Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 234


__ADS_3

Aditya berusaha memburu Christian Santoso, yang entah bagaimana, mendadak tak ada jejaknya. Ia hilang bagaikan siluman saja. Seisi gedung Luxury bahkan telah juga ditelusuri oleh Skuad Malam, tapi mereka gagal menemukan Christian Santoso.


Ya, Skuad Malam yang beranggotakan Nancy, Baskara, Teo, Linda, dan Charlie itu memang sengaja dimintai bantuan oleh Aditya dan mereka tak keberatan. Christian tak bisa ditemukan. Yang mereka tahu kini hanya Gagas Darmawan yang tertinggal di lantai 25.


“Tapi, dia sudah kabur, Dit,” kata Pandu sambil memegangi kepalanya yang sakit.


“Apa yang terjadi?”


“Gagas terlihat ketakutan dan menyerang kami. Dia berhasil kabur lewat lift,” jelas Gina dengan sambil memegangi mantan suaminya yang terluka di kepala.


Dalam hatinya, Aditya sangat marah, tapi dia mencoba tetap terlihat tenang.


“Kenapa kita tidak meminta bantuan polisi sekalian? Kalau hanya berenam, pasti sangat sulit,” kata Teo.


Aditya tak ingin menjelaskan tentang apa yang menimpa Frita. Ia hanya menjawab, “Polisi jangan sampai tahu dulu soal ini.”


Aditya berpikir jika polisi tahu, biasanya wartawan juga akan tahu. Mereka pasti tak akan menyerah sampai mendapatkan foto-foto bugil Frita. Dan Aditya tak ingin foto itu tersebar sebelum ia berhasil meringkus Christian Santoso dan memberinya pukulan beberapa kali lagi.


Aditya segera teringat Shelly D. Ia pun meneleponnya. Suara di seberang sana tak ubahnya orang yang benar-benar putus asa. Shelly D sungguh menghayati perannya itu. Dia terdengar seperti gadis yang memang patah hati parah.


“Aku baik-baik saja. Semua baik-baik saja!” seru Shelly D dengan suara lantang di sisi Lucky yang sedang menyetir mobil.


***


“Siapa itu?” tanya Lucky.


Shelly D berbohong: “Dia lelaki yang mencampakkanku. Sekarang aku tidak tahu lagi apa bisa hidup seperti dulu!”


“Kamu pasti bisa. Aku tahu kamu pasti bisa,” kata Lucky dengan iba sambil tetap fokus menatap ke jalan raya.


“Kamu harus menemaniku malam ini!” kata Shelly D.


Lucky tak bisa menolak. Mereka pun berhenti di parkiran sebuah motel sederhana di tepi kota. Sebuah bangunan biasa yang tak akan orang sangka bakal didatangi oleh orang-orang berduit macam mereka.

__ADS_1


Di motel itu, penyamaran Shelly D sempurna: ia memakai kerudung kelabu dan si Lucky membiarkan rambutnya tetap acak-acakan agar tidak ada orang mengenali.


“Kita sudah seperti pasangan yang sama-sama selingkuh,” bisik Lucky pada Shelly D.


“Ya, biarlah! Asal orang tak tahu siapa kita!” jawab Shelly D.


“Kamu tahu siapa saya?”


“Tahu! Kamu orang penting di balik perusahaan milik Christian Santoso, bukan?”


“Ya, benar.”


Mereka diam beberapa saat ketika menaiki sejumlah anak tangga ke lantai empat. Di situ ada beberapa pengunjung motel lain yang berjalan turun. Setelah keadaan sepi lagi, Lucky bersuara, “Kenapa kamu tidak pulang saja? Kenapa harus ke motel macam ini?”


“Kupikir pulang akan memperburuk keadaan. Paling enggak di sini enggak ada pisau atau silet!” jawab Shelly D datar.


Lucky merinding mendengar itu, jadi ia tetap mengawal Shelly D agar gadis manis ini tidak bunuh diri. Paling tidak sampai besok pagi. Lagi pula Lucky juga tak tahu dia harus pergi ke mana.


