
Saat pemanasan Aditya menyadari kalau Heni terus memperhatikan dirinya. Dia berusaha untuk menghindari kontak mata dengan Heni, dia khawatir kalau Heni bisa mengetahui Identitas dia yang sebenarnya. Heni menghentikan pemanasan dan menyuruh para sopir keluar mengikutinya.
Heni membawa para sopir ke halaman yang cukup luas, di sanalah biasanya para calon satpam berlatih fisik. Di sana Heni menyuruh seluruh sopir untuk berlari selama tiga puluh menit. Terdengar beberapa sopir mulai mengeluh. Namun mereka tidak bisa melawan. Dengan terpaksa mereka mulai berlari mengelilingi halaman.
Bagi Aditya berlari seperti ini bukanlah masalah besar. Namun dia berpura-pura seperti yang lainnya agar identitasnya tidak terbongkar oleh Heni. Dalam dua puluh menit saja sudah ada beberapa sopir yang menyerah. Hanya tersisa empat orang termasuk Aditya, Wira, Jana dan satu sopir lainnya yang belum menyerah.
“Capek..” teriak Aditya sambil memperlambat larinya. Dia mencoba untuk berpura-pura menyerah.
“Cemen lu Dit baru segitu doang,” ujar Wira.
“Dasar lemah! Payah!” ledek Jana.
“Kamu bahkan belum keluar keringat banyak seperti yang lainnya,” kata Heni sambil mendekati Aditya.
“Kalau capek mah nggak perlu harus keluar keringat dulu Bu,” jawab Aditya.
Heni pergi menjauhi Aditya, dia sedikit kesal mendengar jawaban Aditya. Namun dia merasa kalau stamina Aditya harusnya lebih dari yang lainnya. Hanya dengan melihat postur tubuh Aditya saja seorang professional seperti dia sudah tahu kapasitas stamina setiap orang.
Wira, Jana dan seorang sopir lainnnya sukses bertahan tiga puluh menit berlari di halaman. Mereka tampak mengolok olok Aditya karena menyerah hanya dalam dua puluh menit. Heni berkata kalau latihan selanjutnya adalah memanjat tebing. Di dekat halaman itu ada bangunan lain yang biasa digunakan untuk latihan memanjat tebing dalam ruangan.
“Kalian akan saya panggil satu persatu. Yang dipanggil secepatnya harus memasuki ruangan di sana. Sambil menunggu giliran, kalian diperbolehkan untuk beristirahat di sini,” jelas Heni sambil pergi menuju ruangan tempat latihan panjat tebing.
“Panjat tebing? Duh padahal gua takut ketinggian,” ujar seorang sopir.
“Lah panjat tebing doang mah gampang. Nih gua dulu pernah mendaki Gunung Tangkuban Parahu sendirian,” ucap Jana menyombongkan diri.
“Apa hubungannya mendaki sama memanjat tebing,” gumam Aditya sambil tertawa kecil.
“Eh, lu jangan sok deh. Tadi aja baru dua puluh menit udah nyerah cemen banget,” ledek Jana.
“Iya nih. Udah lemah songong lagi,” timpal Wira.
Aditya tidak menanggapi ocehan mereka berdua. Dia berpikir kenapa Heni memilih untuk memanggil para sopir satu persatu? Padahal akan lebih efektip jika para sopir berkumpul dan beristirahat bersama di ruangan latihan panjat tebing.
Beberapa sopir tampak sudah dipanggil, mereka keluar sambil menceritakan pengalamannya. Akhirnya Aditya dipanggil juga. Dengan santai dia berjalan masuk ke dalam ruangan latihan. Heni menyuruhnya mengikatkan tali ke tubuhnya sebagai pengaman. Aditya terus berpikir bagaimana caranya menunjukan kalau dia biasa saja seperti yang lain?.
Dia tidak bisa melihat bagaimana sopir biasa lainnya memanjat dinding. Ah daripada berpikir terus Aditya langsung menaiki dinding sambil pura-pura kesusahan. Dia juga sengaja menjatuhkan dirinya hingga tidak sampai di bagian paling atas. Dia kemudian melangkah pergi setelah melepaskan ikatan.
“Tunggu sebentar,” cegah Heni ketika Aditya hendak keluar ruangan.
“Ada apa Bu?” tanya Aditya penuh heran.
__ADS_1
“Siapa sebenarnya dirimu?” tanya Heni dengan tatapan tajam.
“Apa maksudnya Bu?” tanya balik Aditya dengan cemas.
“Coba pasang kembali ikatan tali pengaman tadi,” perintah Heni. Aditya lalu menurutinya.
“Aku tahu ini bukanlah simpul tali yang biasa digunakan atlet panjat tebing professional, bukan juga digunakan oleh anggota Pramuka,” jelas Heni sambil memegang dan menunjukan simpul ikatan yang dibuat Aditya.
“Apa maksud Ibu?”
“Yang kutahu simpul ikatan seperti ini hanya digunakan oleh para TNI,” jawab Heni sambil tersenyum menatap tajam Aditya.
“Saya kurang mengerti Bu. Simpul tali ini kebetulan saya pelajari dari buku yang pernah saya baca,” bantah Aditya.
