
“Ada mereka juga di sini?” tanya Ratna terlihat ragu ketika melihat Frita ada di café itu.
“Ya, kita memang sengaja berkumpul untuk membahas masalah Aditya bersama-sama,” jawab Sherly sambil tersenyum.
“Tapi ...”
“Sudahlah saat ini tujuan kita juga sama,” kata Sherly sambil menarik tangan Ratna agar mau duduk bersama Frita dan Rani.
Mereka berempat kemudian berkenalan, bahkan tanpa di duga Frita juga mengucapkan bela sungkawa kepada Ratna. Sherly dan Rani juga ikut-ikutan walaupun tidak tahu kabarnya karena Aditya memang hanya bilang kepada Frita saja. Ratna terlihat mulai tenang karena sikap Frita yang begitu ramah kepadanya.
“Jadi apa yang bisa aku bantu?” tanya Ratna.
“Aku yakin saat ini kita semua punya keinginan yang sama yaitu bebasnya Aditya. pengadilan meminta jaminan yang sangat besar untuk kebebasannya. Lima puluh triliun bukanlah jumlah yang bisa dikumpulkan sendirian. Karena itu aku ingin kita mengumpulkannya bersama-sama,” jelas Sherly.
“Aku menolak. Maafkan aku kalau urusan itu aku tidak bisa membantu kalian,” kata Ratna sambil berdiri hendak pergi.
“Kenapa? Bukankah kita menginginkannya? Aku tahu kamu juga menyukai Aditya, kenapa kamu tidak mau berusaha untuk kebebasannya?” tanya Sherly.
“Aku akan mengusahakannya, tapi dengan caraku sendiri,” jawab Ratna sambil tertunduk.
“Apa karena surat wasiat kakekmu ini? Aku telah membacanya tadi,” ucap Sherly sambil menaruh secarik kertas yang dia ambil dari tong sampah.
Ratna terdiam tangannya mengepal kuat-kuat. Sementara Frita dan Rani membaca surat itu. Isinya membuat mereka berdua kaget. Karena ternyata Bima berwasiat kepada Ratna kalau permintaan terakhirnya adalah ingin melihat Ratna dan Aditya menikah. Airmata Ratna mulai keluar perlahan.
“Apa karena kamu ingin berjasa sendiri dalam kebebasan Aditya agar kamu bisa mewujudkan permintaan terakhir kakekmu?” tanya Sherly pelan.
“Iya! Aku ingin melakukannya sendiri agar bisa menarik perhatian Aditya. aku sangat ingin mewujudkan keinginan terakhir kakekku satu-satunya! Tapi… tapi aku masih ragu Aditya akan menjadi milikku walau aku sendiri bisa membebaskannya nanti,” ucap Ratna terbata-bata sambil menangis. Dia juga menunjuk ke arah Frita yang terdiam.
__ADS_1
“Apa kalian juga tidak merasakannya? Aku tahu kalau kalian berdua juga menyukai Aditya lalu apa yang akan kalian dapatkan nanti jika kita berhasil membebaskannya? Dia pasti akan tetap memilih dia daripada kita,” tambah Ratna sambil terisak.
Tanpa di duga, Sherly dan Rani juga mulai meneteskan air matanya. Mereka juga sangat mencintai Aditya. mereka bahkan ragu akan bisa menikah dengan pria lain kalau bukan dengan Aditya. melihat suasana itu Frita malah tersenyum sambil berdiri. Dia kemudian memeluk Ratna dengan erat.
“Aku ucapkan terimakasih kepada kalian semua karena telah mengkhawatirkan Aditya. aku benar-benar senang karena kalian ternyata orang-orang yang baik. Untuk saat ini aku hanya ingin meminta do’a kalian agar aku bisa membebaskan Aditya,” ucap Frita sambil meneteskan airmata.
Hati Ratna mulai luluh karena sikap Frita yang jauh dari dugaannya. Dia layaknya seorang kakak yang bersikap lembut kepada Adiknya sendiri.
“Tunggu, aku rasa tidak ada salahnya jika kita melakukannya bersama-sama. Mungkin dengan begitu Aditya akan mengingatku walaupun kami tidak bisa bersama,” kata Ratna ketika Frita hendak pergi meninggalkan café.
“Setidaknya sekarang aku sadar kalau Aditya memang pantas menjadi milik wanita terbaik diantara kami,” batin Ratna sambil tersenyum.
