Rembulan Di Pelukan

Rembulan Di Pelukan
Bab 33


__ADS_3

Setelah pencuri yang pura-pura hilang ingatan dibawa pergi polisi semua orang di rumah Pandu kembali menjalani aktifitas seperti biasanya. Aditya menunggu di mobil seperti biasa. Pandu mengantar Clarissa sekolah seperti biasa. Frita juga bersikap dingin kepada Aditya seperti biasanya.


Hari ini Frita mau berangkat bersama Aditya. sebenarnya Aditya khawatir dia akan kembali dikerjai oleh Frita, namun setelah diperhatikan tampaknya Frita bersikap dingin seperti biasanya. Aditya lega melihatnya itu berarti hari ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan olehnya.


Frita langsung keluar dari mobilnya dan masuk ke kantor. Sedangkan Aditya seperti biasanya dia harus kembali menjalani latihan bersama sopir yang lainnya di tempat bagian keamanan.


“Hari ini kalian akan berlatih lebih keras dari kemarin. Kalian akan lari selama empat puluh menit,” jelas Heni.


“Yah,” ujar beberapa orang sopir.


“Kalian jangan mengeluh! Kecuali kalau kalian ingin saya laporkan kepada Direktur.”


“Mati deh kita,” gumam sopir lainnya.


“Tenang saja! berlari mengelilingi halaman selama empat puluh menit tidak akan membuat kalian mati kok. Segera mulai pemanasan.”


Semua sopir mulai mengikuti gerakan wakil kepala bagian keamanan. Aditya melakukannya dengan malah-malasan. Heni tampak terus memperhatikannya. Sekarang dia yakin Aditya bukanlah seperti yang dia pikirkan.


Setelah selesai pemanasan semuanya mulai berlari mengelilingi halaman, seperti biasa Aditya kembali menyerah bersama sopir lain di menit kedua puluh. Saat ini Heni mulai kesal karena dia tahu kalau sebenarnya Aditya masih kuat untuk melanjutkan berlari.


“Aditya! kamu lanjutkan terus berlari, masa kamu sudah menyerah baru juga dua puluh menit,” perintah Heni.


“Capek lah Bu.”


“Halo bu Frita,” sapa Heni, karena kesal dia langsung mengadukan sikap Aditya kepada Frita.


“Ada apa Bu?”


“Ini ada sopir yang bernama Aditya Bu. Dia berani menolak arahan saya untuk berlatih. Dia juga malah berpura pura sudah capek.”


“Oh Aditya. emang dia pemalas Bu! Terserah ibu deh mau di apain. Yang jelas memang dia harus diberikan pelajaran agar lebih disiplin lagi dalam bekerja maupun berlatih,” jawab Frita semangat. Dia dengan sengaja ingin Heni memberikan pelajaran kepada Aditya.


“Oh kalau begitu siap bu.”


Heni tersenyum kepada Aditya setelah mengakhiri panggilannya dan menyuruhnya untuk berlari kembali. Sopir lainnya tampak puas melihat latihan Aditya lebih berat karena berani menentang perintah Heni. Sebenarnya semua latihan yang diberikan oleh Heni tidak membuat Aditya kelelahan sedikitpun. Dia hanya berpura pura lelah agar tidak menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


Hari itu Daniel dari Laksana Group datang ke kantor pusat Glow & Shine. Dia ditemani oleh sekretarisnya. Dia bermaksud untuk menemui Pandu dan juga Frita perihal anak buahnya yang sudah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus bahan berbahaya yang menimpa para klien bisnis Glow & Shine.


Daniel menunggu di ruang tamu, Rani memberitahu Frita dan Pandu kalau Daniel ingin bertemu dengan mereka. Pandu menyuruh Rani untuk mengajak mereka berdua ke ruangan meeting. Frita juga diperintahkan untuk datang ke sana. Di ruangan meeting kini sudah berkumpul Frita, Pandu, Daniel dan sekretarisnya.


“Jujur saya kaget ketika mendengar bahwa Presdir Laksana Group berkunjung ke kantor kami,” ucap Pandu.


“Anda ini terlalu berlebihan. Saya yakin anda sudah mengetahui kalau saya akan datang ke sini menemui anda,” ujar Daniel.


“Lantas apa gerangan yang membuat Presdir muda seperti anda repot-repot berkunjung kemari?” tanya Frita.


“Seperti yang kalian tahu. Saat ini kepolisian sudah menetapkan wakil saya di Laksana Group sebagai tersangka dalam kasus bahan berbahaya. Karena itu saya datang kemari hendak meminta maaf atas perbuatan Rana.”


Frita dan Pandu saling lirik. Mereka tahu Daniel bukanlah orang seperti itu, yang mau repot-repot datang ke sebuah perusahaan hanya untuk meminta maaf. Mereka yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Daniel.


