
Frita cemas saat pagi itu Aditya berdandan rapi dengan setelan terbaiknya untuk upacara pemakaman Setiawan Budi. Pandu tak berkata selain meminta kepada Aditya: “Jangan ladeni apa yang mereka inginkan.”
Aditya paham maksudnya. Jangan lakukan kekerasan apa pun dan hindari peluang membuat masalah.
“Ya, Pa, saya mengerti,” jawab Aditya pelan.
Paman Salim tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya tahu Aditya kini datang melayat ke pemakaman orang yang dulu di masa lalu pernah beliau permalukan. Paman Salim cuma bilang, “Hati-hati di jalan, Dit.”
Frita yang tegas menolak rencana ini sejak semalam. Ia tak ingin Aditya lagi-lagi terpancing permainan keluarga jahat itu. Aditya bilang, “Keluarga itu kini tak lagi tersisa, Frit. Mereka yang mengundangku hanya bekas anak buah Setiawan Budi.”
“Mereka jelas masih punya dendam padamu, Mas!” sahut Frita.
“Ya, mungkin benar. Tapi aku akan berhati-hati. Aku janji,” jawab Aditya.
Ia menenangkan sang istrinya ini. Ia bilang kalau mungkin dengan cara ini mereka bisa diajak berdamai. Frita tak yakin, meski melepas pergi Aditya pada akhirnya.
***
Aditya pergi bersama Rahman Sugandi dan Rinda. Sesuai janji mereka waktu itu. Ia menunggu keduanya masuk ke mobilnya saat Aditya berhenti di depan sebuah parkiran mini market.
“Kenapa lama sekali?” tanya Aditya begitu Guru Tanpa Nama mengintip dari balik jendela depan.
“Ya, perutku agak mulas pagi ini,” jawab Rahman singkat.
“Di mana Rinda?” tanya Aditya mencari-cari ke sana kemari dengan sepasang matanya yang tajam.
“Tidak ada di sini kalau kau coba mencarinya,” kata sang guru.
“Dia tidak jadi ikut?”
“Jadi dong. Sudah, kita berangkat segera,” tukas Guru Tanpa Nama masuk ke kursi penumpang di sisi kiri Aditya, lalu memasang sabuk pengaman.
Aditya tak bertanya lagi soal Rinda. Gadis itu mungkin berangkat sendiri. Tak tahu mungkin dia kali ini jadi mata-mata saja atau entah bagaimana. Aditya memutuskan tak berpikir terlalu banyak.
“Anggap saja kita sedang pergi ke acara rutin pemakaman keluarga sendiri,” kata Guru Tanpa Nama. “Tak ada musuh. Tak ada bahaya. Tak ada sesuatu yang perlu untuk dirisaukan. Lalu kita pulang dengan aman satu jam kemudian.”
__ADS_1
“Ya, saya juga berpikir begitu. Tapi setengah jam saja cukup,” sahut Aditya.
“Baiklah, setengah jam. Lagian kita juga tak tahu mau ngapain saja selama satu jam di sana, ya.” Guru Tanpa Nama terkekeh.
***
Mereka tiba di rumah duka khusus yang disediakan Hestu dan para anak buahnya. Sebuah gedung yang biasa dipakai untuk resepsi pernikahan. Itu bukanlah tempat yang cocok untuk melayat seharusnya. Tetapi, Aditya dan Rahman Sugandi tak berkomentar apa-apa begitu mereka turun dari mobil di halaman parkir.
Entah berapa banyak tamu undangan yang hadir di sana. Terlihat banyak orang dari area parkir berjalan menuju gedung. Di teras gedung itu banyak orang antre memasuki aula utama tempat di mana jasad Setiawan Budi disemayamkan setelah proses otopsi dua hari lalu. Mereka semua berpakaian serba hitam, termasuk Aditya juga. Hanya Guru Tanpa Nama yang tampak mencolok di acara hari itu. Beliau mengenakan setelan rapi berwarna putih terang.
“Pak Gandi tidak ada pakaian yang lebih tidak mencolok?” tanya Aditya yang baru saja menyadari kemencolokan sang guru.
“Tentu ada, Dit. Aku punya banyak malah. Kau tahu uangku cukup banyak, apalagi setelah aku pensiun,” jawab Guru Tanpa Nama santai.
“Lalu kenapa pakai setelan putih sih?” tanya Aditya agak sebal.
“Yah, karena memang sengaja. Orang meninggal tak seharusnya kita lepas dengan pakaian serba hitam. Itu tak bagus, menurut pendapatku pribadi. Mereka harus pergi ke alam baka dengan tenang. Putih adalah warna yang tepat.”
Perkataan Guru Tanpa Nama sungguh tak bisa membuat Aditya tenang. Apalagi sang guru segera menjadi pusat perhatian para tamu lainnya tak lama kemudian.
Itu ia katakan pada seseorang yang duduk di meja teras, tempat di mana para tamu bisa tanda tangan sebagai tanda kehadiran. Setelah itu sang guru melangkah seolah tanpa beban ke dalam aula utama. Aditya cuma bisa menepuk jidat. Untunglah perhatian itu tak terlalu tajam mengarah pada mereka.