***
Orang-orang berkumpul di ruang persidangan dengan pasrah untuk melihat Aditya yang terakhir kalinya.
“Kita sejauh ini sudah berusaha, tapi kenapa sia-sia. Bukankah usaha itu tidak akan ada yang sia-sia?” gerutu Ratna sambil terbata-bata.
“Aditya,” gumam Frita saat Aditya dibawa ke ruang persidangan dengan pengawalan ketat.
“Kenapa di saat seperti ini kamu malah tersenyum,” ujar Sherly sambil menangis saat melihat Aditya tersenyum ke arah mereka semua sebelum duduk di kursi terdakwa.
Hakim persidangan belum juga tiba. Pukul Sembilan barulah para petugas persidangan hari itu memasuki ruang sidang. Namun di samping mereka juga ada belasan tentara yang berbaris di belakang dua tentara yang terlihat lebih senior.
“Komandan?” gumam Aditya saat melihat seorang pria tua berdiri di ruangan sidang itu.
“Selamat datang kepada semua yang hadir di persidangan ini. Terutama yang terhormat yang mulia hakim selaku pimpinan sidang. Sebelumnya kami mohon maaf karena mengejutkan para hadirin semuanya. Saya Zaki mantan kepala pasukan khusus angkatan darat,” kata pria tua itu di pengeras suara.
__ADS_1
“Saya Malik, kepala pasukan khusus angkatan darat saat ini. Sejak penangkapan saudara terdakwa beberapa hari yang lalu, pihak kami juga ikut mencari bukti dan petunjuk dalam kejadian itu. Tak lain karena saudara terdakwa Aditya Laksmana masih terdaftar sebagai anggota aktif tentara pasukan khusus angkatan darat,” jelas pria di samping Zaki.
Aditya terkejut mendengarnya. Kemudian ia menatap tajam Zaki yang tersenyum kepadanya. Malik kemudian menjelaskan semua kronologis kejadian yang terjadi di perkebunan teh, termasuk beberapa bukti dan petunjuk yang bisa membuktikan kalau itu adalah akibat perbuatan Jaja dan bukanlah perbuatan Aditya.
“Dan perihal pembunuhan yang dilakukan oleh saudara terdakwa ini kepada Jaja. Semua itu sebenarnya adalah perintah saya dahulu walaupun memang baru berhasil dilaksanakan saat ini,” jelas Zaki. Penjelasan itu membuat orang-orang mulai bergaduh di ruang sidang.
Zaki kembali menjelaskan bahwa Jaja adalah Ketua dari organisasi yang menjalankan berbagai kejahatan dan juga menjalankan pasar gelap tempatnya barang-barang illegal. Karena itulah sejak lama mereka berniat menghabisi Jaja karena terlalu susah untuk ditangkap. Dengan penjelasan itu maka nama baik Aditya terbersihkan seutuhnya.
Semua orang di sana bertepuk tangan. Frita, Sherly, Ratna dan Rani saling berpelukan karena bahagia. Hakim juga memutuskan untuk membebaskan Aditya atas semua tuntutan dan hasil pertimbangan mereka semua. Aditya kemudian menangis sambil memeluk Zaki dan Malik.
“Selama ini surat pengunduran dirimu tidak pernah aku tandatangani, anggap saja semuanya tidak pernah terjadi,” kata Zaki.
“Terimakasih banyak komandan.”
“Kalau kamu berniat kembali ke pasukan khusus angkatan darat maka kami akan menerimanya dengan senang hati,” ucap Malik sambil memeluk Aditya.
“Benarkah?”
“Tentu saja, kami tidak ingin orang bertalenta hebat sepertimu pensiun begitu saja,” jawab Malik.
Aditya menangis terharu. Di ruang persidangan. Frita langsung berlari menuju Aditya sambil terisak, dia kemudian memeluk Aditya dengan erat. Mereka berdua terlihat sangat bahagia hari itu. Rani, Ratna dan Sherly hanya tersenyum bahagia dari kejauhan.
“Aku akhirnya menepati janjiku kepadamu, Frita,” bisik Aditya lembut.
“Aku sangat senang Aditya. tapi aku punya satu permintaan,” bisik Frita.
“Apa?” tanya Aditya sambil mengernyitkan keningnya. Frita malah tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Rani, Ratna dan Sherly. Mereka bertiga kemudian menghampiri Frita dan Aditya dengan senang.
__ADS_1