisa menghalau semua geng Serigala itu.”
Verdi hanya mengangguk. Dia kemudian pergi mengendarai motor bersama puluhan anak buahnya menuju wilayah yang akan dia lindungi. Ratna mengemudikan mobilnya diikuti puluhan anak buahnya menuju wilayah yang akan mereka lindungi. Ketika sampai di sebuah restoran Ratna dan anak buahnya berhenti.
“Kenapa bos?” tanya seorang pria.
“Ada yang tidak beres di sini,” jawab Ratna dengan wajah yang pucat.
“Memang benar, restoran ini juga merupakan jantung wilayah kita di sini, tapi situasi di sini malah terlihat sangat sepi. Kemungkinan mereka menunggu kita di tanah yang agak luas,” timpal seorang anak buah Ratna sok tahu.
“Ah mungkin karena hari masih sore,” ujar yang lainnya.
“Bukan, yang aku maksud adalah itu,” jawab Ratna sambil menunjuk sebuah mobil yang terparkir di depan restoran.
“Apa maksudnya bos?”
“Itu adalah mobil Gerald,” jawab Ratna.
“Apa bukankah menurut informan kita seharusnya lokasi yang akan direbut Gerald adalah wilayah yang akan dilindungi bos Viktor?”
“Karena itu aku heran, aku yakin ada yang tidak beres dengan semua ini.”
__ADS_1
“Mungkin itu hanya mobil yang mirip atau mobilnya digunakan oleh si Gilang.”
“Aku juga berharap begitu,” jawab Ratna sambil merenung.
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang bos?”
“Brian sudah menyusun rencana untuk kita. Lihatlah dia sudah mengelompokan kalian menjadi beberapa kelompok. Setelah tahu pos masing-masing kalian pergi ke sana, usahakan lindungi area penting wilayah sekitar pos terutama pasar parkiran dan terminal,” jawab Ratna sambil menyerahkan beberapa lembar kertas berisi nama para anggota yang dibawa Ratna ke sana.
“Ingat jika kalian bertemu dengan kelompok yang dipimpin langsung oleh petinggi geng Serigala kalian harus segera menghubungiku. Nanti aku dan kelompokku akan segera menyusul ke lokasinya,” tambah Ratna.
“Baik!” jawab semua anak buahnya.
Kemudian mereka semua berpencar menuju pos masing-masing sesuai dengan instruksi Brian. Kini hanya tersisa kelompok Ratna yang berada di halaman restoran itu, jumlahnya kurang lebih dua puluhan. Dibandingkan kelompok lain yang berpencar, kelompoknya adalah yang paling banyak, Brian sengaja merencanakan hal itu untuk mengimbangi kemampuan Gilang.
“Agar tidak menarik perhatian polisi dan warga sekitar kalian bisa pura-pura mengobrol santai dalam kelompok kecil, lima orang ikut aku ke dalam untuk mencari orang yang membawa mobil ini. Satu orang diam di dekat pintu masuk untuk memberikan isyarat kepada yang berpencar jika di dalam terjadi sesuatu,” perintah Ratna. Mereka semua mengangguk.
Ratna diikuti lima orang masuk ke dalam restoran. Terlihat semua perhatian tamu tertuju kepada Ratna yang memang terlihat begitu cantik. Para staf restoran yang memang sudah tahu siapa Ratna segera datang menghampiri sambil menawarkan makanan gratis. Tapi Ratna menolaknya dengan alasan dia ingin melihat lihat keadaan restoran dulu.
“Mustahil, kita harus melawan wakil ketua geng Serigala,” bisik seorang anak buah Ratna.
“Bagaimana mungkin. Bukankah harusnya dia dihadapi oleh bos Viktor?”
“Celaka,” ujar Ratna sambil berbalik hendak kembali ke lantai satu. namun di eskalator sudah berdiri dua orang pria sangar sembari menatap Ratna dan anak buahnya.
