
Aditya menoleh ke arah Clarissa dan yang lainnya kemudian berjalan menjauh. Dia pikir Clarissa dan yang lainnya saat ini pasti sudah sedikit mengetahui tentang identitas dirinya, karena itu dia tidak ingin mereka tahu lebih banyak lagi, dia khawatir hal itu malah akan membahayakan mereka. Arfa dan Adrian mengikutinya dari belakang.
“Saat ini aku sudah tidak tertarik lagi bergabung dengan geng besar manapun,” jawab Aditya setelah cukup jauh dari Clarissa dan yang lainnya.
“Jadi itu alasan Bos juga keluar dari geng Kujang?” tanya Adrian.
“Ya, awalnya aku pikir setelah keluar dari geng Gagak aku ingin membuat sebuah geng sendiri, hanya saja semakin lama aku sadar kehidupanku yang seperti itu tidak akan membawaku kedalam kebahagiaan.”
“Kenapa? Bukankah selama menjadi Pimpinan kami Bos sudah memiliki segalanya? Kekayaan, kepopuleran, apa lagi yang kurang?” tanya Arfa.
“Apa ini masih berhubungan dengan kejadian saat Bos masih menjadi tentara?” timpal Adrian.
“Entahlah. Selama ini, semewah dan seenak apapun kehidupanku semuanya masih terasa hampa.”
“Aku tahu Ketua memang sedikit pelit tapi aku yakin dia bisa memenuhi semua permintaan Bos jika ingin kembali bergabung. Dengan begitu kita bisa berkumpul kembali seperti dahulu, balapan, merebut wilayah geng lain. Aku yakin nanti kebahagiaan akan datang dengan sendirinya,” bujuk Arfa.
“Aku rasa asumsimu salah Arfa. selama ini aku sudah berusaha untuk mencari kebahagiaan dengan jalan seperti itu namun yang kudapatkan hanyalah kehampaan.”
Adrian dan Arfa tertegun mendengar jawaban dari Aditya. Sebenarnya mereka sangat berharap Aditya mau kembali dengan geng Gagak. Tapi melihat sorot mata dan jawaban tegas Aditya membuat harapan mereka buyar. Kelihatannya tekad Aditya untuk menjauh dari dunia gelapnya kota Bandung sudah sangat bulat.
Dulu Aditya pernah menjadi tangan kanan kepercayaan ketua geng Gagak. Dia membawahi Adrian, Arfa dan Egi sebagai tiga orang terkuat di geng Gagak. Namun setelah dia keluar dari geng, posisi tersebut kini hilang. Walau begitu mereka bertiga masih menghormati Aditya dan masih menganggapnya sebagai Bos mereka.
“Tapi aku yakin hati kecilmu masih ingin menikmati dunia seperti ini Bos, buktinya Bos masih mau ikut balapan liar seperti ini. Bahkan kemampuan menyetirmu kelihatannya masih hebat hingga bisa mengalahkan Mentarinya Bandung,” bujuk Arfa, dia tetap berusaha untuk mengajak Aditya kembali bergabung.
“Aku punya alasan tersendiri mengikutinya. Aku tidak semata-mata mencari kesenangan dari balapan ini!” bentak Aditya karena kesal.
“Maafkan aku. Aku hanya ingin kita semua berkumpul kembali,” ujar Arfa. Aditya menghela nafas dalam, dia mengerti perasaan Arfa.
“Sebagai mantan pemimpin kalian, saat ini aku hanya bisa bilang jika kebahagiaan yang kalian dapatkan dari kejahatan hanyalah fatamorgana semata,” kata Aditya sambil menepuk pundak Adrian dan Arfa.
Aditya melangkah pergi meninggalkan mereka berdua yang masih termenung. Suasana di jalanan tempat balapan kini sepi. Clarissa terlihat sedang berbincang dengan Ratna tampaknya mereka berdua sudah mulai akrab.
“Di mana Vivi?” tanya Aditya.
“Dia sudah pulang duluan,” jawab Ratna.
“Kakak ngobrolin apaan?” tanya Clarissa.
“Bukan hal penting,” jawab Aditya.
__ADS_1
“Siapa sebenarnya dirimu?” tanya Ratna.
Aditya hanya tersenyum merespon pertanyaan Ratna, dia rasa Ratna mungkin penasaran karena mengenal orang-orang hebat di geng Gagak. Aditya juga sebenarnya semakin penasaran dengan identitas Ratna. Dia sadar jika Ratna bukanlah wanita biasa, selain jago beladiri tapi dia juga tahu identitas Arfa dan Adrian sebagai petinggi geng Gagak.
