
“Nama saya Dani Mbak,” jawab Dani dengan tegas.
“Kelihatannya kamu cukup meyakinkan untuk menjalankan tugas ini,” ucap Sherly.
“Matamu cukup jeli juga memilihnya,” puji Heni.
“Wah kelihatannya bu Heni juga mempercayai kemampuannya.”
“Tentu saja, dia adalah anggota dari bagian keamanan. Kemampuan beladirinya bisa dibilang di atas rata-rata,” jelas Heni.
Sherly kemudian berjalan ke arah yang lain. Matanya terus menatap semua orang satu persatu seolah bisa mengukur kemampuan mereka. Ketika matanya berpindah ke barisan paling belakang matanya fokus kepada sosok yang cukup familiar baginya.
“Aditya?” gumam Sherly pelan hingga tidak terdengar oleh orang lain.
Aditya menyadari jika Sherly terus memperhatikannya, namun dia memilih untuk diam saja. Sherly berjalan mendekatinya. Dari sikapnya Aditya merasa jika Sherly mencoba untuk tidak menunjukan bahwa dia mengenalnya.
“Siapa namamu?” tanya Sherly.
“Aditya Laksmana,” jawab Aditya.
“Kamu orang kedua yang akan ikut menjalankan tugas ini,” ucap Sherly sambil melangkah kembali ke dekat Heni.
“Kenapa kamu malah memilih Aditya?” tanya Heni penasaran.
“Memangnya kenapa bu?”
“Dia itu kurang bisa diandalkan, tadi pagi saja dia datang terlambat. Kemampuannya bahkan di bawah rata-rata.”
“Tidak masalah sih bu. Lagipula aku rasa tugas mereka nggak terlalu berat juga. Terlebih ada anggota kepercayaan ibu sendiri yang ikut dengan saya.”
Heni hanya mengangguk pelan, Dani memang bisa dia andalkan. Semua orang yang ada di sana terlihat heran dengan keputusan Sherly. Mereka bingung entah Sherly memilih Aditya atas pertimbangan apa. Penampilannya lusuh bahkan kemampuannya tidak bisa dibilang hebat.
“Untuk pak Dani dan Aditya besok kita akan berangkat. Usahakan untuk tidur yang cukup karena kemungkinan tugas ini akan memakan banyak energi kalian. Besok kalian bisa langsung menunggu di halaman gedung utama, besok saya juga akan menjelaskan detail tugasnya,” jelas Sherly.
“Baik Mbak,” jawab Dani dan Aditya.
“Silahkan kalian istirahat lima belas menit sebelum kita kembali berlatih!” perintah Heni.
Di gedung utama. Frita dan Pandu sedang membicarakan tugas yang akan diemban oleh Sherly. Rani juga ada di sana. Dari raut wajah mereka bisa dipastikan kalau masalah yang sedang Glow & Shine Co. hadapi terbilang cukup pelik.
__ADS_1
“Menurut ayah apa mungkin Unesia Corp mau membayar hutang mereka?” tanya Frita.
“Kalau melihat data finansial mereka sih seharusnya hutang sebesar seratus juta itu bukanlah jumlah yang besar. Tapi karena hubungan kita sedang memburuk kelihatannya Presdir Unesia memang sengaja tidak membayar hutang itu.”
“Bukankah seharusnya mereka tahu bahwa urusan seperti ini bisa kita bawa ke jalur hukum?”
“Kemungkinan kita menang sangatlah kecil Fri. selain uang mereka banyak, mereka juga bisa ngeles kalau hutang itu mereka anggap sebagai uang ganti rugi ketika produk kita terkena masalah bahan berbahaya.”
“Aku akan mencoba membujuk Erik agar dia berbicara kepada ayahnya tentang masalah ini,” usul Frita.
“Jangan Fri. ayah tidak mau kamu menggunakan cara itu, Erik bisa saja memanfaatkan hal itu untuk menekanmu agar mau menikah dengannya. Ayah tidak mau hal itu terjadi. Terlebih Jaya Sebastian pasti akan semakin murka jika kita memanfaarkan anaknya,” cegah Pandu.
“Terus kita harus bagaimana dong yah?”
“Kita hanya bisa mengandalkan Sherly untuk saat ini. Ayah cukup yakin dengan kemampuan negosiasinya.”
Siang harinya, ketika istirahat makan siang Aditya pergi toko eletronik untuk membeli Handphone baru menggunakan uang hadiah balapan. Setelah mendapatkan ponsel yang cocok dia segera kembali ke kantor untuk makan siang di café perusahaan.
