
Aditya tadinya mengira Frita sudah tidur. Waktu itu sudah hampir tengah malam. Ia pergi ke dapur untuk mengambil air minum di kulkas. Di situ terlihat Frita duduk di atas sebuah kursi di dalam kegelapan bayangan tembok dapur.
Aditya menyapanya, “Kamu nggak tidur?”
“Belum bisa, Mas,” jawab Frita pelan.
“Sebaiknya kamu istirahat,” kata Aditya.
“Mas ...” Frita seperti ingin mengatakan sesuatu. Gelas air di tangannya diletakkan ke meja dapur, tapi ia tak kunjung bicara. Wajahnya sudah setengah mendongak menatap mata Aditya.
Inilah kali pertama ia berani menatap Aditya setelah pemerkosaan itu terjadi.
“Kenapa, Frit?” balas Aditya.
“Aku ... Aku ...”
“Sudahlah, kamu tenang saja. Semua ini akan selesai. Bukankah yang paling utama adalah kita? Aku tak akan membatalkan pernikahan itu. Kita akan tetap bersama. Aku juga sudah berjanji pada diriku untuk menyelesaikan urusan ini bersamamu.” Penjelasan Aditya membuat Frita kembali menangis terharu.
Hanya tangisan itu terdengar begitu pelan, nyaris tanpa suara, sebab ia tidak ingin papanya terbangun.
Frita bilang, “Besok setelah pertemuan dengan klien, aku ada janji dengan dokter kenalan Papa. Janji yang dirahasiakan tentu saja.”
Adita menunggu kelanjutan kalimatnya, sebab Frita terlihat mendadak sedikit ragu. Namun ia toh melanjutkan juga, “Kami pastikan apakah pemerkosaan itu benar-benar terjadi atau tidak.”
Aditya terlihat bingung.
“Mas, saat kejadian itu aku merasa pusing dan hilang keseimbangan. Aku belum tahu pasti apakah itu darah perawanku atau bukan.”
Aditya mengira itu ide yang bagus. “Yah, sebaiknya pastikan itu. Kita tidak pernah tahu.”
Meski begitu, Aditya tak yakin pemerkosaan itu sekadar rekayasa. Jika benar, buat apa juga? Kenapa Gagas dan Lucky melakukannya? Aditya belum tahu saja bahwa di balik rencana itu ada siasat busuk Christian Santoso, dan sayangnya sang keponakan, si Lucky yang malang itu, menderita impotensi.
“Tapi akan ada kemungkinan itu benar pemerkosaan,” kata Frita kemudian.
Mereka berhenti sejenak untuk beberapa lama.
Frita kemudian kembali bicara, “Seandainya aku hamil. Seandainya saja aku hamil dan kita belum tahu itu, Mas. Apa kamu ...” Frita terhenti sejenak. “Apa kamu ... tidak keberatan?”
“Yah, sejujurnya ini sulit diterima, Frita. Tapi, jika memang ada calon bayi di dalam perutmu, kita bisa apa? Kita tak mungkin melukainya, apalagi membunuhnya. Kita bisa merawat bayi itu kalau kamu mau,” jawab Aditya.
__ADS_1
Jawaban itu membuat Frita terlihat sangat lega. Ia bangkit dari kursinya dan memeluk Aditya.
Aditya mencoba lebih rileks agar Frita tak lagi merasa bersalah atas kejadian yang tak diharapkannya itu dan agar Frita menjadi jauh lebih tenang. Aditya mengecup bibir Frita, yang tak disangkanya membuat gadis itu tersipu malu.
Frita melepaskan diri dari pelukan Aditya, “Mas, besok aku berangkat agak pagi. Janji dengan klien ini tak bisa terlambat.”
“Ya, maka tidurlah.”
Frita berjalan meninggalkan dapur, tapi kemudian menyadari sesuatu yang belum ia sampaikan pada Aditya tadi.
“Oh, ya,” kata Frita. “Terima kasih, Mas. Terima kasih untuk semuanya selama kita kenal.”
Aditya tak tahu harus berkata apa.
***
Aditya tak bisa tidur sesegera mungkin setelah kembali dari dapur. Ia menelepon seseorang untuk mencarikan informasi soal Gagas Darmawan, Lucky Wicaksono, dan terutama tentang Christian Santoso.
