
Hari sabtu ini Aditya berniat menjenguk Dani ke rumahnya, sedangkan Frita dan Clarissa sedang sibuk di rumah untuk menyambut kepulangan Pandu dari luar negeri. Frita terlihat sudah tidak murung lagi, mungkin tangisnya tadi malam bisa meringankan beban di pikirannya.
Aditya berangkat menggunakan taksi online, sebenarnya Frita menyuruhnya agar membawa mobilnya namun dia menolak. Setelah sampai di rumah Dani tampak sang empunya rumah tengah duduk di kursi sambil melamun.
“Siang-siang begini masih melamun saja Dan,” sapa Aditya mengagetkan Dani.
“Eh Dit? Kok kamu bisa ada di sini?” tanya Dani.
“Aku sengaja ke sini, sudah beberapa hari ini kamu nggak masuk ke kantor. Aku kira kamu sedang sakit.”
“Duduk Dit, aku baik-baik saja kok. Lagian buat apa ke kantor juga orang aku pada akhirnya akan dipecat juga,” keluh Dani.
“Lah kamu pede banget mau dipecat,” ucap Aditya bercanda.
“Ya, kamu juga pasti tahu kalau banyak orang-orang yang sudah bekerja lama di perusahaan juga dipecat, mungkin si William takut kalau kami nanti akan terus memprotes semua kebijakannya.”
“Ya, tidak salah juga sih. Tapi kalau belum menerima surat pemecatan seharusnya datang saja lah ke kantor, lagian di sana juga santai-santai doang, lumayan kan gajinya.”
“Gara-gara kebijakan si brengsek itu menurunkan gaji, sekarang aku semakin kesusahan. Bahkan untuk makan saja susah,” jawab Dani. Aditya hanya terdiam, dia rasa mungkin pengeluaran keluarga Dani memang besar.
“Rumahmu sepia mat Dan?” tanya Aditya sambil melirik-lirik ke dalam rumah.
“Semua keluargaku sudah aku titipkan kepada saudaraku,” jawab Dani sambil tertunduk.
“Loh kenapa?”
“Ya seperti yang aku bilang tadi, gaji segitumah nggak bakalan cukup. Buat makan aku sendiri saja masih kurang.”
“Tapi kalau cuma itu alasannya aku masih bingung deh, maaf ya tapi bukannya seharusnya prioritas dari gaji itu buat makan sehari-hari ya? Kalau bukan dipakai untuk makan memangnya untuk apa?”
“Kami diperas oleh orang Dit. Karena itu juga aku menitipkan keluargaku demi keamanan mereka.”
“Diperas? Kok bisa sampai diperas begitu?”
“Beberapa bulan yang lalu Adikku menabrak seorang preman ketika mengendarai motornya. Padahal dia bilang kalau preman itu yang tiba-tiba saja berlari di depan motornya hingga dia tidak sempat menghindar. Tapi tetap saja para preman itu setiap minggu selalu datang untuk minta ganti rugi, bahkan motor satu-satunya sudah dia ambil.”
__ADS_1
“Lah itumah sudah bisa dipidanakan dong Dan. Kenapa kamu tidak lapor polisi saja?”
“Aku tidak berani, preman itu cukup terkenal di daerah ini. Dia bahkan mengancam keselamatan keluargaku. Kemarin aku karena marah berusaha untuk menghajarnya namun aku justru kalah telak, tubuhku saat ini juga sakit semua. Karena itu dia bilang hari ini juga akan ke sini kembali untuk meminta ganti rugi tambahan karena sudah berani melawannya.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Hari ini aku akan pasrah. Aku akan menyerahkan rumah ini tapi dengan syarat dia tidak mengganggu keluargaku lagi.”
“Hemh, memangnya tidak ada cara lain Dan?”
“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Dit, mereka benar-benar kejam. Padahal aku ini sudah miskin, tidak punya pekerjaan malah masih terus diperas,” kata Dani sambil memegang kepalanya.
Dari kejauhan terlihat dua motor datang menghampiri lalu berhenti di halaman rumah. Tiga orang pria dengan tampang sangar turun dari motor. Dani terlihat cemas, mungkin mereka adalah bandit yang selalu datang untuk memerasnya.
“Gue kira lu bakalan kabur hari ini, mana uang ganti rugi plus iuran mingguannya?” tanya seorang pria brewokan sambil menyodorkan telapak tangannya. Pria lainnya mulai menatap tajam Aditya yang malah tersenyum santai.