Christian Santoso orang yang jahat. Bisnis bersihnya di luar itu sekadar kedok saja. Ada beberapa bisnis kotor yang dia miliki. Dan Lucky tahu sang om itu punya kenalan beberapa mafia keji dari berbagai kota.


Di kamar motel, Shelly D mengeluarkan sebuah botol berisi minuman keras. Lucky sama sekali bukan peminum yang baik. Ia tak terlalu tahu jenis-jenis minuman, tapi dia tak bisa menolak ketika Shelly D mengajaknya minum bersama. Aneh juga si artis ini. Dia membawa beberapa botol minuman dalam tasnya sekaligus, pikir Lucky.


Itu tak aneh andai dia tahu semua ini diatur oleh Aditya.


Aditya dan Frita datang tak lama setelah Shelly D dan Lucky setengah mabuk dan tak berdaya untuk lari.


“Ah, apa ini? Kalian kok bisa ada di sini!” jerit Lucky yang lagi-lagi tak berdaya. Ia tadi dari Gedung Luxury bahkan masih mendapat efek memabukkan dari minuman yang Aditya sajikan. Kini di motel ia mendapat minuman dengan efek yang lebih parah dari Shelly D.


Alhasil, Lucky hanya bisa berbaring pasrah sembari menghadap Aditya yang entah akan melakukan apa.


“Aku tak akan menghajar, apalagi membunuhmu. Tapi, kau bisa memberikan info apa pun tentang semua ini. Tentang Christian Santoso juga bila perlu.”


Lucky terlihat menangis ketakutan. Di situlah ia membuat pengakuan tentang rasa sukanya pada Frita sejak waktu itu. Ia lalu dibuatkan rencana oleh Christian Santoso agar mereka bisa menikah, sekaligus Christian bisa menguasai Glow and Shine Co.

__ADS_1


“Benar-benar picik dan licik!” gerutu Frita.


“Tapi kami gagal karena aku impoten! Ya, itulah sebabnya kenapa pemerkosaan itu tak pernah terjadi! Karena aku tak bisa melakukannya!” jerit Lucky terlihat merana.


Aditya tak bisa berkata-kata dan paham kenapa kasus pemerkosaan itu sangat aneh. Kini mereka semua tahu dalang di balik ini adalah Christian.


“Lalu, soal foto bugilku? Di mana kalian menyimpan file-nya?!” bentak Frita.


Lucky bilang file foto-foto itu ada di laptop dan kameranya. Semua tersimpan rapi di bangku belakang mobilnya. Aditya segera turun dan memeriksa mobil itu, dan ia bisa menemukan barang yang dimaksud.


“Kau yakin gak ada lagi salinan file ini?” tanya Aditya.


“Yakin,” kata Lucky dengan pasrah.


“Benaran yakin, kan?” sela Frita masih ragu.


“Sumpah! Yang kutahu hanya ada di situ! Kalian bisa menghapusnya dan memberi kami hukuman!” kata Lucky dengan tetap menangis.


Aditya membiarkan lelaki itu berbaring tak berdaya di kasur. Ia membiarkan Frita membuka laptop dan kamera Lucky untuk menghapus semua filenya.


Aditya lalu menghancurkan pula barang-barang milik Lucky itu agar file itu tak bisa dipulihkan lagi.


Teo yang datang tak lama kemudian diminta untuk mengantar Shelly D pulang, sementara Lucky dibiarkan tidur di motel ini sampai waktu yang entah kapan.


“Mereka bisa-bisa membunuhku kalau aku tak segera kabur,” kata Lucky putus asa.


“Tak akan ada yang membunuhmu, kecuali Christian bukan pengecut. Buktinya dia kabur!” bentak Aditya dengan kesal.


“Kau salah. Dia bukan kabur. Dia mungkin menyiapkan sesuatu untuk kalian. Aku cuma mengingatkan,” kata Lucky.


Memang benar kata Lucky. Sebab, di suatu tempat rahasia, Christian Santoso sibuk menghubungi seseorang.


Seseorang yang dikenal dengan julukan The Green Devil.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2