Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 292


__ADS_3

Aditya mendapat telepon dari Guru Tanpa Nama keesokan harinya.


“Kau tetap di situ, ya. Jangan ke mana-mana, Dit,” kata lelaki paruh baya itu, tak memberi kesempatan Aditya untuk menyahut, karena langsung memutus teleponnya.


Guru Tanpa Nama saat itu sedang berada di puncak sebuah gedung di Jakarta, bersama salah satu ‘murid’ kesayangannya yang ternyata masih setia: Amy Aurora.


“Kita enggak perlu pakai perempuan itu,” gumam Amy sejak tadi, terlihat tak suka dengan rencana sang guru.


“Sudahlah. Hanya itu jalan satu-satunya agar mereka selamat. Ayo, cepat naik,” balas Guru Tanpa Nama.


“Aku juga bisa kali,” tukas Amy, benar-benar terlihat kesal.


Guru Tanpa Nama cuma meringis.


Sebuah helikopter menunggu mereka di puncak gedung itu juga. Baling-balingnya sudah berputar sejak tadi, siap mengantar mereka ke mana pun mereka mau. Amy Aurora melangkah masuk ke bangku penunpang dengan enggan, lalu mengenakan sebuah headset, untuk berkomunikasi di dalam helikopter yang berisik.


Begitu mereka berdua sudah memakai alat itu, Guru Tanpa Nama bilang, “Kau tak punya keluarga, sedangkan dia punya. Setidaknya ada ‘dinasti’ kecil untuk senjata terakhir Aditya.”


Amy Aurora mengerti, meski ia tetap saja merasa tak suka. Tapi, mungkin kelak ia akan memiliki kesempatan itu. Sebuah kesempatan untuk tidur sekali lagi dengan lelaki yang ia sukai: Aditya. Meski tentu saja ia sudah beristri.


“Aku sama sekali tak menyukai wanita-wanita itu. Tapi, apa boleh buat? Semua demi kepentingan bersama,” katanya kemudian, lewat alat komunikasi yang terpasang di kepalanya.


Guru Tanpa Nama mengacungkan jempol, tak berkata lagi.


Mereka terdiam sampai tiba di tujuan berikutnya.


***


Aditya hanya mendengus kesal begitu telepon itu segera ditutup, tetapi ia memang perlu menemui sang guru itu. Jadi, ia menunggu. Entah berapa lama. Aditya sampai bosan sendiri dan sesekali tergoda mencoba menelepon sang istri.


“Tapi, mungkin mereka bisa melacak panggilan ke hand phone Frita. Dan itu tak bagus. Setidaknya belum untuk saat ini,” bisik Aditya pada dirinya sendiri.


“Paling tidak tunggu sampai Setiawan Budi kalah atau mengalah.”


Aditya membayangkan kemungkinan itu, bahwa Setiawan Budi akan mengalah setelah ia melakukan rencana sang guru yang terdengar gila. Tapi, Aditya belum tahu dan tak seratus persen yakin. Ia berharap ada rencana lain yang lebih baik.

__ADS_1


***


Siang itu terdengar suara mobil diparkir di halaman depan.


Ketika Guru Tanpa Nama melangkah masuk bersama Amy Aurora, Aditya tak mau mendengar apa pun selain rencana mereka.


“Apa yang mesti kita lakukan?” katanya sambil menatap tajam mata sang guru.


“Apa yang ‘kamu’ lakukan lebih tepatnya, Dit, bukan apa yang ‘kita’ lakukan,” jawab Guru Tanpa Nama.


“Baiklah. Jadi rencananya tetap sama? Aku menikahi Ratna? Sebuah pernikahan sandiwara?” balas Aditya dengan malas.


“Ya, kalau kamu mau, boleh saja kalian nikah betulan,” celetuk Amy yang duduk di kursi dekat dapur tanpa dipersilakan.


“Ya, ampun,” gerutu Aditya. “Itu tak mungkin kulakukan!”


Ia mengambil dua cangkir dari rak kayu di ujung dapur, dan bertanya,”Kalian suka teh atau kopi? Atau mungkin susu?”


“Air putih saja,” jawab Guru Tanpa Nama yang tampak mengamati rumah ‘baru’ si murid ini. Rumah persembunyian yang entah bagaimana Pandu dapatkan. Ini lokasi yang bagus untuk menjauh dari keriuhan kota besar.


“Ya, banyak pepohonan memang. Tidak ada tanah lapang,” kata Aditya.