“Maaf bang, tapi gue sudah nggak punya uang lagi. Gimana kalau gue kasih rumah ini, tapi urusan kita selesai sampai di sini. Gimana?” tanya Dani memelas.
“Hahaha kalian denger nggak dia ngomong apa?”
“Bener bang ini rumah saya, surat-suratnya juga ada.”
“Persetan! Lu pikir nyawa gue bisa lug anti rumah? Gue bisa saja terima rumah ini itung-itung buat ganti rugi tiga bulan. Tapi setelahnya lu harus bayar! Kalau keluarga lu mau selamat!” gertak pria brewokan itu.
“Wah, kalau polisi tahu bisa-bisa abang di bui loh,” kata Aditya mulai ikut pembicaraan. Dani mulai terlihat cemas.
“Lu siapa hah ikut campur? Lu tahu nggak masalahnya?”
“Gue tahu lah bang, temen gue bilang kalau lu ditabrak adiknya dia. Tapi menurut gue kalau iya ditabrak kenceng harusnya lu sudah mati dong.”
“Apa! Asal lu tahu ya, gue masih hidup karena kesaktian gue! Kalau orang biasa pasti sudah mati!” bentak pria brewok itu dengan penuh emosi.
“Ya kalau baik-baik saja kenapa harus minta ganti rugi?”
“Ya haruslah biar orang kayak mereka kapok!”
__ADS_1
“Kalau mau bikin kapok nggak perlu sampe ngerugiin mereka sekeluarga kan, kelihatannya otak lu nggak bener deh sampe-sampe nggak bisa mikir baik-baik,” ledek Aditya. Suasana di sana semakin tegang. Dani semakin cemas kalau para preman itu akan menghajar Aditya.
“Orang belagu kayak begitu sebaiknya patahkan saja tulang lehernya bos Aceng!” ujar preman lain.
“Kurang ajar juga ya, lu nggak tahu siapa gue ya! Kalau lu mau selamat sebaiknya cepetan pergi sebelum gue habisim!” bentak pria brewokan yang bernama Aceng.
“Wah wah, gue bukan makanan loh. Ternyata selain kejam lu semua juga kanibal ya.”
“Keparat!” bentak Aceng sambil memegang kerah baju Aditya. Tapi ketika hendak mengangkatnya dia kelihatan kesusahan.
“Bang maafin dia bang, dia orangnya memang suka bercanda. Urusan kita sebaiknya segera kita selesaikan saja,” kata Dani.
“Gue sudah kasih dia kesempatan buat pergi, tapi dia lebih memilih mati di sini!” bentak Aceng.
“Orang kayak lu yang pantasnya mati di sini!” bentak Aditya dengan tatapan tajam.
Aditya kemudian melepaskan cengkraman tangan Aceng. Suasana semakin tegang. Aceng kemudian memerintahkan dua anak buahnya untuk menghajar Aditya. Mereka berdua mulai maju menyerang. Aditya sengaja menerima semua serangan mereka. Mereka berdua telihat kaget.
“Kalian punya tenaga nggak sih?” ledek Aditya.
“Keparat!”
“Kelihatannya dia bener-bener ingin mati!”
“Ho, jadi mau main pisau ya. Oke-oke.”
Mereka berdua mulai melayangkan pisau untuk mencelakai Aditya. Namun dengna lincah Aditya berhasil menghindarinya. Namun tempat yang kurang luas membuatnya sedikit terhambat. Aditya kemudian mengambil sapu lalu memainkannya dengan gerakan-gerakan bak shaolin di film-film kungfu.
Sambil tersenyum Aditya membuat isyarat dengan jari tangannya agar semua lawannya maju. Mereka berdua terlihat sangat marah. Secara serentak mereka maju melayangkan pisaunya dari kiri dan kanan, namun Aditya berhasil menghalaunya dengan gagang sapu. Lalu dia juga dengan cepat menyerang menggunakan sapu ijuk itu hingga bagian ijuknya masuk ke lubang hidung dan mulut mereka berdua.
Kedua orang itu mulai bersin karena lubang hidungnya terasa gatal. Aditya hanya tertawa sambil menyerang lagi, hingga pisau kedua orang itu terpental. Dani hanya terdiam, dia tidak berani ikut campur karena tubuhnya masih sakit karena dihajar kemarin. Tanpa di duga ternyat Aceng sudah mengambil golok dari motornya lalu menyerang Aditya.
“Mati lu!” teriak Aceng sambil melayangkan goloknya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1