“Informasi yang tak banyak diketahui orang,” kata Aditya.
“Oke.”
Sosok yang diteleponnya itu seorang detektif swasta hasil rekomendasi kenalannya di kemiliteran beberapa tahun lalu ketika Aditya ingin melacak seorang penjahat ulung.
“Baik, itu saja?” tanya si detektif.
“Untuk sementara itu saja dulu,” kata Aditya.
Setelah itu ia pun bisa tertidur dengan nyenyak. Ia membayangkan dan sedikit ada harapan juga bahwa Christian Santoso terlibat di sini. Ia tak mengenal sosok itu, tetapi tahu istrinya, Tante Meilisa, adalah sosok yang selama ini terlihat amat membenci Frita dan keluarganya.
Aditya sungguh merasa penasaran. “Kenapa mereka melakukannya? Untuk apa?”
Ia hanya bisa berpikir betapa semua ini mungkin hanya sekadar bertujuan membuat mental Frita hancur. Jika itu terjadi, bisnis keluarga Pandu otomatis juga berantakan. Tapi, apa hanya itu?
Namun, jika pemerkosaan itu sekadar ulah iseng Gagas dan Lucky yang tak mampu menahan berani, Aditya tak akan segan menghabisi keduanya.
Ia tertidur lelap dengan bayangan menghajar dua pemuda sial itu.
***
__ADS_1
Aditya tak terasa tidur cukup lama. Baru terbangun siang itu pukul 10.30. Itu pun karena suara telepon masuk ke smartphone miliknya. Telepon dari sang detektif yang bekerja cukup cepat.
Aditya terdengar bertanya dengan nada tinggi untuk memastikan, “Kau yakin nanti malam jam 8 di Gedung Luxury?”
“Yakin,” jawab sang detektif yang ternyata bisa melacak aktivitas orang tertentu di internet. Ia segera mengirimkan gambar kepada Aditya berupa bukti pemesanan tempat untuk meeting atas nama Gagas Darmawan di salah satu ruangan di gedung yang belum lama dibangun itu.
“Kerja bagus,” kata Aditya. Mereka menyudahi telepon.
Christian dan Gagas pasti sedang berencana bertemu klien. Aditya pikir ini saatnya mulai memberikan pelajaran pertama untuk mereka.
“Kerjasama apa pun dengan klien siapa pun itu, seharusnya dibatalkan saja,” pikir Aditya.
Lalu ia menemui Pandu di halaman belakang dan menyampaikan pengetahuan ini. Rencananya juga ia sampaikan.
“Kamu yakin?” tanya Pandu terlihat ragu. “Menghampiri mereka begitu saja demi menuntut penjelasan? Saat mereka menemui seorang klien?”
“Tidak seperti itu juga, Pak. Aku akan mengatur agar pertemuan mereka dengan si klien entah siapalah itu, kacau. Baru setelah itu kalian bisa masuk,” kata Aditya.
“Tapi kita belum tahu apakah Christian terlibat di sini.”
“Yah, hanya saja kita tahu pasti kalau cuma Gagas dan Lucky-lah yang bertanggung jawab atas pemerkosaan terhadap Frita,” kata Aditya.
Pandu pun menyetujui itu.
Tak berapa lama setelah pembicaraan mereka itu, ada kabar baru dari Frita. Ini soal pertemuan dengan dokter kenalan sang papa.
Frita bilang, “Dokter itu sudah memastikan tak ada penetrasi ke tubuhku. Dengan kata lain, tak pernah ada pemerkosaan!”
Pandu, Gina, dan Aditya jelas senang mendengar itu. Tapi, kenapa? Apa maksud ini semua terjadi?
“Foto-foto itu,” kata Pandu sedikit cemas. “Mungkin mereka berharap bisa bikin kita hancur karena foto-foto Frita itu.”
“Ya, boleh jadi.” kata Aditya.
“Semua akan baik-baik saja, bukan?” tanya Frita terdengar ragu.
“Kita lihat saja nanti. Tapi aku yakin,” jawab Aditya mantap.
Ya, itu bisa mereka pastikan nanti malam jam 8 di Gedung Luxury. Fakta bahwa Frita tak pernah diperkosa, jelas akan membuat mereka unggul setingkat di atas orang jahat yang mencoba merencanakan sesuatu yang busuk di sini.
__ADS_1
Bersambung...