“Aku teh saja. Kalau bisa pakai es batu,” kata Amy sambil menyulut rokoknya.


Amy Aurora terlihat malas dan sungguh tidak seperti biasanya. Biasanya ia selalu tampak semangat berada dekat Aditya. Namun kini dia seperti ingin segera pergi ke tempat lain saja.


“Lalu, Ratna gimana? Kalian sudah bicara, kan, sama dia?” tanya Aditya setelah minuman untuk kedua tamunya siap. Ia melangkah ke meja, meletakkan cangkir teh dan gelas berisi air putih di depan Rahman dan Amy.


Amy menatapnya dengan kesan seolah ia ingin menelan Aditya. “Itu kamu sendiri yang bilang, dong! Ini semua demi dirimu, bukan? Juga demi Frita-mu yang tercinta itu.”


“Kamu kenapa sih kelihatan ‘sadis’ dari datang tadi, Amy?” tanya Aditya heran.


Guru Tanpa Nama cuma tersenyum. Aditya tak tahu saja. Dulu kematian palsunya, yang dimulai atas ide Amy sendiri, adalah untuk menjauhkannya dengan Frita entah untuk berapa lama, dan Aditya jelas menolak kematian palsunya diperpanjang. Itulah kenapa Amy terlihat sedikit ketus.


Apalagi Guru Tanpa Nama merencanakan agar Aditya menikah dengan Ratna. Meski itu cuma pura-pura.

__ADS_1


“Nanti akan kubantu, Dit, tenang saja,” kata sang guru.


“Tapi, apa Ratna bakal mau?”


“Dia jelas akan mau. Kau tak tahu seberapa kuat keluarganya sekarang? Ya, sang kakek sudah tiada. Kerajaan itu kini terlihat tanpa seorang raja. Hanya butuh sesosok pemimpin saja untuk membuat keluarga Ratna jauh lebih kuat ketimbang Setiawan Budi,” jelas Guru Tanpa Nama.


“Tahu apa Anda tentang keluarga Ratna?”


“Jangan ragukan pengetahuanku, Dit. Kau sudah buktikan, aku tahu banyak hal yang tak kau ketahui,” sahut Guru Tanpa Nama, tetap tenang, lalu menyeruput gelas berisi air putihnya tadi.


Lalu dia lanjut berkata, “Bisnis keluarga Ratna berkembang ke arah lain. Setelah kakeknya tiada, dia sendiri yang mengontrol semuanya, tapi dia memilih bisnis yang benar-benar bersih. Kupastikan itu. Aku sudah memeriksa profil perusahaan Ratna.”


“Saya jelas tak tahu itu,” kata Aditya.


“Nah, apa kubilang? Sekarang Ratna hanya butuh seorang ‘raja’ di keluarganya. Tidak ada yang memilih meneruskan kerajaan sang kakek, kecuali dia. Setiawan Budi akan segan padamu setelah kalian menikah.”


Amy Aurora seketika tertawa ngakak. “Aku tak berani jamin kalau soal itu sih!” katanya.


Guru Tanpa Nama terlihat jengkel, “Ya, sama, Amy. Aku pun tak bisa jamin itu, tapi setidaknya Setiawan Budi tahu kekuatanmu sekarang. Menikahi dua perempuan dalam lingkaran bisnis yang kuat? Kalian jelas bisa membeli hukum lebih dari yang Setiawan Budi lakukan!”


Aditya terlihat ragu. Bahkan sangat ragu. Ia tak tahu apakah pernikahan sandiwara ini bakal benar terjadi. Jika terjadi, ia tak tahu apakah Ratna mau bersandiwara? Jika benar terjadi, ia juga tak tahu apakah Frita tak akan marah padanya?


Ini sungguh rencana patah hati! Sebab ada banyak hati yang akan terluka.


“Tenang saja, Dit,” kata Amy memecah lamunan Aditya. “Kalau kamu cemaskan soal Frita, kita bisa atur pernikahan itu diam-diam. Aku juga akan bantu bicara pada Ratna nanti. Frita tak akan tahu, selama dia masih ada di Belanda.”


“Baiklah. Aku tak tahu harus bilang apa. Oh, ya, satu hal yang lupa kukatakan,” ujar Aditya sambil menepuk jidat.


“Apa?”


“Pak Gandi kenal sosok Putri Maut, tidak?”


Pertanyaan Aditya itu membuat Guru Tanpa Nama tersedak.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2