“Begitu ya. Mungkin aku yang salah. Silahkan pergi.”
“Baik Bu.”
Aditya kemudian melangkah ke arah pintu keluar dengan perasaan cemas. Dia tidak menyangka pengetahuan Heni begitu luas tentang hal seperti itu. Ini berbahaya baginya jika tidak berhati-hati. Hei sendiri tampak termenung memikirkan siapa sebenarnya Aditya.
Setelah latihan panjat tebing selesai Heni memerintahkan para sopir untuk ikut latihan seni beladiri bersama para calon satpam. Mereka semua kembali ke ruangan latihan beladiri. Di sana mereka berbaur dengan paraa calon satpam untuk mengikuti gerakan wakil kepala bagian keamanan.
“Eh bu Frita. Siang juga Bu,” ucap Heni dengan ramah sambil menghampiri Frita.
“Ada angin apa nih yang membuat ibu datang kemari?” tanya Heni.
“Aku cuma mau lihat gimana latihan pertama yang sedang dijalani oleh bagian sopir.”
“Oh begitu, ibu jangan khawatir deh. Saya akan membuat mereka semua berotot.”
“Bu Heni ini ada-ada saja. Tapi baguslah kalau memang ada hasilnya dari latihan ini.”
Semua mata pria yang ada di sana tidak fokus latihan karena tertuju kepada sosok cantik Frita. Dia tampak berkeliling memperhatikan semua orang yang sedang latihan. Ketika menatap Aditya dia tampak tersenyum masam seolah puas melihat Aditya menjalani latihan fisik seperti itu. Namun Aditya malah membalasnya dengan senyuman.
Frita sampai di ruangannya sambil menggerutu karena Aditya tampaknya tidak terlihat tersiksa sedikitpun. Tiba-tiba Rani masuk dan mengatakan kalau Pandu memanggil Frita agar segera datang ke ruangan meeting. Frita heran karena hari ini tidak ada jadwal untuk meeting, namun dia menuruti perintah ayahnya.
“Ada apa yah?” tanya Frita ketika masuk ruangan.
“Eh ada pak Jimmy juga,” sapa Frita ketika melihat ada Jimmy di sana.
“Panggil saja Jimmy Fri,” ucap Jimmy sambil tersenyum.
__ADS_1
“Iya Jim sorry. Ada perlu apa ya datang ke sini?” tanya Frita sambil duduk.
“Jimmy bilang kalau dia sudah berhasil menangkap pelaku yang memasukan bahan berbahaya di alat kosmetik klien kita,” jelas Pandu.
“Oh begitu. Terimakasih banyak ya Jim.”
“Itu memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai polisi. Ngomong-ngomong saya juga ingin memberitahukan hasil interogasi kami kepada pelaku.”
“Interogasi?”
“Ya. Kami mendengar sendiri dari pelaku yang bernama Gugun itu bahwa dia diperintahkan seseorang untuk melakukan keributan seperti itu.”
“Lalu siapa Jim dalangnya?”
Jimmy menjelaskan kepada Frita dan Pandu bahwa penyelidikan kasus itu mengerucut kepada salah seorang staff penting yang ada di perusahaan bisnis Laksana Group. Pandu dan Frita kaget mendengarnya.
“Lalu dalangnya adalah Daniel Jim?” tanya Frita, dia mengira Daniel pelakunya.
“Bukan. Namanya adalah Rana. Dia menjabat sebagai wakil direktur utama di Laksana Group.”
“Rana? Padahal aku mengira dia adalah orang baik yang ada di Laksana Group,” ujar Pandu kaget. Dia tidak menyangka kalau Rana adalah dalangnya.
“Benar sekali Pak. Saat ini semua bukti sudah mengarah kepadanya. Bahkan Daniel sendiri bersedia menjadi saksi persidangan Rana.”
“Kenapa bisa begini,” gumam Frita.
Frita kemudian meminta nomor HP bawahan Jimmy yang katanya telah menyelamatkannya, namun Jimmy malah memberi nomornya sendiri.
Sore harinya seperti biasa Aditya menunggu Frita di mobil. Latihan fisik hari pertama sama sekali tidak membuat Aditya kelelahan. Sedangkan sopir yang lain dari tadi siang juga sudah mengeluh karena kelelahan.
“Hai Dit,” sapa Frita yang sudah ada di samping mobilnya.
“Mau pulang sekarang Fri?” tanya Aditya dengan penuh rasa heran. Karena sikap Frita tidak biasanya semanis ini kepadanya.
“Ayok. Tapi nanti mampir dulu ya ke laundry terus ke mall.”
“Oke,” jawab Aditya sambil berusaha menutupi rasa curiganya. Dia yakin Frita merencanakan sesuatu.
Aditya mengemudikan mobil menuju jalanan. Di dalam mobil tampak Frita memasang wajah manisnya. Meskipun Aditya tahu itu hanya pura-pura saja namun jujur sikap Frita yang seperti itu membuatnya berdebar-debar. Dia merasa nyaman ketika memandang wajah manisnya Frita.
BERSAMBUNG…
__ADS_1