“Sesuai perkiraanku, kamu akan mencariku kemari, Mentarinya Bandung,” ucap Gerald sambil tertawa.
“Sekarang kalian tidak akan bisa lolos, ruangan lantai tiga ini hampir dipenuhi oleh geng kami loh,” ucap anak buah Gerald.
“Jadi kalian sengaja memilih lantai tiga ini agar kami tidak melakukan kontak dengan rekan kami yang ada di luar ya?” tanya seorang anak buah Ratna.
__ADS_1
“Kita sudah terjebak,” kata yang lainnya.
“Cih! Aku harus menghubungi Brian sekarang juga,” batin Ratna namun ketika tangannya hendak mengambil ponsel tiba-tiba saja seorang anak buah Gerald maju menyerang tapi dihalau anak buah Ratna.
“Biarkan saja dia mau menelepon siapapun, saat ini semuanya sudah terlambat. Asal kamu tahu Ratna. Sejak awal kalian memang sudah masuk perangkap kami, bahkan semua strategi kalian sudah kami ketahui. Sekarang ini Brian, Viktor dan anak buahmu yang menyebar juga pasti sudah babak belur. Menyedihkan sekali ternyata tanpa Bima kalian hanyalah sampah!”
“Sekarang kamu sudah terlambat untuk menelepon siapapun, pilihanmu hanya satu yaitu menyerah,” ucap Gerald sambil tertawa bersama semua anak buahnya.
:”Kalian terlalu meremehkan kami! Lu semua pasti akan menyesal setelah tahu kehancuran geng kalian!” bentak Ratna.
“Hahaha, daripada kamu marah-marah begitu kenapa tidak makan saja? Biar nanti kamu bertenaga saat menemui Ketua,” ucap Gerald.
“Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi! Kami akan membela bos kami sampai mati!” teriak anak buah Ratna sambil menyerang Gerald namun dia dilindungi oleh anak buahnya.
Perkelahian yang tidak seimbang terjadi. Ratna dan lima anak buahnya mencoba melawan belasan anak buah Gerald. Kemampuan Ratna memang diatas rata-rata wanita lainnya hingga bisa menumbangkan beberapa anak buah Gerald. Hingga Gerald harus turun tangan menghadapi Ratna.
Seberapa keras pun usaha Ratna dan anak buahnya melawan mereka sama sekali bukanlah lawan sepadan bagi Gerald. Dengan mudah dia menangkap Ratna lalu mengikat tangannya sedangkan lima anak buahnya sudah babak belur tidak sadarkan diri.
“Lihatlah apa yang terjadi dengan semua anak buahmu yang ada di bawah!” ucap Gerald sambil membawa Ratna ke dekat kaca lantai tiga.
“Mustahil, bagaimana bisa mereka bisa berkumpul sebanyak ini di sini,” ujar Ratna dengan wajah pucat ketika melihat semua anak buahnya sudah babak belur. Di halaman restoran kini dipenuhi oleh puluhan anggota geng Serigala.
“Selain mereka, semua anak buahmu yang berpencar juga sudah berhasil dilumpuhkan. Menyedihkan sekali bukan? Aku yakin bahkan Brian dan Viktor juga sangat terkejut dengan surprize yang aku buat ini. Yah tapi ini semua berkat merak berbulu serigala yang telah kalian perlihatkan,” jelas Gerald sambil tertawa puas.
“Kakek, maafkan aku,” gumam Ratna dengan berlinang air mata.
“Hei jangan menangis gitu dong, sebentar lagi kamu akan bersenang-senang dengan Ketua loh,” ucap Gerald sambil tersenyum licik.
Ratna hanya terdiam ketika dia dibawa oleh Gerald dalam keadaan terikat menuju ke lantai satu. Gerald kemudian memasukan Ratna ke dalam mobilnya untuk dipersembahkan kepada Jaja. Ratna hanya bisa menangis saat ini, dia sudah tidak mampu melawan lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG…