Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 50


__ADS_3

“Mau? Mau apa??” tanya Ellena sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arah Sean.


“Datar banget ya ... ga jadi deh. Ayo kita tidur,” ucap Sean sambil menekan kepala Ellena dengan tangannya agar tidak melihat ke arahnya lagi.


Sean segera memeluk Ellena seperti sebuah guling. Dia tidak peduli apa yang sedang di rasakan Ellena saat ini. Bibir Sean tersenyum membayangkan kekesalan Ellena.


Ellena benar-benar makin kesal. Dia rasanya ingin menggigit dada Sean yang sedari tadi berbuat ambigu padanya.


Ellena merasa ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya saat ini. Dia merasa ada benda yang terasa sangat dingin menyentuh kulitnya. Dia sampai terus menggerak-gerakkan badannya untuk menghindari benda yang belum bisa dia lihat itu.


Ellena mencoba membuka matanya yang masih tertutup rapat karena dia tadi masih tidur pulas. Dia kini sedang mencoba mengumpulkan kesadarannya dan juga mengenali apa yang ada di sekitarnya itu.


“Sean,” panggil Ellena pelan.


“Nikmati aja, sayang,” ucap Sean yang sedang mengeksekusi perut Ellena dengan bibir dan lidahnya.


Ellena mulai sadar dan dia memegang tangan Sean yang kini sudah mulai meremasi bukit kembar miliknya. Remasan lembut namun memabukkan itu kini mulai menuntun gairah Ellena untuk naik secara perlahan. Ellena mulai menutup matanya dan meresapi apa yang tertunda tadi malam.


Sean terus sibuk di tubuh Ellena. Dia yang tadi malam tahu kalau Ellena sudah mulai naik dengan permainannya terpaksa menghentikan permainan karena dia sangat mengantuk. Lagi pula emosi masih menguasai dirinya juga, Sean takut akan bermain kasar dengan Ellena. Dia tidak ingin menyakiti atau bahkan membuat wanitanya itu trauma dengan hubungan ini.


“Selamat pagi, sayank,” panggil Sean di telinga Ellena.


“Sean,” jawab Ellena parau sambil membelai wajah Sean.


“Aku mau kamu pagi ini,” bisik Sean lembut yang diakhiri dengan kecupan hangat di bibir Ellena.


“Aku milikmu, Sean,” jawab Ellena yang membuat Sean semakin bersemangat.


Sean segera meraup bibir manis yang selalu menggodanya itu. Tidak lagi dimulai dengan sesuatu yang lembut, tapi kini ******* dan decapan panas yang mereka lakukan. Mereka saling mencoba untuk mendominasi dan mengimbangi permainan bibir dan lidah pasangannya. Belitan lidah Sean mampu membuat Ellena meleguh dengan cepat.

__ADS_1


Sean masih dalam posisi berbaring di samping Ellena dengan posisi sedikit lebih tinggi. Tangannya kini sudah mengobrak-abik isi baju Ellena yang sedang menikmati sapuan lidah Sean di telinga dan lehernya. Sean membuat Ellena tidak berdaya hanya dalam sesaat saja.


Ellena menyerah. Penyerangan Sean lebih kuat dibandingkan dengan pertahanannya yang sangat lemah. Serbuan tangan dan lidah Sean membuat dia semakin terbang tinggi ingin menembus batas. Dia sudah tidak peduli lagi dengan penampilannya yang sudah berantakan saat bangun tidur dan ditambah lagi dengan saat ini. Yang mampu dia lakukan saat ini hanya meleguh menikmati sensasi sengatan lidah Sean.


Tangan Sean yang sangat terampil ternyata mampu melucuti baju yang dikenakan oleh Ellena dengan sangat cepat. Benda kenyal yang ada di tubuh Ellena itu kini sudah ada di depan matanya. Dia masih mengusapnya lembut untuk memuji keindahan bentuk yang membuatnya ingin segera menikmatinya itu.


Sebuah sentuhan nakal diberikan Sean pada puncak benda kenyal itu. Sebuah pilinan lembut yang membuat puncaknya semakin mencuat menegang seiring leguhan lembut Ellena yang lolos begitu saja.


“Sean,” bisik lirih Ellena menahan nikmat.


“Nikmati sayang, lepaskan saja,” jawab Sean yang segera menikmati satu bongkahan lagi dengan mulutnya.


Sean menggila saat ini. Bibir dan tangannya bersamaan mengeksekusi dua benda kenyal yang tersaji di depannya itu. Dia tidak mampu lagi menahan dirinya untuk tidak ‘menghabisi’ Ellena dalam serangan indah kebanggaannya. Dia ingin membuat Ellena mengerang dan memanggil namanya di pagi buta ini.


Tubuh Ellena sudah bergerak-gerak sendiri mengikuti apa yang sedang dilakukan Sean. Rasa geli bercampur nikmat kini sudah menguasainya. Dadanya sudah membusung yang menambah volume dadanya semakin membulat kencang. Dia ingin Sean menikmatinya lebih dan lebih.


Rupanya apa yang ada di balik celana Sean sudah memberontak. Dia sedang iri pada tangan dan bibir Sean yang sudah merasakan indahnya tubuh Ellena. Dia ingin juga mendapatkan pelayanan dan menikmati madu yang dulu pernah dia nikmati juga.


Tangan Sean menuntun tangan Ellena untuk memegang aset berharganya yang sudah menegang itu. Ellena masih sedikit ragu untuk memegang benda itu, tapi gigitan kecil Sean di puncak dada Ellena membuat wanita itu sedikit menjerit lalu segera meraih benda yang menegang di bawah Sean.


“Lembut sekali, Ell,” rancau Sean menikmati sentuhan halus tangan Ellena di asetnya.


Ellena tidak ingin menjawabnya, dia hanya ingin memberikan pelayanan timbal balik pada Sean yang sudah membuatnya berantakan pagi ini. Dia mencoba mengingat apa saja yang dulu dia lakukan saat malam pembuatan Nathan itu.


Sean yang tidak tahan dengan perlakuan Ellena di aset berharganya itu segera menepis tangan Ellena. Dia tidak ingin kalah dalam permainan ini, karena tangan Ellena terlalu pintar melayani asetnya itu.


Sean kini berjongkok untuk membantu Ellena melolosi celana yang sedang dia pakai itu. Sean membuangnya ke sembarang tempat lalu melihat tubuh yang ada di depannya dari atas ke bawah.


“Kamu masih sempurna seperti dulu, Ell. Kamu masih luar biasa,” ucap Sean memuji tubuh indah di hadapannya.

__ADS_1


Sean segera membalik tubuh Ellena. Dia ingin menikmati punggung Ellena yang dulu membuat dia sangat tergila-gila. Tanpa ampun lagi, Sean segera menyusuri punggung indah Ellena dengan lidahnya. Dia menyusuri kulit lembut Ellena itu dan menyingkirkan rambut panjang Ellena agar tidak mengganggunya.


Sean mulai menaikkan pinggul Ellena dan menekuk lutut wanita itu agar bisa membuat pinggul itu posisinya lebih tinggi. Kaki itu di lebarkan dan tangan Sean menuju ke daerah inti milik Ellena untuk mengecek kesiapannya.


“Waah hangat sekali,” gumam Sean yang mencoba mengukur kelembaban daerah terlarang itu.


Sean mulai mengarahkan senjatanya itu masuk ke bagian inti tubuh Ellena. Dia ingin melakukan penyatuan yang sudah dia tunggu dari tadi. Perlahan namun pasti Sean mulai melesakkan roket andalannya itu memasuki tubuh Ellena.


Ellena mengerang saat benda besar itu mencoba untuk menguak pertahanannya. Dia berpegangan pada bantal dengan sangat erat dan menggigit bibir bawahnya. Sepertinya dia merasakan lagi saat pertama kali kepolosannya dirobek oleh Sean 7 tahun lalu.


“Sakit, Sean,” ucap Ellena pelan.


“Sebentar sayang, kamu emang sempit banget,” jawab Sean sambil meremas benda menggantung di dada Ellena agar wanitanya tetap berhasrat.


Sedikit semi sedikit benda besar dan tumpul itu mulai menyesaki bagian inti Ellena. Pinggul Ellena bergerak mencari posisi yang tidak membuat dia kesakitan. Namun ternyata gerakan pinggul Ellena itu malah membuat Sean keenakan. Pria itu sampai mendongak karena aset berharganya saat ini sedang mendapatkan pelayanan lebih.


Tubuh Ellena terlonjak-lonjak seiring dengan gerakan pinggul Sean yang semakin cepat. Tangan Sean meraih benda menggantung di dada Ellena dan sesekali satu tangannya menjambak rambut Ellena agar dia mendapatkan sensasi lebih.


Jeritan Ellena tidak lagi dihiraukan oleh Sean. Itu bukanlah jeritan kesakitan tapi jeritan yang menyuruh Sean bekerja lebih keras lagi. Mereka berpacu dalam gelap malam dan peluh yang mulai memenuhi tubuh mereka. Dua orang itu mencoba untuk mendapatkan puncak dari permainan ini.


Ellena ambruk terlebih dahulu. Dia sudah tidak mampu lagi menopang bobot tubuhnya sendiri karena Sean sudah membuatnya meledak 3 kali. Sean segera membalik lagi tubuh Ellena dan ingin segera menyetorkan benih sehatnya di padang subur milik Ellena. Sean mengerang panjang saat dia berhasil menyimpan semua benihnya itu di rahim Ellena.


“Kok di dalem sih,” tanya Ellena disela nafasnya yang masih tersengal.


“Ya emangnya kenapa kalo di dalem?” tanya Sean yang menjatuhkan dirinya di samping Ellena.


“Kalo hamil gimana?”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2