Kini Aditya dan Guru Tanpa Nama sudah menemukan tempat duduk mereka. Dia bisa melihat sosok Hestu di seberang ruangan, sedang berdiri, bersiap untuk berpidato. Sebuah pidato terakhir untuk melepas sang mafia tua yang kehabisan jatah waktu hidup di muka bumi ini.
“Saya mewakili segenap keluarga besar Setiawan Budi, mengucapkan terima kasih untuk sahabat dan rekan semua yang hadir di sini. Saya ingin mengatakan sesuatu yang tak terlalu panjang tentang mendiang Bos kami di sini. Beliau adalah orang yang hebat. Sosok panutan yang membuat para pemuda terguncang untuk bekerja lebih keras!” kata Hestu di depan mikrofon.
Ia terus berkata-kata seolah kalimat yang dituliskan di sehelai kertas yang kini dia pegang tak ada ujungnya.
Entah kata-kata apa lagi yang meluncur dari bibir kering Hestu itu. Aditya ogah mendengarkan, jadi ia lebih fokus menatap ke sekitar, mencari tahu siapa saja yang dia kenal di ruangan itu.
Aditya menangkap beberapa sosok dari masa lalunya, sosok seperti Dewa yang dia dulu temui di ruang karaoke bersama Rama Subandi. Sosok-sosok yang tak asing bagi matanya di kemiliteran. Kini mereka tampak bekerja di ‘perusahaan’ gelap milik sang mendiang Setiawan Budi. Artinya mereka kini bersimpuh di depan Hestu.
Entah Aditya tak tahu harus berkata apa. Beberapa orang itu dulu juga sempat jadi panutannya, seperti halnya Dewa. Mereka ada tak kurang dari lima orang. Ada juga dua sosok bertampang Jepang, yang sejak awal selalu berdiri berdekatan, di tempat gelap di pojok ruangan. Sosok-sosok yang Aditya pikir juga orang penting di kelompok penjahat ini.
“Kau sedang ngapain, Nak?” bisik Guru Tanpa Nama secara tiba-tiba, membuat lamunan Aditya terpecah.
__ADS_1
“Sedang mengamati siapa saja yang mungkin akan kita hadapi hari ini, Pak Gandi,” jawab Aditya.
“Kau tak berharap bertarung dengan mereka semua, kan?” sahut sang guru.
“Tentu saja tidak! Tidak untuk hari ini atau sampai kapan pun. Tapi saya tetap saja harus waspada,” tukas Aditya.
“Ya, memang,” ujar Guru Tanpa Nama.
Mereka sama-sama mengamati situasi sekeliling. Tak jauh dari bagian di mana para tamu mendapat tempat duduk mengitari peti di mana Setiawan Budi disemayamkan, , dan hanya terbatas oleh jarak beberapa meter saja, ada bagian khusus yang disediakan untuk jamuan spesial.
Ada beberapa pelayan di bagian itu, tampak menyiapkan hidangan lezat yang entah apa saja. Namun kursinya tak sebanyak kursi untuk para pelayat. Seperti hanya tamu tertentu saja yang dijamu di sana nanti.
“Ini sungguh terasa aneh,” batin Aditya.
Ia merasa tak nyaman ketika akhirnya pidato demi pidato dari orang-orang terdekat Setiawan Budi didengarnya sambil lalu. Ia merasa semakin tak nyaman setelah acara itu akhirnya selesai dan para tamu pelayat undur diri untuk segera pulang.
Sebab, Hestu dan Nino, juga dua orang Jepang misterius tadi, menghampiri mereka berdua.
Aditya tahu, pada titik ini, mereka jelas menghadapi sesuatu yang tak dia inginkan.
“Terima kasih sudah datang, Dit,” sapa Hestu.
“Sama-sama. Kami harus segera pamit. Ada keperluan lain yang mendesak,” kata Aditya.
“Keperluan apa? Jangan dulu pamit. Mari ikut kami makan dulu di bagian itu,” ujar Hestu sambil menunjuk ke meja dengan banyak pelayan tadi. Tampak di sana ada para tamu yang terlihat seperti pengusaha-pengusaha tenar juga berbaris mengambil sajian yang disuguhkan.
“Baiklah, tapi kami tak bisa lama-lama,” tukas Guru Tanpa Nama.
Hestu tersenyum tipis. Entah apa maknanya. Mereka jelas tak kenal sosok Guru Tanpa Nama, tapi seolah tak peduli. Mereka hanya mau memastikan Aditya sudi dijamu saat ini. Seolah ada sesuatu di balik jamuan ini.
Memang benar, setelah Aditya dan Guru Tanpa Nama mengambil makanan seperti layaknya orang prasmanan, beberapa pelayan wanita menyuguhkan minuman untuk dua orang itu. Dan, Aditya merasa ada yang tak beres dari minuman itu.
Sayangnya, Guru Tanpa Nama telanjur meminumnya. Kepalanya terasa pusing. Tatapan matanya seketika menjadi buram dan gelap dan ia tak sadarkan diri.
Aditya pun tampaknya juga mengalami hal yang sama!
__ADS_1
Bersambung....