Di café dia melihat Rani sedang makan sendirian. Aditya menghampirinya kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Rani lalu memesan makanan. Dia cukup heran karena biasanya Rani makan siang dengan Frita atau beberapa temannya.
“Tumben makan sendirian?” tanya Aditya.
“Terus Mbak Frita dan yang lainnya kemana?”
“Mereka masih meeting di dalam.”
“Ribet juga ya jadi atasan. Yang lain makan eh malah meeting.”
“Ya begitulah, kalau lagi ada masalah. Meeting lagi meeting lagi.”
“Oh iya Mbak. Sebenarnya ada masalah apa sih?”
Rani kemudian menjelaskan semua yang dia ketahui tentang masalah keuangan Glow & Shine Co. dengan Unesia Corp. Aditya merasa senang karena Rani terlihat sudah benar-benar mempercayainya. Bahkan tanpa ragu dia menceritakan hal sepenting itu kepada sopir sepertinya.
Dia menceritakan secara rinci kalau Unesia Corp berhutang produk alat kosmetik senilai seratus juta rupiah. Alat kosmetik tersebut dipakai di beberapa salon kecantikan milik ibunya Erik. Namun Unesia Corp tidak membayar uang pembelian produk tersebut.
“Kok Glow & Shine mau-maunya sih menghutangkan produknya Mbak?”
“Ya dulu kan hubungan perusahaan kita baik-baik saja lagipula kita sudah bekerja sama cukup lama. Unesia juga sering membantu pembangunan gedung perusahaan kita. Karena itulah perusahaan mau menghutangkan dulu produknya.”
__ADS_1
“Kalau begitu mereka memang sengaja dong nggak mau membayar hutangnya?”
“Nah itu masalahnya. karena itulah bagian keamanan juga dilibatkan dalam masalah ini. Eh btw siapa saja yang terpilih untuk mengawal Sherly?”
“Pak Dani sama saya,” jawab Aditya sambil tersenyum. Rani hanya terdiam dia mengira Aditya bercanda.
“Seriusan Dit?”
“Iya. saya juga bingung kenapa Mbak Sherly memilih saya.”
Obrolan mereka terpotong dengan datangnya pesanan milik Aditya. Mereka berdua akhirnya mengakhiri pembicaraan dan memilih untuk menikmati makanan yang sudah mereka pesan.
Sore harinya seperti biasa Aditya menunggu Frita keluar dari kantor. Sepanjang hari ini dia benar-benar disibukan dengan berbagai masalah yang sengaja Frita buat. Ingin sekali dia membalas kejahilan Frita namun hari ini otaknya serasa terlalu lelah untuk memikirkan rencana yang bagus. Frita keluar dari gedung sambil tersenyum ke arah Aditya.
“Kelihatannya hari ini Mbak senang sekali ya?” tanya Aditya dengan sinis. Dia sudah paham bahwa Frita begitu senang karena berhasil mengerjainya.
“Tepat sekali! Aku bener-bener senang hari ini sampai-sampai rasanya ingin aku rayakan,” jawab Frita sambil masuk ke dalam mobil.
“Hati-hati Mbak dunia itu berputar loh, bisa saja nanti Mbak malah sedih atau kesel,” gertak Aditya sambil menyetir.
“Ho, nggak apa-apa kok. kalau nanti aku kesel ya tinggal buat diriku senang lagi. Gampang kan?”
Aditya hanya terdiam saja, dia tidak bisa menyangkal kata-kata Frita lagi. Sepanjang jalan Frita terlihat begitu senang. Aditya pikir mulai saat ini dia harus berhati-hati. Frita pasti akan terus membuatnya menderita sampai dia menyerah dan membatalkan kesepakatan yang dia buat dengan Pandu. Mereka berdua akhirnya sampai di kediaman Pandu.
“Loh kok nggak ada,” ujar Frita dengan wajah cemas sambil memeriksa tas miliknya.
“Apa Mbak?”
“Itu Dit berkas hasil meeting tadi siang. Mana di sana ada beberapa berkas penting lagi tentang keuangan kantor.”
“Memangnya tadi kamu taruh di mana?”
“Seingatku sih aku masukin tas. Duh mungkin ketinggalan di meja resepsionis, tadi aku ngobrol sebentar sama Rani di sana. Bisa kamu ambilin nggak? Soalnya itu berkas penting banget. Sampulnya berwarna biru.”
“Kamu teledor juga ternyata,” gerutu Aditya sambil masuk ke dalam mobil dan pergi dari tempat itu.
Frita hanya tertawa kecil ketika Adit sudah pergi menuju kantor Glow & Shine Co. Frita kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
BERSAMBUNG…
__ADS_1