“Jika memang seperti itu alasan anda datang kemari, saya benar-benar senang. Saya juga menerima permintaan maaf dari Laksana Group. Namun jujur masih ada beberapa hal yang mengganjal di hati saya,” kata Pandu.


“Apa itu?”


“Saya heran kenapa rencana selicik itu tidak bisa tercium oleh anda sendiri. Padahal saya yakin mata anda di Laksana Group sangatlah banyak.”


“Oh masalah itu. Seperti yang anda katakana memang benar saya punya banyak mata di perusahaan saya sendiri. Tapi tampaknya rencana yang disusun oleh Rana terlalu rapi hingga saya tidak mampu mengetahuinya.”


“Silahkan diminum dulu minumannya. Saya jamin aman kok tidak ada bahan berbahayanya,” tambah Pandu sambil tersenyum.


“Anda pandai membuat lelucon juga ternyata,” jawab Daniel dengan wajah merah karena menahan emosi.


Setelah menikmati minuman yang disediakan, Daniel dan sekretarisnya berpamitan pulang. Pandu bilang kalau dia berharap Daniel mau untuk terus berkunjung ke kantornya. Walaupun sebenarnya Pandu tahu kedatangan Daniel hari ini hanya ingin menunjukan bahwa dia bisa dengan mudahnya, menyingkirkan orang yang menghalanginya menggunakan cara kotor dalam berbisnis.


Secara tidak langsung Daniel juga mengancam Glow & Shine jika terus menghalangi jalan bisnisnya. Di jalan menuju pintu keluar Daniel berpapasan dengan Wakil Presdir Glow & Shine, William Janaka. Langkah mereka berdua terhenti.


“Aku tidak menyangka tikus kotor sepertimu berani menginjakan kaki di sini,” ujar William sambil membelakangi Daniel.


“Aku tidak pernah ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu Willi,” jawab Daniel.


“Aku tidak menyangka kamu akan menjebak wakilmu sendiri dengan cara seperti itu.”

__ADS_1


“Itu hanya sebagian kecil dari bakatku. Jika ingin, aku bisa saja menghapuskan Glow & Shine dari daftar perusahaan bisnis!”


“Hal itu hanya ada dalam mimpimu saja Dan. Mereka lebih tangguh dari yang kamu kira.”


Daniel hanya tersenyum sambil meneruskan langkahnya. William sendiri segera pergi menuju ruangannya.


Malam harinya Pandu dan Frita tampak gelisah karena Clarissa belum pulang juga. Sebenarnya hal seperti ini sudah sering terjadi karena Clarissa memang terbilang nakal dan sedikit tomboy. Dia kadang suka pulang tengah malam dengan alasan mampir ke rumah temannya dulu.


Namun malam ini Pandu dan Frita khawatir karena memang akhir-akhir ini terjadi hal yang berbahaya bagi keluarga mereka, seperti penculikan Frita, sabotase di perusahaan, bahkan ada pencuri yang berani masuk ke rumah mereka.


“Tuh anak mampir ke mana lagi coba hari ini,” gerutu Pandu.


“Iya nih nggak kapok-kapok, padahal sudah sering aku ingetin juga,” timpal Frita.


“Hal seperti ini tidak baik untuk anak perempuan,” guman Pandu.


“Kenapa tidak suruh Aditya saja yang mengawasi Rissa Yah?” bujuk Frita.


“Tidak bisa Fri. lagian kemungkinan kamu jadi target lebih besar, karena berkat kamu Glow & Shine semakin maju,” jelas Pandu.


“Ih. Padahal aku di sandera sama penjahat juga gara-gara Aditya,” gerutu Frita karena tidak setuju dengan pendapat ayahnya.


Bagi Frita saat ini Aditya tidak memberikan kontribusi apapun selain membuatnya kesal setiap hari. Dia heran kenapa ayahnya malah mempertahankan orang tidak berguna seperti itu. Apa mungkin untuk membalas budi ke Aditya? dia masih tidak tahu, yang jelas dia pasti akan mencari cara agar Aditya membatalkan pertunangan mereka.


“Coba kamu telepon Rissa Fri,” saran Pandu.


“Baik Yah,” jawab Frita sambil memanggil Clarissa.


“Hai Kak. Aku mampir dulu ke rumah temen, dah,” kata Clarissa sambil mengakhiri panggilan telepon.


“Nih anak. Belum juga ngomong,” gerutu Frita sambil mencoba menelepon adiknya lagi namun tidak kunjung diterima.


“Gimana Fri?” tanya Pandu cemas.


“Dia katanya mampir ke rumah temannya lagi Yah. Sudah ah aku mau tidur saja,” ujar Frita sambil pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Pandu duduk di kursi untuk menunggu Clarissa pulang, namun Aditya datang dan menggantikan Pandu untuk menunggu Clarissa. Frita keluar lagi dari kamarnya hendak minum. Melihat Aditya berada di ruang tamu tampak Frita begitu kesal dan menghampirinya.


BERSAMBUNG…


__ADS_2