“Kami pamit dulu Bos, Nona,” kata Adrian sambil melambaikan tangannya dan pergi menuju mobilnya.
“Aku sebenarnya ingin balapan dulu denganmu Bos, aku hitung skor kemenangan kita masih seri,” ucap Arfa.
“Kamu tidak pernah berubah, Maniak balapan,” ledek Aditya sambil tertawa.
“Kapan-kapan aku juga ingin balapan denganmu Nona Mentari, aku dengar kamu belum pernah terkalahkan selama ini,” kata Arfa.
“Aku sih siap-siap saja asal hadiahnya menarik,” jawab Ratna.
Arfa hanya tertawa, dia kemudian melangkah pergi. Adrian dan Arfa pergi meninggalkan tempat itu. Mereka bertiga kemudian pergi menuju mobil masing-masing. Di dalam mobil terlihat Arnold masih bersembunyi di bawah kursi.
“Hei,” ujar Clarissa sambil menepuk pundak Arnold.
“Ampun, ampun daging saya nggak enak,” jawab Arnold sambil tertunduk gemetaran.
“Heh ini gue Clarissa!” bentak Clarissa karena kesal.
“Aku harap kita bisa balapan lagi lain waktu. Aku masih belum mengaku kalah darimu,” kata Ratna.
“Dengan senang hati, aku sangat menantinya,” jawab Aditya.
“Btw, aku masih belum tahu namamu.”
“Aku Aditya Laksmana.”
“Akan kuingat namamu,” ucap Ratna sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan mereka bertiga.
“Kamu perlu kuantar pulang Nold?” tanya Aditya.
“Tidak perlu kak, aku berani kok.”
“Baguslah. Kalau begitu sampai jumpa lagi.”
Arnold melambaikan tangannya ketika Aditya dan Clarissa pergi duluan dari tempat itu sebelum akhirnya dia sendiri pergi mengendarai mobilnya. Beberapa kali terdengar ponsel Clarissa berdering. Kakaknya, Frita sejak tadi terus menelepon. Sudah ada sekitar belasan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan darinya.
__ADS_1
“Tidak kamu angkat Ris?” tanya Aditya sambil menyetir.
“Biarin aja deh kak. Palingan dia mau ngomel ngomel,” jawab Clarissa.
“Kamu ini. Eh iya lupa, itu mobil Arnold penyok harus diganti berapa ya? Hadiahnya kan masih ada di sini.”
“Gampang kak, besok di sekolah aku tanyain sama Arnold.”
“Baguslah. Lupa tadi mau nanyain.”
“Eh btw yang tadi teman-temannya kakak ya?”
“Oh, mereka cuma kenalan lama.”
Aditya pikir kelihatannya Clarissa mulai penasaran dengan identitas dirinya. Beberapa pertanyaan mulai dilontarkan oleh Clarissa. Namun Aditya enggan menjawabnya. Dia juga bilang agar kejadian malam ini tidak boleh dikatakan kepada siapapun. Clarissa hanya cemberut saja menanggapinya.
“Eh iya aku juga lupa sesuatu,” kata Clarissa.
“Apa yang lupa Ris?” tanya Aditya sambil menghentikan mobil.
“Itu kak, si wanita tadi belum menuruti kesepakatannya untuk meminta maaf kepada Arnold,” jawab Clarissa.
“Kamu ini, kirain apaan,” gerutu Aditya sambil mengemudikan kembali mobilnya.
“Ih kakak, kita kan balapan biar dia minta maaf sama Arnold.”
“Sudahlah Ris, lagian kita dapet hadiah banyak kan.”
“Nggak sebanding lah kak. Kalau ketemu lagi nanti akan kupaksa dia buat minta maaf!” tegas Clarissa.
Aditya hanya tersenyum. Dia merasa lega karena situasi mencekam tadi tampaknya tidak membuat Clarissa ketakutan. Sepanjang jalan Clarissa terus menggerutu karena tujuannya untuk meminta Ratna meminta maaf tidak tercapai.
Tengah malam mereka berdua baru sampai di kediaman Pandu. Lampu-lampu di dalam kamar rumah terlihat masih menyala tanda si empunya masih belum tidur. Aditya membuka gerbang dan memarkirkan mobil menuju garasi. Pintu rumah terdengar terbuka. Frita dengan wajah gusar keluar dari rumah.
“Kalian ini ya buat orang khawatir saja! keluar rumah tidak bilang-bilang! Di telepon nggak diangkat,” bentak Frita. Clarissa hanya tertunduk.
“Kamu lagi! Kenapa tengah malam begini baru mengantar Clarissa pulang?!” bentak Frita sambil bertolak pinggang. Matanya menatap tajam Aditya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1